
"Sebaiknya kamu pulang, Ar." Dokter Richard memecah keheningan yang terjadi di kamar itu.
"Ya, kamu benar. Aku harus meluruskan masalah ini. Aku tidak mau Gintani salah paham lagi," jawab Argha.
Syukurlah kamu mengerti, Ar, batin dokter Richard.
Namun Ilona tak melepaskan Argha begitu saja. Dia kembali meringis untuk mencari perhatian Argha.
Argha hendak mendekati Ilona, namun dokter Richard segera menghentikannya.
"Biar aku yang menangani Ilona," ucap dokter Richard menepuk pelan bahu Argha.
Argha menatap dokter Richard dengan tatapan penuh tanya yang tak bisa diungkapkan. Dokter Richard mengangguk. Seolah mengerti apa yang hendak Argha tanyakan.
Setelah mendapat anggukan dari dokter Richard, Argha pun pergi meninggalkan Ilona.
"Kakak pergi dulu, ya! Tidak usah khawatir, dokter Richard adalah dokter yang sangat handal. Kakak yakin, dia bisa menangani kamu untuk sementara waktu. Sebelum dokter ahlinya datang ke rumah sakit ini," ucap Argha panjang lebar.
Ilona hendak memaksa kembali. Namun tatapan dokter Richard menghentikan niatnya. Akhirnya, dengan terpaksa, Ilona pun menuruti keinginan Argha. Dia hanya bisa diam dan membiarkan Argha pergi dari pandangannya.
"Kenapa kamu lakukan ini, Na?" tanya dokter Richard setelah kepergian Argha.
"Melakukan apa maksud kamu, Rich?" Ilona malah balik bertanya.
"Cukup, Na! Hentikan semua kegilaanmu! Jangan ganggu lagi hubungan mereka. Apa sedikit pun kamu tidak merasa bersalah karena telah mengganggu ikatan suci yang sudah dibuat Tuhan?"
"Sudahlah, jangan ceramahi aku lagi. Kamu tidak akan pernah mengerti, Rich."
"Aku mengerti, Na. Justru karena aku sangat mengerti perasaanmu, aku harap kamu menghentikan semuanya."
"Tapi aku mencintainya," bantah Ilona.
"Itu bukan cinta, Na! Bukan cinta!" Kali ini dokter Richard berbicara dengan nada yang cukup tinggi.
"Jika bukan cinta, lalu apa? Kau tahu dia adalah cinta pertamaku. Semua impian dan harapanku, aku gantungkan pada kak Argha."
"Dan itu bukan cinta. Apa yang kamu rasakan untuk Argha, bukanlah sebuah cinta. Itu hanyalah obsesimu saja, Na. Sebuah obsesi untuk memiliki orang yang kamu sukai."
"Apa bedanya? Cinta ataupun obsesi, yang jelas aku benar-benar menyukai kak Argha!"
"Beda, Na. Terdapat banyak sekali perbedaan antara cinta dan obsesi. Jadi aku mohon, hentikan semua ini! Percuma kamu mengejar orang yang tidak pernah mencintai kamu."
"Kak Argha mencintai aku!"
__ADS_1
"Mana buktinya jika dia mencintai kamu?"
"Kamu ingin bukti? Lalu kejadian tadi? Apa itu bukan bukti yang kuat jika kak Argha mencintai aku? Dia sangat khawatir padaku, dan dia langsung datang begitu mendengar aku kesakitan. Apa itu namanya bukan cinta?"
"Hhh," Dokter Richard menghela napasnya.
"Jangan terlalu banyak berharap, Na. Tentu saja dia merasa khawatir, karena dia sahabatmu. Merasa khawatir bukan berarti cinta. Kamu harus tahu itu. Dan cinta Argha, cintanya hanya untuk istrinya seorang."
"Cukup!" Ilona menutup telinganya dengan kedua tangan. "Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi. Pergi kamu dari sini, pergi!" usirnya kepada dokter Richard.
Dokter Richard kembali menghela napasnya. "Terserah kamu. Aku sudah memperingatkan kamu. Jangan pernah bermain api jika tidak ingin terbakar."
"Pergi kataku! Pergi!"
🍀🍀🍀
"Apa Bibik melihat Nona Gintani?" tanya Argha begitu sampai di rumah.
Bik Siti menggelengkan kepalanya. "Bibik tidak melihatnya, Den. Dari tadi siang, Non Gintan keluar, dan sampai sekarang belum pulang," jawab Bik Siti.
Argha mengacak rambutnya, merasa frustasi. Dia kemudian pergi ke kamar. Tiba di kamar, Argha segera membuka layar ponselnya untuk menghubungi Gintani. Senyum mengembang saat mengetahui panggilan tersambung. Namun sekian menit menunggu, sambungan telepon pun tak diangkat oleh istrinya.
"Ayo dong, Gin ... angkat!" gumam Argha sambil berjalan mondar-mandir di kamarnya. Berulang kali Argha memijit nomor Gintani. Namun tak ada satu pun yang diangkat sambungannya oleh Gintani. Argha semakin tampak cemas, terlebih lagi, hujan di luar semakin lebat. Ya Tuhan, kemana aku harus mencarinya, batin Argha melemparkan ponselnya ke atas ranjang.
"Hallo!"
"Ini sudah sangat sore, apa kamu tidak berniat kembali ke kantor?"
"Aku lelah. Aku langsung pulang."
"Oh, kawan ... aku tidak pernah menyangka jika kebersamaan dengan sang istri membuat kelelahan seperti itu. Sampai-sampai tidak ingat balik lagi ke kantor."
"Jangan meledekku. Gintani hilang!"
"Apa?! Bagaimana mungkin?"
"Sudahlah, ceritanya panjang. Tutup teleponnya, aku ingin menghubungi dia lagi!"
"Apa teleponnya tersambung?"
"Ya, tapi dia tidak mengangkat sambungan teleponnya."
"Ish, kamu ini, bodoh sekali! Jika teleponnya tersambung, kenapa tidak kamu lacak dia melalui GPS?"
__ADS_1
Argha terkejut, ya! Bagaimana bisa dia melupakan hal itu.
"Kamu benar Bram. Thanks ya!"
Tut!
Seperti biasanya, Argha memutuskan sambungan teleponnya sebelah pihak. Membuat seseorang menggerutu di ujung telepon.
Argha membuka GPS untuk melacak keberadaan Gintani. "Yes, dapat!" serunya begitu alat canggih itu menampilkan titik merah di layarnya. "Danau Nirmala," gumam Argha. Tak ingin membuang waktu lebih lama, dia pun segera mengambil kunci mobilnya untuk menyusul Gintani.
🍀🍀🍀
Hujan masih turun dengan derasnya. Namun Gintani masih setia duduk di tepi danau. Untungnya keadaan danau begitu sepi. Hanya ada satu atau dua orang yang melintas di sana. Meskipun mereka menatap Gintani dengan perasaan heran, namun sepertinya mereka terlihat masa bodoh. Mungkin karena seperti itulah kebiasaan penduduk kota. Terlalu cuek dan tidak ingin mencampuri urusan orang lain.
Gintani mendongakkan kepalanya saat dia tidak merasakan air hujan menerpa tubuhnya.
Payung, batin Gintani. Sejurus kemudian dia melihat Argha sedang berdiri memayungi tubuhnya yang sudah menggigil.
Argha berjongkok sambil terus memayungi istrinya. "Ayo, kita pulang!" ajaknya sambil mengulurkan tangan.
Gintani diam. Namun dia tidak menolak ajakan suaminya. Dengan kaki yang gemetar, dia pun mulai berdiri. Rasa dingin yang menusuk kulitnya tidak dia hiraukan. Dia hanya mematung menatap dingin suaminya.
"Pergilah! Aku bisa pulang sendiri," usir Gintani dengan suara yang lemah.
"Gin, aku mohon. Kita pulang dan kita bicarakan baik-baik di rumah. Aku tahu saat ini kamu sedang emosi. Tapi aku mohon, jangan menganiaya diri sendiri. Pulanglah bersamaku!"
Gintani tak mempedulikan ucapan suaminya. Hatinya kembali kecewa karena kata maaf tidak pernah lolos dari mulut suaminya. Entahlah, sepertinya hati Argha terbuat dari batu hingga sangat sulit untuk berkata 'aku minta maaf, Gin'. Gintani terus melangkahkan kakinya menjauhi Argha. Tiba-tiba saja,
Cetarrrr...!
Bunyi petir menggelegar seolah menggetarkan tanah yang dipijaknya. Spontan Gintani menghentikan langkahnya. Wajahnya yang mulai pucat terlihat semakin pucat pasi.
Argha yang menyadari ketakutan Gintani, segera berlari menghampirinya. "Jangan takut, aku bersamamu," ucap Argha merangkul istrinya
Jedddarrr!
Jedddarrr!
Gemuruh petir kembali bersahutan hingga memaksa Gintani mencengkeram kuat baju suaminya. Argha begitu iba melihat phobia yang dialami istrinya. Akhirnya dia menaruh payungnya dan mulai memangku Gintani ala brydal style untuk memberikan kenyamanan. Dia kemudian melangkahkan kakinya menuju mobil. Sedangkan Gintani hanya bisa merutuki rasa phobia yang datang tidak tepat waktu.
Bersambung...
Jangan lupa like, vote n komennya, yaaa 🤗🙏
__ADS_1