Takdir Gintani

Takdir Gintani
Yang Kesekian Kali


__ADS_3

Ting tong! Ting tong!


Bel di rumah Jessica terus berbunyi, menandakan jika ada seseorang yang bertandang ke rumahnya.


Bik Sumi tergopoh-gopoh pergi ke ruang tamu untuk membuka pintu.


"Maaf, cari siapa?" tanya Bik Sumi yang memang tidak mengenali tamu yang datang.


"Apa Tuan Iskandar ada di rumah?" tanya tamu itu yang tak lain adalah Ustadz Hasan.


Bik Sumi mengernyitkan dahinya. Kenapa dia menanyakan Tuan Is, apa dia tidak tahu jika Tuan Is telah meninggal? batin Bik Sumi.


"Ma-maaf, Tu-Tuan Iskandar su-sudah tidak ada," ucap Bik Sumi terbata-bata.


"Apa maksudnya tidak ada. Bukankah ini kediaman Tuan Iskandar?" Sekarang giliran Umi Kulsum yang ikut bicara.


"Be-benar. Ini memang kediaman Tuan Iskandar. Tapi, Tuan Iskandar sudah meninggal 15 tahun yang lalu," ucap Bik Sumi.


"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.... Lalu, Mbak Arini. Apa Mbak Arini ada di rumah?" tanya Umi Kulsum yang mulai terlihat panik.


"A-Anda siapa? Sa-saya tidak mengenal Anda," jawab Bik Sumi yang mulai merasa curiga akan kedatangan tamu tersebut.


"Sa-saya ... saya teman lamanya Mbak Arini," jawab Umi Kulsum, berbohong.


"Apa Nyonya tidak diberi tahu tentang keadaan Tuan dan Nyonya Iskandar?" tanya Bik Sumi yang merasa heran. Jika memang benar mereka teman lamanya, lalu kenapa mereka tidak tahu tentang kecelakaan yang menimpa majikannya? Begitulah kira-kira apa yang ada di benak Bik Sumi saat ini.


"A-apa maksud kamu? Memangnya ada apa dengan mereka. Bagaimana keadaan Arini sekarang?" tanya Umi Kulsum semakin gelisah.


"Nyo-Nyonya juga tidak bisa diselamatkan dalam kecelakaan itu," ucap Bik Sumi dengan wajah sedihnya.


"Ke-kecelakaan? Apa maksudnya, kecelakaan apa?" tanya Umi Kulsum lagi.


"Ada apa, Bik? Siapa mereka?"


Belum Bik Sumi menjawab pertanyaan tamunya, tiba-tiba Jessica muncul dari balik pintu.


"Eh, Non Jessi ... Ini ada tamu, Non. Katanya mereka teman lama almarhum mama Non," ucap Bik Sumi.


Almarhum mama nona? Ja-jadi di-dia putrinya Mbak Arini? Tidak mungkin dia putri Arini. Bukankah Mas Iskandar pernah bilang jika Arini itu mandul. A-apa dia Nandita ... putriku? batin Umi Kulsum.


"Na-Nandita!" gumam Umi Kulsum.


"Maaf, Tante. Nama saya bukan Nandita. Perkenalkan, saya Jessica, putri tunggalnya papa Iskandar dan mama Arini," ucap Jessica seraya mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Dengan gemetar, Umi Kulsum menjabat tangan Jessica. Ada rasa hangat menjalar di hatinya saat tangannya beradu dengan tangan Jessica. Sedangkan Ustadz Hasan hanya tersenyum melihat kemiripan di antara kedua orang berbeda generasi tersebut.


"Mari, silakan masuk!" ucap Jessica mempersilakan tamunya masuk ke dalam rumah.


Ustadz Hasan dan Umi kulsum pun mengayunkan langkahnya memasuki rumah besar itu. Umi kulsum mengedarkan pandangannya. Tak ada yang berubah dari desain interior rumah yang pernah dikunjunginya 25 tahun silam. Hanya perabotannya saja yang terlihat sedikit modern.


"Silakan duduk, Om, Tante!" Kembali Jessica, dengan sopan mempersilakan tamunya duduk.


"Iya, terima kasih, Nak," ucap Ustadz Hasan.


🍀🍀🍀


Di mansion keluarga Amijaya. Gintani tampak sibuk tengah menyiapkan makan siang untuk keluarganya.


"Hmm, wangi apa ini, Nak?" tanya Tuan Jaya yang memang sengaja pulang ke rumah di jam makan siang.


"Eh, Papa sudah datang? Ini, Gintan sedang membuat balado ikan tongkol kesukaan mas Argha," jawab Gintani. "Sabar ya, Pa. Sebentar lagi matang, kok," lanjut Gintani.


"Tidak apa-apa, Nak. Mungkin memang Papa yang lebih cepat datangnya. Entahlah, akhir-akhir ini, Papa merasa tidak nyaman makan di luar. Mungkin karena ketagihan masakan kamu, Nak," ucap Tuan Jaya sambil menarik salah satu kursi.


"Ah, Papa bisa saja." Gintani tersenyum malu mendengar pujian dari ayah mertuanya.


Selesai masak, Gintani segera menyiapkannya di atas meja. Dia menyendok nasi dan lauk untuk ayah mertuanya. Kebetulan ibu mertuanya sedang tidak ada di rumah.


"Hari ini, mas Argha tidak makan di rumah, Pa. Katanya ada pertemuan penting dengan Dokter Richard.


"Pertemuan penting? Apa ini tentang proyek rumah sakitnya?" tanya Tuan Jaya lagi.


"Mungkin, Gintani kurang tahu Pa."


"Oh, ya sudah. Tapi sebaiknya kamu antarkan makan siang itu buat Argha. Bukannya kamu bilang jika itu makanan favorit Argha?


Gintani menatap ragu kepada ayah mertuanya. "Me-memangnya, tidak apa-apa Gintan ke kantor mas Argha?" tanya Gintani, pelan.


"Tidak apa-apa, Nak. Bukankah itu kantor suami kamu? Percayalah, Argha pasti akan merasa senang dengan kejutan yang kamu berikan," dukung Tuan Jaya.


"Baiklah, selesai solat dzuhur, Gintan pergi ke kantor mas Argha, Pa."


"Hmm, ide bagus itu."


🍀🍀🍀


Selepas solat dzuhur, Gintani segera bersiap. Dengan menggunakan taksi online, dia pergi mengunjungi suaminya di kantor. Setengah jam kemudian, dia sampai di gedung APA Architecture. Sejenak Gintani tertegun mengingat masa lalunya. Masa di mana dia menjadi seorang karyawan office girl di kantor milik suaminya

__ADS_1


Gintani melangkahkan kakinya memasuki kantor. Semua mata menatap kagum akan aura yang dia pancarkan. Seorang gadis berhijab yang memiliki sepasang mata yang meneduhkan. Kini, para karyawan front office menunduk hormat padanya. Meskipun merasa risih, namun Gintani mencoba menegapkan langkahnya.


Tiba di lantai 15, Gintani di sambut oleh Nadhifa yang sedang duduk di kursi sekretaris. Namun Gintani merasa heran, karena melihat Nadhifa menundukkan wajahnya.


"Assalamu'alaikum, Fa!" sapa Gintani.


"Nadhifa mendongak, Kakak ipar?" ucapnya sedikit terkejut.


"Hehehe, iya Fa. Kenapa, kaget ya?"


"Eh, iya. Agak sedikit terkejut saja. Tumben Kakak kemari. Ada perlu apa?" tanya Nadhifa.


"Ini, Kakak hanya ingin mengantarkan makan siang buat mas Argha. Tadi dia bilang dia ada pertemuan penting dengan dokter Richard, jadi tidak bisa makan siang di rumah," jawab Gintani.


'Nadhifa mengernyitkan keningnya. Loh, meeting-nya, kan tadi pagi. Bram sendiri sudah kembali lagi ke kantor. Fa pikir, kak Argha belum kembali karena memang lagi makan siang di rumah," ucap nadhifa.


Gintani tertegun mendengar ucapan Nadhifa. Jika meeting-nya tadi pagi, lalu kenapa mas Argha harus berbohong, batinnya.


Ish,


Rintihan Nadhifa membuyarkan lamunan Gintani. "Kamu kenapa, Fa? Lagi datang bulan?" tanya Gintani.


Nadhifa mengangguk. Dia memang selalu kesakitan jika sedang mendapatkan haid.


Gintani segera menaruh rantang susun itu di meja. Dia kemudian menghampiri Nadhifa. "Ayo, Kakak antar ke dokter!" ucap Gintani seraya menarik pelan tangan Nadhifa.


Nadhifa menggelengkan kepalanya. "Nanti juga sembuh sendiri, kak," ucapnya.


"Tidak, Kakak tidak mau ada bantahan lagi. Ayo Kakak antar!" ucap Gintani penuh ketegasan.


Akhirnya Nadhifa menurut. Dipapah kakak iparnya, dia pun pergi ke rumah sakit.


Tak butuh waktu lama untuk tiba di rumah sakit Harapan. Setelah melakukan pendaftaran, Gintani pun membawa Nadhifa. Menuju ruang USG. Tiba di sana, cukup banyak pasien ibu hamil yang sedang mengantri untuk pemeriksaan. Senyum Gintani mengembang tatkala membayangkan dirinya tengah berbadan dua. Namun seketika senyum itu hilang saat dia melihat pasien yang baru keluar dari ruang USG.


"Baiklah, Pak, Ini resep obatnya. Bapak bisa menebusnya di apotek depan. Jangan lupa, setelah obatnya habis, istri bapak harus periksa lagi kemari."


"Baiklah, Sus. Terima kasih!"


"Sama-sama, semoga lekas sembuh," ucap perawat tersebut.


Tanpa terasa air mata Gintani luruh melihat pemandangan di hadapannya. Untuk yang kesekian kalinya, air mata itu jatuh karena rasa kecewa.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaaaa


__ADS_2