
Gintani begitu terkejut saat melihat orang yang telah menabraknya.
Sarah? Bagaimana mungkin dia ada di sini. Bukankah dia sedang berada di rumah sakit jiwa? batin Gintani.
"Kak-kak Gintan!" ucap wanita itu tak kalah terkejutnya melihat Gintani.
"Sarah? Kamu sedang apa di sini?" tanya Gintani.
"Jadi benar, ini Kak Gintan?" Sarah malah balik bertanya.
Gintani mengangguk. Dia kemudian memapah sarah untuk pergi ke sebuah meja VIP. "Duduklah, Sar!" ucap Gintani.
Sarah mendaratkan bokongnya di salah satu kursi. Dia kemudian menatap Gintani dan tersenyum. "Cantik," puji Sarah kepada Gintani.
Gintani tersenyum tipis. "Kamu bisa, saja, Dek. Kamu juga cantik, kok," jawab Gintani sambil merapikan rambut Sarah yang sedikit berantakan di depan wajahnya.
"A-Apa kabar Kak Gintan?" tanya Sarah tergagap. Dia terus memandangi wajah Gintani.
"Kabar Kakak baik. Kamu sendiri, bagaimana keadaanmu?" tanya Gintani lagi.
"Ba-Baik, Kak. Kabar Sarah, baik," jawab Sarah.
"Apa Nando yang mengajak kamu ke sini?" tanya Gintani.
Sarah mengangguk. "Aku bosan di rumah, jadi Kak Nando mengajakku kemari," ucap Sarah.
"Jadi, kamu sudah pulang ke rumah, Sar?" tanya Gintani hati-hati, takut menyinggung perasaan Sarah.
Sarah kembali mengangguk. "Dokter sudah mengizinkan aku pulang, Kak," ucap Sarah.
"Ah, syukurlah," jawab Gintani sambil mengusap lembut punggung tangan Sarah.
"Kata dokter, aku sudah sembuh, Kak," lanjut Sarah.
"Alhamdulillah, Kakak turut senang mendengarnya, Sar," jawab Gintani.
"Iya, terima kasih, Kak. Semua ini berkat do'a Kak Gintan juga. Kak Nando bilang, Kakak sering jenguk Sarah, ya, di rumah sakit?" kata Sarah.
"Tidak terlalu sering, hanya beberapa kali saja," jawab Gintani.
"Terima kasih, Kak."
"Sama-sama."
__ADS_1
Sarah dan Gintani akhirnya berbincang-bincang tentang masa lalu mereka. Sesekali mereka tertawa saat mengingat kebersamaan mereka dulu.
Dari kejauhan, tampak Nando tersenyum lebar melihat keakraban dua wanita itu. "Hmm, tidak salah memang aku membawa Sarah kemari," gumam Nando.
🍀🍀🍀
Sementara itu di lokasi proyek pembangunan rumah sakit, entah kenapa Argha merasa gelisah. Hatinya gundah dan terus terbayang tentang Gintani.
Brak!
Tanpa sengaja Argha menyenggol tangga hingga tangga itu jatuh. Beruntungnya, tidak ada orang di atas tangga itu.
"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya mandor proyek yang membantu Argha berdiri.
"Tidak. Saya baik-baik saja," jawab Argha menepuk-nepuk celananya yang kotor.
"Sebaiknya Tuan tunggu di kantor saja. Di sini cuacanya sangat panas," lanjut si mandor.
Argha tersenyum tipis. Tak lama kemudian, dia masuk ke kantor. Di dalam kantor, Argha mencoba menghubungi Gintani. Namun, panggilannya selalu berada dalam jangkauan.
"Kenapa, Bos?" tanya Bram yang melihat bosnya sedang gusar.
"Entahlah, tiba-tiba saja aku mencemaskan Gintani," jawab Argha sambil kembali mengotak-atik ponselnya.
"Sudahlah, mungkin itu cuma perasaan Bos saja. Gintan pasti baik-baik saja, kok." Bram berusaha menenangkan hati bosnya.
Bram menepuk bahu sahabatnya. "Berilah dia ruang, Ar. Dia juga butuh hiburan dan kebebasan untuk menikmati hidupnya," ucap Bram, sok bijak.
Argha melemparkan bolpoinnya, "Sialan, emang lo pikir selama ini gua ngekang dia? Sotoy lo!" teriak Argha.
Bram yang memang telah keluar dari kantor, hanya bisa cengengesan mendengar umpatan bosnya.
🍀🍀🍀
Di sebuah restoran yang telah disewa untuk dijadikan tempat pesta, semua orang tampak bersenang-senang. Suasana yang tadinya tidak terlalu ramai, kini mulai bising oleh dentuman musik yang dimainkan seorang DJ handal.
Sarah tampak begitu senang. Sudah lama dia tidak berpesta seperti ini. Dulu, saat dia masih kuliah, hampir setiap malam Sarah melewati pesta seperti ini. Dan rasanya, sekarang dia seperti mengalami dejavu.
"Kak Gintan, ayo kita ke lantai dansa!" ajak Sarah kepada Gintani.
"Nggak ah, Sar. Kakak nggak bisa menari." Gintani menolak halus tawaran Sarah.
"Tidak apa-apa, Kakak cukup berjoget sedikit saja," ucap Sarah menirukan gerakan tarian ke kiri dan ke kanan.
__ADS_1
Gintani tergelak melihat gerak lucu Sarah. "Kamu aja, deh. Beneran, Kak Gintan nggak bisa joget!" jawab Gintani.
"Ya sudah, Sarah turun, ya, Kak," ucap Sarah.
Sarah berjalan berlenggak-lenggok menuju lantai dansa. Tak lama kemudian dia mulai menggerakkan badannya mengikuti irama lagu. Sarah terlihat sangat senang. Siapa pun yang melihatnya seperti itu, mereka tidak akan pernah menyangka jika wanita periang itu pernah mengalami depresi dan menjadi salah satu pasien rumah sakit jiwa.
"Minum Mbak!" Tiba-tiba seorang waitress datang menghampiri Gintani dan menawarkan minuman.
Gintani tersenyum, dia pun mengambil segelas jus jeruk yang ditawarkan waitress tadi. Suasana pesta membuat kerongkongan Gintani terasa kering.
Gintani mulai merasa tidak nyaman dengan hingar-bingar pesta yang diadakan Kevin dan kawan-kawannya. Dia satu-satunya wanita berhijab yang berada di tengah-tengah hiruk-pikuknya orang-orang yang sedang bersuka ria. Gintani merasa risih akan hal itu. Dia berdiri, dan memutuskan mencari Kevin untuk berpamitan. Namun, Tiba-tiba saja Gintani mendengar teriakan dari arah lantai dansa. "Sarah," gumam Gintani, terkejut.
Gintani segera berlari menerobos orang-orang yang tengah asyik berjoget di lantai dansa. Tiba di sana, tampak Sarah tengah berteriak-teriak sambil menutup mata dan telinganya. Gintani segera menghampiri Sarah.
"Sarah, kenapa Dek?" tanya Nando yang sama terkejutnya dengan Gintani. Nando mendekati Sarah dan mulai memeluknya.
"Tidak! Jangan sentuh aku! Jangan!" Sarah masih histeris dan memukuli Nando.
"Biar aku saja," ucap Gintani kepada Nando. Gintani memegang kedua lengan Sarah, perlahan dia menurunkannya. "Sarah, tenanglah Dek! Ini Kak Gintan. Coba buka mata kamu, Dek!" ucap Gintani mencoba menenangkan adiknya Nando.
Sarah menurunkan lengannya dan membuka mata. Tiba-tiba dia memeluk erat Gintani. "Kakak, Sarah takut. Mereka ... mereka mencoba melecehkan Sarah, Kak," ucap Sarah lirih.
"Ssst, tenanglah Dek! Itu hanya perasaan kamu saja. Tenanglah," jawab Gintani sambil mengusap punggung Sarah.
"Tan, sebaiknya kita ajak Sarah ke kamar," ucap Nando.
"Kamar?" tanya Gintani, heran.
"Iya, Tan. Di lantai atas ada penginapan juga. Kita bawa Sarah ke sana," ajak Nando.
Meskipun heran, tapi Gintani tak bisa menolaknya. Kondisi Sarah semakin mengkhawatirkan. Gintani dan Nando akhirnya memapah Sarah menaiki tangga.
"Kenapa, Tan?" tanya Nando yang melihat Gintani mulai limbung.
"Tidak apa-apa," jawab Gintani mencoba mengatur napasnya. Entah kenapa, kepalanya terasa berat dan napasnya pun mulai tersengal.
Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di salah satu kamar. Gintani membuka pintu kamarnya dan membantu Nando kembali memapah Sarah.
"Tan, are you oke?" tanya Nando yang mulai melihat Gintani jalan terhuyung- huyung.
"Aku...."
Brugh!
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya... 🤗🙏