
Gintani mulai memunguti pakaiannya satu persatu. Dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya, Gintani pun mulai mengenakan kembali pakaiannya, meskipun kemejanya sudah tidak layak lagi untuk dipakainya. Tiba-tiba…
Brakk….!
Gintani mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang telah dibuka paksa. Tampak seorang pria paruh baya yang beberapa hari lalu baru dikenalnya.
“Om !” ujar gintani lirih.
Beberapa menit yang lalu,
Argha terlihat keluar dari lift dengan wajah kusutnya. Dia melangkahkan kakinya setengah berlari. Kecemasan dan penyesalan tersirat jelas di raut wajahnya.
Tanpa sengaja, pinggang Argha menyenggol troler barang yang sedang ditarik oleh seorang bellboy. Koper yang sedang dibawanya pun jatuh berantakan.
“Ma…maaf tuan !” ucap bellboy tersebut.
Argha hanya mendengus kesal mendengar permintaan maaf dari sang bellboy. Jika sedang dalam kondisi normal, sudah pasti bellboy itu akan kena damprat seorang CEO arogan seperti Argha. Namun karena suasana hati Argha sedang tidak baik, Argha pun hanya melengos begitu saja.Dia kembali melangkahkan kakinya keluar dari pintu hotel.
Keributan yang terjadi di lobi hotel pun menjadi pusat perhatian para pengunjung hotel. Termasuk sang pemilik hotel yang memang hendak menemui manager hotel. Dahi tuan Jaya sedikit berkerut melihat penampilan anaknya yang berantakan. Dia dan asistennya segera menuju ruang manager.
“Apa anakku menginap di sini ?” tanya tuan Jaya begitu tiba di ruangan manager.
“Mohon maaf, tuan ! Sa…saya tidak tahu !” jawab sang manager.
Tuan Jaya mengernyitkan dahinya. “Kenapa sampai tidak tahu ? Bukankah kau penanggung jawab di hotel ini ?” tanya tuan Jaya.
“Be…benar, tuan ! Tapi sejak kejadian nona Jessica yang memasuki kamar tuan muda tanpa izin, tuan muda pun meminta cardlock pintu kamarnya. Sejak saat itu, kami pun tidak pernah mengetahui apakah tuan muda menginap di sini atau tidak ? Tapi jika tuan muda menginap di sini, beliau akan meminta pelayan khusus untuk melayani kebutuhan beliau.” ujar sang manager.
Kembali tuan Jaya mengerutkan keningnya. Ah, hubunganku dengan anakku memang telah sangat jauh. Sampai aku pun tidak mengetahui bagaimana kehidupan pribadinya. Maafkan papah, nak. Batin tuan Jaya.
“Oh iya, Yo ! Apa CCTV di lantai itu masih aktif ?” tanya tuan jaya, tiba-tiba.
Yogi, sang manager sejenak mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti arah pembicaraan tuannya.
“Ma…masih, tuan. Ta..tapi untuk apa tuan menanyakan hal itu ?” tanya Yogi hati-hati, takut menyinggung perasaan tuannya.
“Ah tidak, saya hanya ingin melihat sejak kapan anak saya tidur di sini ?” jawab tuan Jaya.
Yogi mengangguk. Dia kemudian mengajak tuan Jaya dan asistennya menuju ruang control CCTV di lantai 5.
Tiba di sana, tuan Jaya sangat terkejut melihat rekaman CCTV beberapa jam yang lalu. Pukul 20.43, tampak seorang gadis memasuki kamar milik anak nya. 25 menit kemudian, dia melihat anaknya memasuki kamar itu.
“Percepat !” perintah tuan Jaya.
Sang operator pun mempercepat waktu dalam rekaman CCTV itu. Tuan Jaya semakin terkejut saat melihat Argha keluar dengan pakaian berantakan. Bahkan dalam rekaman itu terlihat jelas jika Argha tengah membenarkan resleting celananya.
"Astaghfirullah...!" ucap lirih tuan Jaya.
Seketika tuan Jaya berlari menuju lift utama. Tiba di sana dia segera menekan angka 13. Hatinya benar-benar cemas memikirkan apa yang terjadi terhadap anaknya beberapa jam yang lalu. Apa mungkin anak itu telah terjerumus ke dalam pergaulan bebas ? batin tuan Jaya.
Ting…!
__ADS_1
Pintu lift terbuka. Tuan Jaya mempercepat langkahnya agar segera tiba di kamar anaknya. Dia benar-benar penasaran dengan apa yang telah dilakukan anaknya di kamar itu.
Brakk…!
Tuan Jaya membuka paksa pintu kamar milik Argha. Dia benar-benar tercengang melihat seorang gadis yang sedang membenahi kemejanya yang sudah tidak bisa digunakan.
Tuan Jaya semakin tercengang melihat gadis itu. Gadis yang wajahnya terlihat sembab dengan rambut yang acak-acakan. Stempel tangan di pipi kanannya tampak jelas terlihat. Bibirnya terlihat bengkak, dengan sedikit luka di sudut bibir kananya. Dia pun hanya bisa diam, pikirannya sudah tidak mampu mencerna apa yang telah dilihatnya.
“Per…permisi om !” ujar gintani lirih.
Dengan langkah tertatih-tatih karena menahan rasa sakit di bagian pribadinya. Gintani pun melewati tuan Jaya seraya menundukkan kepalanya.
“Tunggu !” cegah tuan Jaya.
Gintani berhenti, sejurus kemudian bahunya terasa sedikit berat karena balutan jas milik tuan Jaya yang dipakaikan pada tubuh Gintani.
“Pergilah !” perintah tuan Jaya.
Te…terima kasih om !” ujar Gintani seraya berlalu dari hadapan tuan Jaya.
Tuan Jaya melangkahkan kakinya menuju ranjang yang terlihat berantakan. Meskipun tuan Jaya telah bisa menarik kesimpulan tentang apa yang baru saja terjadi pada gadis itu, namun tak dipungkiri jika dia sangat terkejut melihat bercak darah di atas sprei putih itu.
Tuan Jaya mulai limbung. Kakinya tak bisa lagi menopang berat tubuhnya. Pada akhirnya tuan Jaya menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang berukuran king size itu. Tangannya me****s sprei yang terdapat banyak noda darah.
“Kenapa, nak ? Kenapa kau melakukan semua ini ?” gumam tuan Jaya terasa sesak.
Tuan jaya tak mampu menahan kepedihannya lagi. Dia pun mulai menundukkan wajahnya. Kedua pundaknya terlihat berguncang menandakan jika dia tengah menangis. Sakit ! Ada rasa sakit di hatinya mendapati keadaan jika anaknya telah berbuat bejat terhadap seorang gadis.
Dari penampilan dan bercak darah yang terdapat di atas ranjang, tuan Jaya sudah bisa memastikan jika Argha telah melecehkan gadis itu, atau mungkin lebih tepatnya, memperkosa gadis itu.
“Gintan….!”
Tiba-tiba, seorang lelaki memasuki kamar itu dan memanggil nama Gintani.
“Om ?” tanya laki-laki itu yang tak lain adalah Alex
“Alek !” ucap tuan Jaya.
Alex terkejut melihat ayah dari sahabatnya itu tengah terisak di tepi ranjang. Tiba-tiba pandangan Alex terkunci pada noda darah yang terdapat di sprei putih itu. Seketika kedua kaki Alex terasa lemas.
“Aku…aku terlambat !” gumam Alex, lirih.
Tuan Jaya menatap Alex dengan tatapan kecurigaan.
“Kau mengenal gadis itu, kan ? Apa yang terjadi Alex ? Ke…kenapa kau membiarkan Argha bertindak sejauh ini ? Om tahu jika gadis itu seorang gadis yang baik. Tidak mungkin dia datang kemari hanya untuk melayani nafsu bejat anakku. Katakan !” ujar tuan Jaya seraya mencengkram kerah baju Alex.
Alex diam. Dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Alex tidak tahu harus memberikan penjelasan seperti apa kepada tuan Jaya. Tidak mungkin Alex mengatakan jika Gintani sengaja menjual dirinya demi menyelamatkan kakeknya. Tuan Jaya pasti tidak akan mengampuni Argha yang memanfaatkan gadis itu di atas semua kesulitannya. Tapi Alex sendiri tidak mungkin diam sehingga bisa menggiring opini tuan Jaya untuk memberikan penilaian buruk terhadap Gintani.
“ma…maafkan Alex om ! Se…semua ini salah Alex !”
“Om tidak sedang mencari siapa yang salah, Al ! Om hanya ingin sebuah penjelasan. Katakan semua kebenarannya pada om !”
__ADS_1
Alex diam.
“KATAKAN ! DAN JANGAN COBA-COBA MEMBOHONGI OM !!" teriak tuan jaya yang sudah merasa kesal melihat kediaman alex.
“Tu…Tuan ! Apa anda baik-baik saja ?”
Tiba-tiba Yogi sang manager beserta pak Jamal sang asisten telah berdiri di hadapan mereka.
Tuan Jaya hanya mengibaskan tangannya sebagai isyarat agar mereka pergi dari kamar itu. Sejurus kemudian, Yogi dan pak Jamal segera keluar dari kamar dan menutu pintunya. Mereka paham jika tuannya hanya ingin berbicara empat mata dengan pemuda yang sedari tadi bersamanya.
Di dalam kamar.
“Duduklah, om ! Alex akan menjelaskan semuanya !” ujar Alex seraya mendaratkan bokongnya di atas sofa.
Tuan Jaya melakukan hal yang sama. Mereka pun duduk saling berhadapan. Sejenak Alex menghela napasnya.
"Gintani adalah karyawan Alex. Baru beberapa hari bekerja di tempat Alex. Dia terpaksa bekerja di tempat Alex karena dia tidak tahu harus kemana lagi mencari pekerjaan yang halal. Bad record yang pernah disebarkan perusahaan tempat dia bekerja dulu, membuat Gintani tidak di terima bekerja di perusahaan manapun." ujar Alex mulai menguak siapa sebenarnya Gintani.
"Paman dan bibinya Gintani terlibat hutang kepada seorang bos mafia. Dan bos mafia itu menculik kakek Gintani yang sedang sakit. Bos mafia itu meminta uang yang pernah dipinjam bibinya Gintani. Dia mengancam Gintani, jika esok hari dia tidak mendapatkan uangnya kembali, dia hendak melenyapkan nyawa sang kakek dan menjual organ tubuhnya di pasar ilegal. Karena merasa terpojok, Gintani pun terpaksa menjual dirinya.”
Bola mata tuan Jaya membulat sempurna mendengar penuturan nasib seorang gadis yang telah menyadarkan dia dari sebuah kesalahan.
“jadi Argha lah yang telah membeli gadis itu ?” tanya tuan jaya, lirih.
Alex mengangguk.
“Kenapa harus argha ?Apa argha sering membeli wanita panggilan ?” tanya tuan Jaya kembali.
“Tidak om ! argha bukan laki-laki seperti itu !” ujar Alex mencoba menepis pikiran buruk tuan Jaya tentang anaknya.
“Lalu, kenapa Argha membeli wanita itu ?”
“Se….sebenarnya, Ar…Argha mengenal gadis itu jauh sebelum gadis itu bekerja di tempat Alex, om.” jawab Alex.
"Apa maksudmu, nak ? Om benar-benar tidak mengerti."
"Argha…, dia menaruh dendam pada gadis itu." jawab Alex dingin.
Tuan Jaya semakin mengerutkan dahinya.
"Begini om. Gadis itu pernah menampar Argha di tempat umum karena kecerobohan Argha. Sejak saat itu, Argha menyimpan dendam. Dia juga yang telah memecat gadis itu dari perusahaannya. Saat Argha mengetahui jika gadis itu bekerja sebagai office girl dikantornya, tanpa alasan Argha memecat gadis itu. Argha pula yang menyebarkan bad record tentang gadis itu ke setiap perusahaan yang ada di Jakarta. Dan pada saat argha mengetahui gadis itu bekerja di Alex, dia meminta Alex untuk menyerahkan gadis itu. Alex tidak punya alasan untuk menyerahkan Gintani kepada Alex. Hingga akhirnya Gintani meminta bantuan Alex untuk dicarikan seorang mucikari."
"Ya Tuhan...! tapi kenapa, Al ?"
"Karena membutuhkan uang yang sangat banyak untuk menyelamatkan nyawa sang kakek, Gintani pun nekad untuk menjual dirinya. Alex sendiri tidak tega melakukan semua ini, om. Tapi Alex berpikir, daripada Gintani harus diserahkan kepada seorang mucikari yang akan memanfaatkan dirinya, Alex pun menawarkan Gintani kepada Argha. Alex tahu jika Argha sanggup melakukan apa pun untuk mempertahankan ego dan harga dirinya. Argha sangat menginginkan Gintani untuk melampiaskan dendamnya."
Tuan Jaya hanya mampu mengusap dadanya saat mendengar penjelasan Alex. Untuk beberapa saat, mereka diam dalam pemikirannya masing-masin.
Ini tidak benar ! Aku harus melakukan sesuatu untuk mempertanggungjawabkan perbuatan anakku ! batin tuan jaya.
“Temukan gadis itu dan bawa dia ke hadapan om, secepatnya !"
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa atuh like vote n komennya ya 🙏