Takdir Gintani

Takdir Gintani
Siapa Mereka?


__ADS_3

"Kenapa, Tik?" tanya Nyonya Shella yang merasa kebingungan melihat Ilona terpaku di depan sebuah pigura besar yang memasang foto keluarganya.


"Ga-gadis itu, Tan? Si-siapa gadis itu?" tanya Ilona terbata seraya menunjuk gadis yang tengah berdiri di belakang seorang lelaki tua yang sedang duduk.


"Oh, dia Gintani. Keponakan Om Arman," jawab Nyonya Shella dengan nada yang tak bersahabat.


"Keponakan Om Arman? Itu artinya, dia sepupunya Celine, Tan?" tanya Ilona, memastikan.


Nyonya Shella mengangguk seraya menaruh kembali majalah-majalahnya di rak buku.


"Tapi, kenapa Celine tidak pernah bercerita tentang dia?" tanya Ilona, mengerutkan keningnya.


"Itu karena hubungan mereka tidak baik," jawab Nyonya Shella.


"Maksud Tante?" Ilona bertanya dengan raut wajah yang dipenuhi segudang penasaran.


"Dia salah satu anak panti asuhan yang diadopsi ayah mertuaku. Kabarnya, gadis itu adalah putri dari anak ayah mertua yang dari istri keduanya. Karena itu, keluarga besar Om Arman tidak menyukai gadis itu," jawab Nyonya Shella dengan nada sinisnya.


Ilona mengernyitkan keningnya, jadi, istrinya kak Argha masih bersaudara dengan Celine? batin Ilona.


"Maaf Tante, kalau boleh tahu, kenapa Celine tidak menyukainya?" tanya Ilona, hati-hati.


"Usia mereka hanya terpaut beberapa bulan saja. Sejak gadis itu dibawa ke rumah ini dan dikenalkan sebagai keturunan dari Wira Hadikusumah, sikap ayah mertuaku mulai berubah. Dia mulai membagi semua pemberiannya untuk cucunya. Karena itu, Celine merasa tersisihkan. Dia merasa, semua perhatian kakeknya telah direnggut oleh Gintani. Apalagi, ayah mertuaku selalu memuji kepintaran Gintani di hadapan Celine. Apa pun yang dilakukan gadis tak tahu diri itu, selalu saja mendapatkan pujian dari ayah. Lambat laun, Celine mulai membencinya. Rasa cemburu yang tertanam di hatinya, sedikit demi sedikit telah menjadi sebuah kebencian yang mulai mengakar kuat di hatinya. Sejak saat itu, Celine pun mulai tidak akur dengan Gintani."


"Lalu Tante? Apa tante sendiri--"


"Tentu saja tante juga membencinya." Nyonya Shella memotong kalimat Ilona.


"Ibu mana yang senang jika melihat hati putri semata wayangnya bersedih. Sejak kedatangan gadis itu, tak ada lagi kedamaian di rumah ini. Kedua mertua Tante sering bertengkar. Hingga di hembusan napas terakhir, ibu mertua Tante, tetap mengutuk Gintani sebagai pembawa nasib sial di keluarga ini." ucap Nyonya Shella penuh kebencian.


Senyum tipis terukir di kedua sudut bibir Ilona. Sepertinya, kedatangan dia ke tempat ini sangatlah tepat.

__ADS_1


Hmm, aku bisa memanfaatkan kebencian mereka untuk menghasut Kak Argha agar meninggalkan gadis itu, pikir Ilona.


🍀🍀🍀


Satu jam lebih, akhirnya pintu ruangan ICU pun terbuka. Tampak dokter Richard keluar dari ruangan itu dengan bulir peluh yang bercucuran di sekitar pelipisnya.


"Bagaimana keadaan Mas Argha, dok?" tanya Gintani, menghampiri dokter Richard.


"Syukurlah, dia dalam keadaan baik- baik saja. Aku yakin jika dia adalah lelaki yang tangguh, Gin. Masa kritisnya telah lewat. Tapi, untuk observasi, dia masih belum bisa dipindahkan ke ruang rawat. Biarkan dia tinggal di ruangan ini dulu, setidaknya untuk malam ini saja," sahut dokter Richard.


Tiba-tiba,


"Rich! Bagaimana keadaan Argha, Nak?" tanya Tuan Jaya yang sudah berdiri di belakang mereka.


Seketika, Gintani dan Jessica menoleh. Gintani semakin terkejut melihat kecemasan yang begitu kentara di raut wajah ayah mertuanya.


"Beruntung Argha segera dibawa kemari, Yah. Karena itu, kami bisa menanganinya dengan cepat," jawab dokter Richard.


"Tenanglah, Jay! Dia anak yang kuat. Dia pasti akan baik-baik saja," ucap Tuan Hanzel.


"Aku benar-benar mencemaskan dia, Han. Penyakitnya kembali kambuh setelah sekian lama dia baik-baik saja. Aku takut, Han. Aku takut kehilangan dia."


"Ssst, sabarlah Jay! Yakini saja bahwa dia anak yang tangguh. Ingatlah, keyakinan orang tua bisa membawa energi positif terhadap jiwa anaknya."


"Ya, kamu benar, Han. Semoga hari ini pun, dia bisa bertahan. Oh, ya Nak Richard, apa Ayah sudah bisa menjenguknya?" tanya Tuan Jaya.


"Kita tunggu sampai Argha dipindahkan ke ruang rawat, Yah. Saat ini, dia sedang dalam masa observasi. Sebaiknya kita biarkan dia istirahat dulu," jawab Richard mencoba memberi pengertian terhadap ayah keduanya.


"Baiklah jika itu yang terbaik buat Argha," ucap Tuan Jaya, pasrah.


"Papa! A-apa yang sebenarnya terjadi pada Mas Argha? Kenapa kalian begitu cemas sekali? Pe-penyakit apa yang kalian maksud? A-apa ada sesuatu tentang Mas Argha yang tidak Gintan ketahui?" tanya Gintani, beruntun.

__ADS_1


"Duduklah, Nak!" pinta Tuan Jaya seraya melangkahkan kakinya menuju kursi tunggu.


Gintani mengikuti ayah mertuanya dari belakang. Tiba di kursi tunggu, Gintani pun segera duduk di samping Tuan Jaya.


"Sejak kecil, Argha mengalami trauma karena melihat kematian ibunya yang terjadi di depan matanya. Untuk menghilangkan rasa trauma dan depresinya, Papa membawa dia ke psikiater. Psikiater itu memberikan resep obat penenang supaya Argha tidak mengalami depresi yang berkepanjangan. Sayangnya, Papa kurang memantau pemberian dosis obat itu. Papa terlalu sibuk bekerja, dan mempercayakan urusan kesehatan Argha kepada ibu sambungnya. Namun ternyata, karena tidak mau ambil pusing dengan segala macam bentuk teriakan Argha, Rosma selalu memberikan obat itu sebagai dalih untuk mengendalikan emosi Argha. Sejak itulah, Argha mengalami ketergantungan obat penenang. Dan efeknya, suhu tubuh Argha sangat rentan terhadap cuaca dingin. Dia akan mengalami hipotermia jika dia terlalu lama berada di cuaca yang lembab. Pernah suatu ketika, dia hampir meregang nyawa karena terlalu lama berenang di sungai. Dia sempat mengalami gagal napas untuk beberapa waktu, sebelum akhirnya seorang gadis kecil berteriak meminta tolong warga untuk menolongnya. Minimnya peralatan yang ada, membuat kondisi Argha semakin memburuk. Karena itulah, Papa kembali mengambil Argha dari kakek neneknya yang berada di kampung."


Berenang? Di sungai? Sesak napas? batin Gintani.


"Kak! Kakak kenapa! Kak...! Kakak!"


"To-tolong...! A-aku...a-aku ti-tidak bi-bi-bisa bernapas. To-tolong...!"


"Tidak! Kakak bertahanlah! Aku akan cari bantuan! Jangan pergi, aku pasti kembali!"


"Tolong! Tolong!"


"Arrghhh!"


Gintani berteriak seraya memegangi kepalanya. Bayangan dua orang anak kecil yang tengah bermain air sungai di bawah bukit, melintas dalam ingatannya. Si-siapa mereka? Siapa? batinnya.


"Gin! Kamu kenapa?" tanya Jessica seraya menghampiri Gintani.


Gintani menggigit bibir bawahnya. Rasa sakit yang sangat dahsyat kembali menyerangnya saat dia mencoba mengingat raut wajah kedua anak itu.


"Aargh..! Kepala gintan sakit, Mbak!" pekik Gintani dengan bibir bergetar.


Sakit yang semakin menyerang kepalanya membuat Gintani tak mampu mengingat apa pun lagi. Sayup-sayup dia hanya mendengar suara gaduh di ruangan itu. Sejurus kemudian, dia merasakan tubuhnya seolah melayang seringan kapas. Kata terakhir yang dia dengar hanyalah,


"Bertahanlah!"


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih masih setia memberikan like n komen untuk karya recehan ini 🙏🤗


__ADS_2