Takdir Gintani

Takdir Gintani
Bolehkah aku egois?


__ADS_3

"Ma... Mas... kamu kenapa?" Gintani terkejut saat suaminya menyambar tangan kanannya.


"Ti... tidak apa-apa!" jawab Argha lemas, karena menyadari jika Gintani bukanlah orang yang selama ini dicarinya. "Sudah selesai?" tanyanya.


"Ah ya, aku sudah selesai Mas. Ini!"


Gintani menunjukkan lima potong pakaian gamis dengan pashima yang senada.


"Kenapa sedikit sekali?" tanya Argha.


"Tidak apa-apa, Mas! Takut mubazir kalau kebanyakan. Oh iya, boleh aku membeli beberapa setel baju tidur?"


"Ayo kita pilih bersama!" jawab Argha seraya senyam-senyum sendiri. Pikirannya sudah travelling ke mana-mana.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Gintani, heran.


"Tidak apa-apa. Ayo!" ajak Argha.


Argha menggandeng tangan Gintani menuju jejeran busana malam. Sang pelayan yang mengikutinya dari belakang, hanya bisa mengulum senyum melihat pasangan muda tersebut.


Gintani memilih beberapa pakaian tidur kimono panjang kesukaannya. Modelnya memang sama, hanya warnanya saja yang berbeda.


"Gin, kok modelnya sama semua?" protes Argha.


"Nggak apa-apa Mas, buat tidur ini," jawab Gintani, santai.


"Gin, bagaimana kalau yang itu?" tunjuk Argha pada sebuah lingerie yang terpajang di sebuah manekin.



"Astagfirullah hal adzim ...!" pekik Gintani memalingkan wajahnya.


"Kenapa, Gin?" tanya Argha seraya menahan tawanya, melihat ekspresi Gintani.


"Ke kasir yuk, Mas! Gintan rasa, baju tidurnya sudah cukup kok!" jawab Gintani tanpa mau melihat suaminya.


"Aku beliin, mau ya, Gin?" goda Argha.


"Nggak usah, Mas!" jawab Gintani.


"Kenapa?"


"Gintan malu, ayo ah!" Gintani menarik tangan suaminya.


Argha terkekeh melihat rona wajah Gintani yang sudah memerah bak kepiting rebus. Entah kenapa, dia sangat senang sekali melihat raut wajah itu.


"Ya sudah, yuk!" ucap Argha mengikuti keinginan istrinya.


Namun sebelum itu, Argha memberikan kode kepada pelayan untuk membungkus lingerie tadi. Argha kembali tersenyum membayangkan tubuh molek istrinya yang terbalut lingerie tersebut.


Setelah melakukan pembayaran. Argha mengajak Gintani untuk makan malam di sebuah restoran, namun Gintani menolaknya.


"Kenapa, Gin?" tanya Argha, kecewa.


"Sebaiknya kita makan di rumah saja, Mas," jawab Gintani.


"Tapi, di rumah tidak ada bahan makanan untuk di masak."


"Ya sudah, kita ke supermarket aja dulu. Kita beli bahan makanan. Boleh kan, Mas?" pinta Gintani.

__ADS_1


"Terserah nyonya rumah saja!" jawab Argha.


Gintani tersenyum. Tuhan..., egoiskah jika aku meminta waktu berhenti sampai sini. Batin Gintani yang sudah mulai merasakan kenyamanan menikmati perannya sebagai istri.


"Ayo..., katanya mau beli bahan makanan, kok malah bengong?" tegur Argha.


"Eh, iya Mas. Yuk!"


Mereka pun menuju lantai satu untuk membeli bahan-bahan makanan yang akan dijadikan isi kulkas di apartemennya.


Gintani membeli berbagai macam bahan makanan, karena dia tidak terlalu tahu makanan kesukaan suaminya.


"Gin! Tolong pilihkan ikan tongkol yang segar ya!" pinta Argha seraya memilih beberapa minuman yogurt di lemari pendingin di sebelahnya.


"Tongkol?" tanya Gintani, mengernyitkan keningnya.


"Iya, kamu bisa masakin aku balado ikan tongkol, kan?" tanya Argha lagi.


"Ba ... balado ikan tongkol?" lirih Gintani.


Tiba-tiba, Gintani memegang kepalanya.


"Aaarggghh...." jeritnya.


Argha terkejut. Dia menoleh ke arah Gintani yang sedang memegang kepalanya dengan wajah kesakitan. Argha segera menghampiri istrinya.


"Gin, kamu kenapa?"


"Aargghh..., sa... sakit Mas!" pekik Gintani. Bulir keringat dingin mulai tampak di pelipisnya.


Argha segera menangkap tubuh Gintani yang mulai limbung. "Kita ke rumah sakit ya, Gin!"


Gintani menggelengkan kepalanya.


"Aku... aku mau pulang. Aku hanya butuh istirahat. Aku mau pulang, Mas!"


"Oke, kita pulang sekarang! Tapi sebelumnya, kamu duduk saja di kursi tunggu. Biar aku selesaikan dulu belanjanya," ujar Argha.


Gintani mengangguk. Argha pun memapah Gintani menuju kursi tunggu. Setelah itu, dia segera menyelesaikan belanjanya. Argha meminta salah satu karyawan supermarket untuk mengantarkan barang belanjaannya ke tempat parkir.


Hup...


Argha segera menggendong Gintani ala-ala bridal style.


"Mas, turunkan! Aku malu!" bisik Gintani, pelan. Dia merasa malu menjadi pusat perhatian para pengunjung supermarket.


"Sudahlah, Gin! Kamu itu sedang sakit, nggak usah banyak protes!"


"Tapi Mas, semua orang melihat kita."


"Biarkan saja! Sudah diam, tidurlah!"


Gintani pun menyusupkan wajahnya di ceruk leher suaminya. Aku mohon Mas, jangan perlakukan aku seperti ini. Aku takut aku tidak bisa melepaskanmu jika waktunya telah tiba.


Sepanjang perjalanan, Gintani hanya mampu memejamkan matanya. Hatinya benar-benar kacau. Setelah sekian lama, tiba-tiba saja sakit di kepalanya kembali kambuh setelah dia mendengar kata ikan tongkol. Kenapa ini? Ada apa dengan ikan tongkol? Kenapa aku merasa tidak asing lagi dengan makanan balado ikan tongkol?


"Apa yang kau bawa?"


"Balado ikan tongkol?"

__ADS_1


"Apa itu enak?"


"Hmm, ini enak sekali. Mau coba?"


"Boleh?"


Anak kecil itu pun memberikan satu suapan ikan tongkol kepada teman di hadapannya.


"Hmm... Enak sekali!"


"Kau suka?"


"Iya, aku suka."


"Baiklah, kalau begitu. Besok aku akan bawa balado ikan tongkol lagi buat kakak."


"Janji?"


"Janji."


"Aarrggghhh....." Gintani kembali memegang kepalanya.


"Sakit lagi, Gin?" tanya Argha, cemas.


"Bi... bisakah lebih cepat lagi, Mas!"


"Iya! Bersabarlah sayang, sebentar lagi sampai. Tidurlah!"


Tangan kiri Argha mulai mengelus-elus pipi istrinya. Sedangkan tangan kanannya memegang setir. Sesekali, Argha melirik istrinya yang tengah terpejam menahan kesakitan.


Siapa mereka? Siapa bayangan kedua anak kecil yang berada di pikiranku? Ya Tuhan... kenapa serpihan-serpihan itu kembali muncul dalam ingatanku. Dan sampai kapan... sampai kapan kepingan-kepingan puzle ini menjadi utuh?


Argha segera memarkirkan mobilnya di basement apartemen. Dia kembali meminta penjaga keamanan untuk membawakan barang belanjaannya. Sementara itu, Argha kembali menggendong istrinya menuju apartemen.


Argha segera membaringkan Gintani di atas ranjang. Dia mulai membuka hijabnya, agar istrinya tidak merasakan kepanasan.


"Apa kamu punya obat yang biasa kamu minum jika kesakitan seperti ini?" tanya Argha, cemas.


Gintani menggelengkan kepalanya. "Aku hanya butuh istirahat, Mas," jawab Gintani.


"Ya sudah, istirahatlah! Akan aku buatkan pasta untuk makan malam kita," ujar Argha seraya menutupi tubuh Gintani dengan selimut.


"Mas!" panggil Gintani, lirih.


Argha menatap wajah cantik istrinya yang tampak pucat.


"Maaf! Seharusnya aku yang masak buat makan malam kita."


"Tidak apa-apa, masih banyak malam-malam yang lainnya yang akan kita lewati nanti. Tidurlah!"


Entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja Argha mengecup pelan kening Gintani.


Gintani memejamkan matanya. Merasakan kecupan yang penuh kelembutan itu. Sekali lagi batinnya berkata. Bolehkah aku egois untuk hari ini?


Bersambung.....


Semoga masih menyukai ceritanya yaaa...


Jika berkenan, silakan tinggalkan like, vote n komennya...

__ADS_1


Makasih....


__ADS_2