Takdir Gintani

Takdir Gintani
Vampir Betina


__ADS_3

Gintani mengerjapkan matanya saat mendengar bunyi alarm di ponselnya. Dia meraih ponselnya dan segera mematikan bunyi alarm itu sebelum suaminya terbangun.


Gintani beranjak pergi ke kamar mandi. Dia memulai ritual mandi paginya. Sejenak dia tertegun melihat tanda-tanda merah di sekitar wilayah dadanya. Senyum tipis kembali tersungging di bibirnya. Puas menatapi tato itu, Gintani pun segera pergi ke bilik berdindingkan kaca. Subuh ini, mau tidak mau, dia harus melakukan mandi wajib akibat perbuatan suaminya.


Setelah selesai solat subuh, Gintani kembali ke kamarnya untuk membangunkan suaminya.


"Mas, bangun!" ucap Gintani seraya mengguncang pelan bahu suaminya.


Argha hanya menggeliatkan badannya saja.


"Mas... solat subuh dulu, entar kesiangan, loh!" kembali Gintani menggoyangkan tubuh Argha.


"Awww...!" pekik Gintani.


Bukannya bangun, Argha malah menarik tangan istrinya hingga Gintani terjatuh di atas ranjang. Secepat kilat, kedua kaki Argha mengunci kaki Gintani hingga tak mampu bergerak.


"Mas, iih ... sakit...!" keluh Gintani sambil memukul pelan dada suaminya.


"Give me your kiss!" ucap Argha dengan suara khas bangun tidur.


"No!" jawab Gintani seraya menutup mulutnya.


"Why?" tanya Argha.


"Your lips is stink too much!" jawab Gintani, menjauhkan bibirnya.


"Kau...!! Hmm... beraninya kau mengejek suamimu ya! Awas... rasakan ini..!"


Argha melonggarkankan pelukannya. Tangan jahilnya mulai turun ke bagian pinggang Gintani dan mulai menggelitikinya.


"Mas, ih... haa... ha... ampun Mas... Geli...!"


Gintani tergelak karena merasa geli akibat tangan jahil Argha yang terus menari lincah di pinggangnya.


Perasaan Argha semakin menghangat mendengar dan melihat gelak tawa lepas istrinya. Tiba-tiba, pandangan Argha terkunci pada stempel merah yang berada di leher Gintani. Argha tersenyum tipis melihat hasil karyanya. Terbersit kejahilan di pikiran Argha.


"Gin!" panggilnya, lirih.


"Ya!" jawab Gintani mendongakkan wajahnya.


"Semalam ada vampir lewat, ya?" tanya Argha dengan mimik wajah yang sangat serius.


Gintani mengernyitkan keningnya. "Vampir?"


"Iya...!! Yang suka gigit leher orang." jawab Argha tersenyum mesem.


Gintani terkejut. Spontan dia menutup tanda itu dengan kedua tangannya.


"Iya ... semalam ada vampir yang tanpa permisi gigit leherku. Untung vampirnya ganteng, kalau nggak... hmm...." Gintani menggantung kalimatnya.


"Kalau nggak?" tanya Argha, penasaran.


"Kalau nggak? Sudah aku gigit balik dia!" gerutu Gintani kesal.


"Ha...ha...ha...." Argha semakin gemas melihat bibir Gintani yang semakin maju sekitar lima sentimeter.


"Coba gigit!" ujar Argha seraya menyodorkan ceruk lehernya.


"Eh... Mas... Eh, apa-apaan ini? Gintani gelagapan saat melihat wajah suaminya semakin mendekati wajahnya.


"Katanya mau gigit balik!" goda Argha.


"Ma... Mas aku... Aku nggak bisa." Gintani sudah merasa malu mendengar godaan suaminya.

__ADS_1


"Perlu aku ajari, Gin?" tawar Argha seraya memulai aksinya kembali mendekati ceruk leher jenjang istrinya.


"M... Mas... Ishh.... Mas... he... hentikan.... ish...., Gintani mulai meringis saat lidah suaminya terus menyusuri leher putihnya.


"Aaww... Mas...!" Gintani memekik pelan saat merasakan hisapan lidah suaminya yang menimbulkankan sedikit nyeri di kulit lehernya.


"Cobalah, Gin?" pinta Argha.


"Mas ... aku nggak bisa?" cicit Gintani.


"Kamu tidak akan pernah tahu hasilnya sebelum kamu mencobanya. Cobalah!" Kembali Argha memberikan perintahnya.


Dengan perasaan tak karuan, Gintani mendekati leher Argha. Dia mulai mengecup leher itu dan sedikit menghisapnya. Gintani mempraktikkan apa yang baru saja dia rasakan.


Mata Argha terpejam merasakan sensasi kecupan hangat di lehernya. Senyum tipis terukir saat Gintani berusaha memberikan hisapan-hisapan kecil melalui lidahnya. Sang perkutut mulai berdiri karena tergoda oleh hawa panas yang menjalari leher pemiliknya.


Gintani melepaskan ciumannya. Dia merasa malu melihat tanda merah yang masih samar di leher suaminya.


Argha menarik tubuh Gintani ke dalam dekapannya. "Gin! Bisakah kita memulainya dari awal?" tanya Argha dengan suara parau karena menahan hasratnya.


Hening....


"Gin...?" panggil Argha, lirih.


"Mas, mematahkan perjanjian tak semudah membalikkan telapak tangan!" jawab Gintani.


Argha melonggarkan pelukannya. Dia menatap sendu ke arah Gintani. "Aku bisa mematahkannya, Gin!"


"Dengan cara apa, Mas?" tanya Gintani menatap tajam netra suaminya.


"Aku akan menghancurkan surat perjanjian kita," jawab Argha.


"Mungkin kau bisa menghancurkan surat itu dengan mudah.Tapi apa kau bisa menghancurkan perasaanmu untuk Na? Apa kau bisa melupakan dia untukku?" tanya Gintani penuh ketegasan.


Hening....


Gintani menarik tubuhnya dari pelukan Argha. "Sudahlah, Mas! Lupakan saja!" ucapnya.


Gintani beranjak dari tempat tidurnya. Dia segera pergi ke dapur dengan memendam sejuta rasa kecewa di dadanya.


.


.


Pukul tujuh pagi, Argha telah bersiap hendak berangkat ke kantor. Semangat paginya hilang, saat mendengar ucapan Gintani. Tidak bisa dipungkiri jika Argha masih belum bisa melupakan Na. Tapi dia juga merasakan kenyamanan saat berada di sisi Gintani.


Beri aku waktu, Gin! Aku hanya ingin menggugurkan janjiku kepada Na. Setelah itu, aku akan memantapkan hatiku untukmu. Karena aku tahu, aku memiliki tanggung jawab lahir dan batin terhadapmu. Terlebih lagi, akulah yang telah merenggut kesucianmu. Aku mohon bersabarlah! pinta Argha dalam hatinya


"Aku berangkat ya, Gin!" pamit Argha.


"Mas, tunggu sebentar!" cegah Gintani.


Sejurus kemudian, Gintani memasuki kamarnya. Tak lama, dia kembali dengan membawa syal di tangannya. "Pakailah!" ujar Gintani seraya menyerahkan syal itu kepada suaminya.


Argha mengernyitkan keningnya. "Untuk apa?" tanyanya.


"Untuk menutupi itu!" Gintani menjawab pertanyaan suaminya seraya menunjukkan tato di leher suaminya.


"Argha tersenyum, " Tidak usah, Gin!" tolaknya.


"Ih mas! Nanti kamu bisa malu, diledekin orang-orang kantor."


"Tak apa. Justru aku akan merasa bangga jika sampai orang-orang kantor melihat hasil karya istriku ini." Argha kembali menggoda istrinya.

__ADS_1


"Mas, jangan ih... nanti mereka akan berpikir jika bosnya memiliki istri yang nakal."


"Nakal sama suami sendiri, kan ibadah Gin!" Argha semakin menggoda istrinya.


"Pakailah! Atau aku tidak akan pernah mau belajar membuat gituan lagi!" ancam Gintani, kesal.


"Eh, jangan dong! Iya..., aku pakai, tapi..., nanti malam kita belajar bikin tato lagi yuk, Gin!" bisik Argha di telinga istrinya.


Blush...


Seketika, kedua pipi Gintani berubah warna. Gintani pun mendorong tubuh suaminya agar segera keluar dari apartemennya.


🍀🍀🍀


Tiba di kantor. Leher Argha yang tertutup syal berwarna hitam, menjadi pusat perhatian para karyawannya. Begitu pun dengan Bram. Dia meras aneh saat syal hitam melilit di leher bosnya.


"Fa, apa kakakmu sakit?" tanya Bram kepada Nadhifa.


Setelah lulus kuliah, Nadhifa kini bekerja sebagai sekretaris di kantor kakaknya. Lebih tepatnya, sekretaris bagi kakaknya sendiri.


"Aku tidak tahu, kak!" jawab Nadhifa seraya mengangkat sedikit kedua bahunya. "Perasaan, kemarin kak Argha baik-baik saja," jawab Nadhifa.


"Sebentar!" Nadhifa mengeluarkan ponselnya. Dia kemudian mendial nomor seseorang.


"Hallo, assalamu'alaikum kakak ipar! Mau tanya, apa kak Argha sedang sakit? Soalnya, hari ini dia kelihatan aneh."


"..... "


"Terus, kenapa dia menggunakan syal?"


"....."


"Benarkah?? Ya Tuhan..., kalian ini ada-ada saja, huh!"


Nadhifa pun menutup ponselnya seraya mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa, Fa?" tanya Bram, penasaran.


"Leher kak Argha digigit vampir betina. Makanya sekarang dia pakai syal," jawab Nadhifa, kesal. Dia pun pergi menuju meja kerjanya.


Bram hanya bisa tersenyum gemas melihat kekesalan di wajah imut Nadhifa.


"Fa!" panggil Bram.


Nadhifa menoleh, "Kenapa kak?"


"Apa kamu mau digigit vampir jantan?"


"Nihhh...!"


Nadhifa mengacungkan kepalan tangannya ke arah Bram.


"Ya ampun Fa, jangan galak-galak dong! Kalau galak, Mas Bram jadi pengen gigit bibir kamu," goda Bram


Blush....


Seketika wajah Nadhifa memerah mendengar ucapan orang yang diam-diam disukainya.


Bersambung...


Mohon maaf gaisss...., hari ini Ambu telat up ya, di karenakan ada tugas negara yang harus dilaksanakan...


Semoga masih pada semangat membacanya yaaa...

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya... 🙏🙏🤭


__ADS_2