Takdir Gintani

Takdir Gintani
Rencana 4 Bulanan


__ADS_3

Gintani memasuki sebuah toko pakaian. Dia mulai memilih beberapa setel baju hamil, begitu juga dengan Jessica dan safa. Mereka tidak mau ketinggalan untuk memborong baju-baju baru.


"Bagaimana menurut kamu, Gin?" tanya Jessica sambil menempelkan salah satu baju gamis berbahan jeans di tubuhnya.


"Cantik, Mbak," jawab Gintani seraya menempelkan ujung jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk bulatan kecil.


Jessica tersenyum, tapi tak lama kemudian dia kembali menaruh gamis itu di tempatnya.


"Nggak jadi dibeli, Mbak?" tanya Gintani.


Jessica menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Gintani kembali bertanya.


"Sepertinya ... aku belum siap, Gin," jawab Jessica, menundukkan kepalanya.


Gintani mendekati Jessica.


"Mbak, dulu Gintan juga seperti itu. Tapi, teman Gintan menyarankan untuk membelinya jika memang suka. Urusan siap tak siap, itu urusan belakangan. Tidak ada yang instan dalam sebuah perubahan, Mbak. Semuanya bertahap, Mbak. Perlahan, Nbak akan terbiasa juga. Tak perlu sekaligus, pelan-pelan saja." Gintani memberikan nasihat kepada Jessica.


"Ya sudah, aku jadi beli deh," ucap Jessica.


Ya, apa yang dikatakan Gintani benar. Tak perlu terburu-buru melakukan perubahan jika hati memang belum mampu menerima konsekuensinya. Pelan-pelan saja, karena semuanya butuh proses.


Setelah puas membeli pakaian, mereka pun menuju lantai atas untuk mengisi perutnya sambil mengawasi Safa bermain di Arena Permainan. Food court dan arena bermain memang berada di lantai atas, dan kebetulan saling berdampingan.


Jessica dan Gintani memesan makanan, sedangkan Safa langsung pergi ke arena permainan mandi bola.


"Kamu sudah nggak mual-mual lagi, Gin?" tanya Jessica saat dia melihat begitu banyak makanan yang dipesan Gintani.


"Alhamdulillah, sudah nggak Mbak. Sekarang sudah normal, bahkan selera makan Gintan semakin bertambah," jawab Gintani.


"Ya, aku bisa melihatnya sekarang," goda Jessica.


"Hahaha, aneh, ya, Mbak?" Gintani tertawa menanggapi ucapan Jessica.


"Nggak aneh juga sih. Ibu hamil emang harus makan banyak, 'kan yang makan dua orang," jawab Jessica.


"hmm, Mbak bener. Semakin besar kandungan Gintan, bawaannya lapar terus,hehehe...." Gintani terkekeh.

__ADS_1


"Syukurlah. Aku ikut senang mendengarnya," ucap Jessica.


"Makasih, Mbak. Sepertinya, dedek bayinya sudah mulai memahami keadaan ibunya. Makanya dia nggak rewel lagi," ucap Gintani.


Jessica menatap Gintani. "Dia pasti akan tumbuh menjadi anak yang kuat, Gin, sama seperti kamu," ucap Jessica menggenggam erat tangan kiri Gintani.


"Aamiin. Oh iya, Mbak. Ngomong-ngomong, apa Mbak jadi, pergi ke Jakarta untuk mencari bukti tentang kecelakaan kak Richard, di apotek itu? tanya Gintani.


"Jadi, Gin. Dua minggu yang lalu, aku pergi ke Jakarta untuk mencari bukti," jawab Jessica


"Hasilnya?" Gintani menghentikan suapannya. Dia penasaran dengan hasil pencarian Jessica tentang bukti itu.


Jessica menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"CCTV apotek yang kamu kunjungi sedang mengalami kerusakan pada saat kejadian itu. Jadi mereka tak memiliki bukti apa pun tentang kecelakaan yang menimpa Richard," jawab Jessica.


"Astagfirullah hal adzim ... Gintan turut prihatin mendengarnya, Mbak," jawab Gintani.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku yakin, serapat-rapatnya pelaku itu menutupi bangkai, maka baunya akan tercium juga," ucap Jessica.


"Mbak benar. Suatu hari nanti, kebenaran pasti akan muncul di waktu yang tepat." Gintani menimpali ucapan Jessica.


🍀🍀🍀


"Alhamdulillah Her, meskipun merayap. Hehehe," jawab Alex sambil terkekeh.


"Maafkan aku ya, aku terlalu lama meninggalkan pabrik ini, jadinya nggak bisa bantu-bantu kamu," ucap Heru penuh penyesalan.


"Tidak usah terlalu dipikirkan, Her. Urusan keluarga lebih penting di atas segalanya," jawab Alex seraya menepuk pundak bos sekaligus sahabatnya.


"Ya, kamu benar," jawab Heru.


"Oh ya, ngomong-ngomong, bagaimana pernikahan adik kamu, lancar?" tanya Alex.


"Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Berkat do'a kamu juga. Sorry ya, bukannya aku nggak mau ngundang kamu dan para karyawan, tapi, kondisinya memang sangat tidak memungkinkan," jawab Heru.


"Iya Her, kita paham kok. Lagian, kalau aku juga pergi, yang ngurusin pabrik siapa?" gurau Alex.


"Hahaha... kamu benar, Lex. Eh, apa kamu tahu tentang panti asuhan yang letaknya tidak jauh dari pabrik ini?" tanya Heru.

__ADS_1


"Maaf Her, aku nggak tahu. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku bukan orang asli daerah sini. Dulu, menurut cerita ibuku. Tempat tinggal kami terkena dampak penggusuran pembangunan jalan tol. Nah, pihak pemerintahan mendirikan sebuah perumahan yang khusus untuk menggantikan rumah warga yang terkena dampak. Sayangnya, waktu itu aku masih tinggal di Jakarta. Aku pindah kemari demi adikku. Setelah Ibuku meninggal, dia tinggal sendirian di sini. Karena itu aku memutuskan untuk pindah kemari.


"Oh, begitu. Ya sudah, tidak apa-apa, Lex."


"Memangnya, ada apa dengan panti asuhan itu?" tanya Alex, heran.


"Rencananya aku ingin menyumbangkan hasil olahan kita sebagai bahan baku untuk stok makanan mereka. Yaa, hitung-hitung sedekah, biar usaha kita semakin lancar," jawab Heru.


"Waah, ide yg bagus itu. Aku setuju dengan rencana kamu. Apa perlu aku temui pemilik pantinya?" Alex menawarkan diri untuk memberikan bantuan kepada Heru.


"Tidak usah Lex, biar aku saja. Kamu urus saja kantor," ucap heru.


"Ish, jadi nggak enak nih. Kok kesannya seperti aku yang jadi atasan, dan kamu bawahan ya...?"


"Apaan sih Lex, biasa aja kali. Di sini 'tuh nggak ada yang namanya atasan dan bawahan. Tapi kita semua sama. Karyawan yang ingin memajukan pabrik kita. Pabrik milik bersama. Yaaayyy...!" Heru bersorak sambil mengacungkan kedua tangannya.


"Huuh, lebay lo...!" Alex meledek bosnya sambil melemparkan balpoin ke arah Heru.


"Hahaha...."


Mereka pun tertawa bersama.


🍀🍀🍀


"Neng Gintan, mohon maaf ya ... Bibik nggak tahu apa Neng Gintan mau mengikuti saran Bibik atau tidak. Tapi Neng, warga kampung di sini menanyakan kapan acara 4 bulanan Neng Gintan diadakan, gitu katanya Neng," ucap Bik Susan saat mereka sedang menikmati suasana sore di gazebo belakang rumah.


"Empat bulanan? Acara apa itu, Bik?" tanya Gintani, heran.


"Sebenarnya, mungkin ini hanya sebuah tradisi saja. Tapi ... di sini, kalau ada ibu yang sedang hamil, mereka akan mengadakan tasyakuran 4 bulanan sebagai wujud bersyukur atas anugerah yang diberikan kepada pasangan berupa anak yang ada dalam kandungan. Acara ini digelar karena dalam sebuah hadis shahih disebutkan bahwa Allah SWT meniupkan ruh di usia kandungan empat bulan. Dan menurut para alim ulama juga, ruh mulai ditiupkan pada janin pada usia 120 hari atau empat bulan. Saat itu dituliskan oleh malaikat tentang usianya, jodohnya, garis kehidupannya, dan rezekinya. Karena itulah suka diadakan pengajian sebagai bentuk do'a agar sang jabang bayi memiliki garis takdir yang baik. Begitu katanya, Non," ucap Bik Susan, panjang lebar.


Gintani hanya manggut-manggut saja menanggapi penjelasan Bik Susan tentang acara 4 bulanan.


"Ya sudah, terserah Bibik saja bagaimana baiknya. Gintan ikut saja apa kata Bibik," jawab Gintani.


Bik Susan tersenyum. Dia kemudian membereskan gelas dan toples bekas camilan mereka.


"Ya sudah, kita ke rumah yuk! Anginnya sudah tidak baik untuk kesehatan ibu hamil."


Gintani mengangguk. Mereka kemudian kembali ke rumah.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2