
"I love you...!" ucap Argha mengakhiri percintaan mereka.
Argha meraih tisu yang ada di meja bar. Dia kemudian menyeka sisa cairan miliknya di kedua pangkal paha Gintani. Setelah itu, dia kembali mengenakan kimono di tubuh polos istrinya.
Pipi Gintani kembali merona saat mendapati perlakuan hangat suaminya. Mungkinkah dia telah berubah? batinnya. Mata Gintani menatap nanar punggung suaminya yang mulai mendekati meja makan untuk menyeduh kopi.
"Kenapa bengong, kemarilah!" ucap Argha, menatap istrinya.
"Pakai handukmu dulu, Mas! Aku risih melihat kamu seperti itu!" jawab Gintani yang masih menyandarkan tubuhnya di tepian meja bartender.
Argha tersenyum, dia kembali menghampiri istrinya. Tubuh tegap suaminya yang tanpa busana, membuat Gintani harus bersusah payah menahan salivanya.
"Pakaikan...!" ucap manja Argha seraya merentangkan kedua tangannya.
Gintani hanya menggelengkan kepalanya. Dia menunduk untuk mengambil bathrobe yang teronggok di hadapannya. Saat Gintani mendongak hendak berdiri, tiba-tiba Argha bergerak mendekatinya, hingga tanpa sengaja bibir Gintani menyentuh kepala si Perkutut yang sudah lemah tak berdaya.
"Mas, ih..!" pekik Gintani yang terkejut melihat sang Perkutut tepat di hadapannya. Spontan Gintani memukul si Perkutut yang sedang mati suri.
"Aww... Gin!" Argha menjerit saat merasakan ngilu di benda pusakanya. "Ish, Gin! Ini aset yang sangat berharga, bagaimana nanti jika dia tidak bisa memberikan keturunan?" sungut Argha, sambil berdesis menahan rasa sakit.
"Jangan lebay deh, Mas! Aku hanya memukulnya, bukan memotongnya! Lagipula, aku masih membutuhkan Perkututmu itu."
"Benarkah?" Senyum Argha kembali merekah mendengar ucapan Gintani.
"Hem-eh!" angguk Gintani seraya mengenakan bathrobe di tubuh polos suaminya.
"Untuk...?"
"Untuk aku berikan pada ikan lele di kolam kakek!" ucap Gintani seraya mengikat kuat tali bathrobe di pinggang suaminya.
"Aww... Gin!" Argha kembali berteriak saat pinggangnya terasa sakit terlilit tali bathrobe.
Gintani terkekeh melihat ekspresi suaminya. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Jangan mandi, Gin! Sudah malam, besok saja!" teriak Argha.
Tapi sepertinya, Gintani tak menggubris perkataan sang suami. Buktinya, suara kucuran air shower mulai terdengar dari dalam kamar mandi.
Argha hanya menggelengkan kepalanya, dia pun segera menyeduh susu panas untuk istrinya.
__ADS_1
🍀🍀🍀
International Hospital
"Bagaimana, dok? Apa saya sudah bisa pulang hari ini?" tanya Ilona kepada seorang dokter wanita yang bertugas menggantikan dokter Richard.
"Benar Nona, anda sudah boleh pulang sekarang. Tapi ingat ya... anda harus bisa menjaga kondisi tubuh anda agar bisa segera sembuh. Bekas luka bakar di sebagian wajah anda juga sudah menghilang sempurna. Anda harus rajin-rajin mengkonsumsi vitamin E, agar jaringan kulit anda bisa segera beregenerasi." Dokter wanita itu memberikan sedikit saran tentang hasil operasi plastik Ilona yang sudah puluhan kali dilakukan.
"Lalu, selaput dara saya? Kira-kira, kapan saya bisa melakukan hubungan intim dengan suami saya?" tanya Ilona lagi.
Dokter wanita itu tersenyum. "Sabar ya, Nona! Mungkin sekita 2 atau 3 bulan, itu sudah batas yang maksimal. Sebenarnya, untuk waktu sebulan pun Anda sudah bisa melakukannya. Tapi, akan jauh lebih baik jika anda mampu menjaganya selama kurang lebih 3 bulan.
Selama itukah...? Apa kakak bisa menungguku selama itu...? batin Ilona.
Sebenarnya, seminggu yang lalu, Ilona sudah dinyatakan sehat dan pulang dari rumah sakit. Namun, karena terjadi pendarahan di sekitar area terlarangnya, Ilona pun kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan khusus.
"Ingat ya, jangan terlalu banyak melakukan pekerjaan yang berat-berat, agar lukanya cepat mengering." Nasihat dokter wanita itu.
"Baiklah, dok! Terima kasih atas semua saran dan nasihatnya," ucap Ilona.
"Sama-sama. Saya tinggal dulu ya, Nona. Dokter Richard bilang, nanti siang akan ada yang menjemput Nona kemari."
Dokter muda itu menepuk bahu Ilona. Dia kemudian keluar dari ruang rawat Ilona.
Senyum Ilona mengembang tat kala ingat, jika dalam waktu dekat, dia akan kembali ke negara asalnya. "Aku pulang kakak...akan aku pastikan, mereka bertanggung jawab atas semua masa yang telah aku lewati tanpa kehadiranmu. Aku merindukanmu, kak! Aku sangat merindukanmu...!" gumam Ilona tersenyum sinis.
🍀🍀🍀
Argha mendekati istrinya yang baru keluar dari kamar mandi. "Gantilah, aku sudah bawakan kimono baru untukmu!" ucapnya seraya menyerahkan set kimono berwarna maroon.
Gintani kembali ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Beberapa menit kemudian, dia keluar. Rambut basahnya tergulung ke atas, menampakkan leher jenjang miliknya yang basah karena kucuran air dari rambutnya.
Argha menelan saliva, melihat pemandangan indah di depan mata. "Duduk, Gin!" titah Argha seraya menepuk kursi di sebelahnya.
Gintani mengangguk. Dia menghampiri Argha dan duduk di samping suaminya.
"Minum!" perintah Argha, menyodorkan segelas susu hangat ke arah Gintani.
Gintani merasa ragu untuk meneguk susu yang berada di hadapannya. Pasalnya, susu yang dibuatkan Argha, adalah susu dengan rasa vanilla. Sejak kecil, Gintani tidak menyukai rasa vanila.
__ADS_1
"Humpp... " Gintani menutup hidungnya saat mencium bau amis dari susu berwarna putih itu. Seketika dia merasakan perutnya bergejolak.
"Kenapa, Gin? Tak suka?" tanya Argha, sedikit kecewa.
"Maaf, Mas! Aku tidak suka susu vanilla. Dari kecil aku tidak bisa minum susu rasa vanilla. Aku tidak suka bau amisnya. Maaf...!" jawab Gintani, merasa tak enak hati kepada suaminya.
Argha tertegun melihat Gintani yang sepertinya merasa tidak nyaman dengan bau susu rasa vanilla. Ekspresi Gintani seketika mengingatkan dia pada teman kecilnya.
Tidak Kak Adi, Na tidak suka susu putih, baunya bikin Na mual...
"Mas..., kamu tidak marah, kan... jika aku tidak minum susunya?" tanya Gintani hati-hati, takut menyinggung perasaan suaminya yang sudah bersusah payah membuatkan susu.
Argha terhenyak, "Eh... tentu saja tidak, Sayang! Sebentar, ya... aku buatkan susu coklat dulu!"
Gintani mengangguk, dia menatap kagum suami sombongnya yang mau capek-capek membuatkan susu untuknya.
Tak lama kemudian, " Minumlah...! Mumpung masih hangat."
Gintani meraihnya dan mulai meneguk susu itu. Seketika, perutnya terasa hangat. Tiba-tiba saja, netranya menatap sobekan kertas di atas meja.
"Apa itu, Mas?" tanya Gintani menunjuk sobekan kertas itu dengan dagunya.
Argha menarik sobekan kertas itu dan menggesernya ke arah Gintani.
Mata gintani membulat sempurna saat mengetahui kertas yang telah terbagi dua itu.
"Mas...ini kan perjanjian kita? Kenapa jadi seperti ini?" tanya Gintani heran.
"Tidak ada lagi perjanjian di antara kita, Gin. Kita akan memulai kembali dari awal, tentunya dengan segenap rasa yang kita miliki. Karena aku pun menyadari, kalau hidupku tidak akan pernah baik-baik saja tanpamu," jawab Argha penuh keyakinan.
Gintani hanya menatap mata suaminya. Dia mencoba mencari celah kebohongan di sana. Namun... nihil...! Dia hanya melihat mata sendu penuh penyesalan di raut wajah suaminya. Dia pun mengusap lembut rahang kekar itu.
"Bismillah hijrah, Mas!"
Bersambung....
Jangan lupa like, vote n komennya yaaa...
Makasih....
__ADS_1