
Argha meremas kertas surat itu penuh emosi. "Sialan!" umpat Argha.
Argha tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Membongkar status Bram, itu sama saja melukai adiknya. Namun, dengan membiarkannya pun, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Argha kembali membuka kertas surat yang telah dia remas.
Aku mohon padamu, Kak. Demi persahabatan yang pernah kita jalin. Tolong urus anakku. Dan berjanjilah, Kakak tidak akan pernah mengatakan siapa ayah dia yang sebenarnya. Tolong didik dia untuk menjadi pemuda yang baik dan bertanggung jawab. Jangan sampai dia mewarisi sifat ibunya yang telah menghancurkan masa depannya sendiri. Aku percaya, dengan bimbingan Kakak, dia akan menjadi seseorang yang sukses dan berakhlak. Aku tidak ingin dia tumbuh di lingkungan yang menganut pergaulan bebas. Aku mohon, bawa dia dan jadikanlah dia anak angkatmu.
Kakak, ini adalah permintaan terakhirku. Dan, jika Kakak memang berkenan untuk merawat anakku. Kakak bisa pergi ke apartemenku. Kuncinya aku titipkan di resepsionis. Di apartemen itu, terdapat sebuah laci kecil di kamarku. Kakak bisa menemukan semua dokumentasi penting tentang anakku. Saat ini, dia tinggal di sebuah panti asuhan di San Jose, California, Amerika Serikat.
Dia mengenal aku sebagai kakaknya. Sekali lagi, aku mohon. Tolong keluarkan anakku dari panti asuhan itu. Aku benar-benar berharap padamu, Kakak. Tolong jaga anakku!
Argha menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Dia memejamkan mata. Bayangan Gintani kembali menari-nari di pelupuk mata Argha. Apa reaksi Gintani jika sampai dia menolong anak itu. Akankah dia sakit hati dengan rasa simpati Argha terhadap anaknya Ilona? Tapi, Argha sendiri tidak akan tega mengabaikan permintaan Ilona. Dia benar, kalau sampai anak itu tumbuh di lingkungan bebas, mau jadi apa masa depannya nanti?
🍀🍀🍀
"Bagaimana persiapan pernikahan kamu, Fa?" tanya nyonya Rosma kepada anaknya.
"Hampir 80 persen sudah siap, Ma," jawab Nadhifa.
"Syukurlah. Gaun pengantinnya? Apa kamu memesan gaun pengantin itu di butik langganan Mama?" tanya nyonya Rosma lagi.
"Iya, Mama. Fa memesan gaun pengantin itu di butik yang Mama rekomendasikan. Dan, apa Mama tahu? Fa sudah menemukan gaun pengantin yang begitu indah," jawab Nadhifa.
"Benarkah? Apa Mama boleh melihatnya?" tanya nyonya Rosma, penasaran.
"Hmm, bajunya belum dikirimkan, Ma. Kemarin ada sedikit kekurangan waktu fitting," jawab Nadhifa.
"Oh, ya sudah. Lalu, catering-nya? Apa kamu dan Bram sudah mencicipinya?" Nyonya Rosma kembali bertanya.
"Sudah, Ma. Kemarin sore, Fa dan kak Bram sudah mengunjungi catering itu," jawab Nadhifa sambil membereskan berkas-berkas yang akan dibawanya ke kantor.
"Bagaimana makanannya?" tanya nyonya Rosma terlihat antusias.
"Lezat," jawab Nadhifa, singkat.
"Hanya itu saja? Fa, lezat saja tidak cukup, tapi juga harus unik dan menarik. Pokoknya, Mama ingin makanan yang akan disajikan itu bergaya Eropa," ujar nyonya Rosma.
"Ma, tamu kita kebanyakan orang Indonesia. Makanan seperti itu tidak akan cocok dengan lidah mereka," sanggah Nadhifa.
__ADS_1
"Tapi kamu jangan lupa, Fa. Ada banyak kolega papa dan daddy kamu yang dari luar negeri. Masak iya akan kamu suguhi gado-gado," gerutu nyonya Rosma.
"Ish, nggak seperti itu juga kali, Na. Sudah ah, ini sudah siang ... Fa berangkat ke kantor dulu," ucap Nadhifa.
"Kebiasaan ... kalau diajak ngobrol, pasti selalu seperti itu. Huh, menyebalkan. Aku seperti bukan ibunya saja." Nyonya Rosma mendengus kesal melihat sikap Nadhifa yang berlalu begitu saja.
🍀🍀🍀
Sementara itu, di tempat lain.
Gintani mulai asyik menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga. Hari-hari yang dia lakukan selalu penuh warna dengan adanya si kecil. Meski tak jarang kesedihan menghampiri Gintani di setiap malamnya. Ya, Gintani merasa sedih dan terluka saat membayangkan Putri tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya.
Seperti malam ini, Gintani menatap lekat wajah Putri yang sedang terlelap.
"Mama pikir, rasa sakit yang harus Mama rasakan karena tidak memiliki ayah, semua itu tak akan pernah kamu alami. Tapi ternyata, Mama salah. Bahkan, ayahmu sendiri tidak mau mengakui kehadiranmu. Malang sekali nasib kamu, Nak. Tapi Mama janji, kamu tidak akan pernah kekurangan kasih sayang. Mama akan selalu berusaha untuk menjadi ibu dan ayah bagimu," ucap Gintani sambil membelai lembut rambut anaknya.
"Kamu tidak usah khawatir, Gin. Putri tidak akan pernah kekurangan kasih sayang dari siapa pun. Dia masih punya kita yang akan memberikan limpahan kasih sayang." Tiba-tiba, Heru muncul dari balik pintu.
"Eh, Mas ... kapan datang?" Gintani begitu terkejut melihat kedatangan Heru yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya.
Gintani menundukkan kepalanya. Dia merasa malu karena tanpa sadar dia sudah mengeluh akan nasibnya.
"Maafkan Gintan," ucap Gintani.
"Hei, kenapa harus minta maaf. Apakah kamu mempunyai kesalahan kepadaku?" gurau Heru.
Gintani semakin menundukkan kepalanya.
"Gin, sudah waktunya kamu melepaskan semua bebanmu. Jika ada yang ingin kamu ceritakan, aku siap mendengarkannya," ucap Heru.
"Apa yang bisa Gintan ceritakan, Mas. Tidak ada yang menarik dari kisah hidup Gintan," jawab Gintani.
"Ayahnya Putri, mungkin?" ucap Heru, spontan.
Gintani terkejut mendengar ucapan Heru. Dia sadar, cepat atau lambat, Heru pasti akan menanyakan hal ini. Tapi dia tidak menyangka kalau Heru akan bertanya hari ini juga.
"Apa ayahnya Putri masih ada? Emh, maksudku apa dia masih hidup atau sudah meninggal? Maafkan aku Gin, bukannya aku ingin mencampuri kehidupan kamu. Tapi jujur saja, aku penasaran dengan apa yang terjadi padamu. Apa yang kamu lakukan di bukit itu hingga akhirnya kamu tak sadarkan diri dan mengalami pendarahan? Apa kamu terjatuh waktu itu?" Heru bertanya tanpa memberi jeda.
__ADS_1
"Sebenarnya ... sebenarnya ayahnya Putri masih hidup. Kami sudah berpisah jauh sebelum Putri lahir," jawab lirih Gintani.
"Maksud kamu?" tanya Heru.
"Dia menceraikan Gintan," jawab Gintani.
"Bercerai? Bagaimana bisa? Bukankah kamu sedang hamil waktu itu?" Heru semakin penasaran.
"Dia ... emmh ... sebenarnya dia tidak tahu kalau Gintan sedang hamil. Dan Gintan sendiri, Gintan sendiri tidak tahu jika Gintan telah mengandung anaknya pada saat dia menjatuhkan talak pada Gintan," tutur Gintani.
"Menjatuhkan talak, maksud kamu?" tanya Heru, heran.
Gintani menganggukkan kepalanya.
"Waktu itu telah terjadi salah paham. Dia menuduh Gintan berselingkuh. Karena emosi, dia mengembalikan Gintan kepada kakek Gintan tanpa ingin mengetahui apa yang dilihatnya. Posisi Gintan memang tidak menguntungkan waktu itu. Pembelaan diri Gintan pun tidak dipedulikannya. Karena itu, Gintan hanya bisa pasrah. Setelah Gintan dijatuhi talak, Gintan baru mengetahui jika Gintan tengah mengandung Putri. Awalnya, Gintan ingin memberitahukan kabar ini padanya. Tapi saat Gintan tahu dia ingin menikahi wanita lain, Gintan pun memutuskan untuk merahasiakan ini darinya. Hingga akhirnya dia memberikan surat cerai dan Gintan menandatanganinya," jawab Gintani panjang lebar.
"Tapi, Gin ... bukankah perceraian itu tidak sah?" tanya Heru.
"Gintan tahu, tapi Gintan tidak ingin mengambil pusing tentang itu. Kami sudah lama berpisah, dan itu sudah cukup menjadi alasan jika perceraian ini memang harus terjadi," jawab Gintani.
"Bagaimana jika dia kembali?" tanya Heru.
Deg!
Jantung Gintani berdetak tak beraturan saat mendengar pertanyaan Heru. Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Aku tidak akan membiarkan dia kembali pada kami, jerit Gintani dalam hatinya.
"Gin?" panggil Heru penuh penekanan.
Gintani terhenyak. "Tidak, Mas ... Gintan tidak akan membiarkan itu terjadi. Bagaimanapun juga, kami telah berpisah. Dan Gintan tidak akan memberikan waktu dan ruang untuk dia kembali!" ucap Gintani, tegas.
Tanpa mereka sadari, sepasang telinga tengah menguping pembicaraan mereka.
Jadi, mereka bukan suami istri?
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa... 🤗🙏
__ADS_1