
Namun Argha memiringkan wajahnya. Dia mulai mencium bibir Gintani yang tengah memakai lipstik berwarna nude. Rupanya bibir tipis itu telah menjadi magnet yang selalu bisa menarik diri Argha agar segera menyesapnya.
Mata Gintani terbelalak sempurna mendapatkan serangan bibir dari suaminya. Rongga mulutnya sedikit terbuka untuk memberikan celah bagi indra perasa yang tengah mencari jalan. Sejenak, mereka saling menautkan indera perasa masing-masing. Saling mengecap dan menukar saliva.
Argha melepaskan pagutannya saat melihat Gintani mulai terengah-engah. Netranya menatap Gintani penuh damba.
"Gin! Aku menginginkanmu!" bisik Argha di telinga Gintani.
Tubuh Gintani menggeliat saat bibir nakal itu mengapit daun telinganya.
"Ta... tapi Mas, bu... hummmppp."
Ucapan Gintani terpotong akibat bibir Argha yang menyambar bibirnya tanpa permisi. Kedua tangan Argha meraih bahu Gintani dan mulai menariknya perlahan. Tanpa melepaskan ciumannya, langkah Argha menuntun Gintani untuk berjalan mendekati sofa. Argha mendorong pelan bahu Gintani hingga Gintani terduduk pada pegangan sofa.
"Gin! Would you play my bird?" pinta Argha penuh harap.
"But, how?" tanya Gintani sedikit tak memahami arah pembicaraan Argha.
Argha membuka kancing jas dan menyibakkannya. Kemudian dia membuka sabuk dan resleting celananya.
Sang Perkutut tampak perkasa berdiri di balik segitiga pengaman berwarna navy. Argha meraih tengkuk Gintani dan mendekatkan wajah Gintani di depan Perkutut itu.
Dengan tangan gemetar, Gintani menurunkan segitiga pengaman berwarna navy itu sehingga sang Perkutut berdiri dengan jemawanya.
Gintani mulai memegangnya, dia kemudian memasukkan Perkutut itu ke sangkar yang penuh kehangatan.
Perlahan, Argha kembali memulai gerakan maju mundur cantiknya. Sedangkan Gintani memejamkan matanya, memberikan gigitan-gigitan kecil di ujung kepala sang Perkutut.
Napas argha mulai memburu menahan kenikmatan yang tiada tara. Kenikmatan untuk pengalaman pertama mereka. Argha memecal hijab Gintani saat merasakan sang Perkutut hendak memuntahkan air liurnya. Sejurus kemudian, dia menarik Perkututnya dan mendorong pelan bahu Gintani hingga terjerembab di atas sofa.
Argha menyingkap baju bagian bawah istrinya. Dia menarik segitiga pengaman berwarna pink yang memiliki pita cantik di tepi kanan dan kiri. Argha membelah kedua kaki Gintani agar sang Perkutut bisa memasuki goa kenikmatan yang seolah menjadi candu bagi pemiliknya.
"Mas... Ishhh...." lirih Gintani.
Gintani memegang erat tepi sofa. Menikmati setiap hentakan demi hentakan yang dilakukan suaminya. Mata nanarnya menatap dada bidang suaminya yang masih terbalut jas. Gintani tersenyum geli melihat perbuatan gila mereka.
Meski tak mengerti arti senyum istrinya, Argha membalas senyum itu dengan tatapan penuh kehangatan.
"I love you!" untap Argha.
Gintani tersipu malu mendengar kalimat yang meluncur lembut dari bibir suaminya.
Tiba-tiba, lagu Jangan Rubah Takdirku milik Andmesh Kamaleng, memecah konsentrasi kedua insan yang sedang digulung ombak gairah.
Argha tak menghiraukanya, dia masih asyik melakukan senam irama di atas bagian bawah tubuh Gintani.
Mas Andmesh Kamaleng kembali menyanyi, Membuat Argha terpaksa menarik Perkututnya. Argha merogoh saku jas untuk mengambil ponselnya. Dia kemudian menekan tombol hijau.
"Ya, Pah...!"
"Kamu di mana?"
"Masih di apartemen, Pah."
__ADS_1
"Apa? Kamu tahu ini sudah jam berapa? Acaranya sebentar lagi di mulai?"
"Papah mulai saja pestanya!"
"Loh...memangnya kamu nggak datang?"
"Argha datang telat, Pah."
"Kenapa?"
"Argha lagi ada pesta dulu sama Gintani. Bye!"
Tanpa banyak bicara, Argha segera menutup panggilan telpon dari ayahnya.
"Papah, Mas?" tanya Gintani masih berbaring di atas sofa.
"Iya," jawab Argha melemparkan ponselnya ke atas sofa kecil.
"Terus?" tanya Gintani lagi.
Bukannya menjawab, Argha malah membuka celana panjangnya. Dia kemudian melepaskan sepatunya dan heels Gintani.
"Terus...? Ya ... kita teruskan pesta kita!" Seringai Argha sambil mengangkat tubuh Gintani dan membawanya ke kamar.
🍀🍀🍀
Ballroom hotel Crown.
"Bagaimana Jay? Sudah tersambung?" tanya Tuan Hanzel.
"Anak itu mematikan telponnya, Han," jawab Tuan Jaya terlihat kesal.
"Terus ... acaranya? Bukankah Argha yang akan membuka acara kita?" tanya Tuan Hanzel lagi.
"Dia malah menyuruh kita membuka acara ini sendirian, Han," jawab Tuan Jaya, lesu.
"Loh, bukankah pesta ini untuk putra-putra kita, Jay?"
Tuan Jaya menarik napasnya panjang, kemudian menghembuskannya dengan kasar. "Dia sudah memiliki pesta sendiri, Han," jawab Tuan Jaya semakin kesal.
"Maksud kamu?" tanya Tuan Hanzel seraya mengerutkan keningnya.
"Pesta lokal! Pesta bersama istrinya di ranjang!" jawab Tuan Jaya seraya berlalu pergi menuju panggung.
Tuan Hanzel dan putranya terkekeh melihat raut wajah kekesalan Tuan Jaya. "Maklumin saja Jay, mereka masih pengatin baru.. he... he.. he..."
Tuan Jaya memutarkan bola matanya seraya mengibaskan tangan kanannya.
Sementara itu, tak jauh dari kursi mereka. Seorang gadis sekali lagi merutuki nasibnya yang selalu gagal untuk memulai rencana jahatnya.
"Huh! Awas saja...! Suatu hari nanti, aku pasti berhasil menghancurkanmu!
🍀🍀🍀
__ADS_1
Argha kembali merapikan pakaiannya setelah mengakhiri pesta lokalnya. Dia hanya membasuh sang Perkutut karena sudah tak memiliki waktu lagi.
Gin, cepatlah! teriak Argha memanggil istrinya yang sedang di kamar mandi.
"Mas aja yang pergi deh, aku belum mandi!" jawab Gintani.
"Mandinya nanti saja, Gin! Pulang dari sana."
"Ish, kita nggak boleh keluar rumah dalam keadaan junub, Mas?"
"Benarkah? Aku baru tahu itu, Gin!"
Ceklek...
Gintani membuka pintu kamar mandinya. Dia membuka lemari hendak mengambil baju tidurnya.
"Serius, Gin?"
"Apanya?"
"Itu yang nggak boleh keluar rumah sehabis gituan?"
"Iya, Mas. Gintan tahu itu saat ngaji di majlis ta'limnya ustadz Husni."
Seketika, raut wajah Argha memerah, mendengar nama ustadz itu.
"Ustadz yang kamu cium?" tanya Argha, dingin.
"Jangan mulai deh, Mas! Kita sedang membicarakan ilmunya, bukan orangnya!" tegas Gintani.
Argha memeluk Gintani dari belakang. "Tolong bilang, kalau hanya aku yang pernah melakukan semua ini padamu?"
"Apa maksud kamu, Mas? Apa kamu pikir, aku wanita murahan?" tanya Gintani, kesal.
"Bukan seperti itu maksudku, Gin? Aku hanya ingin, jika aku adalah satu-satunya lelaki yang selalu ada dalam hatimu."
"Bukankah kamu yang memintaku untuk belajar saling memiliki? Lalu kenapa kita tidak belajar tanpa harus saling bertanya tentang masa lalu? Bagiku, kamu adalah masa depanku. Dan aku berharap, jika aku akan menjadi masa depanmu juga."
"Baiklah, Gin! Kita hentikan pembahasan masa lalu kita sampai di sini. Oh ya, kembali lagi ke yang tadi. Memangnya, kenapa kita tidak boleh keluar dalam keadaan junub?"
"Mas! Tanpa kita sadari, malaikat maut itu sebenarnya tengah mengintai kita. Memangnya, Mas mau kita meninggal dalam keadaan kotor?"
"Astagfirullah, Gin...! Horor banget ucapanmu! Ya udah, yuk!" ajak Argha seraya menarik tangan Gintani.
"Kemana?" tanya Gintani, heran.
"Kita mandi bareng!"
"Mas...! Ih...!!"
Bersambung....
Terima kasih atas dukungan semuanya... 🙏🤗
__ADS_1