
"Kita bawa pakai mobil saya, Mbak!"
Tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh atletis sudah berjongkok di hadapan Jessica yang tengah memeluk Gintani.
"I-iya Mas."
Dengan sigap, laki-laki itu memangku tubuh Gintani dan membawanya ke mobil yang telah ia parkirkan di tepi jalan.
"Tolong buka pintunya, Mbak!" pinta laki-laki itu.
Jessica membuka pintu belakang. Dia kemudian masuk terlebih dahulu agar bisa memangku kepala Gintani di kedua pahanya. Setelah membaringkan Gintani di kursi belakang, laki-laki itu meraih kotak tisu dan menyeka darah yang berada di telapak tangannya. Dia kemudian membuka pintu depan dan mulai melajukan mobil.
Dua puluh menit berkendaraan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit Harapan. Laki-laki itu terus melajukan kendaraannya hingga dia berhenti di depan pintu UGD. "Sus, tolong siapkan brankar!" perintah laki-laki itu kepada salah seorang suster yang tengah melintas di depan ruang UGD.
"Siap, dok!"
Ah, rupanya dia seorang dokter, batin Jessica. Rasa cemas di hati Jessica sedikit berkurang saat mengetahui jika yang menolong Gintani adalah seorang dokter.
Selang beberapa menit, datang dua orang perawat laki-laki mendorong brankar. Sesaat setelah mereka berhenti, dokter muda itu menggendong Gintani dan merebahkannya di atas brankar.
Dengan sigap, kedua perawat laki-laki itu kembali mendorong brankar dan membawanya ke ruang UGD.
"Dokter Richard, jasnya!" panggil perawat perempuan seraya membantu mengenakan jas kebangsaan berwarna putih itu di tubuh tegap sang dokter.
Ya...! Dia adalah dokter Richard. Saat itu, Richard tengah melintas di jalanan ibukota untuk menghadiri sebuah rapat penting bersama perusahaan yang hendak membangun rumah sakit milik ayahnya. Saat dia melihat orang-orang berkerumun di tepi jalan, Richard pun menghentikan mobilnya dan turun untuk melihat apa yang sedang terjadi. Richard sangat terkejut begitu melihat seorang wanita yang tengah memangku korban kecelakaan, karena itu dia menawarkan bantuan untuk membawa korban saat melihat darah terus keluar dari kepala korban. Bahkan sampai menutupi sebagian wajah korban.
Drrt... Drrt....
Richard merogoh saku celananya. "Daddy?" gumamnya.
Secepat kilat, Richard menggeser tombol berwarna hijau itu.
"Yes, dad!"
"Where are you?"
"In the hospital."
__ADS_1
"What? Are you sick?"
"No! Not me! I found a girl who had an accident, a few minutes ago. She is seriously injured, and I have to deal with her first."
"Oh I see! Okay. take care of her first. Let dad take care of your meeting."
"Ok, thanks dad!"
Richard menutup sambungan teleponnya. Setelah itu dia menuju ruang UGD untuk menangani pasien korban kecelakaan tersebut.
Tiba di sana, dia melihat Jessica tengah menangis di depan pintu kamar UGD. Sejenak, Richard tertegun melihat gadis itu. Raut wajahnya seakan mengingatkan dia kepada seseorang, tapi Richard sendiri tidak tahu siapa orang itu.
"Dok, tolong selamatkan teman saya? Saya mohon!"
Permohonan Jessica seketika membuyarkan lamunan Richard. "Akan saya usahakan," jawab Richard seraya pergi memasuki ruangan.
Dokter Richard mulai membersihkan darah di sekitar wajah korban. Sedikit demi sedikit wajah itu sudah terlihat bersih. Richard tampak terkejut mengenali wajah korban kecelakaan itu.
"Gi-gintani...?" Wajah Richard pucat seketika, kedua tangannya bergetar melihat wajah sendu yang dipenuhi luka di bagian pelipisnya. Dokter Richard mulai memeriksa kepala bagian belakang Gintani. Di bagian itu juga terdapat luka yang cukup besar sehingga terus mengeluarkan darah. Dengan hati-hati, dokter Richard kembali membersihkan luka itu. Perasaannya semakin kacau melihat luka tersebut terus mengeluarkan darah.
🍀🍀🍀
Sementara itu, di Z'dulur resto.
"Siang Nak Argha, Nak Bram...! Maaf, daddy terlambat!" ujar Tuan Hanzel begitu tiba di ruangan yang telah direservasi oleh Bram.
"Tidak apa-apa dad, kami juga baru sampai." Argha dan Bram berdiri menyambut kedatangan Tuan Hanzel.
"Bang Richard tidak datang, dad?" tanya Argha saat melihat kedatangan Tuan Hanzel sendirian.
"Richard sedang menangani pasien kecelakaan. Kebetulan tadi di jalan dia melihat kecelakaan, dan membawa korban ke rumah sakit."
"Oh begitu, dad. Apa kita akan memulainya tanpa Richard, atau menunggu dia datang?"
"Kita mulai saja, Nak! Lagipula, daddy tidak tahu kapan Richard beres dengan pekerjaannya."
"Baiklah, silakan Bram!"
__ADS_1
Bram mengeluarkan laptop dan juga beberapa gambar sketsa bangunan yang telah di buat team perusahaannya. Argha juga menerangkan fungsi beberapa bagian bangunan yang tertuang dalam gambar-gambar tersebut.
Tuan Hanzel tampak manggut-manggut mendengarkan penjelasan anak muda yang sangat berbakat itu.
🍀🍀🍀
Setelah hampir tiga jam berjibaku dengan peralatan medis, dokter Richard pun menghentikan pekerjaannya. Dia segera membersihkan diri dan keluar dari ruang UGD. Dokter Richard melihat Jessica yang masih setia menunggu di kursi tunggu. Matanya terlihat sembab akibat menangis. Entah kenapa, ada rasa iba dalam hati dokter Richard melihat kesedihan gadis itu.
Dokter Richard mendekati jessica dan duduk di sampingnya. "Tidak usah khawatir, temanmu sangat kuat, dia pasti bisa melewati masa kritisnya," ucap dokter Richard.
Jessica menatap dokter muda itu. Buliran air mata kembali mengalir di pipinya. "Semua ini salahku. Dia...seharusnya...seharusnya aku yang tertabrak motor itu, bukan dia!" ucap Jessica.
Dokter Richard menepuk pelan bahu Jessica. "Tidak ada gunanya kamu menyalahkan diri sendiri. Sebaiknya, kamu kabari keluarganya, agar mereka bisa segera mengetahui kondisi..."
"Gintani ! Namanya Gintani," jawab Jessica.
"Ya, sebaiknya kamu hubungi keluarga Gintani."
"Dokter, apa boleh saya menghubungi suaminya menggunakan ponsel anda?"
Dokter Richard mengerutkan keningnya.
"Sebenarnya, hubungan saya dengan suaminya tidak terlalu baik. Saya takut dia tidak membuka pesan yang akan saya kirimkan," ucap Jessica pelan.
Tak ingin bertanya lebih lanjut, dokter Richard pun menyerahkan ponselnya. Jessica meminta izin untuk memotret keadaan Gintani di kamar UGD. Dokter Richard mengangguk, dia kemudian mengantarkan Jessica ke kamar UGD.
Jessica mulai memotret Gintani yang tengah terbaling lemah tak berdaya. Dia kemudian mengirimkan foto itu ke nomor ponselnya Argha.
Di Z'dulur resto. Wajah Argha seketika pucat setelah melihat pesan gambar yang dikirim oleh nomor tak dikenal. Tanpa banyak bicara, dia pamit undur diri dari rapat yang tengah dijalaninya bersama klien. Meski tidak mengerti, Tuan Hanzel mengizinkan Argha untuk pergi. Dia bisa melihat kepanikan dan rasa cemas yang berlebihan di raut wajah Argha.
Sementara itu, di sebuah apartemen yang cukup mewah. Ilona tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. "Kita lihat saja nanti, aku yakin Argha akan kembali padaku. Tidak ada yang bisa lepas dari jerat permainan seorang Ilona." gumamnya menyeringai sinis.
Bersambung....
Jangan lupa like, vote n komennya yaaa
Makasih...
__ADS_1