
Pov Gintani
Sepanjang malam aku terus berpikir tentang kesepakatan yang ditawarkan oleh bang Alex. Siapa yang tidak menginginkan uang sebanyak itu ? Setiap orang membutuhkan uang. Namun aku masih memiliki kewarasan. Ada harga lebih yang harus aku bayar jika aku nekat menerima kesepakatan itu.
Ucapan bang Alex kembali memberikan aku kekuatan. Bang Alex benar, aku masih memiliki waktu 3 hari untuk berusaha mencari uang yang halal. Satu-satunya harapanku adalah pamanku sendiri.
Keesokan harinya, aku menemui paman di rumahnya. Tapi nasib memang tak pernah diduga. Bukan bantuan yang aku dapatkan dari keluarga paman. Namun hanya cacian dan tindakan kekerasan. Aku kecewa, dan yang lebih membuat aku kecewa adalah sikap paman Arman yang terlalu dikuasai oleh istrinya.
Pada akhirnya, dengan langkah berat, aku pun keluar dari gerbang rumah mereka. Tiba di gerbang aku mendapatkan pesan dari teman baruku, Nadhifa. Dia memintaku untuk bertemu di taman kota. Aku pun menyanggupinya dan segera pergi ke taman kota.
Tiba di taman, aku sudah melihat Nadhifa duduk manis di sebuah bangku taman. Aku menghampirinya. Untuk sejenak kecanggungan terjadi. Aku takut Nadhifa menyimpan kebencian terhadapku atas peristiwa beberapa hari yang lalu.
Namun siapa sangka jika Nadhifa datang justru untuk meminta maaf atas peristiwa itu. Dan lebih terkejutnya lagi, ternyata Nadhifa mengetahui perselingkuhan ayahnya dengan sahabatku. Aku sempat berpikir, keluarga seperti apa mereka ? sampai masalah seperti ini mampu dibiarkan berlarut-larut.
Saat kami sedang berbincang, tiba-tiba aku mendapatkan panggilan telpon dari nomor yang tidak aku kenal. Awalnya aku ragu untuk mengangkat panggilan itu. Tapi Nadhifa memaksaku, dia bilang siapa tahu itu penting. Aku pun mengangkatnya.
Tubuhku seketika lemas mendengar ancaman dari orang di ujung telpon. Ya ! dia adalah tuan Broto, orang yang menculik dan menyandera kakekku. Tanpa berpikir panjang, aku berlari untuk segera menemui bang Alex.
Sepanjang jalan, pikiranku sudah gelap. Lelaki tua itu tak memberikan aku kesempatan lagi untuk berpikir. Pada akhirnya aku memutuskan untuk menerima kesepakatan terkutuk itu. Tak peduli akan nasib yang harus kulewati nanti, yang terpenting kakek selamat. Hanya kakek satu-satunya keluarga yang aku miliki saat ini.
Begitu tiba di pub, aku segera berlari menuju ruangan bang Alex. Ruangan yang tidak pernah tersentuh oleh siapa pun kecuali bang Alex dan kawan-kawannya.
Brakk….!
Aku mendorong pintu ruangan itu dengan kasarnya. Aku gugup, aku marah, aku emosi, aku takut, namun aku tak berdaya. Akhirnya satu kalimat mengerikan, lolos begitu saja dari mulutku.
Aku terima kesepakatannya !
☘️☘️☘️
Alex memalingkan wajahnya saat dia mendengar pintu ruangannya terbuka kasar. Dia terkejut mendapati Gintani seperti orang yang tengah ketakutan. Dan dia semakin terkejut mendengar apa yang Gintani ucapkan.
“Kenapa,Tan ? Bukankah kita masih punya waktu untuk mencari jalan keluarnya ? Semalam kita sudah sepakat bahwa kita akan berusaha tanpa harus mengorbankan masa depanmu. Bersabarlah ! abang masih berusaha untuk mengumpulkan uangnya. Abang sudah menghubungi teman-teman abang untuk mencari pinjaman. Dan uang yang terkumpul, masih belum cukup. Abang berencana untuk mengambil deposito abang hari Senin besok.” jawab Alex panjang lebar.
Gintani sudah tidak mampu mencerna semua ucapan atasannya. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berderai air mata.
“Percuma, bang ! Kita tidak bisa menunggu lagi.. hiks... hiks !” jawab Gintani dalam isak tangisnya.
“Maksud kamu ?” tanya Alex heran.
“Tuan Broto.., di…dia meminta uangnya esok hari. Ka…kalau Gintan tidak bisa mengembalikannya, dia akan membunuh kakek Gintan dan menjual organ tubuhnya di pasaran gelap.” ucap Gintani terbata.
Alex diam. Dia sangat terkejut dengan berita yang baru saja di dengarnya.
“Apa itu artinya, kita tidak punya pilihan lain ?” tanya Alex.
Gintani hanya menggeleng lemah. Untuk sejenak mereka diam dengan pikirannya masing-masing.
☘️☘️☘️
APA Architecture.
Argha tengah berdiri di jendela ruangannya. Matanya menatap nanar lurus ke depan. Pikirannya kembali melayang mengenang kisah masa lalunya. Kisah yang telah menorehkan luka pada hatinya sejak kecil. Sejenak Argha memejamkan matanya. Bayangan ibunya kembali mmenari-nari di pelupuk matanya.
“Bunda…! Adi kangen…!” ucapnya lirih.
Argha kembali menatap foto dirinya dan kedua orang tuanya.
Kenapa ayah harus berubah ? Kenapa ayah malah memutuskan untuk menikah lagi setelah bunda meninggal ? Kenapa ayah tidak bertanya tentang apa yang Argha mau saat itu ? Argha pasti akan mengizinkan ayah menikah lagi, tapi tidak secepat itu. Apa ayah tahu, luka atas kematian bunda saja belum mengering di hati Argha waktu itu. Tapi kenapa ayah tega membawa wanita lain untuk menggantikan posisi bunda. Wanita yang sampai detik ini bahkan tidak bisa berubah. Dan sekarang, ayah sendiri merasakan akibatnya. Sekali ular, maka dia akan tetap menjadi ular.
Drrt…drrt….
Getaran ponsel di atas meja kerjanya membuyarkan lamunan Argha. Argha segera melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya. Dia mendaratkan bokongnya di atas kursi kebesarannya. Argha segera meraih ponselnya. Senyum penuh kelicikan tersungging di kedua sudut bibirnya.
“Ya ! Hallo !” ujar Argha setelah dia mengangkat sambungan telponnya.
“Gadis itu sudah menyetujuinya.” jawab seseorang di ujung telpon yang tak lain adalah Alex.
__ADS_1
Senyum Argha semakin melebar mendengar perkataan sahabatnya.
“Hotel Crown pukul 21.00.” jawab Argha.
“Tapi, bisakah kau membayar cash setengahnya terlebih dulu ?” tanya Alex.
“Apa maksud lo, bro ! Apa lo nggak percaya sama gue ?” dengus Argha kesal.
“Anggap saja ini sebagai uang muka.” jawab Alex datar.
“Ish, bener-bener lo ya !” teriak Argha mulai kesal. “Oke, kemana gue harus transfer ?” tanyanya lagi.
“Dia butuh cash. Jadi lo antarkan saja ke tempat gue !” jawab Alex.
“Bener-bener nyusahin lo, ya !” sungut Argha semakin kesal.
Tut….tut….tut….
Argha meletakkan ponselnya secara kasar saat Alex telah memutuskan sambungan telponnya.
“Ish, aku tidak menyimpan uang cash sebanyak itu. Lagipula, sekarang hari Sabtu. Mana ada bank yang buka di hari sabtu. Sekalipun aku bisa menghubungi om Jon untuk meminta bantuan mencairkan depositoku. Tapi tentu saja dia akan bertanya untuk apa aku mengambil uang sebanyak itu ? Shitt ! Seharusnya aku tidak langsung menyetujuinya saat Alex mengajukan harga sebesar itu.” gerutu Argha kesal seraya menjambak kasar rambutnya sendiri.
Setelah cukup lama bermonolog, akhirnya Argha keluar dari ruangannya dan menuju ke bagian keuangan.
Seorang Argha yang memiliki sifat arogan tinggi, masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Tu…tuan Argha ! Ada yang bisa saya bantu ?” tanya pak Wahid kepala divisi keuangan.
“Apa bapak menyimpan uang cash sebanyak 1 M ?” tanya Argha seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan bawahannya.
“A…ada pak ! Kebetulan kemarin siang saya baru mengambilnya dari bank. Rencananya uang itu untuk membayar kontraktor kita hari senin depan.” jawab pak Wahid.
“Baiklah. Aku pinjam dulu uang itu ! Sebagai gantinya, sekarang aku transfer ke rekening perusahaan.” jawab Argha.
“Ta…tapi pak ! Untuk apa uang cash sebanyak itu ?” tanya pak Wahid keheranan dengan sikap bosnya.
“Bapak hanya perlu bertanggungjawab terhadap pengeluaran uang perusahaan, bukan pengeluaran pribadiku !” jawab Argha dingin.
Setelah dirasa urusannya selesai, Argha segera kembali menuju ruangannya. Tanpa dia sadari, seseorang yang merupakan asisten ayahnya sedang duduk di sofa sudut ruangan pak Wahid.
“Ish, mau apa tuan muda dengan uang sebanyak itu ?” gumam pak Jamal.
Argha kembali mendaratkan bokongnya di atas kursi kebesarannya. Dia mulai menyandarkan punggungnya seraya kembali berpikir bagaimana caranya agar uang itu bisa sampai ke tangan Alex.
Aku tidak mungkin menyuruh Bram untuk membawa uang itu dan menyerahkannya pada Alex. Bagaimana jika Bram bertemu dengan gadis itu di sana ? Bisa gagal semua rencanaku. Gumam Argha dalam hati.
Sejurus kemudian, Argha tersenyum. Dia kembali meraih ponselnya dan mengirimkan pesan kepada seseorang.
☘️☘️☘️
Di waktu yang sama, di ruangan Alex. Gintani tampak duduk di sofa seraya menggigit ujung kuku jari kelingkingnya. Raut wajahnya terlihat semakin cemas. Meskipun orang yang dihubungi Alex sudah menyanggupi keinginannya. Tetap saja hati Gintani merasa tak tenang.
Di satu sisi, dia senang karena sebentar lagi dia bisa membebaskan kakeknya. Namun di sisi lain, dia merasa tegang, karena setelah semua ini, kehancuran telah menunggunya di depan matanya.
Gintani tersenyum sinis. Persetan dengan hidup dan masa depanku ! ucapnya dalam hati.
Satu setengah jam kemudian. Seseorang memasuki ruangan itu. Seorang pria blasteran berwajah bule dan berambut sedikit pirang, memasuki ruang 9 tanpa mengetuk pintu. Pria itu sangat terkejut begitu dia melihat Gintani tengah duduk di sofa. I
Ish, kenapa si Alex berani memasukan orang lain ke ruangan ini ? padahal sudah jelas si Argha melarang siapa pun untuk memasuki daerah kekuasaanya.
Merasa ada yang membuka pintu, Gintani pun menoleh. Keningnya berkerut melihat pria tampan bermata biru berdiri di hadapannya.
“Ma…maaf ! Cari siapa ?” tanya Gintani sopan.
Sejenak Kevin merasa terbuai dengan suara lembut milik Gintani.
“Tuan cari siapa ?” pertanyaan ulang Gintani membuyarkan lamunan Kevin.
__ADS_1
“Eh, gue cari Alex. Apa dia ada ?” jawab Kevin.
“Sebentar !” jawab Gintani.
Dengan langkah gontai, Gintani pun keluar ruangan untuk mencari atasannya. Tiba di dapur, Gintani mendapati Alex yang sedang membumbui nasi gorengnya,
“Bang ! Ada yang nyari, tuh !" ujar Gintani.
"Siapa ?" tanya Alex, masih asyik mengaduk nasi gorengnya.
"Gintan tidak tahu. Tapi, sekarang dia ada di kamar abang !” jawab Gintani.
Alex segera mematikan kompornya. “Tan ! tolong tuang nasinya ke dalam 2 piring ya !” pinta Alex.
Gintani pun mengangguk. Dia menghampiri Alex untuk meraih wajan yang berisi nasi goring tersebut. Sementara itu, Alex segera pergi untuk menemui tamunya.
☘️☘️☘️
Pukul 20.30. Gintani tiba di hotel Crown. Tempat yang akan mengubah nasib akhir dirinya. Dengan langkah berat, Gintani memasuki lift dan menekan lantai 13.
Gintani kembali mengeluarkan cardlock yang tadi diberikan Alex kepadanya. 313, angka yang tidak akan pernah dilupakannya.
Ting !
Pintu lift terbuka. Gintani mulai meyusuri lorong di lantai tersebut. Gintani berhasil menemukan kamar yang tertera nomor 313 menempel di pintunya. Untuk sejenak Gintani hanya terpaku di depan kamar itu. Sejurus kemudian dia menempelkan cardlock yang berada di tangannya.
Klek… !
Kunci pintu terbuka, Gintani pun mendorong pintu tersebut dan mulai memasuki kamar yang sangat luas itu. Gintani sangat terkejut saat melihat begitu banyak kelopak mawar terhampar di atas kasur yang bersprei sutra berwarna putih.
Gintani terus melangkahkan kakinya menuju ranjang indah itu. Dia kemudian mendaratkan bokongnya di ranjang tersebut. Tangannya mengusap sprei yang terasa lembut itu. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Gintani bertanya dalam hatinya, apa dia tidak salah memasuki kamar ?
Gintani mulai menarik tubuhnya dan menyandarkan dirinya di tepian ranjang. Dia menengadahkan wajahnya seraya memejamkan mata.
Kenapa ? Kenapa orang yang hendak membeliku menghias kamar ini seperti sebuah kamar pengantin ? Apa maksudnya ini ? Orang seperti apa sebenarnya yang hendak membeliku ? Seperti apa penampilannya ? Akankah dia seorang pemuda yang gagah dan tampan. Seorang pemuda yang sempurna seperti seorang pangeran dalam negeri dongeng ? Tapi bagaimana jika dia adalah seorang pria tua yang senang jajan di luaran sana ? Ah, entah dia seorang pemuda ataupun pria tua, semua itu tak ada bedanya. Mereka sama-sama pria hidung belang. Mereka rela mengeluarkan uang yang begitu besar hanya demi sebuah kesenangan. Batin gintani.
"Tuhan…., benar kah jalan yang aku ambil ini ? Sanggupkah aku melewati malam ini ?" gumam lirih Gintani.
Bayangan kakeknya yang tengah kesakitan kembali berkelebat di pelupuk mata Gintani.
Kakek maafkan Gintan ! Maafkan Gintan yang terpaksa berbuat rendah demi uang ! Gi…Gintan tidak tahu lagi harus berbuat apa, kek ! Gintan tidak tahu !”
Gintani mulai terisak seraya menundukkan wajahnya di atas kedua lututnya. Tangannya mendekap erat kedua lututnya. Hatinya sakit sekali membayangkan malam panjang yang akan dilaluinya bersama seseorang yang belum pernah dikenalnya. Terlebih lagi malam panjang yang akan berakhir dalam lumuran dosa.
"Tidak…! Tidak….! Ini salah…., ini sangat salah….!"
Gintani menarik tas nya untuk mengeluarkan ponselnya. Dia kemudian mengetikkan sebuah pesan untuk Alex.
To Alex
Maaf, bang ! Gintan berubah pikiran.
Setelah mengirim pesannya, Gintani segera menyeka air mata di kedua pipinya. Tekadnya sudah bulat untuk menyerahkan dirinya kepada laki-laki yang menyandera kakeknya.
Gintani beranjak dari tempat tidurnya. Dia kemudian menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Gintani menyalakan kran wastafel. Dia mulai membasuh mukanya. Matanya terlihat sedikit sembab karena tangisannya tadi sore. Sejenak, Gintani menatap wajahnya di cermin.
Mungkin akan jauh lebih baik jika aku menjadi istri ketiga tuan Broto saja. Setidaknya, aku akan terhindar dari perbuatan zina, batin gintani.
Puas bercermin dan meratapi nasibnya, Gintani pun segera keluar dari kamar mandi. Sejenak gintani menarik napasnya panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Gintani mulai mengatur ritme jantungnya. Setelah itu dia melangkahkan kakinya kembali ke arah ranjang yang tampak indah itu.
Dengan cepat, Gintani menyambar tasnya yang terletak di atas ranjang. Gintani melangkahkan kakinya tergesa-gesa agar bisa segera keluar dari kamar itu. Tiba di depan pintu, Gintani meraih handle pintu dan segera membukanya.
BRUGH.….!!
"Aww...!!"
Bersambung...
__ADS_1
Makasih yang udah mampir. Makasih juga atas like vote n komennya...
Makasih atas dukungannya...🙏