Takdir Gintani

Takdir Gintani
Bukan Dia!


__ADS_3

"Makanlah!" Argha menyodorkan nampan yang berisikan makanan.


Gintani menerima nampan itu dan meletakkannya di atas pangkuan. Perlahan, dia mulai menyendok makanannya.


Argha tersenyum, dia menyeka sisa air mata di pipi Gintani. "Aku ke kamar mandi dulu!" ujarnya.


Sepeninggal Argha, Gintani membawa nampan itu keluar. Dia pun melanjutkan makannya di meja makan.


🍀🍀🍀


Di kediaman Tuan Jaya.


Jessica tampak uring-uringan saat mengetahui Gintani meninggalkan rumah dan belum kembali juga. Hari sudah menjelang malam, tapi dia belum datang juga. Kemana sebenarnya dia? Apa aku tanya tante Ros saja?


Jessica segera merapikan rambutnya. Dia kemudian keluar dari kamarnya untuk mencari Nyonya Rosma.


Di ruang keluarga, Jessica melihat Nadhifa yang sedang asyik menonton drama korea. Dia pun mendekati Nadhifa.


"Lagi ngapain, Fa?" tanya Jessica


"Menurut lo?" jawab Nadhifa ketus.


Jujur saja, Nadhifa masih merasa kesal akan keberadaan Jessica di rumahnya. Gara-gara dia, kakaknya membawa pergi Gintani dari rumahnya. Padahal baru beberapa hari yang lalu, hidup Nadhifa jauh lebih berwarna karena kehadiran kakak iparnya.


"Lo kenapa sih, Fa? kayaknya benci banget sama gue?"


"Idiih... Ge er!"


"Fa, bisakah kita menjadi teman?"


"Sorry, teman Dhifa sudah banyak. Lagian, Fa nggak butuh temen yang suka gangguin rumah tangga orang."


"Maksud lo apa?"


"Udah deh kak, nggak usah ngeles lagi. Lo ke sini buat gangguin kak Gintani sama kak Argha, kan? Huh, untung saja kak Argha gercep. Kalau nggak, bisa hancur rumah tangganya karena ulah kakak."


"Dhifa, lo jangan fitnah gua ya!"


"Fitnah?? Hay, hallo... lo sadar diri dong! Gua nggak fitnah lo! Gue ngomong yang sebenarnya. Jangan lo pikir, gue nggak tahu kelakuan lo di belakang kita. Apa maksud lo jelek-jelekin kak Gintani di depan mamah, hah!"


"Fa, gua ngomong seadanya. Malam itu, gua emang pernah menemukan Gintani dalam keadaan pingsan. Asal lo tahu, pembantu gua, dia menemukan bercak darah di sekitar pangkal paha Gintani saat dia mengganti pakaian Gintani. Dan gua ngerasa, Gintani itu bukan orang baik-baik, Fa!"


"CUKUP!!"


Tiba-tiba, terdengar teriakan keras dari arah belakang mereka.


"Om... "


"Dengar Jessica, jika kamu masih ingin tinggal di sini, jangan pernah mencampuri urusan keluarga kami. Jika tidak... kamu tahu pintu rumah ini di mana!"


"Ma... maaf om!"


🍀🍀🍀


Apartemen Argha.


"Kamu belum ganti baju juga?" tanya Argha ketika melihat istrinya masih mengenakan gamisnya.


"A... aku... aku risih harus terus memakai baju tidur seperti itu, Tuan!"


"Kenapa? Di hotel, sepertinya biasa saja."

__ADS_1


"Ya waktu di hotel kan terpaksa, Tuan. Lagipula, kita menginap di sana hanya beberapa hari. Kalau sekarang, aku akan menjalani waktu yang cukup lama di sini. Masak aku harus mengenakan baju seperti itu terus!" ujar Gintani seraya mengerucutkan bibirnya.


Argha semakin gemas melihat tingkah istrinya. Dia menyimpan buku yang tengah di bacanya. "Bersiaplah!" perintah Argha.


"Maksud Tuan?"


"Kita akan belanja semua kebutuhan kamu dan juga kebutuhan rumah. Mulai sekarang, aku percayakan apartemen ini kepadamu. Aku ingin kau mengurusnya dengan baik. Bisa, kan?"


Dengan malu-malu, Gintani mengangguk untuk menyanggupi perintah suaminya. Meskipun hanya untuk satu tahun lebih, dia sudah cukup senang diberikan kepercayaan sebesar itu oleh suaminya. Bukankah ini tugas yang akan memberikannya pahala yang berlipat ganda??


Argha segera mengganti piyamanya dengan pakaian yang cukup pantas untuk keluar. Dia menyambar kunci mobilnya yang berada di meja televisi.


"Are you ready, Swety?" teriaknya.


Gintani segera berlari ke luar kamar ketika mendengar suaminya berteriak.


Argha tersenyum melihat paras cantik istrinya dalam balutan pashmina berwarna dusty. "Ayo, Swety!"


"Tunggu sebentar.. Tuan?" ujar Gintani, pelan.


"Kenapa?" tanya Argha, menghentikan langkahnya.


"A... aku ingin bicara sebentar, bolehkah?"


"Hmm... bicaralah!"


To... tolong jangan panggil aku Swety! Aku... aku kurang nyaman mendengarnya."


"Kenapa?"


"Entahlah. Tapi apa Tuan tahu jika itu adalah nama untuk popok baby? Aku merasa sangat aneh saat Tuan memanggilku Swety, kenapa nggak sekalian panggil aku aja mommy koko?" ucap Gintani semakin memonyongkan bibir tipisnya.


"Tapi aku tidak suka!" rengut Gintani.


"Baiklah-baiklah... aku tidak akan memanggilmu seperti itu lagi! Tapi aku juga punya satu permintaan padamu, boleh?"


"Asal jangan yang macam-macam."


"Nggak macam-macam, kok! Hanya satu macam saja, he... he.. he..," kekeh Argha.


"Tuaannn...." Kembali Gintani merengut mendengar kekehan suaminya.


"Iya sayang, iya.... Dengar, mulai sekarang, jangan panggil aku Tuan! Aku tidak ingin orang lain beranggapan buruk tentang kita. Mengerti?


"Lalu, aku harus panggil apa?"


"Ya terserah! Carilah nama panggilan yang sesuai untuk wajahku yang tampan, tubuhku yang atletis dan otakku yang brilian ini."


"Hmm..., narsis! Baiklah, aku akan memanggil namamu saja, apa kau setuju?"


"Ish, tidak bisakah kau mencari nama yang lebih bagus? Bukankah dalam agama itu, makruh ya, kalau memanggil suami dengan namanya."


Gintani diam, dia tampak memikirkan nama yg cocok untuk suaminya.


"Aku akan memanggilmu Kak Adi saja!" jawab Gintani penuh keceriaan.


Deg... Deg... Deg....


Ke... kenapa dia berbicara seperti itu.., batin Argha.


"Kak Adi?"

__ADS_1


"Iya ... bukankah nama Tuan adalah Argha Putra Adisastra. Tuan tidak mau aku memanggilmu Argha. Jadi aku ingin memberikan nama yang lain, dan hanya aku yang bisa menggunakannya, yaitu Kak Adi. Nama pendek dari Adisastra. Bagaimana, apa Tuan setuju?"


Argha nampak bergeming. Sejenak bayangan masa lalunya kembali menari dalam ingatannya. Na, aku merindukanmu... aku sangat merindukanmu... batinnya.


"Tuan...! Tuan...! Hai... Tuan...!" tegur Gintani seraya melambai-lambaikan tangannya di depan wajah suaminya.


"Ma... maaf...! Bisakah kau tidak memanggilku seperti itu?" pinta Argha.


"Oh, tidak boleh ya...?" Gintani tersenyum getir. "Ya sudah, aku akan memanggilmu Mas Argha saja," jawab Gintani. Entah kenapa hatinya merasa sakit saat Argha tidak menyetujui nama panggilan itu. Sudahlah, lupakan saja Gin! Lagipula, apa yang kamu harapkan darinya...? batin Gintani.


"Mas, apa kita bisa pergi sekarang?" tanya Gintani, tak ingin larut dalam kesedihannya.


"Ah iya...,tentu saja."


Dua puluh menit mereka lalui dengan saling diam. Sebagai seorang istri yang tak pernah diharapkan, perasaan Gintani memang sangatlah sensitif. Menyadari penolakan suami, Gintani pun sadar jika dia tidak memiliki hak untuk mengeluarkan suara.


Sedangkan Argha. Pikirannya semakin kalut, karena ada beberapa tindak tanduk istrinya yang tanpa sengaja mengingatkan dia pada Na kecilnya. Na selalu menggigit ujung jarinya jika dia merasa gelisah, beberapa kali Argha pernah melihat Gintani melakukan itu. Na sangat menyukai burung merpati putih, dan Gintani pun sama. Dan sekarang, tiba-tiba saja, istrinya mengusulkan nama Adi untuknya. Dan Na, hanya Na yang mengetahui namaku Adi. Siapa dia, siapa sebenarnya Gintani? Tidak mungkin dia Na?


Argha segera memarkirkan mobilnya begitu dia tiba di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota metropolitan itu. Setelah itu dia mengajak Gintani menuju sebuah butik langganannya.


"Selamat malam, Tuan!" sapa pelayan butik tersebut.


"Malam!" jawab Argha.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Istri saya sedang mencari beberapa pakaian. Tolong kamu tunjukkan desain terbaru di sini!"


"Baik. Mau mencari model yang seperti apa, Nona?"


"Mm ... yang simpel saja Mbak. Seperti yang saya pakai." jawab Gintani.


"Baiklah, mari ikut saya nona."


Gintani mengikuti pelayan tersebut.


Argha berjalan mendekati jas-jas yang tergantung rapi di hanger pakaian formal. Selesai dengan pilihannya, Argha kembali melangkahkan kakinya untuk menemui Gintani. Namun saat melewati koleksi gaun pesta, netranya terkunci pada salah satu gaun yang menurutnya cocok di kenakan istrinya.



Gaun pesta yang berwarna coklat glamor yang memiliki aksen brokat di bagian bahu kanannya. Membuat baju simpel itu terkesan mewah.


"Tolong gaun itu di bungkus ya!" pinta Argha pada salah satu pelayan butik itu seraya menyerahkan setelan jas yang berada di tangannya. Sambil menunggu barang belanjaannya terbungkus rapi, Argha kembali melangkahkan kakinya ke tempat Gintani memilih pakaian.


"Ha.... Ha.... Ha.... "


Sayup-sayup, Argha mendengar suara yang selalu terngiang di telinganya. Gelak tawa yang selama hampir 17 tahun ini dirindukannya. Argha menatap istrinya yang tengah tergelak seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Siapa dia...? Siapa dia...??


Argha mempercepat langkahnya. Dia segera menyambar tangan kanan Gintani dan mulai memeriksanya dengan perasaan yang tak karuan


Tidak! Bukan dia! Dia bukan Na! Dia tidak memiliki tanda lahir di lengannya. Batin Argha.


"Ma... mas..., kamu kenapa?"


Bersambung....


Terima kasih untuk yang sudah mendukung karya recehan ini.


Jangan lupa like, vote n komennya yaa! 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2