Takdir Gintani

Takdir Gintani
Penolong Sejati


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Heru merasa gelisah. Entah kenapa, pikirannya selalu terbayang akan Gintani. Heru merasa tidak tenang meninggalkan Gintani kali ini. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya ketika Heru ada tugas ke luar kota.


Beberapa kali Heru berhenti di bahu jalan. Dia terus menimbang apakah dia harus meneruskan perjalanannya atau kembali ke rumah. Namun, jika dia kembali ke rumah, perjalanan akan lebih memakan waktu lagi. Bukannya apa-apa, perjalanan Heru ke kota metropolitan sudah hampir mencapai tiga perempat. Akhirnya Heru memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.


Heru meraih ponselnya di atas dashboard. Dia kemudian menghubungi seseorang. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya telepon pun tersambung.


"Kamu di mana?" tanya Heru.


"Aku sedang di luar mencari makan siang. Apa kamu sudah sampai?" jawab seseorang di ujung telepon.


"Apa aku boleh meminta bantuan darimu?" tanya Heru lagi.


"Silakan. Selagi aku mampu membantu, aku pasti akan membantumu, Her," jawabnya.


Heru tersenyum.


"Tolong kamu lihat keadaan anak dan istriku di rumah. Entah kenapa hari ini aku begitu mencemaskan mereka," pinta Heru.


"Anak? Istri? Menangnya kapan kamu menikah?" tanya orang itu terdengar begitu terkejut.


"Ceritanya panjang. Nanti akan aku ceritakan. Sekarang kamu tolong bantu aku untuk melihat keadaan mereka," jawab Heru.


"Baiklah."


Tak ingin terlalu ikut campur urusan orang lain, akhirnya orang itu memutuskan sambungan teleponnya.


Kini Heru bisa bernapas dengan lega. Dia yakin kehadiran orang kepercayaannya pasti akan membantu Gintani dan Putri. Semoga kalian baik-baik saja. Aku sangat menyayangi kalian, batin Heru.


Alex mengembalikan ponselnya ke atas dashboard. Akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk pergi makan siang. Alex memutar kemudi dan melajukan mobilnya menuju komplek perumahan Kencana.


Sepanjang jalan, Alex terus memikirkan siapa sebenarnya istri dan anaknya Heru. Kenapa dia tidak pernah bercerita tentang hal itu. Tadinya, Alex pikir tidak akan ada rahasia di antara mereka. Tapi ternyata, bosnya seseorang yang sangat tertutup untuk urusan pribadinya.


"Sudahlah, lagi pula itu bukan urusanku," gumam Alex.


Alex membelokkan mobilnya memasuki perumahan elit tersebut. Saat dia tiba di blok B, dia mengernyitkan keningnya karena begitu banyak ibu-ibu berkerumun di depan rumah Heru. Dari kejauhan, Alex juga melihat seorang laki-laki paruh baya yang lari tergopoh-gopoh menghampiri kerumunan itu.


Alex melihat seorang wanita dengan rambut acak-acakan yang tengah diseret seorang warga. Dia pun segera turun dari mobilnya. Alex menatap wanita itu, tapi sayangnya, wajahnya tidak terlihat jelas karena helaian rambut yang menghalangi.


"Ayo kita arak wanita ini keliling komplek!" teriak seorang ibu.


"Tunggu!"


Untunglah pak RT tiba tepat waktu.


"Apa-apaan kalian ini? Saya, 'kan sudah bilang, saya akan berbicara dulu dengan suami saya. Kenapa kalian malah main hakim sendiri?" teriak bu RT penuh emosi.


"Alaaaah kelamaan, apa Ibu mau komplek kita ini kena azab dulu, baru mengambil tindakan, begitu?" tukas Imelda.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, Mel ... lagi pula, ini negara hukum, jangan suka main hakim sendiri. Bukankah pak Heru dan jeng Gintani juga punya hak untuk mengungkapkan alasannya?" ucap bu RT lagi.


Deg!


Alex begitu terkejut mendengar nama Gintani disebutkan. Apakah mungkin wanita itu adalah Gintani yang dia kenal? Tapi, bagaimana bisa? Bukankah Gintani itu istrinya Argha?


"Sudah-sudah, bubar kalian! Biar saya yang menangani kasus ini," perintah pak RT.


"Kami tidak akan membubarkan diri sebelum kami melihat kedua orang itu diusir dari komplek kita!" teriak seorang warga.


"Cukup semuanya, saya bilang, bubar! Jika kalian masih bersikeras main hakim sendiri. Lalu apa gunanya saya yang kalian angkat sebagai RT, hah?"


Rupanya pak RT benar-benar tersinggung dengan perbuatan warganya. Akhirnya, satu per satu para warga pun membubarkan diri.


"Ayo Jeng Gintan, saya bantu!" ucap bu RT seraya mengenakan hijab Gintani yang terlihat kotor.


"Terima kasih, Bu!" jawab Gintani.


Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, jantung Alex pun semakin berdegup kencang. Dia mengayunkan langkahnya mendekati Gintani.


"Tan ...!" ucap Alex dengan bibir bergetar.


Gintani, pak RT, dan bu RT seketika berbalik.


"Bang Al," gumam Gintani yang begitu terkejut melihat Alex tengah berdiri di hadapannya.


"Saya Alex, Pak. Asisten pak Heru," jawab Alex seraya mengulurkan tangannya.


"Soleh, ketua RT di komplek ini. Ngomong-ngomong, apa Anda mengenal Jeng Gintani juga?" tanya pak Soleh.


"Iya, saya mengenalnya, Pak," jawab Alex.


"Sebaiknya kita bicara di dalam saja, Pak. Nggak enak kalau dilihat tetangga yang lain," usul bu RT.


Pak RT mengangguk. Gintani pun mengajak mereka masuk ke rumah.


"Di mana pak Heru, Jeng?" tanya bu RT.


"Mas Heru sedang ada urusan di Jakarta, Bu," jawab Gintani.


"Jadi, bagaimana hubungan kalian? Apa benar dengan gosip yang beredar itu, jika kalian bukan pasangan suami istri?" tanya pak RT.


Perlahan, Gintani menganggukkan kepalanya.


"Astaghfirullahaladzim ... jadi benar kalian pasangan kumpul kebo?" pekik bu RT.


"Huss, Ibu ... jangan suudzon dulu, ah!" tegur pak RT kepada istrinya.

__ADS_1


"Maaf," ucap bu RT.


"Tidak apa-apa Bu, saya bisa memakluminya," ucap Gintani.


"Lalu, bagaimana ceritanya kamu bisa sampai satu rumah dengan Heru? Di mana Argha? Apa dia tahu kalau kamu berada di kota ini?" tanya Alex.


"Argha? Siapa Argha?" Kali ini giliran pak RT dan bu RT yang mengerutkan keningnya.


"Ar-Argha adalah mantan suamiku," jawab Gintani.


Alex kembali terkejut mendengar pernyataan Gintani. Ada apa sebenarnya ini, Tan? Apa yang terjadi padamu? batin Alex.


"Lalu pak Heru? Apa dia calon suami kamu yang baru?" tanya bu RT, menyelidik.


"Bukan. Mas Heru adalah penolong sejatiku," ucap Gintani.


"Maksudnya?" Pak RT meminta penjelasan.


"Mas Heru adalah orang yang menyelamatkan nyawaku dan anakku. Saat itu ...."


Gintani menceritakan semua kisahnya antara dia dan Heru secara gamblang. Satu pun tak ada yang dia tutup-tutupi. Hingga diakhir cerita, pak RT pun bertanya, apa dia mempunyai hubungan khusus dengan Heru?


Gintani menggelengkan kepalanya.


"Mohon maaf Jeng Gintan, Jeng sendiri tahu bagaimana sifat orang-orang di sini. Saya hanya bisa menyarankan, jika kalian masih ingin tinggal bersama tanpa ikatan, sebaiknya kalian pindah dari komplek ini," ucap pak RT hati-hati, takut menyinggung perasaan Gintani.


"Saya mengerti, Pak. Saya akan pergi dari rumah ini. Tapi tolong jangan usir mas Heru dari rumah ini. Bagaimanapun juga, dia tidak bersalah dalam hal ini. Sayalah yang bersalah karena masih menumpang hidup kepada mas Heru," ucap Gintani.


Saat mereka tengah mengobrol, tiba-tiba seorang anak kecil berjalan menghampiri Gintani.


"Mamamama ..." celoteh anak itu.


Alex seketika mengalihkan pandangannya terhadap anak kecil yang begitu cantik. "Apa dia anakmu?" tanya Alex.


Gintani mengangguk sambil meraih anak itu ke dalam pangkuannya.


"Baiklah Jeng Gintan, Bapak sama Ibu permisi dulu. Kami harap, kamu bisa segera memberikan keputusan. Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman lagi di antara para warga di sini," ucap pak RT.


"Bapak tidak usah khawatir. Sekarang juga saya akan berkemas dan meninggalkan rumah ini," jawab Gintani.


Alex hanya mampu menatap heran kepada Gintani. Dalam benaknya masih tersimpan pertanyaan, kenapa Gintani bisa berpisah dengan Argha?


Setelah mengantarkan bu RT dan pak RT, Gintani kembali mendekati Alex.


"Apa Abang tahu, kontrakan yang cukup nyaman di daerah sini?"


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2