
"Keluarkan aku! Cepat keluarkan aku!"
Ilona masih terus berteriak-teriak dari balik jeruji yang membelenggunya. Namun, tak satu pun petugas dari kepolisian menggubris teriakan Ilona.
"Lepaskan aku brengsek! Apa kalian tidak tahu kalau aku adalah keponakan Hendra Dirawan? Kalian lihat saja nanti, om Hendra pasti akan membawakan pengacara terbaik untuk membebaskan aku. Lepas!" racau Ilona penuh emosi.
"Hentikan, Nona! Simpan tenagamu untuk penyidikan esok hari," tegur salah seorang sipir penjara.
"Shitt! Dasar brengsek!" Ilona memukul jeruji besi itu sekuat tenaga. Ilona tidak pernah menyangka jika hari ini adalah hari terakhir kebebasannya.
🍀🍀🍀
"Bagaimana Dok, apa saya bisa membawa putri saya ke kamar ibunya?" tanya Heru kepada dokter anak yang menangani bayi Gintani.
"Boleh-boleh saja, selama Anda masih bisa menjaganya dengan benar. Maklumlah, putri Anda masih kecil. Apalagi dia terlahir prematur. Jadi, suasana hangat itu jauh lebih baik baginya," jawab dokter itu.
"Dokter tidak usah khawatir. Saya akan meminta suster Ira untuk membantu saya merawat Putri di kamar ibunya," jawab Heru.
Ya, suster Ira adalah suster yang sangat senior di sini. Saya yakin beliau bisa membantu Anda untuk mengurus putri Anda. Semoga saja, dengan adanya Putri di sana, istri anda bisa segera sadar, kata dokter anak.
"Aamiin," jawab Heru. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Dok."
Setelah berpamitan, Heru kembali ke ruang bayi untuk mengatakan hasil pembicaraannya dengan dokter kepada Suster Ira.
Mendapatkan tanggapan positif atas sarannya, suster Ira pun segera meminta perawat untuk memindahkan box bayi Putri ke kamar Gintani. Lepas itu, dia menyiapkan semua kebutuhan bayi itu di kamar Gintani.
"Anda bisa menjenguk istri Anda sekarang. Nanti, Dedek Putri akan saya bawa ke sana jika demamnya sudah turun," ucap suster Ira.
"Baiklah, Sus. Saya titip Putri ya, berikan yang terbaik untuk dia," ucap Heru berpesan kepada perawat senior itu.
"Anda tidak usah khawatir, saya pasti akan menjaga Putri sebaik mungkin," jawab Suster Ira.
Setelah mengecup pucuk kepala Putri, Heru kemudian pergi untuk menjenguk Gintani di kamarnya.
__ADS_1
🍀🍀🍀
"Makan dulu, Adi. Sejak kamu datang, kamu hanya mengurung diri di kamarmu. Tolong jangan buat Enin khawatir," ucap Nin Ifah saat melihat cucunya baru saja keluar dari kamar mandi.
"Adi tidak lapar, Nin," jawab Argha.
"Ada apa Adi. Sungguh, Nin sangat sedih melihat keadaan kamu seperti ini. Duduklah Nak, Enin mau bicara sebentar." Nin Ifah meminta Argha untuk duduk bersamanya.
Argha menurut, dia pun duduk di kursi ruang makan. Nin Ifah berdiri untuk mengambil piring dan mengisinya dengan nasi juga lauk pauk.
"Sudah lama Enin tidak menyuapi kamu," ucap Nin Ifah sambil tersenyum.
"Nin, Adi bukan anak kecil lagi," jawab Argha.
"Nin tahu, tapi bagi neneknya, seorang cucu tetaplah cucu. Dia akan selalu menjadi anak kecil di mata kakek dan neneknya," jawab Enin Ifah.
Argha tersenyum mendengar ucapan neneknya.
"Makan dan berceritalah, Enin siap mendengarkan semua keluh kesahmu," ucap Nin Ifah sambil menyuapi cucunya.
Nin ifah sangat terkejut mendengar cerita Argha. Sebagai seorang wanita, Nin Ifah bisa merasakan rasa sakit cucu menantunya atas perbuatan cucunya. Namun, bagaimanapun juga, Argha adalah cucunya. Kasih sayangnya terhadap sang cucu melebihi segalanya. Terlebih lagi, Argha adalah satu-satunya amanat yang dititipkan almarhumah sang anak kepadanya.
Di suapan terakhir, Enin Ifah mengusap sudut bibir Argha yang kotor akibat bumbu balado.
"Sebagai seorang wanita, tentu Enin marah dengan semua perbuatan kamu kepada Gintani. Tapi sebagai orang tua, Nin hanya bisa berdo'a, semoga kamu bisa secepatnya menemukan istri kamu supaya kamu bisa segera memperbaiki semua kesalahan yang telah kamu perbuat. Terlebih lagi, Gintani sedang mengandung anakmu. Bisa kamu bayangkan, sulitnya dia membesarkan anak seorang diri," ucap Nin Ifah.
Hati Argha sakit saat mencerna semua kata-kata neneknya. Semakin sakit saat membayangkan hidup anak dan istrinya yang saat ini berada jauh darinya.
Bagaimana keadaan kamu, Gin? Apa kamu akan memaafkan Mas seandainya tahu kejadian yang sebenarnya? Mungkin kamu akan berkata jika Mas adalah suami terbodoh yang pernah ada di dunia ini. Dan Mas terima itu, Gin. Mas terima semua cacianmu, kemarahanmu dan hinaanmu. Tapi Mas mohon, maafkan Mas, batin Argha.
Keesokan harinya, Argha mengerjapkan mata saat bunyi ponselnya terus berdering. "Ish, jam berapa ini?" gumam Argha. Dia meraih jam tangannya yang berada di atas nakas. Penunjuk waktu itu berhenti di angka 9 tepat. Argha pun segera mengangkat telponnya.
"Ya hallo," sapa Argha
__ADS_1
"Lo di mana?" Tanya Bram di ujung telepon.
"Gue lagi di rumah kakek-nenek Gue," jawab Argha.
"Sebaiknya lo pulang sekarang. Jessica sudah membuat laporan tentang kasus tabrak lari itu. Om Jaya juga membuat laporan terhadap Nando dan Ilona tentang pencemaran nama baik Gintani. Dan sekarang, pihak kepolisian sedang menunggu laporan lo. Mereka bertanya, apa lo tidak ingin melaporkan penipuan Ilona yang merugikan diri lo?" tanya Bram.
Hening....
"Ar, gue tahu ini sulit bagi lo. Tapi gue harap, lo bisa berbesar hati untuk menerima semua ini. Ilona yang sekarang bukanlah Ilona lugu yang dulu pernah kita kenal. Dan Gintani? Apa lo nggak ingin mengembalikan nama baik Gintani? Coba lo bayangin, selama ini Gintani sudah cukup bersabar menghadapi sikap lo dan Ilona di belakangnya? Lalu, pantaskah dia menerima semua ini?" tanya Bram.
"Shitt! Lo ngomong begitu, seolah-olah gue emang punya affair dengan wanita itu di belakang Gintani," umpat Argha dengan kesal.
"Sorry Bro, gue nggak bermaksud menghakimi lo. Tapi saat lo lebih mengutamakan kepentingan sahabat lo ketimbang istri lo sendiri, itu adalah kesalahan besar," ucap Bram.
"Ya, gue tahu," jawab Argha.
"Dan sekarang ... apa rencana lo?" tanya Bram.
"Oke, gue pulang sekarang. Gue juga masih penasaran tentang kejadian yang menimpa gue dan Ilona malam itu. Melihat semua bukti kejahatan dia, gue curiga jika malam di mana gue tidur bersamanya, itu tak lepas dari rencana Ilona," ucap Argha.
"Ya, lo benar. Bisa jadi dia juga menjebak lo malam itu. Ya sudah, gue tunggu kedatangan lo."
"Oke."
Argha menutup teleponnya. Sejenak dia berpikir tentang malam skandal yang akhirnya membawa dia pada keputusan yang salah.
Memorinya kembali teringat akan konferensi pers yang telah dia lakukan. Tiba-tiba, jantung Argha berdegup kencang saat mengingat semua ucapannya dalam acara tersebut. Bagaimana jika Gintani menyaksikan konferensi pers itu? batin Argha.
Kecemasan pun semakin menguasai pikirannya. Jika sampai itu terjadi, entah berapa banyak dia kembali menorehkan luka pada hati wanita itu.
"Maafkan aku, Gin ... maafkan aku ...."
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗