
Gintani mulai merasa bosan tinggal di apartemen mewah suaminya. Sejak dia menikah, dia tidak pernah punya kegiatan lain selain menunggu suaminya pulang. Berjam-jam menghabiskan waktu hanya dengan menonton TV dan membaca buku di waktu senggangnya, membuat Gintani merasa jengah juga. Dia ibarat seekor burung yang terkurung dalam sangkar emas pemiliknya. Terlebih lagi, kepergian Argha saat ini, membuat hatinya sedikit kesal.
Tiba-tiba saja, dering nada sholawat kembali menggema di kamarnya. Gintani segera meraih ponselnya di atas nakas.
"Bang Alex," gumam Gintani saat dia membaca id name yang tertera di layar ponselnya. Ya! Pada saat resepsi pernikahan, tanpa sepengetahuan Argha, Gintani dan Alex saling bertukar nomor telpon. Gintani pun menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam! Apa kabar, Tan?"
"Baik, Bang."
"Alhamdulillah, kalau kamu baik-baik saja. Argha tidak memperlakukanmu dengan buruk, kan?"
"Enggak, Bang! Mas Argha baik kok!"
"Syukurlah! Eh Tan, coba tebak, siapa yang lagi sama Abang saat ini?"
"Yeaay Abang, mana Gintan tahu? Kan nggak kelihatan."
"Ya sudah, Abang video call ya! Tunggu sebentar!"
Panggilan Alex pun berubah menjadi panggilan video. Gintani kembali menggeser tombol menerima.
"Tarraaaa...."
"Aaahhh ... Alyaa...! Apa kabar?"
Gintani memekik senang, saat layar ponselnya menampilkan wajah manis sahabatnya.
"Hai Tan! Kabar gua baik ... lo kemana aja sih, Tan? Gua kangen sama lo tahu...!!"
"Iya Al, aku juga kangen sama kamu."
"Eh, ngomong-ngomong, selamat ya buat pernikahan lo. Semoga langgeng sampai kakek nenek."
"Aamiin. Kamu dimana, Al?"
"Gua lagi di kafe Bang Alex nih!"
"Shareloc dong! Aku bosan di rumah terus."
"Eh, emang laki lo kemana?"
"Mas Argha lagi kerja. Sudah sebulan ini aku terkurung di rumah. Aku bosan Al, aku ke sana ya?"
"Emang lo diizinin keluar sama laki lo?"
"Gampang, entar aku telpon dia buat minta izin. Kamu tunggu di sana, ya?!"
"Tapi ... aman, kan?"
__ADS_1
"Iya-iya, aman."
"Ya sudah, aku tutup telponnya ya. Bye."
"Bye!"
Setelah mengakhiri panggilannya, Gintani pun segera menyambar tas selempangnya yang tergantung di balik pintu. Dia memperbaiki hijabnya dan keluar dari apartemen. Tiba di lobby apartemen, Gintani segera memesan taksi online nya. Karena terlalu bersemangat untuk bertemu sahabat lamanya, Gintani pun lupa untuk memberi kabar pada suaminya.
Empat puluh lima menit kemudian, Gintani tiba di kafe milik Alex. Alya terlihat berjingkrak-jingkrak melihat Gintani berlari kecil menghampirinya.
"Gintaaannn.... I miss you so much!" pekik Alya seraya merentangkan kedua tangannya.
"I miss you to miss Al..!" teriak Gintani.
Mereka pun saling berpelukan dan melompat-lompat layaknya anak kecil yang baru saja menemukan mainannya yang hilang.
Alex hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua gadis itu. Benar-benar konyol, batin Alex.
Gintani dan Alya segera duduk di meja yang memang telah disediakan khusus untuk mereka. Pertemuan mereka kali ini, seolah menjadi reuni kecil bagi para karyawan Alex. Karena ternyata, di sana juga sudah ada Sindi dan Bang Anto.
Untuk beberapa jam mereka saling bertukar cerita selama tiga tahun berpisah. Alya yang kembali ke kampung halamannya semenjak ibunya meninggal. Sindi yang akhirnya menikah dengan om-om yang selalu membokingnya dan Anto yang kini menjadi seorang marketing perusahaan asuransi.
"Oh iya Al, bagaimana rencanamu selanjutnya?" tanya Gintani lagi.
"Entahlah Gin ... tapi, aku rasa aku akan kembali lagi ke kota ini untuk mencari pekerjaan yang layak. Aku butuh uang untuk membiayai sekolah Gio. Setahun lagi, dia akan mengenyam bangku kuliah. Aku tidak ingin sekolah Gio putus di tengah jalan. Jadi aku harus bisa mencari pekerjaan yang layak dan menabung untuk biaya kuliah Gio."
"Aku berdoa, semoga saja usaha kamu lancar Al."
"Sorry Al, gua nggak bisa. Suami gua bentar lagi makan siang. Gua mesti ada di rumah kalau dia mau lunch," jawab Sindi.
"Iya Al, gua juga mesti nemuin nasabah gua nih, mau lunch bareng," ujar Anto.
"Elo, Tan?" tanya Alya, harap-harap cemas.
"Aku punya waktu, kok!" jawab Gintani, santai.
"Oke, kita capcus yuk...!" ajak Alya.
Akhirnya keempat sahabat itu pun berpisah.
"Bang, pergi dulu ya! Makasih loh, traktirannya! Dadah Abang sayang!" teriak Alya seraya melambaikan tangannya dan memberikan sun jauh pada Alex.
"Pamit ya, Bang! Assalamu'alaikum!" pamit Gintani.
"Bye Bang Al! Makasih udah traktir! Moga usahanya makin lancar," ujar Sindi.
"Bang, Anto pergi ya! Makasih semuanya!"
Karena sedang melayani pelanggannya, Alex pun hanya tersenyum dan melambaikan tangannya untuk membalas pamit mereka.
Beberapa menit kemudian, angkot yang Gintani dan Alya tumpangi tiba di sebrang mall. Mereka pun turun dan mulai menunggu hingga jalanan sedikit sepi untuk menyebrang.
__ADS_1
"Ish, ramai sekali ya Al!" ucap Gintani seraya menggaruk pelan kepalanya yang tak gatal.
"Ho-oh, Tan! Harusnya tadi kita naik taksi aja, biar bisa berhenti di depan lobi mall, gerutu Alya.
"Sudah ah, jangan menyesali yang sudah terjadi, nggak baik!" Gintani kembali melirik ke kiri dan ke kanan untuk memastikan berkurangnya volume kendaraan di jalan raya itu.
"Ayo!" Gintani menarik lengan sahabatnya dan menyebrangi jalanan yang mulai sedikit lengang. Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah mengawasi mereka dari dalam mobil sport berwarna hitam.
Gintani dan Alya mulai memasuki mall itu. Dengan uang bekal yang dibawanya dari kampung, Gintani pun mulai membeli barang-barang yang dia inginkan.
Sebenarnya, untuk urusan sandang, pangan dan papan, sang suami telah menyediakannya. Namun sayangnya, suami Gintani tidak pernah sadar jika Gintani juga sama seperti istri yang lainnya. Gintani butuh nafkah lahir batin. Nafkah lahir untuk memenuhi keinginannya sendiri dan nafkah batin untuk memenuhi hasratnya. Namun karena Gintani merasa jika statusnya hanyalah seorang istri cadangan, maka dia pun memendam semua keinginan untuk memiliki nafkah lahir dan batin.
Waktu terus berlalu. Tanpa sadar, Gintani telah menghabiskan setengah harinya di luar. Puas berbelanja, Gintani mengantarkan Alya kembali ke kafe bang Alex. Setelah itu, dia kembali pulang ke apartemennya.
"Darimana saja kamu?"
Suara bariton suaminya mengagetkan Gintani yang tengah mengendap-endap memasuki ruang tengah.
'M..Mas ... su..sudah pulang?" tanya Gintani gugup saat melihat suaminya tengah duduk seraya menyilangkan kakinya di sofa.
"Sudah puas kelayapannya!" ujar Argha sedikit berteriak.
"Ma... maaf, Mas!" jawab Gintani seraya menundukkan kepalanya.
Argha mendengus kesal. "Apa permintaan maafmu masih berguna, hah?" tanya Argha.
"Mas, aku pergi sebentar bersama Alya. Aku minta maaf karena aku tidak meminta izin padamu."
"Sebentar katamu? Pergi menghabiskan waktu setengah hari, kau bilang sebentar?" Argha merasa geram dengan sikap Gintani yang keluyuran tanpa izinnya.
"Mas, aku mohon jangan marah, aku bisa menjelaskannya!" pinta Gintani. "Aku bosan harus diam di rumah tanpa melakukan apapun. Tadi pagi, saat aku ingin meminta sesuatu darimu, kau tidak pernah mau menggubris permintaanku. Aku bosan Mas, tinggal di rumah tanpa ada kegiatan. Alya menelpon aku dan dia mengajakku keluar. Karena itu aku menerima ajakannya. Mas sendiri tidak pernah mengajakku pergi ke mana-mana. Aku istrimu Mas, bukan bonekamu! Jadi tolong perhatikan keinginanku meskipun hanya untuk waktu yang singkat," ucap Gintani meluapkan kekesalannya.
"Ooh, jadi kau bosan tinggal di sini, hah! Kau bosan menunggu suami pulang kerja, iya?? teriak Argha semakin marah.
"Mas, bukan begitu maksudku! Aku hanya_"
"Alaaah, sudahlah! Kau hanya mencari alasan saja. Kamu pergi keluar untuk bertemu dengan Alex, kan? Temanmu itu, hanya kau jadikan tameng untuk menutupi kebusukanmu! Apa kamu pikir aku tidak tahu tentang hubunganmu dengan pria itu?"
"Mas, cukup! Jangan bawa-bawa Bang Alex dalam pertengkaran kita. Kamu benar-benar salah paham. Aku sama sekali tidak pernah memiliki hubungan apa pun dengannya. Dia memang orang yang sangat berjasa dalam hidupku. Dia yang membantuku saat aku tidak memiliki pekerjaan. Dan dia juga yang telah mencarikan aku seseorang un_" Gintani menghentikan ucapannya.
"Untuk apa hah? Untuk apa?" teriak Argha semakin kalap.
"Untuk membeli tubuhku! Apa kau puasss!!!"
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, gaiss....
Ditunggu like, vote n komennya...
__ADS_1
Makasih... 🙏🤗