
Argha berjalan memasuki ruangan tersebut. Gaun pengantin dengan warna burung angsa bak rajutan kain spesial yang menyulap siapa saja menjadi sang dewi. Jelitanya tak berujung waktu matahari, juga tak hilang menemani petang cahaya rembulan hingga fajar mengintip pagi. Ekor panjang yang mengembang membuka mata para penikmatnya, tak membiarkan mereka berlalu tanpa menoleh kepada keanggunan pemakainya. Baju pengantin itu menjadi magnet tersendiri bagi Argha untuk mendekat.
Argha menyentuh baju yang terasa lembut di tangannya. Entah kenapa, baju itu mengingatkan Argha pada seseorang. Baju ini akan semakin terlihat indah jika kamu yang memakainya, batin Argha.
"Mbak, tolong bungkus baju pengantin ini," pinta Argha pada salah seorang pelayan di butik itu.
"Tapi, aku tidak suka pakaian pengantin dengan model seperti itu, Kak," protes Ilona.
"Terus, kamu maunya model yang gimana?" Argha mulai jengah melihat sikap Ilona.
"Aku mau baju pengantin yang mewah, elegan dan berkualitas. Memiliki taburan berlian di sekitarnya. Pasti aku akan terlihat semakin cantik jika memakai baju itu," jawab Ilona.
"Ya Tuhan ... Kakak sudah tidak tahu lagi harus bersabar seperti apa," geram Argha. Dia kemudian mengambil dompetnya dari saku celana dan mengeluarkan sebuah kartu sakti berwarna hitam. "Ini, pilihlah baju yang kamu sukai. Kakak tidak bisa menemani kamu lagi, siang ini Kakak ada meeting di kantor," ucap Argha.
"Tapi Kak ...."
"Ilona, please! Kakak sudah tidak punya banyak waktu lagi,"
"Tapi aku, 'kan, butuh pendapat dari Kakak."
"Apa pun yang akan kamu pilih, Kakak pasti akan menyukainya, oke? Sekarang, belanjalah dan biarkan Kakak pergi!"
"Oke!"
Cup!
Tanpa tahu malu, Ilona memgecup bibir Argha sekilas, hingga membuat Argha terpaku untuk beberapa saat.
Setelah Argha pergi. Ilona kembali menyusuri deretan gaun pengantin yang cukup membuat matanya terbelalak.
🍀🍀🍀
Djenar turun dari mobil yang dikendarai ayahnya. Keningnya sedikit mengernyit melihat suasana rumah yang di sampingnya terdapat bangunan besar.
"Pondok pesantren Nurul Huda," gumam Djenar. "Jadi, Ayah hendak mengirim aku ke tempat ini?" tanya Djenar, dingin.
"Bukan, Nak. Ini rumah calon suami kamu," jawab ayahnya Djenar.
"Apa? Ayah, Djenar sudah bilang kalau Djenar belum mau menikah. Sekolah Djenar hanya tinggal setahun lagi, masa iya Djenar harus keluar tanpa mendapatkan ijazah SMA," kata Djenar penuh emosi.
"Dasar anak nakal, memangnya siapa yang mau menikahkan kamu sekarang, hah?" ucap ayahnya.
Djenar diam. Dia pun hanya mengikuti langkah ayahnya yang telah berlalu pergi menuju rumah berlantai dua.
Ting tong! Ting tong!
Pak Bayu menekan bel pintu. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya membukakan pintunya.
"Selamat sore, Mbakyu!" sapa pak Bayu pada wanita itu.
"Selamat sore Mas. Mari silakan masuk!" Umi Kulsum mempersilakan tamunya masuk.
Pak Bayu dan anaknya memasuki ruang tamu.
"Silakan duduk. Sebentar ya Mas, saya panggilkan abinya Husni dulu," ucap umi Kulsum.
Umi Kulsum pamit ke belakang untuk memanggil suaminya. Tak lama berselang dia datang sambil membawa minuman dan beberapa toples kue untuk disuguhkan kepada tamunya. Abi Hasan berjalan di belakang umi Kulsum.
"Assalamu'alaikum, apa kabar Bay?" sapa abi Hasan kepada tamunya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kabar saya baik Mas," jawab pak Bayu.
"Apa kabar Djenar, bagaimana sekolahnya? Lancar?" tanya abi Hasan kepada putrinya pak Bayu.
"Lancar," jawab Djenar, singkat.
"Ah, syukurlah kalau begitu," ucap abi Hasan.
"Oh iya, Mas. Kedatangan Bayu kemari, seperti apa yang kemarin Bayu bicarakan kepada Mas dan juga Mbakyu. Bayu mau menitipkan Djenar untuk beberapa hari, karena Bayu ada urusan dinas ke luar kota. Kebetulan, pembantu di rumah juga sedang cuti. Jadi, Bayu khawatir jika harus meninggalkan Djenar sendirian di rumah. Itu pun jika Mas dan Mbakyu tidak keberatan," tutur pak Bayu.
"Kamu ngomong apa sih, Bay. Tentu saja Djenar bisa tinggal di sini. Bukankah suatu hari nanti, rumah ini akan menjadi rumahnya juga?" jawab abi Hasan.
Mendengar hal itu, Djenar hanya memutar bola matanya, jengah.
"Alhamdulillah ... mohon maaf jika merepotkan, Mas, Mbak."
"Tidak merepotkan sama sekali, Bay. Kamu tenang saja. Djenar aman tinggal di sini," jawab abi Hasan.
"Iya, Mas, abinya Husni benar. Sama sekali tidak merepotkan, justru saya senang Djenar bisa liburan di sini. Sekalian menemani Jessica," timpal umi kulsum.
Abi Hasan dan umi Kulsum sangat senang dengan kedatangan calon menantunya yang akan berlibur di tempatnya. Setelah cukup lama berbincang-bincang, akhirnya pak Bayu pamit undur diri karena harus mempersiapkan keberangkatannya esok hari.
"Ayo Nak Djenar, Umi antar ke kamar kak Jessi," ajak umi Kulsum.
Dengan perasaan dongkol, Djenar pun mengikuti ajakan umi Kulsum.
🍀🍀🍀
Malam ini, keluarga Amijaya mengadakan makan malam bersama keluarga Ilona dengan Hendra sebagai walinya. Mereka hendak menetapkan tanggal pernikahan Argha dan Ilona. Perdebatan kecil terjadi pada saat menentukan tema pernikahan.
"Tidak, pokoknya aku ingin pernikahan yang mewah dan megah, Kak. Supaya semua orang tahu jika aku akan menjadi Nyonya Adisastra," ucap Ilona dengan bangganya.
Tuan Jaya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istri dan calon menantunya.
"Tapi, Na ... ini pernikahan kedua Kakak. Tak perlu mewah-mewah, yang penting kita sah di mata hukum dan agama," ucap Argha yang merasa keberatan pernikahannya diselenggarakan secara besar-besaran
"Tidak bisa Kakak. Mungkin ini yang kedua bagi Kakak, tapi ini tetap yang pertama bagiku. Jadi, aku ingin pesta pernikahanku diselenggarakan secara meriah."
"Tidak bisa Na, Ka–"
"Sebentar Kak,"
Ucapan Argha terpotong saat ponsel Ilona berbunyi. Ilona merogoh benda pipih itu dari dalam tasnya. Railut wajah Ilona berubah saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Permisi, saya angkat telepon dulu," ucap Ilona. Sejurus kemudian dia pergi ke belakang untuk mengangkat teleponnya.
"Hallo!" sapa ilona.
"Apa kamu sudah transfer uangnya?"
"Aku sudah bilang, aku tidak punya uang."
"Jangan banyak alasan Ilona. Atau kamu mau, aku mengadukan semuanya kepada tuan Argha?"
"Apa kamu mengancamku?"
"Anggap saja seperti itu. Ingatlah Ilona, jika sampai besok kamu tidak juga mentransfer uang itu, maka jangan salahkan jika aku bongkar semua rahasiamu!"
"Jangan pernah berani-beraninya mengancamku, wanita busuk!"
"Hahahaha, siapa yang lebih busuk di antara kita Ilona, aku atau kamu. Kita lihat saja nanti, pada akhirnya aku atau kamu yang akan dipercaya oleh Argha!"
__ADS_1
Tut... tut... tut...
"Shitt!" Ilona memukul dinding dengan kerasnya.
Sementara itu di balik koridor, wajah Nadhifa memerah mendengar pembicaraan Ilona dengan seseorang. "Sudah kuduga, wanita itu bukan wanita baik-baik," guman Nadhifa.
🍀🍀🍀
Di kamar jessica.
Djenar mengotak-atik kameranya. Ya, selain balapan, hobi gadis tomboy ini adalah nge-vlog. Baginya, menjelajahi tempat tanpa mengabadikannya rasanya belum sempurna.
Dari atas ranjang, Jessica memperhatikan dengan seksama apa yang tengah dilakukan oleh calon adik iparnya itu.
"Kamu vlogger?" tanya Jessica.
"Ya, bisa dibilang seperti itu," jawab Djenar sambil terus membersihkan kameranya.
"Sudah banyak bikin cerita?" tanya Jessica lagi.
"Lumayan," jawab Djenar.
"Channel-nya apa, biar aku like and subscribe," ucap Jessica.
"Aku nggak post untuk umum. Hanya sekedar hobi saja," jawab Djenar.
"Boleh aku lihat?"
"Tuh, di laptop!"
Djenar menunjuk komputer lipatnya.
Karena penasaran, Jessica membuka laptop "Djenar, nama file-nya apa?" tanya Jessica.
"Mycam," jawab Djenar.
Jessica pun mulai membuka satu per satu video yang berada dalam file tersebut. Hingga di video ketiga terakhir, mata Jessica membelalak sempurna.
"Nar, video ini?" tunjuk Jessica.
Djenar melirik laptopnya. "Oh, itu video yang aku ambil beberapa bulan yang lalu."
"Sepertinya, ini sebuah rumah sakit?" tanya Jessica lagi.
"Iya, itu di depan rumah sakit Harapan. Waktu itu aku sedang mengantarkan teman yang mengalami kecelakaan saat balapan."
Jessica kembali memperhatikan video tersebut.
"Nar, apa video ini sudah kamu edit?"
"Ya, Kak. Aku edit sebagian. Karena waktu itu terjadi kecelakaan di depan rumah sakit tersebut."
"Apa kamu punya file mentahnya?"
Djenar hanya menatap tak mengerti kepada Jessica.
"Jawab Kakak, apa kamu punya file mentahnya?"
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗
__ADS_1