
Setelah mengikuti kajian islam minggu kemarin, Gintani pun mulai memantapkan diri untuk berhijrah. Dengan bantuan Raisya, Gintani membeli beberapa pakaian muslim beserta hijab beraneka model dan warna yang tentunya cocok sesuai usianya. Hati Gintani pun mulai terasa tenang saat dia mengenakan pakaian itu.
“Waah, cantik sekali cucu kakek ini, mau kemana ?" tanya kakek Wira saat melihat Gintani tengah memakai hijabnya.
Gintani menoleh, tangannya masih berada di samping kepalanya untuk menyematkan jarum pentul di pashmina yang dia kenakan.
“Eh kakek, ini Gintan mau pergi dulu pengajian sama Raisya. Boleh kan, kek ?” tanya Gintani.
“Boleh sayang. Kakek senang kamu sudah mulai banyak berubah, nak. Tidak murung seperti dulu lagi.” jawab sang kakek.
Gintani tersenyum. “Terima kasih telah membawa Gintan ke tempat ini, kek ! Gintan merasa jauh lebih baik tinggal di sini, daripada…” ucap Gintani menggantungkan kalimatnya. Sesaat dia merasakan kembali kepedihannya dulu.
“Sudahlah, tidak perlu diingat lagi nak !” ucap kakek Wira mengelus pucuk kepala Gintani.
Gintani menjulurkan kedua tangannya dan memeluk sang kakek dengan erat.
“Gintan sayang kakek.” bisiknya.
“Kakek juga sangat sayang sama kamu, nak ! Kamu adalah pelita dalam hidup kakek.” jawab kakek Wira mengusap-usap punggung Gintani.
“Gintaan…! Gintaan…!”
Tiba-tiba teriakan cempreng seorang gadis terdengar dari luar. Gintani dan kakek Wira saling melepaskan pelukannya.
“Pergilah ! Kelihatannya temanmu yang cerewet itu sudah datang.” ucap kakek Wira.
Gintani tersenyum seraya mengangguk. “Gintan pergi dulu ya, kek !” pamitnya seraya mencium punggung tangan kakeknya.
☘️☘️☘️
“Maaf nona ! Tapi anda tidak bisa masuk !” cegah Bella saat seorang wanita yang menggunakan minidress ketat berwarna maroon menyelonong begitu saja melewati mejanya.
“Minggir !” teriak Jessica seraya mendorong tubuh Bella dari depan pintu ruangan CEO
“Awww !” Bella memekik pelan saat tubuhnya yang kecil terhempas ke lantai akibat dorongan Jessica.
Akhirnya dengan leluasa, Jessica membuka pintu ruangan dan memasukinya.
Argha yang sedang berdiskusi dengan asistennya seketika mendengus kesal saat melihat gadis tinggi semampai yang mengenakan pakaian kurang bahan sedang berdiri di hadapannya.
“Kalau begitu, saya permisi dulu, tuan !” ujar Bram yang melihat kedatangan Jessica.
Argha hanya diam tak meng-iyakan juga tak mencegah.
“Mau apa kemari ?” tanya Argha seraya berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah jendela. Pandangannya menatap tajam ke luar jendela tanpa menghiraukan kehadiran mantan kekasihnya.
“Ayolah Argha, aku tahu aku salah, aku minta maaf ! Tapi sekarang, aku sudah kembali. Dan aku kembali hanya untukmu !” ujar Jessica seraya menghampiri Argha dan menyenderkan kepalanya di dada bidangnya Argha.
Argha hanya diam tanpa berniat untuk menghindari atau pun menolak tubuh gadis itu saat merapat di tubuhnya.
Merasa tak mendapatkan penolakan, Jessica pun semakin memberanikan diri untuk lebih intim dengan mantan kekasihnya. Dia mulai mendekatkan wajahnya. Menyentuh bibir Argha dengan bibirnya. Menghisapnya pelan hingga akhirnya me****t habis bibir mantan kekasihnya.
Entah apa yang merasuki pikiran Argha. Dia pun mulai membalas pagutan Jessica. Bahkan menuntutnya lebih dalam lagi. Lidahnya mulai mengeksplor rongga mulut Jessica. Saling mengecap, saling me****t, saling bertukar saliva, hingga pada akhirnya ciuman panas itu terhenti saat Argha menyadari sebagian kancing kemejanya terlepas akibat ulah tangan jahil Jessica.
Argha pun mulai melepaskan ciumannya dan mendorong kasar tubuh Jessica.
__ADS_1
“Shitt ! Pergilah !" perintah Argha, kesal.
“Ada apa dengan mu sayang ?” tanya Jessica heran.
“Pergilah !” lanjut Argha.
“Tidak, aku ingin penjelasan darimu ! Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu ?” ucap Jessica penuh emosi.
“Bukankah kita sudah berciuman ? Bukankah sedari dulu kau ingin merasakan ciumanku ? Sekarang kau sudah merasakannya. Pergilah !" jawab Argha.
"Tidak ! Ini belum cukup bagiku, Ar ! Aku menginginkan dirimu lebih dari sekedar untuk berciuman ! Aku mencintaimu, Ar ! Aku hanya ingin menjadi milikmu ! Ayo sentuh aku, Ar ! Nikmati tubuhku ! Aku selalu menjaga kesucianku untukmu ! Aku ingin kau yang pertama dan yang terakhir menyentuhku, Ar ! Ayo kita lakukan hubungan yang lebih dari ini ! Kita sudah sama-sama dewasa. Sentuh aku, Ar ! Sentuh aku !” ucap Jessica seraya menghampiri Argha dan mulai menyentuh tubuh Argha. Tangannya mulai kembali menggerayangi dada bidang berbulu halus yang memang terlihat karena sebagian kancing kemejanya telah terbuka.
Argha memejamkan matanya merasakan hangatnya kecupan-kecupan bibir Jessica yang mulai menyusuri dadanya. Tapi tiba-tiba saja, bayangan senyuman Gintani saat Argha menerobos wilayahnya dengan penuh kelembutan, terlintas dalam benak Argha.
“Cukup !” teriak Argha seraya mendorong tubuh Jessica agar menjauhinya. “Maaf, Jes ! Aku tidak bisa melakukannya ? Lagipula aku tidak yakin jika kamu masih virgin !” ucap Argha dingin.
Plak !
Sebuah tamparan mendarat di pipi Argha dengan sempurna. Argha sangat geram. Dia pun menarik rambut Jessica.
“Berani kamu menamparku, hah !” teriak Argha.
“Ma…maafkan aku, Ar !” ucap Jessica yang menyadari kesalahannya telah berurusan dengan seorang pria seperti Argha. “A..aku melakukan semua ini karena kau telah menghinaku ! Kau pikir aku wanita murahan, hah !” ujar Jessica mencoba membela dirinya.
Argha melepaskan jambakannya seraya mendorong tubuh Jessica sehingga Jessica terhempas ke atas sofa. Argha melangkah mendekati meja kerjanya. Tangannya yang kekar membuka laci meja dan mengambil map berwarna biru. Argha kembali menghampiri Jessica.
Prakk….!
Argha melempar map tersebut ke atas meja.
Jessica ingat betul jika kegiatan-kegiatan panas itu dia lakukan pada saat dia meniti karirnya di paris. Bahkan ada sebagian foto yang menampilkan adegan ranjangnya dengan salah seorang aktor negaranya saat dia masih menjadi model dalam negri.
“Apa itu yang kau bilang menjaga kesucian mu hanya untukku ?” tanya Argha dingin seraya mencengkram kedua rahang Jessica.
“A…a…aku…!”
Jessica tak mampu menjawab pertanyaan Argha. dia benar-benar shock saat menyadari jika selama ini Argha memantau setiap gerak-geriknya.
“Kenapa Jessi ? Kenapa gugup ? Kamu tidak menyangka jika aku akan mengetahui kelakuan bejatmu ? Bukan hanya kelakuan mu saat di luar negri, tapi juga kelakuanmu saat kita masih berpacaran. Lihat ini !” Argha mengambil selembar foto yang menampakkan Jessica sedang beradegan panas dengan salah satu teman modelnya.
“Bahkan ini kamu lakukan saat kamu masih menjadi pacarku ? Apa ini yang namanya menjaga kesucian ? Cih ! Benar-benar murahan !” dengus Argha kesal.
“Aku murahan begini, itu juga karena kamu !” teriak Jessica.
“Asal kamu tahu, aku melakukan semua ini, semua itu karena kamu. Aku pacarmu, tapi kamu tak pernah menyentuhku ! Aku juga butuh perhatianmu ! Aku butuh kehangatan darimu ! Aku gadis normal Ar, dan aku butuh sentuhan laki-laki dalam hidupku !” teriak Jessica mengungkapkan semua alasannya.
Argha tersenyum dingin. “Lalu kenapa kau menolak lamaranku ? Jika memang kau membutuhkan kehangatan, kenap kau menolak saat aku berniat menikahimu ?” tanya Argha seraya tersenyum sinis.
“Waktu itu aku masih muda, Ar ? Karirku masih panjang. Dan aku masih terlibat kontrak dengan salah satu perusahaan kosmetik yang mengharuskan aku menjadi seorang single." jawab Jessica lirih.
"Cih, alasan ! Apa kau pikir aku bodoh ? Asal kau tahu, Jessi ! orang yang telah mengontrak mu, dia adalah kawan lamaku. Dan dia juga mengatakan jika tidak ada point yang mengharuskan statusmu menjadi seorang single dalam kontrak itu."
Jessica semakin terkejut saat Argha mengetahui banyak hal yang dia sembunyikan.
“Pergilah ! Aku tidak ingin berhubungan lagi denganmu !" usir Argha pada gadis itu.
Dengan langkah gontai, Jessica pun keluar dari ruangan Argha.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Bulan terus berganti. Tanpa terasa sudah hampi 2 tahun Gintani tinggal di kampung ini. Bahkan Gintani pun sudah hampir 1,5 tahun mengenakan hijab. Hatinya benar-benar tenang tanpa beban semenjak dia menjadi mustamin tetap dalam pengajian bulanan majlis ta'lim Muslimat Syurga di desa tetangganya.
Gintani juga mulai mengajarkan anak-anak mengaji iqra di surau samping rumahnya. Dan Gintani begitu senang menjalani aktivitasnya.
Namun sepertinya, hidup Gintani masih belum terlepas dari ujian. Malam ini, Gintani dan kakeknya kedatangan tamu yang tak di undang.
“Perkenalkan pak. Nama saya Ustadz Hasan, dan ini istri Umi Kulsum. Mohon maaf jika kedatangan kami mengganggu waktu istirahat anda. “ ujar seorang pria paruh baya yang berwajah sangat bersinar.
Sang istri hanya mengatupkan kedua tangannya untuk memberi salam kepada kakek Wira.
Kakek Wira tersenyum menyambut tamu yang sama sekali belum dikenalnya. Namun sosok Hasan, mengingatkan dia pada sahabatnya dulu.
“Tunggu nak ! Maafkan jika saya lancang. Apa nak Hasan ini memiliki kekerabatan dengan kyai Adah ?” tanya kakek Wira.
Pria paruh baya itu mengangguk seraya tersenyum. "Saya putra sulung mamak Acep Adah Prajadiva, pak.”
Mata kakek Wira seketika berembun mendengar tamunya menyebut nama sahabatnya.
“Masya Allah…! Pantas saja wajahmu sangat mirip dengan kyai Adah !” ujar kakek Wira. Untuk sejenak kakek Wira memeluk ustadz Hasan karena dia merasakan rindu yang amat sangat kepada sahabatnya itu.
“Eh…maaf…maaf…! Sa..saya terbawa suasana." ucap kakek Wira setelah melepaskan pelukannya.
“Tidak apa-apa, pak .” jawab ustadz Hasan.
“Ngomong-ngomong. Ada keperluan apa nak Hasan datang kemari ?" tanya Kakek Wira, penasaran.
“Emmm, begini pak. Sebenarnya, kami datang ingin meminta cucu bapak untuk berta’aruf dengan Husni, putra saya." ujar ustadz Hasan.
Prang…!
Gintani yang sedang mengambil air di dapur untuk tamunya, sangat terkejut mendengar ucapan ustadz Hasan. Bayangan malam dia ternoda pun kembali berkelebat di benaknya.
Tidak…tidak…aku tidak boleh membiarkan ini terjadi. Aku bukan orang yang pantas untuk ustadz Husni. Aku harus menolak *t*a'aruf ini !
Gintani segera membereskan pecahan gelasnya dan menggantinya dengan yang baru. Setelah itu, dia membawa nampan yang berisi gelas air minum itu ke ruang tamu.
“Ada apa Tan ? Kakek mendengar sesuatu yang jatuh tadi di dapur ?” tanya kakek Wira.
“Itu, tadi tangan Gintan licin kakek. Karena itu gelasnya jatuh.
“oh, ya sudah. Tapi kamu nggak apa-apa kan ?" tanya kakek Wira.
"Gintan baik-baik saja, kek." jawab Gintani.
“Oh iya, Tan. Mereka adalah orang tua ustadz Husni. Mereka datang berniat untuk melakukan ta'aruf untuk anaknya. Apa kamu bersedia melakukan proses ta'aruf dengan ustadz Husni ?" tanya kakek Wira.
Gintani hanya bisa diam menundukkan kepalanya. Tanpa sadar dia memainkan pakaian gamisnya.
“Gintan ?” tanya kakek Wira lagi.
“Ma…maaf, kakek ! Ta…tapi Gintan tidak bisa berta'aruf dengan ustadz Husni.
Bersambung...
Jangan lupa like vote n komennya ya 🙏🤗
__ADS_1