Takdir Gintani

Takdir Gintani
Jebakan


__ADS_3

Tiba-tiba saja, Gintani jatuh tersungkur di atas lantai.


"Tan!" pekik Nando. Dia segera mendudukkan Sarah di atas sofa. Sejurus kemudian, Nando menghampiri Gintani yang telah tergeletak tak sadarkan diri di lantai.


"Tan! Tan ... kamu nggak apa-apa?" tanya Nando menepuk pelan pipi Gintani.


Namun Gintani tak bereaksi.


"Gintani!" panggil lirih Nando.


Gintani masih tak bergerak.


Untuk sesaat, keheningan terjadi di kamar itu.


"Bagaimana, Kak?" Tiba-tiba Sarah bangun lalu menghampiri Nando.


"Sepertinya obatnya telah bereaksi, Dek." Nando menjawab pertanyaan adiknya.


"Kakak, aku takut," ucap Sarah dengan bibir bergetar.


"Tapi kita tidak punya cara lain, Dek," jawab Nando.


Sarah diam.


"Tidak usah cemas, Dek. Setelah semua ini selesai, kita akan segera pergi dari sini." Nando mencoba menenangkan hati adiknya.


Sarah hanya bisa mengangguk menanggapi ucapan Nando.


"Ayo bantu Kakak!" pinta Nando.


Sarah membantu Nando mengangkat tubuh Gintani dan meletakannya di atas ranjang.


Menit demi menit berlalu. Putaran jarum jam terus mengitari angka demi angka, hingga tanpa sadar langit pun mulai semakin gelap.


Nando membangunkan adiknya yang tengah tertidur lelap.


"Hoamm ... ada apa, kak?" tanya Sarah seraya menggeliatkan badannya untuk meregangkan otot-ototnya.


"Sudah malam, kamu buka pakaiannya, setelah itu kamu bisa pergi!" ucap Nando.


"Apa Kakak yakin, Kakak akan terus menjalankan rencana ini?" tanya Sarah. Dia berharap jika kakaknya akan berubah pikiran.


"Kakak sudah menggunakan sebagian uang itu untuk menyelamatkan keponakanmu. Jadi, mau tidak mau, Kakak harus melakukan ini, Dek," jawab Nando.


"Berjanjilah, Kakak tidak akan berbuat yang tidak senonoh terhadap kak Gintan!" pinta Sarah.


"Iya, Kakak janji," jawab Nando.

__ADS_1


"Berjanjilah, Kakak tidak akan menyentuhnya!" Sarah kembali meminta kakaknya untuk berjanji.


"Iya-iya ... Kakak tidak serendah itu, Dek. Kakak berjanji tidak akan menyentuh Gintani seujung kuku pun. Lagi pula, Kakak tidak mau mengkhianati anak dan istri Kakak. Kalau bukan demi kesembuhan Nanda, Kakak tidak akan sudi melakukan pekerjaan kotor ini." Nando mencoba menjelaskan alasan dibalik dia menjebak Gintani.


"Bersabarlah, Kakak. Sarah percaya sama Kakak," ucap Sarah mengelus punggung tangan kakaknya.


Nando tersenyum tipis. "Terima kasih, Dek," ucap Nando. "Ya sudah, sekarang kamu lakukan tugas kamu!" Nando kembali memberikan perintah kepada Sarah


Sarah mengangguk, sejurus kemudian, dia mulai membuka pakaian Gintani satu per satu. Melihat hal itu, Nando pun memalingkan wajahnya dan duduk di sofa. Nando mulai menyalakan sebatang rokok untuk mencari sebuah ketenangan.


"Sudah beres, Kak," ucap Sarah yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Nando.


Nando mematikan rokoknya. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.


"Ini untuk ongkos taksi kamu. Pergi dan segera berkemaslah. Setelah itu, kamu ajak kakak iparmu pergi ke sebuah tempat yang sudah disepakati. Jika dia bertanya tentang aku, katakan padanya aku akan menyusulnya nanti. Paham?" tanya Nando kepada adiknya.


Sarah mengangguk.


"Ya sudah, pergilah!" perintah Nando.


"Kakak, Berhati-hatilah!" ucap Sarah.


Nando tersenyum tipis. Sejurus kemudian dia menganggukkan kepalanya.


Meskipun mencemaskan keadaan kakaknya, tetapi Sarah tidak bisa menemaninya. Bagaimanapun juga, dia harus segera pergi agar rencana kakaknya berhasil.


🍀🍀🍀


Di lain tempat, Ilona tampak tersenyum senang melihat pesan gambar yang baru saja dia terima. "Hmm, mulai malam ini, kehidupan kamu akan hancur," ucap Ilona sinis.


Sebaiknya aku kirimkan gambar ini pada kak Argha. Aku yakin, setelah melihat semua ini, kak Argha pasti akan meninggalkan wanita itu, batin Ilona seraya menekan tombol teruskan pada layar ponselnya.


"Tapi tunggu! Jika aku beritahu dia begitu saja, dia pasti akan curiga padaku," ucap Ilona. Ish, bagaimana caranya supaya aku bisa memberikan bukti ini tanpa jejak, batinnya. "Ah, ya, aku tahu! Sebaiknya aku kirim ke kak Bram saja. Biar kak Bram yang memberi tahu kak Argha. Bukankah mereka bersahabat? Kak Bram pasti langsung melapor kalau dia melihat gambar seperti ini." Ilona kembali bermonolog. Namun saat dia hendak meneruskan pesan gambar itu, kata hatinya kembali menolak.


"Tidak! Jangan seperti ini, kak Bram, 'kan ahli IT. Sekali lacak, bisa ketahuan kalau itu nomorku. Ish, sebaiknya apa yang harus aku lakukan biar tak ada seorang pun yang curiga?" tanya Ilona pada dirinya sendiri.


Cukup lama Ilona termenung. Hingga akhirnya,...


"Aha! Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Hmm, lihat saja nanti. Aku pasti bisa memancing mereka keluar tanpa harus terlihat," gumam Ilona.


🍀🍀🍀


Malam terus merangkak. Dering telpon di rumah Tuan Jaya memaksa Nyonya Rosma beranjak dari ruang keluarga.


"Hallo, kediaman Amijaya di sini."


"Hallo! Selamat malam. Apa saya bisa bicara dengan Gintani?"

__ADS_1


"Maaf, ini dengan siapa?"


"Saya Celine, sepupu Gintani."


"Sebentar!"


Nyonya Rosma meletakkan gagang teleponnya. Dia kemudian berteriak memanggil pembantunya.


"Saya, Nyah," jawab Bik Siti.


"Coba tolong panggilkan Gintani. Bilang padanya, sepupu dia menelepon," perintah Nyonya Rosma.


"Maaf, Nyah. Tapi nona Gintani belum pulang," ucap Bik Siti.


"Apa? Jam berapa sekarang?" Nyonya Rosma melirik jam dinding di ruang keluarga. "Ini sudah hampir jam 11 malam, tapi kenapa Gintani belum pulang juga. Ish, kemana perginya dia?" gerutu Nyonya Rosma.


Nyonya Rosma kembali meraih gagang telepon itu. "Maaf, Gintani belum pulang," jawabnya.


"Kalau boleh tahu, dia pergi kemana, Nyonya?"


"Maaf. Saya sendiri tidak tahu. Kamu bisa telepon dua ke nomor ponselnya."


"Maaf Nyonya, nomor ponsel Gintani tidak aktif. Baiklah, kalau begitu nanti saya coba telepon kembali. Mohon maaf mengganggu waktunya."


Nyonya Rosma menutup telponnya. Huh, ada-ada saja. Ngomong-ngomong, ke mana perginya Gintani? Kenapa sampai jam segini dia belum pulang juga? Hmm, tidak biasanya dia keluar malam, batin Nyonya Rosma.


"Sebaiknya aku tanya Argha saja. Mungkin saat ini dia sedang bersama Argha," gumam Nyonya Rosma.


Nyonya Rosma kembali mengangkat gagang teleponnya. Sejurus kemudian, dia menekan tombol angka yang berderet di kotak kecil. Beberapa menit menunggu, akhirnya telepon pun mendapat jawaban.


"Hallo!"


"Argha, ini Mama. Apa Gintani sedang bersama kamu?"


"Tidak. Dia tidak bersamaku."


Ish, kenapa sampai jam segini dia belum pulang juga? batin Nyonya Rosma.


"Ya sudah, Ar. Coba kamu hubungi teman-temannya. Ini sudah malam, loh. Mama cemas."


Setelah mengutarakan kecemasannya, Nyonya Rosma segera menutup teleponnya. Dia kemudian pergi ke kamar putrinya untuk menanyakan sang menantu. Namun Nyonya Rosma harus menelan kekecewaan karena ternyata putrinya telah tidur duluan.


"Hmm, ke mana perginya menantu tidak tahu diri itu?"


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya ya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2