Takdir Gintani

Takdir Gintani
Batas Kesabaran Seorang Istri


__ADS_3

Langkah Argha seketika terhenti mendengar pertanyaan seorang wartawan.


"Ya, bagaimana dengan istri Anda? Apa dia tahu jika Anda telah berselingkuh?" Wartawan yang lain menimpali pertanyaan wartawan wanita tadi.


Argha menyambar mikrofon yang sedang dipegang si moderator.


"Saya tegaskan kepada kalian. Saya sudah tidak ada hubungan apa pun lagi dengan istri saya!" jawab Argha dengan tegas.


"Tapi kenapa, Tuan. Bukankah hubungan Anda selama ini terlihat begitu harmonis. Apa istri Anda meninggalkan anda karena orang ketiga itu? Apa wanita itu seorang pelakor?" Wartawan itu bertanya lagi. Namun, kali ini pertanyaannya menyudutkan Ilona.


Ilona geram, rasanya dia ingin merobek mulut wartawan wanita itu. Tapi mengingat ini adalah tempat umum, ditambah lagi kehadiran ayahnya Argha, maka dia pun berusaha untuk tenang dan menjaga image-nya


"Saya tegaskan kepada kalian. Ilona, bukanlah pelakor. Hubungan saya dan istri saya sebenarnya sudah lama tidak begitu baik. Puncaknya pada saat saya menemukan dia tengah bermain gila dengan laki-laki lain. Dan kalaupun ada yang harus disalahkan atas skandal yang terjadi pada malam itu, dia adalah mantan istri saya. Karena dialah saya seperti itu," ucap Argha penuh emosi.


Semua wartawan tampak terkejut dengan apa yang dikatakan Argha.


Argha menghela napasnya sejenak, kemudian dia menatap tajam ke arah salah satu kamera TV yang sedang on.


"Dan kamu Gintani, di mana pun kamu berada, saya pastikan jika hidupmu tidak akan pernah baik-baik saja! Seorang pengkhianat sepertimu tidak akan pernah merasa tenang dalam menjalani kehidupan. Aku, Argha Putra Adisastra, bersumpah bahwa kamu tidak akan pernah merasa bahagia, selamanya!"


Argha mengakhiri kalimatnya penuh penekanan. Setelah meluapkan emosinya, dia pun berlalu begitu saja meninggalkan konferensi pers yang belum diakhiri.


Tuan Jaya tampak menundukkan wajahnya. Jari telunjuk kanannya memijat pelipis yang terus berdenyut. Sungguh konferensi pers ini diluar ekspektasinya. Bukan ini yang Tuan Jaya harapkan dari niatnya untuk meluruskan permasalahan yang ada.


Akhirnya para wartawan itu kembali riuh dengan gumaman-gumaman miring yang menduga-duga prahara dalam rumah tangga sang CEO.


🍀🍀🍀


Sementara itu, di lain tempat. Jessica dan Gintani tampak antusias menyimak konferensi pers yang disiarkan secara langsung dari ballroom hotel Crown.

__ADS_1


"Ish, sejak kapan Argha minum minuman keras?" tanya Jessica saat menyimak pernyataan Argha.


"Entahlah," jawab Gintani mengedikkan bahunya.


Tak lama kemudian, mulut Jessica dan Gintani menganga lebar saat Argha membongkar aib pernikahannya.


Gintani tampak terkejut mendengar pernyataan Argha. Dia tidak pernah menyangka bahwa dia akan kembali mendapatkan hinaan meskipun kehidupannya telah menjauh dari seorang Argha.


"Tega kamu, mas... tega kamu berkata seperti itu hanya untuk membohongi publik. Ya Tuhan, mas ... aku tidak menyangka kamu bisa sekejam ini," gumam Gintani yang masih bisa di dengar Jessica.


Jessica merangkul pundak Gintani dan menariknya ke dalam pelukannya.


"Sabar ya, Gin. Aku juga tidak menyangka Argha bisa berbicara sekejam itu," ucap Jessica.


Gintani hanya tersenyum kecut.


"Gintan bersyukur Mbak, musibah yang menimpa Gintan justru membuat Gintan mengetahui seperti apa rupa mas Argha yang sebenarnya," ucap Gintani. "Melihat hal ini, Gintan semakin yakin jika niat Gintan untuk menjauhkan anak ini dari ayahnya, itu adalah jalan yang terbaik," lanjut Gintani.


"Iya, Mbak. Tekad Gintan sudah bulat. Gintan tidak akan memberitahu mas Argha tentang anak ini."


"Tapi Gin, anakmu berhak tahu siapa ayahnya."


Gintani menggelengkan kepalanya.


"Untuk apa, Mbak? Untuk mendapatkan rasa malu? Mbak sendiri sudah melihat kelakuan mas Argha, bukan?"


"Gin, aku minta maaf ... bukannya aku mau menggurui atau mau mengingatkan masa lalu aku dengan Argha. Tapi, dua tahun lebih aku mengenal Argha. Aku tahu jika dia bukan orang yang seperti itu. Argha selalu menjaga kehormatannya, karena dia selalu ingin memberikannya kepada Na, cinta masa kecilnya. Dan aku yakin, jika berita tentang skandal Argha di televisi, aku yakin itu hanya sebuah jebakan."


"Huh, jebakan...." Gintani tersenyum sinis. "Dia bilang sendiri pada petugas itu jika Ilona adalah calon istrinya. Jika itu memang jebakan, apa dia akan bisa berbicara selancar itu, Mbak?"

__ADS_1


"Gin, aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya padamu. Yang aku tahu, Argha tidak mungkin melakukan perbuatan hina itu."


"Oke, katakanlah itu sebuah jebakan. Tapi, apa pantas dia berbicara seperti itu di hadapan publik? Katakanlah dia menuduhku yang tidak-tidak, tapi apa pernah dia mencari kebenarannya? Ini adalah aib rumah tangga kami, kenapa dia tidak bisa menutupinya? Kenapa dia malah membongkarnya di hadapan publik? Jika dia tidak bisa menjaga harga dirinya sendiri, lalu bagaimana dia bisa menjaga harga diri anak dan istrinya? Sudah cukup, Mbak. Kesabaran Gintan sudah mencapai batasnya. Gintan tidak ingin dia tahu kondisi Gintan yang sebenarnya. Gintan juga tidak mau anak Gintan merasa sakit hati dengan perbuatan dia terhadap ibunya. Jadi, akan jauh lebih baik jika anak Gintan tidak tahu apa-apa tentang ayahnya," ucap Gintani penuh emosi.


Jessica hanya bisa menghela napasnya. Baru kali ini dia melihat kemarahan Gintani. Ya, mungkin inilah yang dinamakan puncak batas kesabaran seorang istri yang terus disakiti. Meski banyak yang mengatakan kesabaran itu tak berbatas, tapi tak ada seorang pun wanita yang ingin terus tersakiti oleh sikap sang suami. Terlebih lagi, tugas utama seorang suami adalah melindungi istri dan anaknya. Tapi Argha??


🍀🍀🍀


Plak!


Lagi-lagi, Argha mendapatkan tamparan dari Tuan Jaya.


"Kali ini apa kesalahan Argha, Pa? Kenapa Papa terus menampar Argha?" protes Argha kepada ayahnya.


Tamparan itu khusus untuk semua kebodohanmu! Bisa-bisanya kamu membawa nama mantan istri kamu dalam skandal yang kamu buat, hah?" ucap Tuan Jaya dengan geram.


"Tapi itu kenyataannya, Pa! Semua skandal ini tidak akan pernah terjadi jika wanita itu tidak berselingkuh! Argha tidak mungkin mabuk-mabukan jika Gintani tidak mengkhianati semua rasa cinta dan kepercayaan Argha, Pa!" teriak Argha.


"Oke, anggap saja dia ikut andil dalam skandal yang sudah kamu buat. Tapi, apa kamu pernah berpikir alasan Gintani melakukan itu, hah? Bisa saja Gintani melakukan semuanya hanya untuk membalas semua perbuatan kamu. Bukankah kamu juga pernah menghilang selama dua hari bersama wanita itu? Iya, 'kan? Apa kamu bisa kamu membayangkan bagaimana perasaan Gintani waktu itu? Tapi, pernahkah dia mencoreng nama baik kamu di hadapan publik? Pernahkah dia menjelek-jelekkan nama kamu di depan kolega-kolega kamu dan Papa? Padahal kesalahan kamu pada Gintani tidak hanya sekali dua kali saja. Tapi kamu? Aaargh....! Papa sudah tidak pernah bisa mengerti lagi jalan pikiran kamu, Ar!" ucap Tuan Jaya, berlalu pergi dari hadapan Argha dan Ilona.


Ilona mendekati Argha.


"Maafkan aku, Kak. Aku benar-benar tidak menyangka jika niat aku menolong Kakak, justru malah menghancurkan nama baik Kakak," ucap Ilona, kembali bersandiwara.


Ilona menundukkan kepalanya. Kedua bahunya sedikit berguncang karena menahan tangis. Air mata buaya pun mulai lolos dari kedua mata Ilona yang berwarna kecoklatan.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Ini bukan kesalahan kamu, Na. Aku yakin kita bisa menemukan jalan keluar dari masalah ini." Argha berusaha menghibur Ilona.


"Kakak ... apa Kakak akan menikahi aku?"

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaaa 🤗🙏


__ADS_2