Takdir Gintani

Takdir Gintani
Merasa Bersalah


__ADS_3

Karena penasaran, Argha meraih dan membuka isi dari amplop berwarna coklat itu. Bola matanya membulat sempurna saat dia membaca satu persatu kalimat yang tertera dari isi amplop tersebut.


"Damn...!!"


Senyum sinis tersungging di bibir tebal sang asisten.


"Puas lo sekarang!" Bram berkata dengan nada sinisnya.


Argha diam. Dia kembali melihat kertas yang berada dalam genggaman tangannya. Di sana tertulis jelas jika nama perempuan itu adalah Celine Hadikusumah, berusia 24 tahun. Putri dari seorang pengusaha yang bernama Arman Hadikusumah dan Shella. Lulusan sarjana ekonomi dan bekerja di kantor ayahnya sendiri.


Dalam amplop itu juga terdapat lampiran fotocopy akta kelahirannya, lengkap dengan semua ijazah sekolah, mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Universitas. Argha melempar kertas-kertas itu hingga jatuh berserakan di lantai.


"Tunggu!" Jika dia putri dari Arman Hadikusumah, itu artinya, dia masih memiliki kekerabatan sama bini gua. Apa itu benar?" tanya Argha.


Bram mengangguk menjawab pertanyaan Argha.


"Damn! Apa maksud dia melakukan semua ini? Dan dari mana dia mendapatkan foto Na?" tanya Argha kesal.


"Satu hal yang harus lo tahu, Ar! Selama ini, gadis itu sangat membenci istri lo. Kabar itu gua dapatkan dari sumber yang sangat bisa dipercaya. Untuk urusan dari mana dia mendapatkan foto Na, gua rasa lo nggak harus memikirkan hal itu. Melihat latar belakangnya saja, kemungkinan gadis itu iri sama bini lo. Sepertinya, dia sedang berusaha untuk menghancurkan pernikahan kalian," jawab Bram.


"Tapi gua masih penasaran, Bram. Selama ini, yang tahu hubungan gua sama Na, cuma lo, Kevin dan Ale. Dan foto itu hanya gua dan Na yang memilikinya. Lalu, kenapa foto itu bisa berada di tangannya. Apa dia pernah bertemu dengan Na? Atau apa Na memberikan foto itu padanya buat ingetin kesalahan gua?"


"Sudahlah Ar, lo nggak usah overthinking kek gitu! Apa pun alasannya, lupakan dia! Lupakan Na! Lo harus sadar jika lo bukan pria lajang lagi. Lo punya Gintan sekarang, dan lo bertanggung jawab sepenuhnya atas diri gadis itu!"


"Gintan...! Ya Tuhan.... Sekarang, apa yang harus gua lakukan, Bram? Ternyata... Gintan ngehindarin gua karena dia mendengar gua mengigau nama Na di malam itu," ujar Argha.


"Apa! Ish, lo bener-bener ya, Ar! Pantas saja jika bini lo minta pisah ranjang. Gua nggak ta__"


"Oh... ! Sekarang aku tahu kenapa Gintani datang kepadaku. Rupanya... suaminya sudah tidak becus menjaganya!"


Tiba-tiba, Alex sudah berdiri di ambang pintu. Sejurus kemudian, dia pun melangkahkan kakinya mendekati kedua sahabatnya.


"Ngapain lo kemari?" tanya Argha sinis.


"Tadinya, aku ingin meminta penjelasan darimu. Tapi ternyata... apa yang baru saja aku dengar, itu sudah cukup menjadi sebuah jawaban atas kedatangan Gintan hari ini."


Dengan penuh emosi, Argha berdiri dan menyambar kerah baju sahabatnya.


"Apa maksud ucapan lo?" tanya Argha geram.

__ADS_1


"Singkirkan tangan kotormu itu, Ar!" ucap Alex seraya menepiskan tangan Argha dari kerah bajunya.


"Hei, santai Bro!" Bram meraih pundak Argha. "Kita dengarkan dulu apa yang mau Alex sampaikan!" ucap Bram, mencoba mendinginkan situasi.


"Aku sudah memperingatkan kamu Ar, tapi kenapa kamu tidak pernah mengindahkan semuanya? Dengar, jika kamu tidak bisa menghargai Gintan, lebih baik kamu lepaskan dia sekarang! Sudah cukup kamu memberikan luka pada gadis itu!"


Argha semakin tersulut emosi.


"Apa maksud lo, hah? Ooh... gua tahu, lo ingin merebut dia dari gua, kan? Dari dulu, lo emang suka sama dia. Sayangnya, lo tidak pernah punya cukup uang untuk memilikinya. Iya, kan?"


Bugh....!


Sebuah pukulan keras mendarat tepat di rahang Argha.


"Brengsek kamu, Ar! Aku tidak serendah yang kamu pikirkan! Sejak dulu hingga sekarang, aku tidak pernah memandang Gintan sebagai seorang wanita. Bagiku, dia hanya adik yang harus aku lindungi. Aku benar-benar kecewa sama kamu. Sepicik itukah kamu memandang istrimu sendiri? Asal kamu tahu, Ar... Dia menjual harga dirinya bukan untuk kesenangannya, tapi untuk menyelamatkan nyawa kakeknya!" teriak Alex penuh emosi. Wajahnya sudah memerah karena amarah.


"Tunggu! Ada apa ini? Menjual harga diri? Apa yang kalian bicarakan? Apa ada sesuatu yang tidak gua ketahui?" Tanya Bram, heran.


Alex menghela napasnya sejenak. Tanpa disuruh, dia pun mendaratkan bokongnya di atas sofa tamu.


"Duduklah!" pinta Alex dengan santainya. Di antara mereka, hanya Alex lah orang yang selalu bertindak dengan kepala dingin.


"Jelaskan semua yang tidak aku ketahui!" pinta Bram. "Bukankah, kita pernah berjanji jika tidak akan pernah ada rahasia dalam hubungan persahabatan kita!" lanjut Bram lagi.


Alex menarik napasnya panjang. Setelah itu, dia menghembuskannya dengan perlahan. Dia memandang kedua sahabatnya secara bergantian.


"Jujur, aku tidak pernah ingin mengungkit masa lalu itu. Karena, semuanya hanya akan membongkar aib kedua orang yg sangat aku sayangi. Tapi ada satu hal yg harus aku luruskan, supaya sahabat kita ini tidak selalu berpandangan picik kepada seorang wanita," sindir Alex seraya menatap tajam Argha.


"Dulu... kakek Wira sempat disandera seorang rentenir gara-gara ulah menantunya. Istrinya Arman meminjam uang sebesar 300 juta dengan imbalan perjodohan Gintan dengan Broto.


"Broto...? Broto si ketua mafia itu?" tanya Bram, kaget.


Alex menganggukkan kepalanya.


"Kamu tahu Ar... bekerja di PUB bukanlah keinginan gadis itu. Tapi dia punya kewajiban untuk membiayai pengobatan kakeknya yang mengalami gagal ginjal. Demi kakeknya, Gintani rela tidak melanjutkan kuliah dan bekerja sebagai office girl di perusahaanmu. Tapi sayangnya, hanya karena egomu yang terluka, kamu memecat dia tanpa pertimbangan. Hari itu, aku bahkan melihat sendiri wanita yang kamu anggap Na, dia menampar dan menyalahkan Gintani pada malam penculikan itu. Bahkan ibunya terus menekan Gintani untuk segera membayar hutangnya karena Gintan menolak menikah dengan Broto. Aku dan anak-anak PUB sudah berusaha mengumpulkan uang. Tapi semuanya masih kurang. Ternyata, Broto menginginkan uangnya kembali beserta bunga sebesar 500 juta. Namun..."


Alex menggantung kalimatnya. Pikirannya kembali melayang pada masa keterpurukan Gintani.


"Namun...?" tanya Argha penuh penekanan.

__ADS_1


"Namun Entah kenapa, tiba-tiba saja Gintani memintaku untuk mencarikan seorang mucikari." jawab Alex, lirih.


"Apa!!"


Teriak Bram dan Argha berbarengan.


"Kalian masih ingat dengan video viral dia, saat tengah dilabrak Nyonya Rosma?" tanya Alex pada kedua sahabatnya.


Argha dan Bram mengangguk.


"Hhh... gara-gara video itu Gintani di usir dari kampungnya. Tiga kali dia merasakan pahitnya terusir. Pertama, saat kalian tanpa sebab mengusir Gintan dari perusahaan kalian. Kedua, saat dia di usir bibinya karena menolak perjodohan dengan Broto. Dan yang ketiga, dia diusir warga karena merasa terancam jika Gintani akan menggoda suami mereka. Video itu telah menghancurkan image-nya. Kalian bisa bayangkan fitnah keji yang merundungnya saat itu. Dan di waktu yang bersamaan, Broto mengancam Gintani, jika dalam waktu 1 x 24 jam Gintani tidak membayar hutang bibinya, maka Broto akan menjual seluruh organ tubuh kakek Wira. Itu fakta yang sebenarnya Ar! Itulah yang menjadi alasan dia menganiaya dirinya sendiri. Dan jika aku boleh jujur, semua ini mungkin tidak akan terjadi jika saja kamu tidak memecat dia secara sepihak!" tekan Alex di akhir kalimat.


Argha dan Bram sangat shock mendengar semua kebenaran tentang masa lalu Gintani. Sungguh mereka tidak menyangka jika awal dari penderitaan gadis itu adalah sikap arogansi seorang CEO egois. Untuk sejenak, Argha dan Bram saling pandang penuh penyesalan. Argha menundukkan kepalanya, entah apa yang sedang dia rasakan saat ini.


"Lalu apa yang terjadi, Al?" tanya Bram semakin penasaran. "Apa yang lo maksud dengan menganiaya dirinya sendiri? Apa yang telah dilakukan gadis itu?"


Pertanyaan Bram begitu menggebu-gebu. Dia menyadari jika dia pun memiliki andil dalam semua penderitaan yang menghampiri gadis itu.


"Hhhh... aku rasa, Argha lebih tahu apa yang selanjutnya terjadi pada diri gadis itu."


Bram mengalihkan pandangannya. Dia menatap tajam ke arah bosnya. "Jangan lo bilang, lo telah merusak hidupnya!" ujar Bram geram.


Bram memang sudah curiga saat Argha tidak pernah masuk kantor bertepatan dengan menghilangnya Gintani.


Argha semakin menundukkan kepalanya.


"Jawab gua, Ar!" teriak Bram menyambar jas Argha.


"Sorry!" hanya itu yang keluar dari mulut Argha.


"Damn! Brengsek lo, Ar! Lo benar-benar tega memanfaatkan gadis lemah itu! Sial!!"


Bugh...!


Karena merasa kesal, Bram ikut-ikutan melayangkan bogem mentah di rahang kanan Argha hingga Argha jatuh terjungkal. Sungguh, Bram sangat merasa bersalah karena telah menjadi bagian dari keegoisan sahabatnya. Bram hanya mampu terduduk lemah setelah mengetahui semua kebenaran tentang gadis yang tanpa sebab dia pecat atas perintah bosnya.


"Maafkan aku, Nona!"


Bersambung.....

__ADS_1


Terima kasih masih mendukung cerita recehan othor ini. Jangan lupa like, vote n komennya yaaa.... 🙏🤗


__ADS_2