
Ilona menyeringai dibalik pelukan Argha. Ternyata idenya untuk merobek baju sendiri, membuahkan hasil. Untung gue kepikiran buat merobek tuh baju. Kalau nggak, bisa mati kutu gue jika sampai kak Argha meragukan ucapan gue. Hmm, ternyata memang bener dugaan gue. Kalau sekedar omongan, mana mungkin kak Argha percaya jika dia telah berbuat tidak senonoh. Bener-bener jenius kamu, Ilo, batin Ilona memuji dirinya sendiri.
Tiba-tiba,
Brakk!
Pintu kamar hotel yang mereka tempati terbuka lebar.
"Wah-wah-wah.... Ini dia pasangan mesum kedelapan yang kita temukan, ckckck," ucap seorang Satpol PP yang datang ke kamar Argha bersama beberapa rekannya.
"Hei, apa-apaan iā"
Belum sempat Argha menyelesaikan kalimatnya, cahaya kamera telah menyilaukan mata.
"Dasar tidak tahu malu! Kalian itu sudah berumur, lebih baik kalian menikah daripada berbuat mesum seperti ini, huh!" dengus petugas itu dengan kesal.
"Jaga mulut kamu! Siapa yang berbuat mesum, hah?" teriak Argha sambil mengarahkan telunjuknya di depan petugas Satpol PP.
"Ish-ish-ish ... jangan marah seperti itu, anak muda. Pada kenyataannya, kamu telah berduaan dengan seorang wanita di kamar ini. Itu pun hanya mengenakan jubah handuk saja. Dan wanita itu, apa kamu tidak bisa melihat seperti apa keadaannya saat ini? Saya yakin, dibalik selimut itu, tersimpan tubuh polos tanpa busana. Cih, menyebalkan!" ucap petugas itu mencemooh sikap Argha yang sok merasa tidak bersalah.
Argha mendengus kesal. Dia sudah kehabisan kata-kata untuk berkelit. Faktanya, keadaan mereka berdua memang berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Malas meladeni ucapan si petugas, akhirnya Argha memilih untuk mengalah.
"Baiklah, dia calon istriku. Apa aku salah berduaan dengan calon istriku sendiri dalam sebuah kamar?" tanya Argha tak tahu malu.
Petugas itu meletakkan tongkatnya di atas bahu Argha. "Tentu saja itu salah anak muda. Negara kita menganut budaya timur. Jika kamu memang mengikuti aliran pergaulan bebas, sebaiknya kamu pindah kewarganegaraan, jelas!"
Petugas tersebut sangat geram mendengar jawaban Argha. Menurutnya, apa yang dikatakan Argha, itu sudah sangat melukainya sebagai warga negara yang memiliki adat kebudayaan timur yang sangat menyanjung norma dan kesopanan.
__ADS_1
Akhirnya, petugas Satpol PP itu membalikkan badan hendak keluar. Namun, dia menghentikan langkahnya sejenak.
"Pakai baju kalian dan turunlah! Saya tunggu dalam 10 menit di aula hotel!" perintahnya, sejurus kemudian para petugas itu pun pergi meninggalkan Argha dan Ilona yang hanya bisa saling pandang.
ššš
Setelah mengalami mimpi buruk, Gintani tidak bisa memejamkan matanya kembali. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan berwudhu. Lepas itu, Gintani menunaikan solat sunat tahajud sebanyak dua rakaat. Setelah solat, Gintani mengangkat kedua tangannya, lantunan do'a penuh ketulusan pun meluncur dari bibirnya. Dalam setiap do'anya, masih terselip sedikit do'a untuk kebaikan mantan suaminya. Mungkin pernikahan yang mereka jalani belum genap satu tahun, namun rasa yang terpatri dalam hati untuk sang suami, tidak bisa dia lepaskan begitu saja.
Hati Gintani masih merasa tidak nyaman, karena itu dia membuka tasnya. Gintani mengeluarkan Al-qur'an kecil yang selalu dibawanya di dalam tas. Perlahan, dia pun mulai mengaji untuk mencari ketenangan batin. Menit demi menit berlalu, hingga tanpa sadar, kumandang azan subuh pun mulai terdengar.
"Alhamdulillah hirobbil alamin," gumam Gintani. Selesai azan, dia pun berdiri untuk menunaikan solat subuhnya.
ššš
Argha segera mengenakan pakaiannya. Begitu juga dengan Ilona. Kemejanya yang sudah tidak layak pakai dia buang ke tempat sampah. Dengan terpaksa, Ilona mengenakan jaket Argha. Meskipun terlihat longgar, tapi Ilona tidak punya pilihan lain.
Argha tersenyum kecut menyadari kenyataan jika dia pun harus merasakan bagaimana terjaring razia oleh petugas Satpol PP.
Gila! Seorang CEO seperti gue harus disamakan dengan mereka yang tidak ada apa-apanya. Shitt! Kenapa juga Ilona harus memilih hotel seperti ini? Apa dia tidak bisa membawa gue ke tempat yang lebih berkelas? batin Argha.
Argha mendengus kesal, tapi dia tidak mampu berbuat apa-apa.
Satu per satu, para pasangan muda itu dipanggil ke depan untuk dimintai keterangan. Dimulai dari mengumpulkan KTP, atau identitas diri lainnya, dokumen-dokumen keabsahan hubungan mereka, dan alasan mereka ada di tempat ini. Begitu juga dengan Argha. Ilona dan Argha maju ke depan saat petugas Satpol PP memanggil nama mereka.
"Keluarkan kartu identitas kalian!" perintah petugas itu.
Argha dan Ilona segera mengeluarkan KTP-nya dari masing-masing dompet mereka.
__ADS_1
Setelah mengamati kedua KTP tersebut, petugas itu mengernyitkan dahinya.
"Kalian pasangan selingkuh?" tanya petugas itu dengan pandangan yang seolah sedang merendahkan.
Brak!
Argha berdiri sambil menggebrak meja petugas.
"Anda jangan sembarangan kalau bicara! Apa Anda tidak tahu Anda berhadapan dengan siapa, hah?" teriak Argha, geram.
"Hei anak muda, jangan pernah meninggikan suaramu di hadapan orang tua. Apa kalian tidak lihat jika petugas yang tengah berada di hadapan kalian itu jauh lebih tua daripada kalian?" Lagi-lagi si petugas yang membawa pentungan itu angkat bicara. "Duduk!" perintahnya lagi kepada Argha.
Tak ingin berdebat, akhirnya Argha kembali duduk.
"Dengar anak muda, aku punya alasan kenapa bertanya seperti itu. Di KTP ini jelas dikatakan jika kamu telah menikah. Sedangkan di KTP si wanita, tertulis dengan jelas jika wanita itu belum kawin. Artinya, wanita yang sedang bersama kamu ini, sama sekali belum menikah. Dan itu artinya lagi, satu-satunya kemungkinan dari semua ini adalah perselingkuhan. Jadi wajar kalau saya menduga jika kalian sedang berselingkuh di tempat ini. Iya, "kan?" Petugas itu menjelaskan praduganya.
Argha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penjelasan petugas itu. Sungguh tidak masuk akal, pikir Argha yang seolah sedang menolak kenyataan.
Setelah melewati beberapa pertanyaan, akhirnya Argha dan Ilona dibebaskan dengan syarat mereka menandatangani surat perjanjian di atas materai. Ya, mereka diberikan sanksi norma dengan membuat pernyataan surat penyesalan dan perjanjian bahwa mereka tidak akan pernah melakukan kegiatan perzinaan lagi.
Azan subuh mulai berkumandang saat Argha dan Ilona dibebaskan. Argha tampak sibuk mengotak-atik ponselnya. Terlihat jika dia sedang menghubungi seseorang. Tak lama kemudian, panggilan yang Argha lakukan mulai tersambung.
"Kamu datanglah ke hotel mawar tepatnya di jalan ...." Argha melirik papan nama yang terpampang jelas di depan hotel. "Jalan Raflesia. Sekarang!"
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaaa š¤š
__ADS_1