
Plakk....!!
Tanpa sadar, Argha mengangkat tangannya dan menampar Gintani.
Gintani memegang pipinya yang terasa panas. Dia menatap tajam ke arah suaminya. Dia tidak pernah menyangka, selain sombong dan arrogant, Argha juga sangat ringan tangan.
Gintani tak ingin bertatapan lagi dengan laki-laki itu. Hatinya benar-benar sakit diperlakukan tidak adil. Argha bukan hanya telah menyakitinya secara batin. Tapi dia juga menyakiti Gintani secara fisik. Gintani melemparkan semua barang belanjaannya. Dia pun segera berlari dan mengunci diri di kamar.
Argha masih terpaku di tempat. Dia menatap nanar pintu kamarnya yang dibanting keras istrinya. Argha menyesal karena telah melakukan tindakan kekerasan terhadap Gintani. Ya Tuhan...apa yang telah aku lakukan? batinnya.
Argha mengayunkan langkahnya menuju kamar. Dia hendak mengetuk pintu kamar, namun niatnya terhenti saat dia mendengar racauan Gintani dalam tangisnya.
"Kuatkan hamba, Ya Allah...! Kuatkan jiwa dan raga hamba dalam menjalani garis takdir hamba. Berikanlah hamba kesabaran yang tanpa batas. Jadikan hamba seperti Saudah binti Zam'ah, seorang istri yang selalu di penuhi oleh kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani hidup. Hamba mohon, pegang tangan hamba, Tuhan! Tuntun langkah hamba! Hamba hanya menginginkan pernikahan, sekali dalam seumur hidup hamba. Tapi jika Engkau menakdirkan umur pernikahan ini dengan singkat, hamba ikhlas... namun jangan pernah tinggalkan hamba seorang diri!" do'a Gintani dalam isak tangisnya.
"Bimbing hamba untuk bisa bertahan dengan semua sifat suami hamba. Ampunilah sikap kasarnya! Ampunilah pikiran buruknya! Ampunilah segala fitnah yang keluar dari mulutnya! Bukalah pintu hatinya, berilah dia hidayahMu agar dia bisa menjadi suri tauladan bagiku. Jadikanlah dia sebagai imam dunia dan akhiratku. Lindungilah suami hamba dari setiap bisikan syaitan yang terkutuk. Hamba mohon, ampunilah dosa kami! Ampunilah kesalahan kami yang telah mempermainkan ikatan suci yang Engkau berikan.. Hiks... Hiks...."
Argha memandangi tangannya yang telah terangkat tadi. Sejenak dia mengepalkannya dan berlalu pergi. Hatinya benar-benar terluka karena telah melukai seorang istri yang telah mengangkat kedua tangannya dan berdo'a untuk semua kebaikan dirinya.
🍀🍀🍀
"Tidak...! Tidak...! Ini tidak mungkin terjadi....
Prakkk.....
Kegaduhan kecil terjadi di sebuah kamar VIP rumah sakit internasional.
"Nona, jangan dilepas!" teriak perawat sambil menahan tangan mungil yang hendak melepaskan selang infusnya.
"Lepaskan aku, brengsek! Aku mau pulang! Lepaskan aku!" teriak gadis itu.
Sang perawat segera menekan tombol nurse emergency. Tak lama berselang, dokter tampan yang menangani gadis itu pun datang.
"Ada apa ini?"
"Dia histeris setelah membaca majalah itu, dok!" jawab suster seraya menunjukkan sebuah majalah yang tergeletak di lantai.
"Pergilah!" perintah dokter Richard.
Setelah perawat itu pergi, dokter tampan itu memeluk pasiennya yang semakin menangis sesenggukan. Dia mengusap lembut rambut gadis itu penuh kasih sayang. Cukup lama dia mendekap erat tubuh sang gadis, hingga tangisan gadis itu mulai berubah menjadi isakan.
"Ada apa, Na?" tanya dokter Richard.
"Di... dia sudah menikah, Rich! Dia sudah mengkhianati janji kami. Dia sudah menikah... Hu... hu.. hu..." tangisnya kembali pecah.
"Sudahlah, Na! Tenangkan dulu hatimu! Besok adalah jadwal operasi kamu. Jadi kamu harus bisa menstabilkan emosimu. Atau... kau ingin membatalkannya dan berubah pikiran?" tawar dokter Richard.
"Tidak Rich! Aku tidak akan membatalkan niatku! Bagaimanapun juga, aku harus kembali padanya. Dia milikku Rich! Dia hanya milikku, dan dia berjanji akan selalu menjagaku!" teriaknya.
"Tapi, Na! Dia sudah menikah, dan kau tidak bisa seenaknya merusak pernikahan mereka."
"Aku tidak peduli! Dia milikku! Dia milikku! Aku akan menghancurkan siapa pun yang mengambil milikku!" Na kembali histeris. Dia mulai meronta dan melepaskan selang infusnya.
__ADS_1
"Awww...," ringisnya. Darah segar pun mulai keluar dari bekas jarum infus.
"Baiklah, Na! Tenanglah, oke! Jika kau memang ingin kembali padanya, kau harus tenang! Ingat, besok jadwal operasimu. Jika sampai hari esok kondisimu masih seperti ini, maka jadwalnya akan aku mundurkan sampai kau bisa tenang."
"Jangan Rich! Aku janji, aku akan tenang. Aku mohon, jangan pernah dimundurkan lagi. Aku sudah menunggu cukup lama untuk bisa sampai di tahap ini. Aku mohon, aku ingin segera kembali ke negaraku. Aku ingin bertemu dengannya. Aku yakin dia masih mencintaiku, Rich."
"Sst... tenanglah, Na! Everything is gonna be oke! Semuanya pasti akan berjalan sesuai dengan keinginanmu," bujuk dokter Richard.
🍀🍀🍀
Jeddarr......
Cettarrrr......
Bunyi petir menggelegar saling bersahutan di antara derasnya air hujan yang mengguyur bumi. Kilatan-kilatan bak cambuk keemasan, terlihat sangat jelas di langit yang berwarna hitam itu.
Duaarrr.....
"Astagfirullah hal adzim!" teriak Gintani, ketakutan. Wajah meronanya seketika berubah menjadi pucat.
Jeddarr......
"Subhanallah... Ya Allah... Subhanallah...."
Gintani terus berkomat-kamit menggumamkan kalimat-kalimat tasbih. Sejak kecil, Gintani memang paling takut dengan bunyi petir.
Bulir keringat dingin mengalir deras di sekujur tubuhnya. Tangannya sudah terasa lembab karena keringat. Gintani menarik selimutmya. Dia semakin takut melihat kilatan demi kilatan yang tergambar jelas di balik kaca jendela kamarnya. Terlebih lagi, apartemennya berada di lantai 19. Gintani dapat merasakan dengan jelas getaran akibat gemuruh petir di kaca jendela kamarnya.
Gintani menutup telinga saat bunyi petir itu kembali menggelegar di udara. Dia mulai beringsut mencari tempat ternyaman yang bisa melindungi dirinya. Akhirnya, Gintani hanya bisa duduk meringkuk di sudut kamar yang jauh dari kaca jendelanya.
.
.
Hujan seolah tak pernah ingin berhenti. Argha terpaksa memacu pelan kendaraannya. Derasnya air hujan, menghalangi jarak pandangnya. Hampir tengah malam, Argha akhirnya tiba di apartemennya. Dia melihat suasana gelap di kamarnya.
"Aarrrrhhhh...."
Teriakan kembali terdengar bersamaan dengan bunyi petir yang semakin menggelegar.
"Gintani!" gumam Argha seraya berlari menuju kamarnya.
Dug... Dug... Dug....!
"Gin....! Buka pintunya!" Argha menggedor pintu kamarnya.
Duaarrrr.....
"Aaarrrhhhh..."
"Gin... Gintani...!"
__ADS_1
"Mas... Mas Argha... Gintan takut....!"
"Buka pintunya!"
"Gin... Gintan nggak bisa berdiri, Mas! Gintan takut... hu... hu..." Isak tangis Gintani mulai terdengar.
"Aaarrhhh"
Gintani kembali berteriak saat suara petir itu kembali menggelegar.
Brugh... Brugh... !!
Argha mencoba mendobrak pintunya.
Brakkk.....!!
Pintu berhasil didobrak. Argha mengedarkan pandangannya mencari istrinya. Netranya menangkap seorang wanita yang tengah meringkuk di sudut kamar. Wajahnya menyusup di kedua lututnya yang ditekuk. Tangannya menutupi kedua telinganya. Bahunya berguncang, menandakan jika dia sedang menangis.
"Aaarrhhh...." Kembali Gintani berteriak.
"Gintan!" Argha berlari dan segera memeluk istrinya yang tengah menangis ketakutan.
"Mas..! Aku... aku takut Mas... aku ta... takut...."
"Tenanglah, Gintan! Aku di sini... ssstt... tenanglah!" ucap Argha, mengelus-elus punggung Gintani dan menenangkannya. Argha mengangkat tubuh Gintani dan membaringkannya di atas kasur.
Gintani masih memejamkan matanya. Petir di luar masih terus bersahutan. Bulir keringat semakin membasahi sekujur tubuhnya. Bibirnya terlihat membiru. Suhu tubuhnya pun mulai terasa hangat. Gemeletuk giginya mulai terdengar.
"Ya Tuhan, Gin! Kamu demam," ujar Argha seraya menyeka bulir keringat di kening istrinya.
Argha beranjak hendak mengambil kain kompres, namun Gintani menahannya.
"Ma.. mau kemana, Mas?"
"Aku mau ambil kompres dulu, Gin."
"Jangan tinggalkan Gintan, Mas! Gintan takut petir. Jangan tinggalkan Gintan!" Gintani melingkarkan tangannya di pinggang Argha.
Argha benar-benar tidak tega melihat Gintani yang sepertinya memiliki phobia terhadap petir. Dia kemudian beringsut, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh istrinya. Argha memeluk istrinya dengan erat, mencoba memberikan kenyamanan untuk Gintani.
"Tidurlah!" ucap Argha penuh kelembutan.
Gintani menyusupkan kepalanya di dada bidang suaminya. Belaian lembut tangan suaminya membuat ketakutan Gintani berangsur menghilang.
Hujan masih deras, namun gemuruh petir mulai tak terdengar. Lelah menangis, Gintani pun mulai terlelap dalam pelukan suaminya.
Bersambung...
Takut petir....??
Gue banget... ☺☺
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n Komennya ya kk... 🙏🤗