Takdir Gintani

Takdir Gintani
Let's Play The Game


__ADS_3

"Berdirilah!" perintah Gintani kepada pria yang masih bersimpuh seraya menundukkan kepalanya.


"Ta... tapi...."


"Berdirilah, Kak! Aku tidak mau menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar sini," jawab Gintani, lembut.


Bram pun berdiri, sejurus kemudian dia meminta izin untuk duduk di bangku yang tadi ditempati Alex.


"Jadi..., bisakah Kakak menjelaskan alasan kenapa tiba-tiba Kakak meminta maaf padaku?" tanya Gintani yang masih merasa heran melihat sikap Bram seperti itu.


Bram menghela napasnya sejenak. Dia pun menatap kosong hamparan bunga yang ada di taman itu.


"Maafkan semua kesalahanku di masa lalu! Aku benar-benar tidak menyangka jika perbuatanku, menjadi awal dari semua penderitaan yang kamu alami," ucap Bram.


"Maksud Kakak?" tanya Gintani seraya mengernyitkan dahinya.


"Alex sudah menceritakan semuanya, Gin. Aku tidak pernah tahu jika kamu mengalami kesulitan karena ulah bibimu. Seandainya aku tahu kalau kamu sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk membiayai pengobatan kakekmu, aku pasti tidak akan mengikuti kemauan Argha untuk memecatmu."


Apanya yang tidak tahu, bukankah berulang kali aku katakan jika aku membutuhkan pekerjaan itu untuk menghidupi keluargaku...? Huh yang benar saja.... Dia lupa atau pura-pura lupa..? gerutu Gintani dalam hati.


"Gin...??" panggil Bram seraya menatapnya.


"Sudahlah, Kak...! Lupakan saja! Lagipula... semuanya telah berlalu," jawab Gintani, mencoba mengendalikan emosinya.


"Ta... tapi Gin... seandainya itu tidak terjadi, kamu tidak akan pernah men_"


"Itu takdirku, Kak! Tidak ada satu pun manusia yang bisa menghindari takdirnya sendiri," ucap Gintani seraya menatap dingin ke arah Bram. Jujur saja, dia tidak pernah ingin menjadi wanita lemah lagi karena harus mengenang masa lalu.


Untuk sejenak, keheningan terjadi di antara mereka.


"Na adalah teman masa kecil Argha. Dia satu-satunya orang yang bisa mengembalikan senyum Argha setelah kematian ibunya akibat kecelakaan." Tanpa diminta, Bram menceritakan kisah masa lalu Argha.


Gintani mengernyitkan dahinya. "Kecelakaan?" tanya Gintani.


Bram mengangguk. "Ibunya Argha terjatuh dari lantai tiga di sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu, beliau hendak menolong anak temannya. Kematian beliau yang tepat di depan mata Argha, membuat Argha trauma dan tak mau bergaul dengan siapa pun. Baginya, dunia seakan gelap saat kehilangan seorang malaikat tanpa sayap. Ditambah lagi dengan pernikahan om Jaya yang terlalu cepat menurut Argha, membuat dia semakin menutup diri. Hingga akhirnya, dia bertemu dengan gadis kecil yang bernama Na. Sifat Na yang selalu ceria, lambat laun membuat hidup Argha kembali penuh warna. Namun sayangnya, entah karena apa, Argha tidak pernah bisa bertemu dengan gadis itu. Akhirnya, Argha pun memutuskan untuk kembali tinggal bersama ayah dan ibu tirinya. Beranjak dewasa, dia menyuruhku untuk mencari Na. Hingga seminggu setelah kalian menikah. Argha tidak pernah memikirkan tentang Na lagi. Bahkan, beberapa hari yang lalu, dia menyuruhku untuk berhenti mencari Na. Hingga malam kemarin, di__"


"Kak Bram, bisakah kita tidak membahas hal itu lagi?" pinta Gintani.


"Tapi...."


"Kak, Gintan yakin, Kakak jauh lebih tahu tentang alasan pernikahan kami. Gintan juga yakin kalau Kakak tahu jika mas Argha mengajukan sebuah perjanjian sebelum kami menikah. Semua ini kesalahan Gintan.... Mungkin... Gintan yang terlalu percaya diri jika Gintan bisa menghapus nama gadis itu dari hati mas Argha. Hingga akhirnya, Gintan harus merasakan akibat dari rasa percaya diri yang keterlaluan itu," jawab Gintani datar.

__ADS_1


"Tapi Argha mencintai kamu, Gin!"


Hening...


"Percayalah..., aku sangat yakin jika Argha mencintai kamu. Dia sudah melupakan Na. Tapi... ada kejadian yang memaksa dia untuk mengingat kembali gadis itu."


"Itu bukan alasan yang masuk akal, Kak. Jika memang benar mas Argha mencintai Gintan, apa pun tidak akan pernah bisa menjadi sebuah alasan untuk mengingat masa lalunya lagi. Gintan mohon, Gintan tidak pernah ingin berharap apa pun lagi. Gintan sudah sangat lelah, Kak. Percuma Gintan belajar memilikinya, jika dia tidak pernah ingin belajar menerimanya. Gintan lelah, Kak...."


"Tidak Gin! Aku bisa buktikan jika Argha mencintai kamu."


"Caranya?"


"Biar aku yang memikirkan bagaimana caranya. Kamu tidak perlu khawatir. Aku berjanji, dalam waktu dekat... aku akan membuat Argha menyadari perasaannya."


"Jangan terlalu memaksanya kak! Aku tidak suka cinta yang dipaksakan," ujar Gintani.


"Tenang saja, Gin! Ini bukan pemaksaan. Ini hanyalah sebuah ikhtiar dalam cinta."


Gintani mengulum senyumnya. Entah apa yang akan Kakak lakukan, satu yang pasti... Gintan tidak akan pernah berharap lagi pada kisah yang telah berakhir." Gintani meraih tas selempangnya. "Sudah sore Kak, Gintan pamit dulu. Assalamu'alaikum...!"


"Wa'akaikumsalam."


Bram menatap kepergian Gintani, hingga tubuh mungil wanita itu menghilang di tengah kerumunan orang-orang yang berada di taman. Semakin sore, suasana taman semakin mulai ramai oleh gerobak-gerobak para pedagang kaki lima yang menjajakan aneka kuliner.


"Dimana lo?"


"Gua ada di apartemen."


"Tunggu di sana! Dua puluh menit lagi, gua sampai."


Tut......


Bram menutup telponnya. Dia kemudian melangkahkan kaki menuju parkiran taman kota. Setelah membayar sewa parkir, Bram pun melajukan kendaraannya membelah jalanan ibukota yang semakin padat merayap.


Dua puluh lima menit berkendaraan, akhirnya Bram tiba di sebuah apartemen mewah yang berada di pusat kota. Bram segera menaiki lift dan menekan angka 11. Beberapa menit kemudian, lift berhenti. Pintu lift terbuka, Bram segera keluar. Dengan menaruh kedua tangannya di saku celana, Bram berjalan begitu santai menyusuri koridor apartemen di lantai 11.


Bram berhenti di sebuah kamar apartemen dengan nomor 115. Dia kemudian menekan tombol merah yang berada di samping pintu apartemen.


"Siapa?" tanya seseorang yang hanya terdengar suaranya saja.


"Ini gua,... Bram!" jawab Bram.

__ADS_1


Klek...!


Seseorang membukakan pintu untuknya. Bram pun menyelonong masuk tanpa permisi ataupun mengucapkan salam.


"Ish, kek kadal saja!" umpat si pemilik apartemen yang tak lain adalah Kevin.


"Darurat bro!" jawab Bram seraya menghempaskan bokongnya di atas sofa. Sejenak dia menyandarkan tubuhnya. Matanya terpejam untuk menjernihkan pikirannya.


"Lo habis nangis, Bram?" tanya kevin menyelidik.


Bram memicingkan sebelah matanya. "Kenapa lo nanya kek gitu?" tanya Bram heran.


"Idung lo merah, ke badut Ancol," jawab Kevin ngasal.


"Sialan lo!" umpat Bram seraya melempar bantal sofa ke arah sobat gilanya itu.


Kevin terkekeh sambil berlari kecil ke arah mini bar untuk menghindari bantal terbang itu. Dia kemudian meraih botol anggur beserta dua buah seloki. Sedetik kemudian, dia kembali ke ruang tamunya.


"Minum?" tawar Kevin, menuang cairan berwarna merah darah itu ke dalam gelas Bram.


"Lo punya softdrink?" tanya Bram.


"Bhua... haa... haa...! Kenapa nggak minum susu aja sekalian...?" ledek Kevin yang tergelak melihat perubahan sobatnya.


"Ish, gua serius Bro! Dhifa larang gua nyentuh tu barang lagi. Harom, Kev...!"


"Dhifa?" Kevin bertanya seraya mengernyitkan keningnya. "Lo pacaran sama Nadhifa?" tanya Kevin lagi.


"Baru tahap PDKT," jawab Bram. "Oh iya, Kev... gua datang ke sini mau minta bantuan lo."


"Bantuan apa?" tanya Kevin, heran.


"Kemarilah! Aku bisikan sesuatu," ujar Bram.


Kevin mendekati Bram. Sejurus kemudian, Bram membisikkan sesuatu di telinga sobatnya itu.


Kevin bergidik geli saat dia merasakan hembusan napas Bram di telinganya.


"Lo bisa diam nggak, sih!" seru Bram seraya menepuk pundak Kevin.


"Sorry... sorry... hee... he...!" kekehnya. Dia kembali menyodorkan telinganya ke arah Bram.

__ADS_1


Sejurus kemudian, seringai kelicikan tersungging di kedua sudut bibir Kevin.


"Ok...! Let's play the game...!!"


__ADS_2