
Hening.
Hanya itu yang terjadi di dalam mobil yang mereka tumpangi. Masing-masing orang tengah sibuk dengan pemikirannya sendiri. Argha yang sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk sebuah alasan, kenapa dia membawa Gintani kembali ke tempat ayahnya? Dan Gintan yang sedang tenggelam dalam sebuah tanya, kenapa Argha membuat kesepakatan dengan sang mertua tanpa sepengetahuan dirinya? Apa yang sebenarnya terjadi? batin Gintani.
Satu jam berselang, akhirnya mobil yang mereka tumpangi tiba di halaman mansion utama keluarga Amijaya. Pak Munir, sopir keluarga Amijaya segera membukakan pintu untuk tuannya. Argha keluar dengan perasaan tak menentu. Mau tidak mau, waktu untuk dia bercerita, pasti tiba juga. Semoga saja Gintani mau memaklumi keputusan yang aku buat. Dan semoga saja, dia tidak salah paham dengan pilihan yang aku ambil, batin Argha.
"Mari saya bantu, Den!" Tiba-tiba tawaran Pak Munir yang hendak membantu memapahnya, membuyarkan lamunan Argha.
"Ah, tidak usah Pak! Saya bisa sendiri, kok," tolak Argha. Sejurus kemudian, Argha menatap Gintani dengan tatapan yang penuh arti. Gintani pun hanya tersenyum melihat tatapan suaminya.
"Pak, tas jinjingnya tolong dibawa ke dalam, ya! Biar saya yang membantu Mas Argha," ucap Gintani.
"Baik, Neng!" Dengan sigap Pak Munir mengeluarkan dua buah tas jinjing dari bagasi mobil dan langsung membawanya ke dalam mansion.
Tiba di ruang keluarga.
"Kakak...!" Nadhifa berlari ke arah sang kakak. Tanpa basa-basi, dia memeluk Argha dengan eratnya. "Kakak, Fa mohon, jangan lakukan hal konyol itu lagi, ya?" pinta Nadhifa kepada Argha.
"Kamu kok cerewet sekali, Fa! Kemarin, kan, Kakak sudah berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan itu lagi," jawab Argha seraya memijit pelan hidung adiknya.
"Ya, abisnya...Kakak, tuh suka ingkar janji kalau nggak diingatkan terus," bantah Nadhifa.
"Iya-iya, Kakak janji, Kakak nggak bakalan ngelakuin hal konyol itu lagi. Apalagi, sekarang, kan, kakak ipar kamu sudah mau memaafkan Kakak," ucap Argha seraya melirik Gintani.
Gintani hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan suaminya.
"Sudah, Fa! Biarkan Kakakmu beristirahat di kamarnya," tegur Tuan Jaya kepada putri semata wayangnya. "Gintan, bawa suamimu ke kamar! Suruh dia istirahat yang cukup, karena besok pagi, kalian harus punya tenaga untuk perjalanan panjang," perintah Tuan Jaya pada menantunya.
"Maksud Papa?" tanya Argha, mengerutkan keningnya.
"Sudahlah Ar, jangan berlagak pura-pura lupa. Bukankah kamu sangat menantikan hari esok?" goda Tuan Jaya.
__ADS_1
Argha hanya bisa memutar kedua bola matanya menanggapi godaan sang ayah.
.
.
.
Tiba di kamar, Gintani cukup terkejut melihat beberapa koper tersimpan rapi di sudut kamar.
"Koper apa ini, Mas?" tanya Gintani penasaran.
Argha menggedikan kedua bahunya untuk menjawab pertanyaan Gintani. Setelah membantu suaminya duduk di atas ranjang, Gintani segera membuka koper-koper tersebut. Mata Gintani membulat sempurna tat kala melihat isi dari koper-koper itu.
"Loh, Mas...ini, kan, pakaian kita. Kenapa bisa ada di sini?" tanya Gintani, heran.
"Mungkin Papa yang menyuruh orang untuk membereskan dan membawanya kemari," jawab Argha seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kemarilah!" Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Argha malah memberikan perintah supaya Gintani mendekat.
Gintani menghampiri Argha, dia kemudian duduk menghadap suaminya.
Argha menggenggam tangan Gintani. "Tolong jangan marah dan jangan salah paham. Mulai hari ini, kita akan tinggal di sini bersama keluargaku. Apa kamu keberatan?" tanya Argha menatap cemas menantikan jawaban Gintani.
Gintani menghela napasnya. "Mas, Gintan tidak keberatan jika harus tinggal satu atap bersama kedua orang tua Mas. Tapi jujur, Gintan nggak ngerti. Apa sebenarnya yang membuat Mas mengambil keputusan tanpa membicarakannya dulu pada Gintan?" tanya Gintani seraya memalingkan mukanya. Jujur saja, sebagai seorang istri, hati Gintani sangat terluka ketika harus melihat Argha mengambil keputusan secara sepihak.
Argha bangun dari tidurnya. Dia kemudian duduk dan meraih Gintani ke dalam pelukannya. "Maafkan Mas, Gin. Jujur Mas tidak punya pilihan lain. Papa mengancam Mas akan memisahkan kita jika sampai Mas tidak berhasil membawa kamu pulang. Mas takut kehilangan kamu, karena itu, Mas bertekad, bagaimanapun caranya, Mas harus bisa membawa kamu pulang. Sebagai syaratnya, Papa meminta Mas untuk membawa kamu kembali ke rumah ini. Jika tidak, Mas tidak akan diizinkan lagi untuk bertemu denganmu. Mas mohon, mengertilah!" pinta lirih Argha.
"Atas dasar apa, Papa meminta kita berpisah, Mas?" tanya Gintani yang merasa terkejut atas pengakuan Argha.
"Papa tahu kebejatan anaknya, Gin. Papa tahu sikap anaknya yang selalu memperlakukan menantunya dengan sangat buruk. Papa tidak ingin melihat kamu selalu menderita karena perbuatan Mas. Tapi, demi Tuhan, Gin. Mas sama sekali tidak berniat untuk menyakiti kamu. Mas sangat mencintai kamu. Karena itu, demi kamu, Mas terima tawaran Papa untuk tinggal di sini meski Mas tahu, Mas tidak akan pernah betah jika harus terus bertemu dengan Mama Rosma. Mas nggak mau kehilangan kamu, Gin."
__ADS_1
"Sudahlah, Mas. Lagi pula, seorang istri akan selalu mengikuti suaminya, kemana pun dia akan membawanya pergi."
"Terima kasih, Gin," jawab Argha seraya mencium pucuk kepala Gintani.
Gintani mendongakkan wajahnya, menatap suaminya penuh kelembutan. "Tidurlah!" ucap Gintani seraya mengusap pipi kanan suaminya.
Bukannya tidur, Argha malah mendekatkan wajahnya. Perlahan namun pasti, kedua bibir mereka saling bertautan untuk mengecap manisnya rasa satu sama lain.
Mata Gintani terpejam saat tangan jahil nan kekar itu mulai menyusup di balik blousenya.
"Ish... Mas...!" desah Gintani saat merasakan tangan itu memilin lembut ujung bukit kembarnya.
"Gin, bolehkah perkutut Mas memasuki sarangnya?" bisik Argha dengan suara yang semakin parau.
Gintani tersipu malu. Rona merah tergambar jelas di kedua pipinya. Sejurus kemudian, dia mengangguk dan membiarkan tangan suaminya bergerilya di sekujur tubuhnya.
Hawa siang yang panas, semakin terasa panas mereka rasakan. Erangan dan rintihan kecil menggema dalam ruangan itu. Entah berapa kali mereka saling melepaskan hasratnya. Namun satu yang pasti, rindu yang begitu membuncah dalam hati mereka. Rindu akan sentuhan, rindu akan kebersamaan yang telah mereka lewatkan karena kesalahpahaman.
Sepertinya, tak ada satu pun dari mereka yang berniat menyudahi pertempurannya. Serangan dan perlawanan mereka sama-sama kuat. Entah berapa lama waktu yang bisu terus berlalu. Bahkan napas yang mulai tersengal pun tak menyurutkan langkah mereka untuk menghentikan kegiatannya. Hingga akhirnya, hentakan terakhir penuh kekuatan, memaksa Gintani untuk menyerah dan mengakui keperkasaan suaminya.
"Capek?" tanya Argha seraya menyeka peluh di kening Gintani.
Gintani mengangguk kecil. Rasa kantuk mulai menyerangnya. Senyum tipis pun terukir sebagai isyarat cintanya.
Terima kasih, Gin. Terima kasih karena telah memberikan aku kesempatan kedua. Aku janji, aku akan selalu mementingkan kamu di atas segalanya, batin argha seraya memeluk tubuh polos istrinya yang mulai tak berdaya karena ulahnya.
Bersambung....
Mau minta dukungan, vote, like n komen, tapi author sadar dengan kekurangan author yang selalu mengecewakan readers semua. Minta do'anya saja, mudah"n author cepet sembuh dan bisa kembali berkarya...
Yang kangen Raga Kedua, bisa kunjungi di Joy'lada, yaaa....
__ADS_1
makasih....