Takdir Gintani

Takdir Gintani
Menghapus Jejak


__ADS_3

Sebulan setelah kejadian menolak ta’aruf dan kejujuran Gintani. Hubungan Gintani dan sang kakek pun mulai membaik. Sedikit demi sedikit kakek Wira mulai bisa memahami kesulitan Gintani sehingga dia tega melepaskan masa depannya demi hidup dan kesehatannya. Hubungan yang awalnya canggung, kini berubah seperti biasanya. Kakek Wira mau menyapa kembali cucunya. Kakek Wira sadar, jika dia tidak lemah, mungkin nasib Gintani tidak akan menjadi seperti ini.


Namun meskipun menyesal, kakek Wira tidak mampu merubah takdir yang telah terjadi. Satu-satunya yang bisa dia lakukan saat ini adalah melantunkan do’a agar kehidupan Gintani menjadi lebih baik. Dia berharap, suatu hari nanti, Gintani bisa merasakan kebahagiaan seperi gadis pada umumnya.


“Kamu nggak ngaji hari ini, Tan ? Bukankah hari ini jadwal pengajian di majlis ta'lim yang sering kamu ikuti ?” tanya kakek Wira pada saat mereka sedang melakukan sarapan.


Gintani hanya diam seraya mengaduk-aduk makanannya saja. Ah entah kenapa rasanya hari ini dia enggan untuk pergi ke pengajian. Sejak dia mengetahui niat ustadz Husni, dia menjadi tidak bersemangat untuk mengikuti pengajian lagi. Dia terlalu takut jika hati yang selalu dia jaga keikhlasannya dalam menimba ilmu, akhirnya harus ternoda karena melihat pesona ustadz Husni. Jika Gintani boleh bersikap egois, Gintani juga terpesona dengan ketampanan yang dimiliki ustadz muda itu. Namun Gintani orang yang sangat sadar diri. Jejak masa lalunya tidak akan mungkin membiarkan laki-laki itu memasuki singgasana yang telah hancur di hatinya.


“Tan, kakek ngomong kok malah kamu acuhkan ?” tegur kakek Wira.


“Eh….ma…maaf, kek ! Tadi kakek nanya apa ?” tanya Gintani yang memang tidak mendengar pertanyaan kakeknya karena melamun.


“Kenapa kamu belum siap-siap berangkat ke pengajian ? Sebentar lagi Raisya pasti datang buat jemput kamu." kakek Wira mengulang pertanyaannya.


Gintani tersenyum. "Kakek tenang saja, Raisya tidak akan datang kok !" ucap Gintani. "Semalam Gintan sudah kirim pesan ke Raisya, kalau Gintan nggak akan ikut pengajian dulu. Gintan mau bantuin mang Rakib sama bik Susan buat panen pepaya." ucap Gintani. "hari ini pepaya nya dipanen kan, kek ?"


Kakek Wira hanya tersenyum tipis mendengar alasan gadis itu. "Kakek tahu nak, semua ini pasti karena ustadz muda itu kan ? Kamu tidak ingin melihat raut wajah kecewa dalam diri ustad itu, benar begitu ?" tanya kakek Wira. "Kamu tidak usah khawatir, semuanya akan baik-baik saja." lanjutnya lagi.


Gintani kembali tersenyum.


"Ya sudah, lanjutkan makannya ! Kakek mau ke belakang dulu untuk cek semua persiapan panen kita nanti !” ujar kakek Wira.


Gintani pun mengangguk dan mulai kembali menyendok makanannya. Selang beberapa menit, Gintani telah selesai dengan acara makannya. Seperti biasanya, dia pergi ke dapur untuk mencuci piring bekas makan dirinya dan kakek Wira. Setelah pekerjaan dapurnya selesai, Gintani pun pergi ke kebun kakeknya untuk membantu sang kakek yang sedang memanen pepayanya.


Tiba di sana. Gintani melihat sudah ada belasan warga yang akan membatu mereka untuk memetik papaya. Maklumlah, kebun milik kakeknya sangatlah luas, sehingga tidak akan selesai dalam waktu sehari jika mang Rakib dan bik Susan memanennya sendirian. Karena itu mereka meminta warga untuk membantunya.


Gintani sangat senang mencoba hal yang baru baginya. Selama 2 tahun ke belakang ini, dia hanya disibukkan denagn belajar menjahit. Sebenarnya Gintani sendiri sudah sangat mahir untuk menjahit pakaian. Tapi dia belum punya keberanian untuk membuka usaha jasa menjahit. Selain dia merasa takut tak cocok dengan pelanggannya, dia juga merasa tak enak jika harus bersaing dengan gurunya sendiri. Hmmm. Padahal rezeki sudah ada yang mengatur. Berali-kali bu Aisyah sendiri menyarankan Gintani untuk membuka usaha jahit, tapi Gintani tak mendengarkannya. Dia malah memilih unuk membantu usaha jahit bu Aisyah.


Matahari terus merangkak dari peraduannya. Sinarnya sudah tampak menyebar ke seluruh alam. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 lewat. Bik Susan mulai memanggil para pekerja untuk beristirahat sejenak dan menikmati aneka kue yang sudah bik Susan siapkan sedari malam. Saat Gintani sedang menikamti kue talam kesukaannya, tiba- tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang.


“Astagfirulloh !” ujar Gintani tersentak kaget. Seketika dia menengok ke belakang. Tampak Raisya tengah berdiri di belakangnya. "Ish, Sya! Kamu ngagetin aja !" ucap Gintani sedikit menggerutu.


“He…he..he, maaf !” jawab Raisya hanya bisa nyengir tanpa merasa bersalah.


"Baru pulang ngaji, nak Raisya ?"

__ADS_1


Tiba-tiba kakek Wira sudah berdiri di hadapan mereka.


“Eh, iya kek !” jawab Raisya. “Eh kakek Wira, boleh tidak Raisya ajak Gintani main ke Curug Cimedang ?” tanya Raisya lagi.


Kakek Wira tersenyum, dia pun menyetujui ajakan Raisya.Ya, siapa tahu dengan Gintani pergi menikmati kesejukan di curug (air terjun) itu, kegundahan di hatinya akan menghilang.


Tanpa berganti pakaian, Gintani pun menerima ajakan sahabatnya. Dengan berjalan kaki mereka menyusuri jalan setapak sejauh beberapa kilo meter. Akhirnya Gintani dan Raisya tiba di Curug Cimedang.



Curug Cimedang terletak di Kampung Malaganti, Desa Raharja, Kecamatan Sariwangi. Jaraknya sekitar 1 km dari kebun milik kakek Gintani. Curug ini masih menjadi bagian dari Gunung Galunggung. Memiliki air terjun setinggi 5 meter dan kolam kecil di bawahnya


Air kolamnya sangat jernih dan menyegarkan. Dengan lebar mencapai 10 meter dan kedalaman sekira 1,5 meter, membuat kolam ini aman untuk dijadikan tempat bermain air. Suasananya juga sejuk dan teduh karena banyak pepohonan di sekitarnya.


Curug ini memiliki keunikan tersendiri, yaitu di sisi sebelah kirinya terdapat dinding berongga seperti mulut goa. Banyak pula spot menarik yang bisa dijadikan latar belakang untuk berfoto. Curug ini masih belum banyak dikunjungi wisatawan, karena memang masih belum begitu dikenal. Hal itu membuat banyak pengunjung bisa berfoto seorang diri dengan latar belakang air mengalir dan juga kolamnya. Hingga menambah kesan Curug tersebut seakan milik pribadi. 🤭🤭


Gintani sangat terkejut ketika dia melihat seorang lelaki tengah duduk di sebuah batu dekat kolam Cimedang. Dia menatap Raisya dengan sebuah tanya, apa maksudnya ini Sya ?


Raisya menggenggam tangan Gintani, "Maaf Tan, ustadz Husni yang memintaku untuk melakukan semua ini. Beliau hendak berbicara denganmu. Pergilah !" ucap Raisya.


"Dengar sobat, aku tahu kau memiliki masalah dengan ustadz Husni. Pergilah dan selesaikan masalahmu ! Aku akan menunggumu di sini !” ujar Raisya lagi.


Gintani hanya bisa menatap Raisya. Sungguh saat ini perasaannya benar-benar kacau. Tapi Gintani tak punya pilihan lain selain mendekati laki-laki bersorban itu. Bagaimanapun juga, laki-laki itu telah melihat kedatangannya. Mustahil bagi Gintani untuk menghindar lagi.


“A…assalamu'alaikum, ustadz !” ucap Gintani saat dia berhadapan dengan ustadz muda itu.


Ustadz Husni tersenyum, ah sungguh senyum yang bisa meluluhkan hati setiap wanita.


"Wa'alaikumsalam !" jawabnya. "Apa kabar, Tan ?” tanyanya lagi.


“Ba…baik…!” jawab Gintani gugup.


"Alhamdulillah. Aku pikir kamu sakit, karena aku tidak melihatmu saat pengajian tadi. Duduklah, Tan !" pinta ustadz Husni mempersilakan Gintani duduk di sampingnya.


Gintani mengangguk, dia pun duduk di samping ustadz Husni.

__ADS_1


Ustadz Husni bergeser, mencoba memberikan jarak antara dirinya dengan gadis yang telah menolak berta’aruf dengannya. Keheningan terjadi untuk beberapa menit.


“Ma…maafkan Gintan, ustadz !” suara lemah Gintani memecah kesucian di antara mereka.


Dengan masih menatap air terjun kecil itu, ustadz Husni hanya tersenyum mendengar ucapan Gintani.


"Sudahlah, lupakan saja, Tan ! Semua itu memang salahku. Aku tidak pernah bertanya tentang kesiapan hatimu dan aku juga tidak bisa mencegah abi dan umi yang terlalu bersemangat untuk mencari jodoh untukku. Maafkan aku, Tan !" ujar ustadz Husni.


Gintani hanya bisa diam mendengar penuturan ustadz Husni.


"Boleh aku bertanya sesuatu ?” tanya ustadz Husni.


Gintani hanya mengangguk.


“Apakah kamu tak pernah memiliki rasa untukku ?” tanya ustadz Husni lagi, dengan pandangan mata yang masih menatap air Curug yang saling berlomba berlarian untuk tiba di kolam bawah.


Gintani terkejut mendengar pertanyaan ustadz Husni yang mengingatkan dia akan masa lalunya.


"Ma…maaf ustadz. Ji..jika Gintan boleh jujur. Gintan telah menghapus jejak rasa itu dari hati Gintan sendiri. "Tolong jangan pernah bertanya apa alasannya. Karena Gintan tidak akan pernah bisa mengatakan sebuah alasan untuk hal itu. Terima kasih atas niat baik ustadz, dan Gintan minta maaf karena telah mengecewakan ustadz." ucap Gintani seraya berdiri untuk meninggalkan ustadz Husni.


"Aku tidak akan berkeberatan jika kau ingin menghapus jejak rasa itu.Tapi bisakah kau membiarkan aku untuk mengukir jejak yang baru untuk rasa yang baru di hatimu ?” tanya ustadz Husni.


Gintani diam. Bayangan Argha yang mengecup keningnya penuh kelembutan mulai menyeruak dalam ingatannya.


"Maaf ustadz ! Ada baiknya ustadz mengukir jejak itu dengan wanita yang sepadan dengan ustadz sendiri. Dan wanita itu bukanlah aku. Permisi, assalamualaikum !"


Gintani meninggalkan ustadz Husni yang tengah mencoba meredam gemuruh hatinya yang terluka karena penolakannya. Setelah itu, Gintani pun meminta Raisya untuk mengantarkannya pulang. Jujur saja ini baru pertama kalinya dia melakukan perjalanan ke Curug Cimedang. Karena itu dia belumu hafal jalannya.


Sepanjang jalan, mereka hanya bisa diam dengan pemikirannya masing-masing.


Bersambung....


Mohon maaf telat up yaaa


Semoga masih menyukai ceritanya

__ADS_1


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗


__ADS_2