Takdir Gintani

Takdir Gintani
Menyesal


__ADS_3

Brugh!


Kedua kaki Argha tak sanggup lagi menumpu tubuhnya. Hatinya benar-benar terluka. Demi orang yang yang tak memiliki arti apa pun di hatinya, dia telah melepaskan wanita yang begitu berarti dalam hidupnya.


Sekarang Argha sadar, tidak selamanya hubungan persahabatan harus dipertahankan melebihi dari hubungan suami istri. Seorang sahabat yang baik, dia akan saling memberikan dukungan, bukan malah menghancurkan kehidupan sahabatnya sendiri. Lalu ... apa arti dari persahabatannya dengan Ilona?


Setelah mampu menguasai emosinya, Argha bangkit berdiri. Dia mulai mendekati Ilona.


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Ilona.


"Kakak, kenapa Kakak menamparku?" tanya Ilona yang sangat terkejut dengan sikap Argha.


"Kenapa? Kamu masih bisa bertanya kenapa? Ah, Ilona ... setelah semua ini, kamu masih bisa dengan lugunya bertanya kenapa kakakku menamparmu? Cih, dasar muka tembok. Tidak tahu malu!" teriak Nadhifa yang sedari tadi sudah tak sabar ingin mengacak-acak rambut Ilona. Rasanya, jika ini bukan di tempat umum, sudah pasti Nadhifa akan memberikan pelajaran kepada wanita yang penuh kelicikan itu.


"Tangkap dia, Pak!" ucap Argha kepada kedua polisi itu.


Argha sudah tidak punya kata-kata lagi untuk melampiaskan kekecewaannya. Dia hanya bisa menyuruh kedua polisi itu untuk menangkap Ilona.


"Tidak Kakak, aku mohon ... jangan lakukan itu kepadaku. Ma-maafkan aku!" Ilona mengatupkan kedua telapak tangannya di hadapan Argha.


"Cukup Ilona! Pak, cepat bawa wanita itu!" Bram mengulangi perintah Argha.


Kedua polisi itu segera mencekal kedua lengan Ilona.


"Tunggu! Lepaskan aku! Kalian tidak bisa melakukan ini padaku. Lepaskan aku!"


Ilona berteriak-teriak dengan kerasnya. Dia terus memberontak agar kedua polisi itu melepaskan cengkeramannya. Namun, para polisi itu tak menggubris teriakan Ilona. Mereka tetap menyeret Ilona keluar dari ballroom hotel Crown.


"Kak Argha, tolong aku! Suruh mereka melepaskan aku!" Ilona masih terus berteriak-teriak meminta pertolongan Argha.


Argha diam. Dia sudah tidak mampu berpikir apa-apa lagi. Dadanya terasa sesak saat mengingat kembali Gintani yang dia hina habis-habisan.

__ADS_1


Ya Tuhan, apa yang aku lakukan? Begitu kejamnya aku sampai mengingkari darah dagingku sendiri. Anakku ... dia ... dia anakku. Bayi yang ada dalam kandungan Gintani adalah milikku. Ya Tuhan ... ayah macam apa aku ini? batin Argha menyesali perbuatannya.


Arghh!


Argha berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri. Sejenak dia bangkit dan berlari ke luar ruangan.


"Argha! Mau kemana kamu, Nak?" teriak tuan Jaya.


Argha tak menghiraukan teriakan ayahnya. Dia terus berlari ke luar dan menuju tempat parkiran.


πŸ€πŸ€πŸ€


Sementara itu, di rumah sakit. Heru masih setia menemani Gintani. Kadang-kadang, dia bekerja setengah hari hanya untuk meluangkan waktu menjaga wanita yang sama sekali tidak dikenalnya. Bahkan, terkadang Heru tidak pergi bekerja hanya karena si kecil sakit. Dokter bilang, bayi yang terlahir prematur memang sangat rentan terkena penyakit.


Seperti hari ini, Heru terpaksa meninggalkan pekerjaannya karena mendapatkan kabar dari pihak rumah sakit jika anaknya sakit. Tak ingin memunda waktu, Heru pun segera menyerahkan pekerjaannya kepada sang asisten. Dia sendiri melajukan kendaraannya menuju rumah sakit. Selama dalam perjalanan, hatinya diliputi kecemasan tiada tara. Heru takut jika sesuatu terjadi pada anak wanita itu.


"Bagaimana keadaannya, Sus?" tanya Heru begitu dia tiba di ruangan bayi.


"Masih demam, Pak," jawab Suster Ira, perawat yang dipercayakan Heru untuk menjaga bayi yang sudah dianggap putrinya sendiri.


"Terakhir saya cek, suhunya 39 derajat, Pak," jawab Suster Ira


"Ya Tuhan ... apa sudah diperiksa oleh dokter?" Heru kembali bertanya.


"Sudah Pak, tapi entah kenapa, sudah dua malam, Putri –panggilan Heru untuk anak Gintani– rewel, Pak. Dia tidak bisa tidur dengan tenang. Tidak seperti biasanya," jawab Suster Ira.


"Kira-kira, apa yang terjadi padanya?" tanya Heru.


"Apa mungkin dia merindukan pelukan ibunya?" Suster Ira malah balik bertanya kepada Heru.


"Apa maksudmu, Sus?" tanya Heru, mengernyitkan keningnya.


"Aku sendiri tidak tahu, Pak. Tapi, semenjak dilahirkan Putri belum pernah dipertemukan dengan ibunya. Jadi aku berpikir, mungkin saja Putri sangat merindukan ibunya," jawab Suster Ira.

__ADS_1


"Apa dengan keadaannya saat ini, Putri sudah bisa dibawa ke luar ruangan?" tanya Heru, cemas.


"Berat badannya sudah normal, Pak. Saya rasa, tidak akan ada masalah jika Putri dibawa ke ruangan ibunya untuk beberapa waktu," jawab Suster Ira lagi.


"Baiklah jika menurutmu seperti itu. Saya akan menemui dokter yang menangani Putri untuk meminta izin agar Putri bisa bertemu dengan ibunya. Tolong jaga dulu anakku, Sus," ucap Heru.


"Baiklah, Pak."


Setelah itu, Heru pergi ke ruangan dokter anak untuk meminta saran.


πŸ€πŸ€πŸ€


Tak ingin mengulur waktu, Argha melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Hari ini, dia berniat pergi ke kampung halaman kakek neneknya. Terakhir, dia bertemu Gintani di tempat itu. Dia berharap jika dia bisa menemukan Gintani di sana.


Argha tahu, mungkin tidak akan mudah untuk dia mendapatkan maaf dari Gintani. Tapi, bagaimanapun juga, dia harus berusaha. Argha yakin, cepat atau lambat, Gintani pasti bisa memaafkan dan menerimanya kembali. Bukankah ada seorang anak yang akan mengikat kehidupan mereka berdua? pikir Argha.


Seribu penyesalan mengiringi perjalanan Argha. Semua kalimat dan kata-kata hinaan yang keluar dari mulutnya dulu, kini Argha rutuki. Kenapa Ya Tuhan ...? Kenapa aku bisa begitu saja percaya dengan penglihatanku yang hanya sekejap. Padahal aku sudah merasakan ribuan ketulusan dari istriku? batin Argha.


Sesak pun mulai mengimpit dada Argha. Terlebih lagi saat dia mengingat pertemuan terakhirnya. Dengan kejinya, Argha mengatakan jika anak yang dikandung Gintani adalah hasil perselingkuhannya. Entah sesakit apa hati Gintani saat itu. Namun kini, Argha pun merasa sakit dengan perbuatannya sendiri.


Menjelang sore, Argha tiba di bukit itu. Dia segera memarkirkan mobilnya. Argha turun dari mobil dengan terburu-buru. Sejurus kemudian, dia berlari menaiki bukit. Argha berharap bisa menemukan mantan istrinya begitu dia tiba di atas bukit.


Namun, harapan hanya tinggallah sebuah harapan. Bukit itu terlihat sepi. Tak ada bayangan siapa pun di atas bukit itu.


"GINTANI!!" teriak Argha.


Argha berlarian ke sana kemari sambil terus berteriak memanggil-manggil nama Gintani. Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Satu yang pasti, dia begitu ingin bertemu dengan mantan istrinya. Dia begitu merindukannya. Hingga tanpa sadar, air mata mulai membasahi pipinya saat menyadari jika wanita itu telah hilang tanpa jejak.


Tubuh Argha terkulai lemah di bawah pohon akasia. Sesaat dia menundukkan wajahnya di atas kedua lututnya. Penyesalan dalam hatinya kian membuncah. Entah kapan dia bisa bertemu dengan Gintani.


Setelah cukup lama berdiam diri di bawah pohon besar itu, Argha kembali berdiri. Dengan langkah gemetar, dia mulai menuruni bukit. Aku tidak akan menyerah, Gin. Jika dulu aku kemari hanya untuk bertemu Na, tapi sekarang ... aku pasti kemari hanya untuk mencarimu, batin Argha.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaa πŸ€—πŸ™


__ADS_2