Takdir Gintani

Takdir Gintani
Nikmat yang Sempurna


__ADS_3

"Kau?" tanya Heru.


Heru kaget ketika bertemu Mina di lobi rumah sakit.


"Eh, Tu-Tuan," jawab Mina terbata.


"Kamu dari mana? Kenapa sendirian? Ke mana Putri?" tanya Heru, beruntun.


"Anu, Pak. Saya baru pulang dari toko kue, mengambil pesanan kue ulang tahun non Putri untuk nanti malam. Mm, kalau non Putri, kebetulan dia sedang tidur tadi. Karena itu saya meninggalkannya," jawab Mina.


"Oh, ya sudah. Gimana kuenya, bagus?" tanya Heru lagi.


"Bagus sekali, Tuan. Kuenya sangat cantik. Non Putri pasti akan menyukainya," jawab Mina.


"Putri masih kecil, dia belum bisa mengerti apa-apa," ucap Heru.


"Tapi, non Putri sangat senang sekali dengan karakter kuda poni, Tuan. Saya rasa, dia sangat menyukai tokoh kartun yang satu itu," jawab Mina.


"Kamu bisa saja, Min. Ya sudah, ayo kita ke kamar nyonya. Nanti Putri bangun," ajak Argha kepada pengasuh Putri.


Mina mengangguk dia pun mengikuti Heru dari belakang.


Tiba di depan kamar rawat, sayup-sayup terdengar celotehan Putri dari dalam. Heru dan Mina saling pandang seraya mengernyitkan kening.


"Putri sepertinya bangun, Min," ucap Heru.


"Iya, Tuan. Tapi kok, tumben non Putri tidak menangis," kata Mina.


Heru hanya mengedikan kedua bahunya. Dia kemudian menekan handle pintu dan membukanya. Heru sangat terkejut melihat pemandangan di depan matanya. Gadis kecil itu duduk begitu nyamannya di pangkuan ibunya. Tangan mungilnya terlihat memilin-milin rambut panjang ibunya yang tergerai ke samping bahu. Sejenak Heru terkesima melihat interaksi ibu dan anak itu.


Mina heran melihat majikannya berdiri tergamam di ambang pintu. Dia bertanya sambil mendongakkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi di dalam kamar.


"Ada apa Tu–" Ucapan Mina terputus saat melihat Putri duduk dipangkuan ibunya.


"Masya Allah, Tuan ... tabarakallah!" pekik Mina.


Pekikan Mina membuat Heru tersadar. Dia pun segera mengayunkan langkahnya menghampiri Gintani dan Putri.


"Alhamdulillah ... akhirnya kamu sadar juga," ucap Heru begitu tiba di hadapan Gintani.


Gintani mendongak. Dia tersenyum kepada Heru.


Ah ... sungguh senyum yang sangat manis sekali. Senyum yang sangat menyejukkan hati Heru.


"Putri, ayo ikut Uteng dulu, ya! Mamanya mau diperiksa sana om dokter," ucap Heru.


Seolah mengerti bahasa orang dewasa, anak itu merentangkan kedua tangannya meminta sang perawat menggendongnya. Setelah Putri dibawa keluar oleh pengasuhnya. Heru memapah Gintani menuju ranjang.


"Berbaringlah, biar aku panggil dokter untuk memeriksa keadaanmu," kata Heru.


Gintani hanya mengangguk menanggapi perkataan Heru.


Heru memencet tombol nurse emergency. Tak lama berselang, dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Gintani.


🍀🍀🍀


Di lain tempat, Argha berdiri di tepi balkon kamarnya. Pandangannya menatap hamparan gedung-gedung bertingkat yang menjulang dengan gagahnya di depan mata.

__ADS_1


Ya Tuhan ... sampai kapan ujian ini akan berakhir. Tolong beri hamba petunjuk, ke mana hamba harus mencari anak dan istri hamba, batin Argha.


Kerinduan dalam hatinya telah begitu memuncak. Hingga tanpa sadar Argha meneteskan air mata saat mengenang kembali masa-masa indah bersama sang istri di balkon ini.


"Mas, kalau Gintan dikasih rezeki sama Tuhan, Mas mau anak laki-laki apa perempuan?"


"Perempuan."


"Kenapa perempuan?"


"Agar kelak, dia bisa jadi tempat pulang adik-adiknya ketika kita sudah tiada. Kamu sendiri?"


"Kalau Gintan, mm ... kalau boleh memilih, Gintan ingin punya anak pertama itu laki-laki."


"Kenapa harus laki-laki?"


"Supaya, kelak dia bisa menjaga adik-adiknya.


"Kemarilah!"


Gintani mendekati Argha dan duduk di pangkuannya.


"Apa pun yang Tuhan berikan untuk kita, entah itu anak laki-laki atau perempuan, mereka sama saja, Gin. Yang terpenting, mereka tumbuh menjadi anak soleh dan solehah."


"Aamiin."


Drrt.. Drrt...


Getaran ponsel di atas meja kecil membuyarkan lamunan Argha. Dia kemudian mendekati meja dan meraih teleponnya. "Papa," gumam Argha.


"Assalamu'alaikum, Pa!" sapa Argha.


"Argha baik-baik saja."


"Ah, syukurlah kalau begitu."


"Papa sendiri bagaimana? Gimana kesehatan jantung Papa?"


"Alhamdulillah, semakin membaik semenjak operasi pemasangan ring."


"Syukurlah."


"Oh iya, Ar. Apa sudah ada kabar dari detektif yang kamu sewa?"


"Belum, Pa. Sejauh ini, belum ada kabar apa pun tentang Gintani."


"Cucu Papa pasti sudah besar, Ar. Seperti apa wajahnya? Papa rindu celotehan anak kecil di rumah ini, Ar."


Argha terdiam mendengar suara parau ayahnya.


Do'akan saja, Pa. Semoga Argha bisa segera menemukan Gintani dan anak Argha."


Papa selalu mendo'akan kamu, Ar. Semoga Papa bisa memeluk cucu Papa sebelum Tuhan memanggil Papa."


Papa jangan berbicara seperti itu. Argha yakin Papa pasti sembuh. Ya sudah, Papa istirahatlah, Argha tutup teleponnya, ya?"


"Baiklah."

__ADS_1


"Selamat malam, Pa. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Argha menghela napasnya setelah menutup pembicaraan dengan sang ayah. Kecemasan itu kembali hadir jika ayahnya menanyakan perihal anaknya.


Semenjak mengetahui semua kejahatan Ilona, kesehatan tuan Jaya mulai menurun. Apalagi ketika mengetahui Gintani hamil. Sepanjang waktu, tuan Jaya hanya memikirkan nasib cucu dan menantunya. Selain merasa bersalah, dia juga merasa khawatir jika cucu dan menantunya hidup terlunta-lunta di jalanan. Terlebih lagi saat dia mengetahui jika Gintani sudah lama meninggalkan rumah tuan Wira.


Malam semakin merangkak. Udara malam semakin dingin menyentuh kulit. Argha pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


🍀🍀🍀


"Alhamdulillah, istri Anda baik-baik saja. Semua organ vitalnya masih berfungsi dengan baik," ucap dokter yang menangani Gintani selama ini.


"Syukurlah," ucap Heru merasa senang.


"Kapan saya bisa pulang, Dok?" tanya Gintani.


"Hmm, rupanya Anda sudah merasa bosan tidur di sini, ya?" gurau dokter itu.


"Sabarlah! Kamu masih lemah dan butuh istirahat," ucap Heru.


"Suami Anda benar. Sebaiknya, untuk dua hari ke depan Ibu belum boleh pulang. Karena masih ada beberapa hal yang perlu kami observasi," jawab dokter itu.


Gintani mengangguk.


"Ya sudah, kalau begitu, saya permisi dulu! Bukankah kalian akan merayakan hari ulang tahun putri kalian?" tanya dokter itu lagi.


Gintani menatap Heru, dengan heran.


Heru mengangguk. "Nanti aku jelaskan," bisik Heru di telinga Gintani.


"Baik Dok, terima kasih," ucap Heru.


"Sama-sama, Pak," jawab dokter itu lagi.


Setelah dokter pergi, Mina membuka bungkusan plastik yang tadi dia bawa. Dia kemudian menyalakan lilin yang berada di atas kue tart coklat dengan gambar karakter kuda poni di atasnya.


"Kita nyanyi dulu, ya Non," kata Mina.


"Na...na...na ...." Putri menanggapi omongan Mina dengan celotehannya


"Bolehkah aku menggendongnya?" tanya Gintani kepada Mina.


"Tentu saja Nyonya, saya rasa Non Putri akan senang berada dalam pangkuan ibunya," ucap Mina seraya menyerahkan putri ke pangkuan Gintani.


Sekali lagi Gintani mencium pipi chubby milik Putri. Lantunan lagu ulang tahun pun menggema di ruangan itu. Putri kecil itu tertawa sambil bertepuk tangan.


"Ayo tiup lilinnya, Cantik!" ucap Heru.


Dengan penuh semangat, Putri memonyongkan bibirnya untuk meniup lilin. Sayangnya, tiupan halusnya tak mampu menjangkau nyala api di atas lilin tersebut.


Melihat anaknya kesulitan, Gintani pun membantu Putri meniup lilinnya.


Rambut yang jatuh tergerai di bawah pelipisnya tampak begitu indah di mata Heru. Benar-benar pengalaman pertama yang luar biasa bagi Heru. Berada di tengah-tengah orang yang telah mencuri hatinya.


Ya Tuhan, nikmat yang begitu sempurna. Dan izinkan aku untuk selalu merasakan nikmatMu ini.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2