Takdir Gintani

Takdir Gintani
Kisah Pilu


__ADS_3

“Ma…maaf, kakek ! Ta…tapi Gintan tidak bisa berta'aruf dengan ustadz Husni." jawab Gintani seraya menundukkan kepalanya.


Tidak hanya kakek Wira, ustadz Hasan dan Umi Kulsum pun selaku orang tua ustadz Husni sangat terkejut mendengar jawaban dari Gintani. Mereka benar-benar tidak menyangka akan penolakan gadis yang tampak sempurna untuk menjadi menantunya. Tapi apalah daya, takdir jodoh hanyalah Tuhan yang mengaturnya.


Meskipun kecewa, namun mereka bukanlah orang yang suka memaksakan kehendaknya. Mungkin ini jalan yang terbaik menurut Allah. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk berpamitan pulang kepada kakek Wira.


Kini, tinggal kakek Wira dan Gintani yang tengah berada di ruang keluarga itu. Kakek Wira menatap Gintani dengan tatapan yang penuh kekecewaan. Sedangkan Gintani, kepalanya semakin tertunduk karena mendapatkan tatapan yang seolah ingin membunuhnya.


“Ada apa Gintan ? Mereka memiliki niat baik terhadapmu, tapi kenapa kau malah mengecewakan mereka ?" tanya kakek Wira.


“Ma…maaf, kek ! Gintan hanya merasa tidak mengenal ustadz Husni dengan baik." jawab Gintani mencoba memberikan alasan.


"Itulah laki-laki sejati nak. Tidak Harus saling mengenal, tapi langsung mengikatmu dengan sebuah ikatan yang suci. Kurang apalagi, nak ?" ujar kakek Wira.


Gintani hanya bisa memainkan jari-jemarinya di atas pakaiannya. Sebenarnya bukan itu yang menjadi alasan Gintani menolak ta'aruf dari keluarga ustadz Husni.


Alasan yang sebenarnya adalah ketidaksucian dirinya. Bagaimana mungkin seorang ustadz harus mendapatkan barang bekas seperti dirinya. Ya ! sejak kejadian itu, Gintani selalu menganggap dirinya hanyalah sebuah barang bekas. Karena itu, dia tidak berani mengenal laki-laki. Meskipun tidak dipungkiri, sejak dia pindah ke kampung ini, ada puluhan lelaki yang selalu menitipkan salam untuknya melalui Raisya.


Sedangkan ustadz Husni sendiri. Gintani mengenalnya karena dia memang salah satu mustamin dari pengajian yang diselenggarakan oleh desa tetangganya. Gintani memang sering bertanya tentang agama pada saat sesi bertanya. Gintani sendiri tidak begitu dekat dengan ustadz Husni. Hanya saja, beberapa kali memang mereka sempat bertegur sapa. Gintani tidak pernah menyangka jika ustadz Husni akan meminta orang tuanya untuk melakukan proses ta’aruf ini.


“Gintan ? Kok Malah ngelamun, nak ?" tanya kakek Wira.


Gintani terkejut mendengar pertanyaan kakek Wira. Terlihat sekali jika dia tidak fokus dengan ucapan atau bahkan kehadiran kakeknya di hadapannya.


“Kamu tidak apa-apa, nak ?” tanya kakek Wira lagi.


“Gintan….Gintan... baik-baik saja, kek ?” jawab Gintani.


“Lalu, adakah alasan lain yang lebih masuk akal selain karena tidak mengenal anaknya ustadz Hasan ?” tanya kakek lagi.


Gintani kembali menundukkan kepalanya. Dia sadar dia tidak akan pernah bisa membohongi kakeknya. Terlebih lagi, Gintani tipe anak yang tidak pernah bisa berbohong. Sejak kecil hingga usia lima tahun, Gintani ingat jika ibu panti pernah bercerita bahwa seorang anak yang suka berbohong, maka kelak di akhirat, dia akan dimasukkan ke dalam neraka. Lidahnya akan terus memanjang. Setelah itu Tuhan akan memotong lidahnya, namun lidahnya akan terus keluar.


Pikiran Gintania yang masih kecil merasa ketakutan. Sejak saat itu, dia pun berjanji untuk tidak pernah berbohong kepada siapa pun. Tapi, haruskah sekarang dia membuka aibnya sendiri ?

__ADS_1


Merasa cucunya bersikap semakin aneh, kakek Wira pun menyadari jika Gintani memang sedang menyembunyikan sesuatu. Kakek Wira menyentuh lembut tangan Gintani.


“Nak, kita hidup di sini hanya tinggal berdua. Jika bukan kepada kakek kamu bercerita, lalu kepada siapa lagi kamu akan menumpahkan segala isi hatimu ? Begitu juga dengan kakek. Jika bukan kepadamu, kakek tidak punya tempat lagi untuk berkeluh kesah. Mari kita saling menguatkan nak ! Saling berbagi dalam suka dan duka. Kamu tidak perlu menanggung bebanmu sendirian ! Ada kakek, sayang. Masih ada kakek yang akan selalu melindungi kamu !” ujar kakek Wira, lembut.


Gintani semakin tak kuasa menahan kesedihannya. Tanpa sadar, buliran air mata telah sempurna membuat aliran anak sungai di kedua pipinya. Tubuhnya mulai berguncang, berusaha menahan isak tangisnya agar tidak keluar. Namun semakin kuat dia berusaha, semakin sesak dia bernapas. Gintani pun hanya bisa me****s dadanya yang mulai terasa berat karena himpitan bebannya selama ini.


Kakek Wira menarik Gintani ke dalam pelukannya.


“Katakan, nak ! Katakan apa yang tengah menjadi bebanmu ! Jangan kau tanggung sendirian semua masalah yang sedang membebanimu ! Berbagilah dengan kakek !" ujar kakek Wira.


“Ma…maafkan gintan kek…hu…hu..hu..! Maafkan Gintan !”


Gintani mulai bersuara dalam isak tangisnya. Isak tangis yang terdengar menyayat hati sang kakek.


“Maaf untuk apa, sayang ? Gintani anak yang baik. Kakek tidak perlu memaafkan Gintan !” ujar sang kakek seraya mengusap-usap punggung Gintani.


Mendengar ucapan kakeknya. Gintani semakin terisak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia kemudian melepaskan pelukannya dan duduk bersimpuh di hadapan sang kakek. Tangannya memegang erat kedua kaki kakek Wira.


Kakek Wira menarik kedua bahu Gintani sebagai isyarat agar Gintani berdiri dan kembali duduk di sampingnya. Namun Gintani menolak itu semua. Dia semakin mengeratkan pegangannya di kedua betis kakek Wira. Kakek wira pun semakin mengernyitkan dahinya melihat tingkah cucunya.


“Ada apa Gintan ! Coba katakan pada kakek ! Apa yang sebenarnya telah terjadi padamu ! Beban apa yang kau simpan sehingga bisa menganggap dirimu seperti itu !”


"Ka…kakek…,ma..maaf ! Gi…gintan tidak…bisa menjaga di..diri Gintan ! Gintan gagal, kek ! Gintan gagal…hu…hu…!”


“Gagal ? Gagal kenapa ? Apa yang terjadi, nak ? “ kakek Wira semakin di buat penasaran.


“Se…sebenarnya, Gi…Gintan te…telah ternoda, kek…! Ma…maafkan Gintan !


"Astagfirullah !


Kakek Wira terkejut seraya memegangi dadanya. Dia tidak pernah menyangka jika cucunya tega menganiaya dirinya sendiri. Sejurus kemudian, kakek Wira menekan kedua bahu gintani.


“Katakan Gintan ! Katakan, siapa laki-laki yang telah menodai kamu ! Katakan ! Dia harus bertanggung jawab atas hidupmu ! Katakan siapa dia !” ucap kakek Wira sedikit berteriak.

__ADS_1


Gintani hanya bisa menggelengkan kembali kepalanya. Membuat kemarahan kakek Wira naik satu level.


“Jadi kau ingin melindungi bajingan itu, hah ! Kau ingin melindungi orang yang sudah merenggut masa depanmu ? Kenapa ? Apa karena kau mencintainya, meskipun dia tidak ingin bertanggung jawab ? Begitu, Gintan !” teriak kakek Wira yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya.


“Dia…, dia...sudah bertanggung jawab kek ! Dia…dia bertanggung jawab dengan kebebasan dan kesehatan kakek." jawab Gintani perlahan.


“A…apa maksud kamu, Gintan ?” tanya kakek Wira, heran.


“Maaf kek ! Gi…Gintan sudah menjual diri Gintan padanya ! Dia sudah bertanggungjawab dengan uangnya. Dan…dan Gintan tidak ingin memiliki lagi kewajiban untuk mendesak lelaki itu bertanggung jawab."


Pyarrr….


Seketika hati seorang tua renta itu hancur begitu mendengar kejujuran dari gadis yang selalu dibanggakannya. Tanpa berkata dan tanpa ingin melihat lagi cucunya, kakek Wira meninggalkan Gintani ruang tengah.


Melihat kakeknya pergi, Gintani segera berdiri dan mengejar kakeknya yang dengan cepat telah mengunci diri di kamarnya.


Dug…dug…dug…


Gintani menggedor- gedor pintu kamar kakeknya dengan kuat.


"Kakek, Gintan mohon, maafkan Gintan ! Gintan terpaksa melakukan ini kek ! Gintan…Gintan sudah tidak memiliki pekerjaan pada saat kakek di rawat di rumah sakit. Gintan juga tidak memiliki uang untuk melunasi hutang bibi Shella. Gintan kalut saat tuan Broto menculik kakek dan meminta tebusan dalam waktu sehari. Gintan bingung kek ! Gintan bingung kemana harus mencari uang sebesar 500 juta hanya dalam waktu sesingkat itu. Terlebih lagi, tak ada seorang pun yang mau mempekerjakan Gintani di sebuah perusahaan ataupun kafe-kafe. Gintan frustasi, kek ! Pada akhirnya Gintan gelap mata ! Gintan tidak mau kehilangan kakek. Kakek adalah satu-satunya keluarga yang Gintan miliki. Gintan mohon, ampuni Gintan ! Hiik…hiks…ampuni Gintan, kek…!" ratap Gintani seraya menjatuhkan tubuhnya dan menangis di depan pintu kamar sang kakek.


Sementara itu, di dalam kamar. Kakek Wira semakin me****s dadanya yang mulai terasa sakit.


Ya Tuhan….dia melakukan semua itu untuk menyelamatkan aku dan keluargaku. Seharusnya kau biarkan kakekmu yang tua ini, mati saja, nak ! Kakek tidak sanggup mendengar kisah pilu kehidupanmu ! Maafkan kakekmu ini yang tak mampu berbuat apa-apa ! Seharusnya mungkin dulu aku tidak pernah membawanya dari panti asuhan. Jika dia tetap berada di sana, Mungkin dia tidak akan mengalami keburukan dalam hidupnya. Ya Allah…., ampuni hamba-Mu yang tak bisa menjaga cucu hamba sendiri . Arya, maafin papa, nak ! Papa tidak bisa menjaga putrimu ! Papa gagal, nak ! Papa telah gagal menjaga satu-satunya keturunanmu !" batin kakek Wira.


Akhirnya, malam itu mereka lalui degan isak tangis yang yang sangat memilukan dan menyayat hati masing-masing.


Bersambung...


Mak..., othor mewek mak...😭😭


Lanjut...! Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2