Takdir Gintani

Takdir Gintani
Chantika Ilona Prasetya


__ADS_3

Seorang gadis berkulit sawo matang, berparas cantik dengan bentuk wajah yang sedikit bulat, sedang berdiri di ruang ketibaan bandara Soetta. Bola matanya yang berwarna kecoklatan, bergulir ke kiri dan ke kanan untuk mencari keberadaan seseorang. Sesekali, dia menggigit bibirnya yang sedikit tebal untuk menahan rasa sakit yang mendera di sekitar area terlarangnya. Entah apa yang terjadi padanya. Mungkin karena telah melakukan perjalanan jauh, hingga rasa sakit itu kembali datang.


Dia mengayunkan langkahnya menuju kursi tunggu. Tangan kiri menarik sebuah koper yang cukup besar. Sedangkan tangan kanannya, memegang sebuah ponsel. Sesekali dia melihat layar ponsel itu. Kekesalan tampak semakin jelas di raut wajahnya.


"Ish, kenapa dia tidak membalas chatku? Apa dia tidak bisa memperkirakan jam kedatanganku?" gerutunya, kesal.


Gadis itu menengadah, bayangan masa lalunya kembali berkelebat dalam benaknya.


"Aku...aku mencintaimu...."


"Tapi, bukankah selama ini kamu dekat dengan sahabatku?"


"Tapi aku mencintaimu...aku tidak pernah mencintai sahabatmu. Hubungan kami hanya sebatas teman saja."


"Tapi, Na...!"


"Kenapa, Kak? Apa Kakak tidak pernah mencintaiku?"


Hening....


"Kakak, tolong jawab aku! Apa sedikit pun Kakak tidak pernah mencintai aku?"


"Jujur, aku juga menyukai kamu, Na. Tapi...aku benar-benar tidak enak dengan sahabatku.


Cinta tidak bisa dipaksakan, Kak. Kita harus sedikit egois untuk meraih sebuah kebahagiaan. Jika Kakak mengorbankan perasaan Kakak demi kebahagiaan sahabat Kakak, itu artinya kakak bukan hanya menyakiti diri Kakak sendiri. Tapi Kakak juga menyakiti perasaan Na dan sahabat Kakak."


"Sudahlah, Na! Lebih baik kita jalani seperti biasanya. Aku sangat menghargai hubungan pertemanan di antara kita bertiga."


"Na...!"


Tiba-tiba, panggilan pelan seseorang membuyarkan lamunan sang gadis.


Chantika Ilona Prasetya. Putri tunggal dari keluarga Prasetya. Ayahnya, Seno Prasetya, adalah pemilik sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa transportasi. Namun sayangnya, kejayaan keluarga Prasetya harus berakhir pada saat sang ayah terlibat skandal dengan seorang aktris yang menjadi brand ambassador perusahaannya.


Ibunya mengalami depresi berat saat mengetahui perselingkuhan suaminya. Bertahun-tahun dia habiskan di rumah sakit jiwa hingga menghembuskan napas terakhirnya. Ilona kecil merasa sangat terpukul, karena itu, dia memilih tinggal bersama kakek dan neneknya pemilik sebuah panti di daerah cijantung.


"Ish..., kamu mengagetkan aku saja, Rich!" gerutu Ilona, kesal.


"Aku hanya memanggilmu, Na. Pikiran kamu saja yang sedang berjalan-jalan entah kemana, sampai panggilan sepelan itu pun bisa membuatmu kaget. Lagi ngelamunin apa, sih...? Pasti ngelamunin cowok kamu ya?" goda Richard.


"Huuh...kepo! Udah ah, aku capek! Kita pulang sekarang, yuk!" ajak Ilona.


"Sesuai keinginanmu, Nona! Mari saya antar!" jawab Richard seraya membungkukkan badannya. Ilona tersenyum tipis melihat tingkah Richard.


Tangan kekar Richard meraih koper yang sedari tadi nangkring di depan Ilona. Tiba di tempat parkir, dia memasukkan koper itu ke bagasi mobilnya. Setelah itu, Richard membuka pintu mobil untuk Ilona.


"Thank you, honey...!" ucap Ilona seraya mengelus rahang pria keturunan Amerika itu.


"You're welcome, baby!" jawab Richard.


Sejurus kemudian, Richard menyalakan mesin dan mulai melajukan kendaraannya membelah jalanan ibukota.


"Apa rencana kamu setelah kembali ke negara ini, Na?" tanya Richard, memecah keheningan yang terjadi selama beberapa menit.


"Yang jelas, aku ingin kembali pada kekasihku," jawab Ilona tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca jendela.

__ADS_1


Terdengar helaan napas yang cukup berat dari lawan bicaranya.


"Na, dia sudah menikah. Jangan buang-buang waktumu untuk sesuatu hal yang sudah bukan milikmu lagi." Richard mencoba menasihati Ilona.


"Dia milikku, Rich. Dan selamanya akan selalu menjadi milikku! Sudahlah...! Jika kau tidak ingin membantuku, aku tidak akan memaksa. Aku bisa melakukan rencanaku sendirian. Lihat saja, aku pasti bisa merebut kekasihku. Karena aku yakin, dia sangat mencintaiku," tutur Ilona penuh emosi.


"Baiklah...aku pasti membantumu, Na. Aku sudah berjanji untuk membantumu agar bisa bersatu kembali dengan cintamu. Tenangkan dirimu! Jangan terlalu banyak pikiran, tidak baik buat kesehatanmu!" jawab Richard, berusaha menenangkan Ilona.


Tentu saja aku akan membantu kamu untuk kembali padanya. Aku sudah muak melihatmu memanfaatkan daddy. Lihat saja, Na...aku akan membuat daddy membuka matanya jika kamu bukan wanita tulus seperti apa yang dia kira selama ini. Aku akan membongkar semua kebusukan kamu jika waktunya sudah tepat.


"Kita kemana sekarang?" tanya Richard.


"Kita ke perusahaan APA Architecture," jawab Ilona.


Richard mengernyitkan dahinya, "Mau apa kita ke sana?" tanyanya, heran.


"Aku ingin menemui kekasihku."


"Apa kekasihmu bekerja di sana?"


"Tidak. Dia pemilik perusahaan itu."


Ciiiiittttt....


Dugh.....


"Awwww....! Kamu kenapa sih, Rich? Berhenti kok mendadak gitu...benjol nih kepalaku!" Sungut Ilona sambil mengusap-usap keningnya yang terbentur dashboard mobil.


"Apa nama kekasihmu, Argha?" tanya Richard menatap tajam pada Ilona.


"Kebetulan, aku memakai jasa perusahaannya dalam proyek pembangunan rumah sakit di kota ini," jawab Richard. "Jadi...benar, dia tuan Argha?" Richard kembali bertanya.


Ilona mengangguk. "Iya, dia Argha Putra Adisastra. Pewaris tunggal dari Tuan Amijaya. Pemilik perusahaan properti terbesar di kota ini," ucap Ilona dengan bangganya.


Tinggal Richard yang masih anteng dengan semua keterkejutannya. Hingga akhirnya, bunyi klakson mobil di belakang, membuat Richard segera tersadar dari rasa shock-nya.


Ya Tuhan...! Bagaimana ini...? Jika aku membantunya, aku pasti akan menghancurkan pernikahan Argha. Tapi, jika aku tidak membantunya, seumur hidup daddy akan selalu percaya pada wanita ular ini.


Pikiran Richard kembali berkelana mengingat kebersamaan masa kecilnya dengan keluarga Argha. Kasih sayang ayah Jaya dan bunda Dewi yang tidak pernah membeda-bedakan antara Argha dan dirinya, membuat Richard enggan untuk bertindak sejauh itu.


Meski Argha sangat membencinya, tapi Richard tidak mungkin menghancurkan keluarga sahabat ayahnya sendiri. Terlebih lagi, Richard bisa melihat jika Argha sangat mencintai istrinya. Wanita si pemilik wajah yang meneduhkan. Richard yakin jika wanita itu memiliki keistimewaan, sehingga dia bisa meluluhkan hati seorang Argha yang sombong.


Berkali-kali, Richard menghela napasnya. Kepalanya terasa berat memikirkan kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Sepertinya, rencana untuk menguak kebusukan wanita itu, harus dia tunda. Prioritas utamanya saat ini adalah, membantu rumah tangga Argha dari ancaman wanita itu. Anggap saja, ini sebagai penebus dosaku, batin Richard.


🍀🍀🍀


"Sayang, besok kita piknik yuk!" ajak Argha pada istrinya.


Gintani menutup novel yang sedang di bacanya. Dia menatap suaminya dengan tatapan keheranan.


"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Argha sembari merebahkan kepalanya di pangkuan Gintani.


"Tidak apa-apa, Gintan hanya terkejut saja mendengar ajakan kamu, Mas. Memangnya nggak apa-apa kamu nggak masuk kantor lagi? Kamu sudah dua hari bolos kerja, loh...!!"


"Nggak apa-apa, aku kan bosnya...!" Seperti biasa, Argha menunjukkan kesombongan tingkat dewanya.

__ADS_1


Gintani mencibir melihat penyakit arrogant suaminya kambuh. "Iya-iya... terserah kamu saja!" jawab Gintani seraya meraih kepala Argha, hendak memindahkannya ke atas bantal.


"Mau kemana?" Tanya Argha mendongak, saat merasakan Gintani memegang kepalanya.


"Bentar lagi Asar, Mas! Gintan mau masak dulu buat buka puasa."


"Gin, kenapa harus puasa sih?"


"Kenapa...? Mas keberatan?"


"Bukannya keberatan, tapi hari ini kita di rumah seharian. Aku tidak sanggup menahan diriku jika berada di dekatmu. Aku menginginkan kamu, Gin!"


Gintani menatap lembut suaminya. "Apa Mas tidak bisa menahannya?"


Argha menatap jam dinding di kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.45. Masih tersisa sekitar 4 jam lagi menunggu beduk magrib.


"Sudah, pergilah! Aku akan ke kamar mandi untuk menuntaskannya." Argha beranjak dari ranjangnya.


"Mas...!" Gintani meraih tangan suaminya.


Argha menoleh. "Kenapa, Gin?" tanya Argha yang sudah sedikit parau suaranya.


Satu persatu, tangan Gintani membuka kancing bajunya. "Lakukanlah!" ucapnya pelan. Senyum manisnya membuat Argha semakin tak berdaya menahan hasrat.


"Tapi, Gin? Apa tidak berdosa jika aku menggagalkan puasamu?"


"Ini puasa sunnah, Mas. Gintan justru akan mendapatkan dua pahala sekaligus sekali pun Gintan membatalkan puasanya. Pertama, Gintan mendapatkan ganjaran sebagai seorang istri yang memiliki kewajiban untuk melayani suami. Kedua, Gintan akan mendapatkan pahala dari niat puasa sunnah. Kamu tidak usah khawatir, Mas. Islam itu penuh rukhshah. Yang penting, kita niatkan semuanya ibadah," jawab Gintani.


"Dari mana kamu tahu tentang semua itu?"


"Guru ngaji Gintan."


"Ustadz muda itu lagi?"


"Bukan Mas, dari kyai Solihin. Gintan ngaji kitab kuning waktu tinggal di kampung. Nama kitabnya, uqudulujain. Kitab itu membahas tentang rumah tangga dan hubungan suami istri. Ya sudah, ayo...mau nggak? Gintan nggak mau suami Gintan yang tampan ini melakukan dosa lagi."


"Maksud kamu?"


"Mas, menuntaskan hasrat sendirian, itu hukumnya haram. Terlebih lagi bagi seseorang yang telah memiliki pasangan. Bisa dua kali tuh dosanya! Lagian, sayang Mas...jutaan hasil asetmu harus terbuang percuma. Kan mubazir, siapa tahu di benih yang terbuang itu, ada calon presiden, calon mentri, calon insinyur, calon artis, calon ustadz, masih banyak calon-calon yang lainnya. Apa Mas nggak kasian sama mereka yang seharusnya memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang di rahim seorang wanita?"


Argha diam. Dia merasa tertampar dengan ucapan Gintani. Argha akui, entah berapa milyar benihnya yang telah terbuang begitu saja. Jujur, sejak dia pertama kali mengecap indahnya surga dunia. Si Perkutut selalu on jika dia sedang memikirkan Gintani. Pada akhirnya, mau tidak mau, Argha terpaksa menuntaskannya sendirian.


"Mas...! Kok malah melamun? Mas tidak ingin memberikan Gintan pahala dua ratus kali ibadah haji?" tanya Gintani lagi.


Argha semakin mengernyitkan keningnya. Duh, teka-teki apalagi ini, Gin? batin Argha.


Mas, seorang istri yang menawari suaminya terlebih dahulu untuk bersenggama, maka Tuhan akan memberikan pahala yang berlipat ganda. Selain diampuni dosanya di masa lalu, dia juga akan mendapatkan pahala sebanyak dua ratus kali ibadah haji dan umroh. Untuk ukuran aku, entah harus menabung berapa tahun jika ingin melakukan ratusan kali ibadah haji, Mas. He..he..he..."


Argha semakin terkesima dengan setiap ucapan Gintani tentang agama. Dia akhirnya menyadari, jika selama ini dia sudah terlalu jauh meninggalkan syariat agamanya sendiri. Argha menarik napasnya panjang, dia menatap Gintani penuh cinta. Tidak...! Aku tidak boleh egois hanya karena mengikuti hawa nafsuku saja, pikir Argha.


"Aku ridho kamu berpuasa. Aku pun tidak akan pernah menuntaskan hasratku sendirian lagi. Sudahlah, pergilah ke dapur! Aku akan mengalihkannya dengan bekerja. Aku mencintaimu, Gin," jawab Argha seraya mengecup kening Gintani.


"Aku juga mencintaimu, Mas!"


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih untuk semua yang telah mendukung karya ini. Jika berkenan, mohon like, vote n komennya yaaa.... 🙏🤭


__ADS_2