
"Kamu kenapa sih, Gin? Suami baru pulang kerja, bukannya disambut, ini malah dicuekin kek gitu!" protes Argha yang merasa Gintani diam-diam bae, dari mulai dia datang ke apartemen hingga jam makan malam.
Gintani hanya fokus mengunyah makanannya tanpa ingin menjawab pertanyaan Argha.
"Gin, apa aku punya salah sama kamu?Ngomong dong! Aku nggak bakalan tahu di mana letak kesalahanku kalau kamu hanya diam saja seperti itu," ujar Argha
Hening.
Argha mulai frustasi melihat Gintani asyik mengunyah makanannya tanpa menghiraukan ucapannya.
Trang....!
Karena merasa kesal, Argha melemparkan sendok di atas piringnya, hingga piring di depannya retak seketika.
Spontan Gintani mengangkat bahu karena terkejut. Malam ini, dia kembali melihat kemarahan di wajah suaminya. Meskipun agak takut, namun Gintani berusaha untuk tidak menghiraukannya. Baginya, sudah cukup Argha memperlakukan dia seperti boneka.
Argha beranjak dari kursi dan meninggalkan makanan yang masih tersisa setengahnya. Dia melangkahkan kaki menuju kamar.
Brakk...!!
Dengan perasaan dongkol, Argha membanting keras pintu kamarnya dan membuat Gintani kembali mengangkat bahunya karena terkejut.
Selesai makan, Gintani membereskan peralatan bekas makannya. Dia mulai mencuci piring satu persatu. Meskipun tak pernah dihargai sebagai seorang istri, namun Gintani masih tetap telaten melaksanakan kewajibannya.
Kini, Gintani tengah asyik menatap layar LED yang berukuran cukup besar itu. Matanya memang menatap layar kaca itu, namun pikirannya entah berkelana kemana. Ada banyak pertanyaan dalam benak Gintani. Namun Gintani sendiri tidak pernah tahu harus kemana melayangkan semua pertanyaan tentang takdirnya. Sekali lagi, Gintani hanya mampu menangis dalam diam.
Merasa matanya sudah tidak bisa diajak kompromi, Gintani pun menekan tombol off pada benda persegi panjang berwarna hitam yang sedari tadi di pegangnya. Gintani berjalan ke arah saklar yang menempel di dinding ruang keluarga. Dia kemudian memadamkan lampu di ruangan itu. Setelah itu Gintani menuju kamar untuk merehatkan badannya.
Klek....
Gintani menekan handle pintu. Namun pintu setia menutup.
Gutrek... Gutrek....
Berulang kali Gintani menekan handle itu, tetap saja sang pintu tak mau terbuka.
"Ish...! Keterlaluan kamu Mas!"
Gintani pun berbalik arah menuju kamar yang biasa ditempati Nadhifa. Satu lagi kejadian yang menambah luka di hatinya.
Tiba di kamar tamu. Gintani segera merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Bukan hanya tubuh, hati dan isi kepalanya pun ikut lelah dalam menjalani hari ini. Gintani memejamkan mata, berharap mimpi akan membawanya pada sebuah senyum yang tak akan tenggelam.
Pukul 2 dini hari, Argha terbangun karena merasa lapar. Dia mengerjapkan matanya dan melirik bantal yang ada di samping kanannya. Kosong, kemana dia? Apa dia sedang solat malam? batin Argha.
__ADS_1
Argha segera bangkit. Dengan mata yang masih 5 watt, dia pun berjalan menuju mushola kamarnya. Nihil.... Dia tak melihat bayangan istrinya di dalam mushola. "Ish, kemana dia?" gumam Argha.
Argha membuka pintu kamar mandi, berharap jika Gintani berada di sana. Namun hasilnya masih tetap sama. Karena sudah tak sanggup menahan lapar, akhirnya dia segera pergi ke dapur untuk melihat sesuatu yang bisa dia makan.
Saat Argha melewati ruang keluarga, Argha melihat pintu kamar tamunya sedikit terbuka. Dia pun mengayunkan langkahnya menuju kamar tamu. Apa Fa ada di sini? batinnya.
Perlahan, Argha membuka celah itu agar lebih lebar lagi. Dia terkejut melihat Gintani tengah terlelap dengan nyamannya di kamar itu. "Jadi, di sini rupanya," gumam Argha.
Kruukk... Kruukkk....
Konser cacing di perutnya, mengurungkan Argha untuk menghampiri istrinya. Argha kembali menutup pintu kamar dan segera pergi ke dapur. Sepanjang mengunyah makanan, pikiran Argha disibukkan oleh keberadaan foto yang keluar dari persembunyiannya.
Harusnya, aku bisa sedikit lebih bersabar lagi. Bukankah Gintan sudah menyanggupi semua persyaratan yang aku ajukan. Ish, kenapa aku sampai melewati batasanku. Akankah Na memaafkan aku yang telah mengkhianati perjanjian kita? batin Argha.
Ya Tuhan... entah penyesalan seperti apa yang dia rasakan saat ini. Sungguh pria yang tidak punya hati nurani.
Argha menyudahi makannya. Dia mengayunkan langkahnya menuju ruang kerja. Argha kembali menyentuh barang syubhat yang sudah lama ditinggalkannya. Pikirannya benar-benar kacau, dan dia butuh barang itu untuk menenangkannya.
Puas menyesap dua batang rokoknya. Argha pun kembali ke kamarnya.
.
.
.
Beres dengan ritual mandinya, Gintani segera memakai piyama Nadhifa. Dia kemudian beranjak ke dapur untuk memainkan perannya sebagai istri yang baik. Cukup baik saja, tidak untuk sholehah, karena Gintani sendiri tidak yakin dengan ukuran kesholehahan seperti apa yang harus dijalani dalam biduk rumah tangga tanpa arah dan tujuan.
Satu jam kemudian, Argha tiba dengan wajah bantalnya. "Kenapa kamu tidak membangunkan aku?" tanya Argha dengan suara khas orang bangun tidur.
Diam..., Gintani masih asyik mengaduk nasi goreng di atas wajannya tanpa menghiraukan keberadaan suaminya.
"Gin...!" panggil Argha.
Gintani masih tak menghiraukan panggilan suaminya. Jujur dia masih merasa kesal dengan ulah suaminya semalam.
Brakk...!
Argha menggebrak meja makan. "Kamu tidak punya mulut, hah! Sampai tidak bisa menjawab pertanyaan suamimu. Sebenarnya kamu kenapa, Gin?" Argha mulai meninggikan suaranya.
Hening....
Gintani masih membiarkan Argha terus mengoceh. Tak ada sedikit pun dia berniat untuk melayani ocehan suaminya.
__ADS_1
"Aku ada salah sama kamu, sampai kamu memutuskan untuk pisah ranjang tadi malam? Sikap kamu itu sungguh keterlaluan, Gin. Kamu bukan anak kecil lagi yang bisa merajuk seenaknya. Jika kamu tidak bicara, mana aku tahu di mana letak kesalahanku yang bisa membuatmu mendiamkan aku," keluh Argha yang mulai kembali menurunkan nada suaranya.
Gintani menghela napasnya sejenak. Sejurus kemudian, dia membalikkan badannya.
"Mungkin, mulai saat ini... pisah ranjang akan jauh lebih baik bagi hubungan kita, daripada setiap malam aku harus mendengar nama Na keluar dari mulut kamu," jawab Gintani datar.
"Kenapa kamu tidak akhiri saja pernikahan tanpa alasan ini? Sampai kapan kamu akan terus menyiksa batinku? Kamu tahu, aku sudah seperti wanita yang tidak berharga, membayangkan suamiku sendiri menggauli tubuhku namun masih menyimpan nama gadis lain di hatinya. Lalu... apa bedanya aku dengan wanita penghibur di luaran sana? Apa...??"
Prangg....
Gintani melemparkan spatulanya, dia berlari ke kamar karena sudah tidak sanggup lagi membendung air mata yang mulai mengalir.
Argha masih bergeming di tempat. Jadi ini alasan Gintani mendiamkan aku sejak kemarin. Apa malam itu aku mengigau dan memanggil nama Na?
"Damn...!!"
🍀🍀🍀
Prakk.....!
Bram melayangkan sebuah amplop berwarna coklat ke atas meja kerja Argha.
"Ish, apa-apaan lo Bram! Datang bukannya ketuk pintu kek, baca salam kek, ini malah ngancurin semua kerjaan gua. Lo nggak tau apa, kalo gua lagi badmood sekarang?" cerocos Argha.
"Kenapa?" tanya Bram seraya duduk di kursi yang ada di hadapan meja kerja bosnya.
"Bini gua minta pisah ranjang," jawab Argha.
"Hmm....baguslah! Itu artinya bini lo masih waras. Mana ada bini yang tahan tidur seranjang sama suami yang masih menyimpan nama lain selain dirinya," sindir Bram.
"Udah deh, lo nggak usah ledek gua. Jika kedatangan lo cuma buat nyinyirin gua, lebih baik lo keluar dari ruangan gua. Gua bener-bener lagi badmood nih...."
Bram menyeringai. "Dan gua yakin, lo bakalan tambah badmood kalau sampai lo tahu apa isi amplop itu!" ujar Bram menunjuk amplop coklat dengan dagunya.
Karena penasaran, Argha meraih dan membuka isi dari amplop berwarna coklat itu. Bola matanya membulat sempurna saat dia membaca satu persatu kalimat yang tertera dari isi amplop tersebut.
"Damn...!!"
Bersambung....
Morning all....!! Masih pada semangat yaaa menyambut liburnya...
Yuhuuu... othor kembali nih, buat meminta dukungan.... Jangan lupa like, vote n komennya yaaa....!!
__ADS_1
Makasih....