Takdir Gintani

Takdir Gintani
Rahasia Ilona


__ADS_3

"Bicaralah! Apa yang ingin kamu sampaikan padaku?" ucap Argha begitu tiba di rumah sakit.


Awalnya Argha selalu mengabaikan pesan Ilona. Tapi dua hari yang lalu, dua orang polisi wanita datang ke kantornya. Mereka mengatakan jika keadaan Ilona semakin kritis. Ilona menderita penyakit kista yang cukup parah. Di samping itu, operasi virginitas yang dia lakukan juga tidak berhasil dengan baik sehingga menyebabkan peradangan pada wilayah sensitifnya. Merasa sudah tidak memiliki waktu lagi, Ilona selalu meminta penjaga untuk mengirimkan pesan kepada Argha.


Keadaan Ilona begitu mengkhawatirkan. Sudah hampir 8 bulan dia terbaring seperti mayat hidup. Tak sanggup melihat penderitaan Ilona, kedua sipir wanita itu mendatangi Argha untuk memohon sesuatu yang mungkin bisa meringankan kondisi Ilona.


"Saya mohon Tuan. Ini kondisi terakhir mbak Ilona. Secara lahiriah, mungkin dia tidak bisa bertahan hidup lebih lama lagi. Atau mungkin juga dia sedang menunggu kedatangan Anda untuk memaafkannya. Maaf Anda bisa lebih memudahkan dia melewati semua penderitaannya. Kasihanilah dia," bujuk sipir wanita itu.


Argha bergeming. Kondisi Ilona memang sangat memprihatinkan. Namun, itu tidak sepadan dengan kepahitan yang harus Argha derita karena keegoisannya.


"Baiklah, jika memang Anda tidak ingin melakukan ini untuk mbak Ilona, setidaknya lakukan ini untuk putra Anda," ucap Argha.


Deg!


Argha begitu terkejut.


Putraku? Bagaimana bisa? Siapa putraku? batin Argha.


Sipir wanita itu menyerahkan foto seorang anak laki-laki sekitar umur 5 tahunan.


"Ilona menitipkan ini untuk diberikan kepada Anda. Kalau begitu, saya permisi!"


Setelah kepergian kedua polisi wanita itu, hati Argha semakin kacau. Dia semakin tidak mengerti akan teka-teki tentang Ilona. Hampir 8 tahun dia menghilang. Dan sekarang, dia menunjukkan foto seorang anak kecil yang diakuinya sebagai darah daging Argha. Apa maksudnya ini? batin Argha.


Karena ingin mendapatkan sebuah kebenaran, Argha pun nekat menemui Ilona di rumah sakit milik kepolisian setempat.


"Terima kasih, Kakak sudah mau datang menemui aku," ucap lirih Ilona.


"Tolong jangan bertele-tele, katakan, siapa anak yang kau akui sebagai anakku?!" tanya Argha, tegas.


"Dia memang bukan anak Kakak, tapi setelah aku tiada, aku sangat berharap jika dia akan selalu menjadi anak Kakak," jawab Ilona sambil memandang kaca jendela dengan tatapan kosong.


"Permainan apalagi ini, Ilona? Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Kamu meminta aku mengurus anakmu, sedangkan kamu sendiri malah memisahkan aku dengan anak kandungku," ucap Argha, geram.


"Tapi, dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, Kak. Dia sebatang kara," pungkas Ilona.


"Ayahnya? Ke mana ayahnya? Kenapa dia tidak ingin bertanggung jawab? Apa dia mencampakkan kamu?" tanya Argha, dingin.


"Se-sebenarnya ... a-ayahnya tidak mengetahui kalau dia memiliki anak," jawab Ilona gugup.


"Apa maksud kamu, Ilona? Kegilaan apa lagi yang kamu buat?" Argha mulai terbawa emosi dengan semua rahasia Ilona.

__ADS_1


"Aku mohon Kakak, percayalah padaku!" ucap Ilona, berusaha meyakinkan Argha.


"Cukup Ilona! Berhenti bermain-main denganku. Aku sudah muak dengan semua kelakuanmu!" Argha membentak Ilona setelah itu berbalik hendak meninggalkan Ilona.


"Tapi kak Bram memang tidak tahu apa-apa tentang anaknya!" teriak Ilona.


Ucapan Ilona seketika menghentikan langkah Argha. Dia cukup terkejut saat nama asistennya meluncur bebas dari mulut wanita itu. Argha kembali menghampiri Ilona.


"Apa maksud ucapanmu? Kenapa kamu melibatkan Bram dalam permainanmu kali ini? Apa sekarang dia menjadi incaranmu juga, hah?" tanya Argha semakin geram.


"Aku tidak sedang melakukan permainan Kakak. Ini adalah kenyataannya. Faktanya, kak Bram adalah ayah biologis dari anakku. Dan kenyataan jika kak Bram tidak mengetahui apa pun tentang anaknya. Atau bahkan tidak mengingat kejadian yang menyebabkan aku mengandung anaknya," jawab Ilona.


"Cukup Ilona! Sudah cukup, aku tidak akan membiarkan kamu menebar fitnah terhadap siapa pun lagi. Tidak akan!" Argha semakin emosi dengan ucapan Ilona yang berbelit-belit.


"Aku bersumpah Kakak, kali ini aku berkata benar. Aku tidak bermaksud memfitnah kak Bram. Tapi kenyataannya, aku dan kak Bram pernah melakukan kesalahan," teriak Ilona.


"Shitt! Benar-benar ratu drama! Aku tidak akan pernah mempercayai semua omong kosongmu lagi, Ilona. Camkan itu!" teriak Argha.


"Terserah ... terserah Kakak mau mempercayainya atau tidak. Tapi kenyataannya, ayah dari anakku adalah kak Bram." Ilona kembali mengulang pernyataannya.


"Jika memang itu benar, lalu kenapa kamu tidak menitipkan anakmu kepada Bram? Bukankah hanya dia yang lebih berhak untuk mengurus anaknya sendiri?" tanya Argha.


"Karena aku tidak ingin mengacaukan rencana pernikahan kak Bram dan Nadhifa," jawab Ilona.


Deg!


"Arrghh....!" Argha benar-benar pusing dibuatnya. Berbagai pertanyaan pun timbul dalam benak Argha. Tak ingin mendengar lebih jauh tentang kenyataan yang ada, Argha pun berlalu pergi meninggalkan Ilona.


🍀🍀🍀


Sore itu, Gintani sedang bermain bersama Putri yang sedang belajar berjalan di sebuah taman perumahan. Tiba-tiba, seorang wanita cantik berusia 40 tahunan datang menghampiri mereka.


"Hai Putri ... lagi main ya? Aduh-aduh ... lucu banget sih kamu," ucap wanita itu seraya mencubit pelan pipi chubby Putri yang menggemaskan.


Gintani hanya tersenyum melihat interaksi mereka. Dan sepertinya, Putri cukup mengenal wanita itu, karena pada saat wanita itu menggendongnya, Putri terlihat senang.


"Ini Uteng baru ya, Uteng Mina ke mana?" tanya wanita itu sambil menatap Gintani.


Gintani mengerutkan keningnya menanggapi pertanyaan wanita itu.


"Oh, maaf ... maksud saya, kamu suster barunya Putri, ya? Kok saya baru melihatnya." Wanita itu memperjelas ucapannya.

__ADS_1


"Maaf Tante, beliau bukan pengasuhnya Non Putri, tapi beliau Mamanya Non Putri. Ayo Nyonya, kita pulang!" ajak Mina seraya mengambil Putri dari gendongan wanita itu.


"Maaf, permisi!" ucap Gintani menganggukkan kepalanya. Sejurus kemudian, mereka pergi meninggalkan wanita yang masih terkejut dengan ucapan Mina.


"Kalau dia mamanya Putri, berarti dia adalah istrinya mas Heru. Ish, bagaimana mungkin ini terjadi? Aku pikir, mas Heru itu seorang duda," gumam wanita itu.


"Mama, ayo kita pulang!" ucap seorang gadis remaja membuyarkan lamunan wanita tersebut.


"Eh, i-iya ... ayo Nak!" jawab wanita itu.


Sepanjang jalan Imelda hanya melamun mengingat pertemuannya dengan wanita yang ternyata mamanya Putri. Tapi kalau dilihat-lihat, Putri memang sedikit mirip ibunya. Dan dengan mas Heru ... hmm ... sama sekali tidak ada kemiripan di antara mereka. Aku harus mencari tahu tentang mereka. Kok sepertinya, aku mencium bau-bau ketidakberesan dalam hubungan mereka, batin wanita itu.


"Ma, kok ngelamun?" tanya sang anak.


"Eh, Ta ... kamu tahu nggak, kalau tadi Mama ketemu sama mamanya Putri?" tanya Imelda.


"Oh, jadi mamanya Putri sudah sadar?" Tata malah balik bertanya pada mamanya.


"Jadi kamu tahu kalau mamanya Putri masih ada? Terus, maksudnya sudah sadar ... memangnya mamanya Putri kenapa?" tanya Imelda.


"Mamanya Putri mengalami koma setelah melahirkan Putri. Syukurlah kalau sekarang mamanya Putri sudah sembuh. Kasihan Putri, kalau mamanya terus koma," jawab Tata.


"Kamu tahu dari mana?" Rupanya Imelda penasaran dengan ucapan sang anak.


"Om Heru?" Tata menjawab dengan begitu ringan.


"Loh, memangnya kamu pernah ngobrol sama om Heru?" Imelda semakin penasaran.


"He-emh," jawab Tata sambil mengunyah makanannya.


"Kapan, Ta?" tanya Imelda lagi.


"Waktu Tata bikin makalah tentang pengusaha lokal. Tata, 'kan mewawancara om Heru buat narasumbernya. Waktu itu tata sama om Heru sempat ngobrol-ngobrol tentang mamanya Putri. Emangnya Mama kenapa sih, jangan bilang kalau Mama naksir om Heru?" ucap Tata.


"Sebenarnya, iya sih...."


"Astaga Mama ...! Ih..., ingat ya, Ma, om Heru itu suami orang!"


Tata merengut mendengar ucapan mamanya. Dengan perasaan dongkol, dia pun berlari meninggalkan sang bunda.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗


__ADS_2