
Setelah bersiap alakadarnya, diantar sang ayah, Argha pergi untuk mengantarkan kembali Gintani ke rumah kakeknya.
Selama dalam perjalanan, hanya keheningan yang terjadi di dalam mobil. Semua orang sangat sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Gintani sendiri? Dia sudah tidak mampu berpikir apa pun lagi. Satu-satunya yang dia cemaskan adalah perasaan kakeknya. Sudah bisa dipastikan sang kakek akan merasa kecewa saat melihat kepulangannya dengan cara seperti ini. Namun Gintani tidak punya pilihan lain. Baik suami ataupun ayah mertuanya, tak ada satu pun dari mereka yang memberikan Gintani kesempatan untuk menjelaskan permasalahan yang terjadi.
Mobil berhenti sejenak di rest area jalan tol. Argha dan Tuan Jaya memutuskan untuk makan siang dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Namun Gintani enggan mengikuti mereka. Dia merasa tidak berselera untuk makan. Gintani hanya pergi ke kamar mandi karena tiba-tiba perutnya terasa mual. Di kamar mandi dia muntah-muntah, tapi hanya cairan bening saja yang keluar. Gintani memang belum sarapan semenjak pagi.
Saat dia memandang wajahnya di depan kaca wastafel, ada gurat kesedihan terpancar di sana. Gintani merasa sedih karena di saat dia membutuhkan kehadiran suaminya, Argha malah menjauh.
Tidak! Aku tidak boleh lemah! Sudah cukup Mas Argha menghinaku. Dia bahkan tidak memberikan aku kesempatan untuk membela diri. Hatinya telah tertutup, aku tidak boleh mengemis lagi padanya. Di saat semua sudah tidak bisa aku kendalikan, ada baiknya aku berpasrah diri. Biar Tuhan yang menguak tabir kebenarannya, batin Gintani.
Dia segera menghapus air mata yang kembali jatuh. Beberapa detik kemudian, dia membasuh mukanya agar terlihat lebih segar. Sejak Argha menghinanya, Gintani sudah bertekad untuk mematikan rasa yang ada. Dia yakin, entah kapan, tetapi kebenaran pasti datang.
Setelah merasa baikan, Gintani kembali ke mobil dan duduk merebahkan punggungnya pada sandaran kursi belakang. Dia lelah, dia sudah sangat lelah, hingga tanpa sadar, rasa kantuk mulai menyergapnya
🍀🍀🍀
"Aku tidak percaya kakak ipar tega melakukan semua ini," ucap Nadhifa pada saat jam makan siang.
"Tapi itu kenyataannya, Fa. Aku pun tidak akan percaya jika tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri," jawab Bram bersikeras dengan pendapatnya sendiri.
"Apa kamu tahu, siapa laki-laki yang bersamanya malam itu?" tanya Nadhifa, penuh selidik.
"Kak Bram nggak tahu." Bram menjawab sambil menggelengkan kepalanya.
"Ish, kenapa kakak ipar melakukan semua ini? Kurang baik apa kak Argha sama dia?" gerutu Nadhifa.
"Sudahlah, Fa. Mungkin ada alasan tersendiri kenapa dia melakukan hal itu. Tidak usah terlalu ikut campur urusan rumah tangga orang lain," ucap Bram.
Prang!
Bram kaget, entah kenapa tiba-tiba Nadhifa melempar sendok yang sedang dipegangnya.
__ADS_1
"Fa, kenapa?" tanya Bram dengan kening yang sedikit berkerut.
"Ini bukan urusan rumah tangga orang lain, ini rumah tangga kakak aku, dan aku berhak tahu bahkan ikut campur, karena aku yakin kak Gintani tidak sekejam itu!" tegas Nadhifa yang merasa tersinggung dengan ucapan Bram.
"Lalu apa yang bisa kamu lakukan? Menyelidiki kasus ini? Percuma, Fa ... Argha tidak akan mengizinkan kamu terlibat dalam urusan pribadinya. Dalam kasus ini, sama sekali tidak ada hal yang bisa dijadikan bukti jika Gintani tidak bersalah," jawab Bram mencoba memberikan pengertian kepada Nadhifa.
"Kita bisa gunakan rekaman CCTV. Bukankah setiap hotel memiliki kamera CCTV?" saran Nadhifa.
"Percuma, Fa. Aku sudah kembali cek ke lokasi, tak ada satu pun CCTV yang mereka pasang di sana. Dan apa kamu tahu hotel seperti apa tempat itu?" tanya Bram.
Nadhifa menggelengkan kepalanya.
Bram menarik napasnya panjang. "Tempat itu hanyalah sebuah tempat untuk melakukan sesuatu yang benar-benar dalam tanda kutip. Jadi tak ada CCTV atau apa pun itu, karena pihak hotel sangat menghargai privasi tamunya," jelas Bram.
"Lalu chek in? Apa Kakak sudah cek ke bagian pendaftaran?" tanya Nadhifa, berharap bisa menemukan titik terang.
"Ya, di sana tertera nama Gintani sebagai si penyewa kamar," jawab Bram.
"Astaghfirullah hal adzim...."
🍀🍀🍀
"Demi Tuhan, Mas ... aku tidak melakukannya. Aku bukan wanita seperti itu, aku mohon ... percaya padaku!" racau Gintani dalam tidurnya.
Argha dan Tuan Jaya hanya saling pandang.
"Bagaimana ini, Ar? Apa tidak sebaiknya kita selidiki dulu tentang kejadian malam itu?" Tuan Jaya memberikan usul pada anaknya.
"Percuma saja, Pa. Kita tidak akan mendapatkan bukti yang meringankannya, karena memang dia pelaku utamanya," tegas Argha.
"Apa maksud kamu, Ar?" tanya Tuan Jaya.
"Aku sudah menyuruh Bram untuk menyelidikinya, dan hasilnya, dia ... Ah, sudahlah, Pa! Argha tidak ingin membahasnya lagi. Keputusan Argha sudah bulat. Argha akan mengembalikan dia pada kakeknya," ucap Argha.
__ADS_1
Dia? Bahkan untuk menyebut namanya saja, Argha sepertinya sudah enggan.
Tuan Jaya pun hanya diam mendengar keputusan final Argha. Sejauh apa pun dia mencoba mengingkari kenyataan, tapi apa yang dia lihat tidak akan bisa dia hindari.
Menjelang asar, mereka tiba di tempat. Kakek Wira begitu terkejut akan kedatangan mereka. Namun dia merasa senang karena bisa melihat cucunya.
"Mari, silakan masuk!"
Kakek Wira mempersilakan tamunya masuk ke rumah. Dahinya sedikit berkerut saat Argha mengeluarkan beberapa koper besar dari bagasi. Hmm, mungkin mereka akan berlibur di sini, pikir Kakek Wira.
"San, tolong ambilkan air dan makanan!" ucap Kakek Wira kepada Susan.
"Mangga, Pa!" jawab Susan.
"Tidak usah repot-repot Yah, kami hanya sebentar saja, kok," ucap Tuan Jaya.
"Tidak apa-apa, sama sekali tidak merepotkan," jawab kakek Wira. "Ngomong-ngomong, kenapa kamu tidak mengabari Kakek kalau mau datang ke sini?" tanya Kakek Wira pada cucunya.
Gintani hanya menundukkan kepalanya mendengar pertanyaan Kakek Wira.
"Sebelumnya Argha minta maaf jika kedatangan Argha kemari tidak memberi kabar terlebih dahulu. Sebenarnya, kedatangan Argha dan Papa kemari, untuk mengembalikan Gintani kepada Kakek," ucap Argha.
Deg!
Jantung Kakek Wira seakan berhenti berdetak saat mendengar ucapan cucu menantunya.
"Tunggu, apa maksudnya ini, Nak Argha? Bisakah kalian perjelas lagi!" pinta Kakek Wira.
"Maaf, Kek. Mungkin cucu Kakek bisa menjelaskan semuanya. Yang jelas, saat ini Argha sudah tidak bisa menjalani hubungan ini lagi. Argha kembalikan Gintani kepada Kakek, karena ternyata Argha tidak bisa mendidiknya dengan baik."
Kakek Wira menghela napasnya. "Apa Nak Argha sadar dengan apa yang baru saja Nak Argha katakan?" tanya Kakek Wira, lirih.
"Maksud Kakek?" Argha malah balik bertanya dengan nada heran.
__ADS_1
"Nak Argha telah mengembalikan Gintani kepada Kakek, itu artinya, Nak Argha telah menjatuhkan talak untuk Gintani. Meski Nak Argha tidak mengatakannya secara langsung, tapi saat ini, Nak Argha sedang mentalak cucu kakek," ucap Kakek Wira.
Argha dan Tuan Jaya hanya saling pandang mendengar penjelasan Kakek Wira.