
"Bagaimana dengan perkembangan proyek itu, Bram ?" tanya pak Jamal kepada anaknya.
"Argha memintaku untuk membuat draft kontrak kerja sama. Namun sayangnya, pihak pemda setempat belum berhasil membujuk sebagian masyarakat untuk melepaskan lahannya." jawab Bram panjang lebar.
"Benarkah ? Memangnya ada berapa orang yang enggan untuk melepaskan lahan mereka ?" tanya pak Jamal lagi seraya menyesap kopi hitam kesukaannya.
Saat ini, dia bersama anaknya tengah menikmati waktu senjanya di halaman belakang rumahnya. Sudah seminggu, semenjak dia kembali ke Jakarta, mereka baru memiliki waktu senggang berdua.
"Mungkin ada sekitar empat orang, yah." jawab Bram, masih asyik memainkan ponselnya.
"Memangnya kalian tidak menawarkan harga yang pantas kepada mereka ?" tanya pak Jamal. "Bukankah tuan Jaya sudah bilang jika dia siap mengucurkan dana untuk pembangunan yang maksimal ?" lanjut pak Jamal lagi.
"Sebenarnya, harga yang dikeluarkan perusahaan cukup fantastis. Dan sepertinya, sebagian dari mereka tergiur dengan kompensasi tersebut. Hanya saja, ada seorang pria tua yang bersikeras tidak ingin melepaskan lahan perkebunannya. Sayangnya, lahan yang dia miliki, berada di tengah-tengah lahan warga yang telah menyepakati kompensasi. Hingga akhirnya, Argha terpaksa menundanya sampai lahan itu berhasil dibebaskan." kembali Bram menjawab pertanyaan ayahnya dengan panjang kali lebar.
"Bagaimana dengan pihak pemda ?" pak Jamal kembali bertanya.
"Mereka pun sudah sangat kewalahan membujuk orang tua itu, yah." jawab Bram.
Pak Jamal hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban putranya.
🍀🍀🍀
Setelah melewati masa cutinya selama tiga hari, akhirnya tuan Jaya kembali memimpin perusahaannya yang semula dititipkan kepada putra sulungnya.
"Jamal, kemarilah !" panggil tuan Jaya melalui intercomnya.
Beberapa menit kemudian. Lelaki yang telah berusia lebih dari setengah abad itu pun muncul dengan penuh kharismatik.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan ?" tanya pak Jamal.
"Duduklah !" perintah tuan Jaya.
Pak Jamal pun mendaratkan bokongnya untuk mendengarkan titah sang atasan.
"Apa kamu sudah mendengar tentang hambatan pembangunan wisata curug itu ?" tanya tuan Jaya kepada asistennya.
"Iya, tuan. Beberapa hari yang lalu, Bram sudah menceritakan semuanya kepada saya." jawab pak Jamal.
__ADS_1
"Apa perlu kita sendiri yang turun tangan, Mal ?" tanya tuan Jaya seraya mengetuk-ngetukkan ujung jari jemarinya di atas meja.
"Jika memang perlu, kenapa tidak, tuan ?" jawab pak Jamal.
Sejenak tuan Jaya menyandarkan punggungnya. Dia menengadahkan wajahnya. Netranya menatap kosong pada langit-langit ruang kerjanya. Sekilas, terlintas dalam benaknya saat Argha dengan ngototnya mengambil alih proyek itu. Padahal tuan Jaya tahu, jika Argha tidak pernah ingin terlibat dalam proyek yang bukan di bidangnya.
"Apa kamu tidak merasa aneh, Mal ?" tanya tuan Jaya masih dengan mode menatap nanar langit-langit itu.
"Maksud tuan ?" tanya pak Jamal tak mengerti.
"Argha memaksa agar aku menyerahkan proyek ini kepadanya. Padahal kamu sendiri tahu jika dia tidak pernah tertarik untuk menangani proyek-proyek perusahaan ini. Apa kamu tahu sesuatu ?" tanya tuan Jaya, menyelidik.
"Mohon maaf, tuan. Aku sendiri tidak tahu apa-apa. Hanya saja, Bram pernah bercerita jika tuan muda memberinya perintah untuk segera menyiapkan draft kontrak kerja samanya. Padahal mereka sendiri mengetahui jika perizinan akan sulit mereka dapatkan karena terkendala warga yang enggan melepaskan lahannya." jawab pak Jamal.
"Ya, sudah! Besok kita tinjau ulang ke lokasi, Mal ! Sekalian kita cari tahu alasan warga yang tidak ingin melepaskan lahannya." perintah tuan Jaya.
"Baik, tuan !" jawab pak Jamal
🍀🍀🍀
Keesokan harinya.
"Bagaimana menurut anda, tuan?" tanya pak Iman, sang ajudan.
"Lokasinya memang cukup bagus. Sayangnya, akses untuk menuju lokasi sangat sempit, sehingga sulit untuk dijangkau." jawab tuan Jaya.
"Karena itulah, kami mengajukan proposal agar perusahaan tuan bisa membantu untuk mengembangkan tempat ini sebagai salah satu aset bagi kami selaku pemda setempat." jawab pak Iman.
"Tenang saja, itu bisa diatur pak!" ujar tuan Jaya seraya menepuk pelan bahu pak Iman. "Oh iya, ngomong-ngomong saya dengar, ada beberapa warga yang enggan melepaskan lahan mereka. Apa itu benar ?" tuan Jaya kembali bertanya.
"Memang benar, pak. Namun, dengan besarnya kompensasi yang tuan Argha tawarkan, sebagian warga yang awalnya menolak, kini mulai bisa menerima penawaran kami. Hanya saja... "
Kalimat pak Iman tergantung begitu saja. Sepertinya dia sengaja ingin memancing rasa penasaran rekan kerjanya.
"Hanya saja, apa pak ?" tanya tuan Jaya penasaran.
"Hanya saja, ada seorang warga yang tidak tertarik dengan penawaran tersebut. Dan sayangnya, lahan beliau terletak di antara lahan para warga yang hendak mereka jual." jawab pak Iman.
__ADS_1
"Benarkah ? Kalau tidak keberatan, bisakah anda mengantar saya ke tempat beliau ?" pinta tuan Jaya.
"Siap, tuan ! Nanti sore, saya akan mengajak anda ke rumahnya." jawab pak Iman.
"Baiklah, saya tunggu nanti sore di hotel." ucap tuan Jaya.
Pak Iman pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
Puas berkeliling, tuan Jaya dan asistennya memutuskan untuk segera turun bukit dan kembali ke hotel untuk beristirahat.
🍀🍀🍀
Tak ingin membuang waktunya dengan percuma, sore harinya tuan Jaya bersama pak Jamal mengunjungi rumah para warga. Kembali ditemani pak Iman, tuan Jaya pun bersilaturahim dengan para warga yang terkena penggusuran lahan.
Kunjungan berakhir di sebuah rumah panggung yang sangat sederhana namun tampak asri. Pak Iman bilang, rumah itu milik seorang veteran yang bernama kakek Wira. Dan beliau adalah orang yang enggan melepaskan lahan perkebunan miliknya.
Tuan Jaya mengerutkan keningnya saat mendengar nama Wira. Dia pun semakin mempercepat langkahnya untuk segera mengetahui sang pemilik lahan.
Tok... tok... tok...
Pak Jamal mengetuk pelan pintu kayu itu.
"Permisi ! Assalamu'alaikum !" sapa pak Jamal.
"Wa'alaikumsalam !"
Suara berat seorang lelaki terdengar dari dalam rumah, diiringi dengan derap langkah kaki yang kita mendekat.
Ceklek...!
Lelaki tua yang masih tampak berkharisma membukakan pintu. Sejenak lelaki tua itu mengernyitkan keningnya mendapati tiga orang pria paruh baya yang hampir seumuran dengan anaknya.
"Maaf, cari siapa ?" tanya kakek Wira, ramah.
"Maaf mengganggu waktunya, kek ! Perkenalkan, ini tuan Jaya dan asistennya dari kota Jakarta. Beliau datang kemari untuk bersilaturahim dengan kakek Wira." ujar pak Iman yang memang sudah mengenal kakek Wira.
"A... ayah...!"
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like vote n komennya yaaa 🙏