
Malam semakin larut. Bunyi derasnya air hujan kini telah berubah menjadi gemericik air yang turun ke bumi. Argha mengerjap saat tangannya meraba baju Gintani yang basah akibat peluh.
Argha menarik tangannya. Dia berjalan berjinjit menuju lemari pakaian dan mengambil baju tidur istrinya. Setelah itu, dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selepas mengganti pakaiannya, Argha pun kembali. Perlahan, dia membuka resleting baju istrinya. Argha menarik tangan Gintani. Namun pergerakannya membuat Gintani terbangun.
"Ma... Mas.., apa yang kau lakukan?" tanya Gintani, pelan.
"Ba...bajumu basah, Gin. A... aku hendak menggantinya dengan baju tidurmu," jawab Argha, gugup.
"Biar aku saja," ucap Gintani seraya bangkit. Dia mulai menapakkan kakinya hendak pergi ke kamar mandi. Tapi lagi-lagi dia limbung. Kepalanya yang terasa berat dan tubuhnya yang lemas, membuat dia tidak memiliki kekuatan untuk berdiri tegak.
Argha menangkap tubuh Gintani. Dia kembali mendudukkan Gintani di atas ranjang.
"Jangan membantah lagi! Biar aku bantu," ucap Argha.
"Ta...tapi, aku malu, Mas!"
"Mau aku pinjamkan helm?" tawar Argha.
"Untuk?" tanya Gintani, heran.
"Untuk menutupi muka kamu, agar tidak merasa malu lagi," jawab Argha, asal.
"Mas...ih.., aku serius!" rengek Gintani.
Ah..., rengekan yang sangat merdu di telinga Argha. Entah kenapa Argha sangat menyukai suara Gintani yang sedang merajuk seperti itu.
"Pejamkan saja matamu! Aku janji, aku tidak akan berbuat di luar batas," jawab Argha.
Gintani mengangguk, dan Gintani percaya dengan semua ucapan suaminya. Gintani percaya jika Argha tidak akan berbuat sesuatu yang tak senonoh. Bukankah masih ada perjanjian yang mengharuskan mereka saling membatasi diri masing-masing?
Gintani memejamkan matanya saat merasakan bajunya mulai terangkat ke atas. Sedangkan Argha, dia harus bersusah payah menahan gairahnya yang melihat tubuh istrinya yang hanya berbalutkan kacamata berenda dan segitiga pengaman. Argha meraba punggung Gintani yang terasa lengket akibat bermandikan keringat.
"Gin !" panggil Argha, pelan.
"Kenapa, Mas?" jawab Gintani masih dengan mode memejamkan matanya.
"Tubuhmu lengket... aku seka pakai air hangat, ya?"
Sejenak gintani diam.
__ADS_1
"Gin, tidurnya nanti tidak akan nyaman kalau tidak dibersihkan. Mau, ya?" bujuk Argha.
Dengan masih terpejam, Gintani pun mengangguk.
Argha menarik selimut yang terlipat di ujung ranjang. Dia pun membalut tubuh setengah polos milik istrinya menggunakan selimut tersebut. Argha kembali ke kamar mandi untuk mengambil air hangat dan juga handuk kecil.
.
.
Argha menaiki ranjangnya dan menyimpan wadah air hangat di sebelahnya.
"Maaf ya, Gin!" ucapnya lirih.
Tangan Argha mulai membuka pengait kacamata berenda itu. Perlahan, Argha menurunkan benda itu hingga terlepas dari tubuh polos istrinya. Argha mulai membasahi handuk kecil dan memerasnya. Sedikit demi sedikit dia mengusap punggung Gintani hingga ke pinggangnya. Berkali-kali Argha menelan salivanya karena melihat tubuh mulus istrinya yang putih bersih.
Tangan Argha mulai terulur ke bagian depan. Handuk kecilnya menyentuh dua bukit berwarna putih yang masih sangat padat. Mata Argha terpejam merasakan sensasi yang luar biasa saat lengannya menyentuh puncak bukit yang terasa kenyal. Meski kecil, namun bulatan itu mampu meluluhlantahkan pertahanannya. Tangan kekar itu mulai menuruni bukit kembar dan berhenti di bawahnya. Argha kembali membasahi handuk dan mulai membersihkan bagian perut Gintani.
Gintani semakin memejamkan matanya saat hembusan hangat napas suaminya menyentuh lehernya.
Tangan Argha masih terus membuat gerakan melingkar di sekitar perut istrinya. Dia menopangkan dagunya di bahu kanan Gintani. Matanya mulai terasa buram karena kabut gairanya. "Gin!" panggil Argha, parau.
Gintani membuka matanya. Dia melihat tangan kekar itu tengah melilit pinggangnya. Gintani pun menyandarkan punggung dan kepalanya di dada bidang suaminya. Bahasa tubuh mereka mengisyaratkan jika mereka menginginkan satu sama lain.
Gintani mengangguk, menyetujui permintaan suaminya. Tubuh Gintani menggelinjang saat tangan Argha menanggalkan segitiga pengamannya.
"Mm...Mas...!" lirih Gintani seraya menutup area bukit yang ditumbuhi rumput kehitaman dengan kedua tangannya.
Argha tersenyum, dia merasa gemas melihat istrinya menutupi area itu dengan mata terpejam. Argha kembali membasahi handuknya. Satu persatu, dia mulai membersihkan kedua pangkal paha istrinya. Saat ini, Argha sangat menikmati perannya sebagai suami yang sedang membantu istrinya berseka.
Gintani sudah seperti seorang bayi dewasa yang tak berdaya. Dia hanya bisa pasrah dengan apa yang tengah dilakukan suaminya.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Argha menyimpan handuk kecilnya itu ke dalam air kotor bekas menyeka tubuh istrinya. Tiba-tiba saja, Argha mencondongkan badannya dan mulai mengecup pusar Gintani.
Hawa panas yang keluar dari mulut suaminya, membuat tubuh Gintani menggeliat seketika.
Argha semakin tersiksa dengan hasratnya. Dia menatap Gintani penuh damba.
"Gin...!" panggilnya, serak. "Bo..bolehkah aku menyentuhmu?" lanjutnya.
__ADS_1
Gintani diam. Dia tak mengiyakan, namun juga tak menolak saat bibir Argha menyentuh wajahnya.
Bibir itu terus mengecup seluruh permukaan paras ayu milik Gintani. Mata, hidung, kening, alis, pipi, tak satu pun bagian yang terlewat dari wajah berbentuk oval itu. Hingga akhirnya, kecupan itu bermuara di bibir mungil berwarna pink.
Saling menyapu, saling bertautan dan saling menukar saliva, kini menjadi sensasi tersendiri bagi pasangan muda itu. Tanpa melepaskan pagutannya, tangan Argha mulai bergerilya di seputar bukit kembar istrinya. Sesekali dia memainkan bulatan kenyal yang tampak coklat kemerahan. Benda itu sungguh sangat menggoda Argha, seakan memanggilnya untuk segera menyesapnya.
Argha pun mulai memutus pagutannya dan mengalihkannya menyusuri bukit kembar yang tandus. Lidahnya menyapu daerah itu sambil sesekali membelit benda kecil nan kenyal itu. Tangan Argha terus bergerilya hingga menyentuh bukit yang ditumbuhi rumput kehitaman. Tangan jahil itu mulai membelah lembahnya dan menyentuh benda pipih yang terselip diantara kedua lembah itu. Perlahan, Argha menyusuri permukaan benda itu dengan ujung jari telunjuknya.
Tubuh Gintani semakin menggelinjang merasakan sensasi yang baru pertama kali dirasakannya.
Tak ingin berhenti sampai di sana, telunjuk jahil itu mulai memasuki pintu goa terlarang. Tanpa permisi, telunjuk itu masuk dengan perlahan. Membuat si pemilik goa mengeluarkan suara merdu yang mengalun indah di telinga Argha.
Argha terlihat senang melihat ekspresi wajah Gintani yang mulai tersiksa dengan perlakuannya. Perlahan, Argha mulai memaju mundurkan telunjuknya di goa terlarang Gintani. Beberapa menit kemudian, cairan hangat mulai membasahi tangan Argha.
Tak ingin melewatkan kesempatan yang seolah terjadi sekali dalam seumur hidupnya, Argha segera menarik lidahnya dari benda kecil di salah satu puncak bukit kembar istrinya. Argha mengangkat kedua kaki Gintani hingga menekuk. Dia merentangkannya dan mulai membenamkan wajahnya di antara kedua pangkal paha istrinya. Lidah Argha mulai menari-nari menyapu cairan hangat yang semakin membanjiri area goa yang penuh kenikmatan itu.
Gintani terus menggeliat kesana kemari. Tubuhnya bergetar hebat saat kembali merasakan sensasi yang menguras tenaganya.
"M... Mas....," Tangan Gintani menarik kedua pipi suaminya.
Argha mendongak. Dia menatap Gintani yang tampak tak berdaya seraya menggelengkan kepalanya.
"Ke...kenapa, Gin?" Kembali Argha bertanya dengan suara yang semakin serak.
"Per... hah... hah... perjanjian ki... kita...," jawab Gintani dengan napas yang masih tersengal karena hasrat yang telah memburunya.
Argha bergeming. Dia merasa sangat tertampar oleh ucapan Gintani yang mengingatkan akan perjanjian pranikah mereka.
Argha mulai menyelimuti tubuh polos istrinya. Dia kemudian meraih baju Gintani yang tersampir di kursi riasnya. "Aku bantu pakaikan bajunya, ya?" izin Argha.
Gintani mengangguk. Dia kembali memejamkan matanya saat Argha memakaikan baju tidurnya satu persatu.
Setelah selesai, Argha mengambil wadah air kotor itu dan menyimpan kembali ke kamar mandi. Dia pun menuntaskan hasratnya dengan bersolo karir. Beberapa menit kemudian, Argha kembali naik ke ranjangnya. Tangan kekarnya meraih tubuh istrinya yang tengah tertidur, dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Maaf, Gin! Aku khilaf!" Bisik Argha di telinga istrinya. "Tapi, seandainya kamu tahu, ini adalah kekhilafan yang terindah yang pernah aku rasakan," gumam Argha yang masih bisa di dengar oleh Gintani yang sedang berpura-pura tidur.
Senyum tipis terukir di bibir Gintani. Kamu benar, Mas! Ini khilaf terindah yang pernah terjadi dalam hidupku. Seumur hidup, aku tidak akan pernah melupakan sentuhanmu malam ini Mas. Sentuhan yang penuh kelembutan. Seandainya aku memiliki harga sebagai seorang istri bagimu. Aku sudah sangat bahagia, Mas. Meskipun harga itu hanya seujung kukumu saja.
Bersambung....
__ADS_1
Ketar-ketir gaisss....., semoga tidak direvisi...
Mohon like, vote n komennya yaaa.. 🙏🤗