Takdir Gintani

Takdir Gintani
Aku Ikut!


__ADS_3

"Sebagai permintaan maaf, siang ini Mas ingin mengajak kamu makan siang di tempat yang istimewa. Apa kamu mau?" tanya Argha.


"Benarkah? Tapi, apa Mas nggak sibuk?" Gintani balik bertanya.


"Sebenarnya, Mas sibuk. Tapi, demi Ratu Mas, pekerjaan apa pun bisa Mas abaikan. Asalkan Ratu Mas senang," goda Argha mencubit pelan dagu Gintani.


"Hmm, gombal!" cibir Gintani. "Awas ah, Gintan mau beresin tempat tidurnya dulu!"


"Jangan dulu dibereskan, Gin!"


"Kenapa?"


"Kita pakai tanding dulu."


"Hedeuh, emangnya ring tinju."


"Anggap aja seperti itu, hehehe...," ucap Argha seraya menyergap Gintani dari arah belakang.


"Aww!" pekik Gintani. "Mas, awas ih. Ini sudah siang, loh! Gintan mau masak."


"Satu ronde ya, Gin. Please!" jawab Argha seraya memulai aksinya.


"Mas, aw ... hummp...."


Cahaya matahari yang memasuki celah jendela kamar akhirnya mengiringi morning love mereka.


🍀🍀🍀


Jessica tampak tertegun mendengar penjelasan Umi Kulsum. Begitu pula dengan dokter Richard. Ya, pagi ini mereka diminta untuk berkumpul atas desakan Umi Kulsum yang ingin segera menceritakan semua kebenarannya. Akhirnya, dengan terpaksa, ustadz Hasan pun menyetujui permintaan istrinya.


"Sekarang, Jessi mengerti kenapa tante Rosma dan eyang sangat membenci Jessi," gumam Jessica.


"Tante Rosma? Apa tante Rosma istrinya ayah Jaya?" tanya dokter Richard sedikit terkejut.


Jessica mengangguk pelan. "Dulu, tante Rosma sangat membenci aku. Tapi, setelah aku menjalin hubungan dengan Argha, dia mendukung aku. Dia bahkan merencanakan perjodohan aku dengan Argha. Tadinya, aku pikir dia melakukan itu karena dia menyayangi aku sebagai keponakannya. Tapi ternyata aku salah, dia melakukan semua itu agar aku bisa menguasai harta Argha dan membaginya dengan beliau. Tapi aku bersyukur, Argha menemukan jodoh yang baik. Menurutku, Gintani adalah wanita yang tepat untuk mendampingi Argha. Dia mendapatkan perlindungan dari om Jaya. Jadi, aku rasa tante Rosma tidak akan pernah berani mengganggunya," ucap Jessica yang mulai mengerti keadaan.


"Ya, kamu benar. Gintani memang wanita yang sangat lembut dan penyabar. Aku yakin, perlakuan apa pun yang dia dapatkan dari keluarga Argha, dia pasti bisa melewatinya dengan tabah. Aku hanya berharap, Argha tidak akan pernah menyia-nyiakan wanita sepertinya."


"Tunggu! Gintani siapa yang kalian bicarakan?" tanya Umi Kulsum, heran. Entah kenapa, sepertinya nama itu tidak asing di telinganya.


"Gintania Nur'aini, Aunty. Apa Aunty masih ingat dengan Tuan Amijaya, rekan bisnis daddy? Nah, Gintani itu menantunya ayah Jaya."


"Abi, tolong ambilkan ponsel Umi?" pinta Umi Kulsum kepada suaminya.


Ustadz Hasan pergi ke kamar tamu. Tak lama kemudian dia kembali ke ruang keluarga dengan menenteng tas istrinya.


Umi Kulsum mengeluarkan ponselnya. Dia kemudian menggulirkan beberapa foto di galeri ponselnya. "Apa gadis ini yang kalian maksud?" tanya Umi Kulsum memperlihatkan foto gadis cantik berhijab yang sedang duduk di sebelahnya pada saat pengajian majelis ta'lim putranya.

__ADS_1


Jessica dan Richard saling pandang penuh tanya. Sejurus kemudian, mereka menganggukkan kepalanya.


"Masya Allah, ternyata dunia ini sangat sempit sekali," gumam Umi Kulsum sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


Tinggal dokter Richard dan Jessica yang hanya bisa melongo mendengar gumaman Umi Kulsum.


🍀🍀🍀


Argha duduk di kursi kebesarannya. Hatinya terasa senang mendapatkan pengertian dari seorang istri. Argha bertekad jika dia tidak akan pernah mengecewakan Gintani lagi. Selama ini, istrinya sudah terlalu banyak menderita atas sikap arrogant-nya. "Baiklah, hari ini, aku akan membuat kejutan yang sempurna untuk Gintani," gumam Argha.


Beberapa detik kemudian, Bram datang menemui Argha.


"Semuanya sudah siap, Bos," ucap Bram seraya memberikan ponselnya kepada Argha.


Argha tersenyum puas saat melihat foto di ponsel Bram. Sebuah foto yang menunjukkan suasana untuk makan siang yang romantis. Tanpa sadar, Argha berdecak kagum melihat hasil usaha sang asisten.


"Hmm, tidak sia-sia aku mengangkat kamu sebagai asisten pribadiku," ucap argha. "Besok, aku akan menaikan gaji kamu, Bram."


"Terima kasih, Bos!"


"Ya, sudah. Pergilah!" usir Argha seraya melambaikan tangannya.


Bram hanya mencibir saat Argha mengusirnya dari ruangan. Setelah Bram pergi, Argha menghubungi Gintani untuk mengutarakan maksudnya.


Beberapa jam berlalu hingga akhirnya tiba jam makan siang. Argha segera melajukan mobilnya menuju tempat yang telah dipesan oleh asistennya.


"Maaf terlambat, Sayang. Jalanan cukup macet hari ini," ucap Argha seraya mengecup pucuk kepala sang istri.


Gintani mendongak, dia tersenyum manis menatap suaminya. "Tidak apa-apa, kebetulan Gintan juga baru datang, kok, Mas," jawabnya.


"Sudah pesan makanan?" tanya Argha seraya menarik kursi dan duduk berhadapan dengan istrinya.


"Belum Mas, Gintan nunggu Mas," jawab Gintan.


Selang beberapa menit, para pelayan datang untuk mengantarkan makanan yang telah dipesan sebelumnya. Gintani tersenyum saat melihat cake coklat berbentuk jantung hati yang disajikan oleh pelayan itu.


"Tumben, Mas. Dalam rangka apa nih, kok bikin acara seperti ini?" tanya Gintani menatap suaminya.


"Tidak apa-apa Sayang. Sekali-sekali kita ciptakan moment yang bisa kita ceritakan kelak untuk anak cucu," jawab Argha sambil memotong cake tersebut. Namun saat dia hendak menyuapi Gintani, ponselnya tiba-tiba berdering. Argha menghentikannya dan segera mengangkat sambungan telepon.


"Ya, hallo!"


"......"


"Maaf, Ilo. Saat ini aku sedang ada urusan penting dengan istriku. Kamu minta tolong suster saja."


"....."

__ADS_1


"Iya, tidak apa-apa. Istirahat yang cukup, ya!"


Argha menutup teleponnya dan memasukkan kembali ke dalam saku jas.


"Siapa, Mas?" tanya Gintani.


"Ilona," jawab Argha kembali menyendok cake tersebut dan menyuapi Gintani.


"Kenapa dia?" tanya Gintani lagi.


"Dia meminta Mas untuk menemaninya kemoterapi nanti sore," jawab Argha.


"Terus?"


"Ya, Mas tolak. Mas, kan, sedang bersama kamu. Lagi pula, Mas sudah menyewa perawat untuk membantu dia memenuhi semua keperluannya."


"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Gintani.


"Makan, yuk! Perut Mas lapar sekali," ajak Argha seraya mengusap perutnya.


Gintani tersenyum, dia kemudian menyendok nasi dan lauk pauknya untuk Argha. Namun, saat mereka hendak makan. Kembali telepon Argha berdering. Argha mengernyitkan keningnya melihat nomor tak di kenal. Sejurus kemudian, dia mematikan ponselnya.


"Kok dimatikan, Mas?" tanya Gintani.


"Nomornya nggak kenal. Sudah, biarkan saja!" jawab Argha. Namun tak lama kemudian teleponnya kembali berdering.


"Angkat saja, Mas. Siapa tahu penting," ucap Gintani.


Argha mengangguk, dia kemudian mengangkat teleponnya.


"Ya hallo!" jawab Argha. "Apa?"


Raut wajah Argha berubah panik saat menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenal.


"Oke, aku ke sana sekarang!"


Argha menutup ponselnya. "Gin, aku minta maaf, tapi sepertinya kita harus pergi," ucap Argha dengan nada suara penuh penyesalan.


"Ta-Tapi ke mana?"


"Sesuatu terjadi pada Ilona. Aku harus segera melihatnya. Kamu mau aku antarkan pulang, atau--"


"Aku ikut!"


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2