
Argha menghela napasnya. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya. "Itu artinya, Richard akan kembali ke kota ini," gumam Argha seraya mengepalkan tangannya.
Argha memejamkan mata. Ingatannya mengembara mengenang kejadian 22 tahun lalu.
"Bunda, ayo kita pulang?" rengek Adi kecil kepada bundanya. Saat itu, mereka sedang berada di sebuah toko mainan di salah satu mall terbesar di kota Jakarta. Sang ayah tengah mengadakan jamuan makan siang bersama sahabatnya. Selepas makan, Adi dan ibunya bermain bersama anak dan istrinya kolega sang ayah.
Adi sangat lelah bermain. Dia pun mulai merengek meminta pulang. Untuk mengalihkan perhatiannya, Nyonya Jelita yang tak lain istri dari rekan kerja tuan Jaya, mengajak Dewi dan Adi ke sebuah toko mainan. Untuk sejenak Adi dan Richard, anak Nyonya Jelita dan Tuan Hanzel, tampak senang memilih-milih mainan yang akan di belinya.
Tiba-tiba saja, Nyonya Jelita pamit untuk pergi ke toilet. Cukup lama mereka menunggu. Sampai akhirnya, Adi kembali merengek meminta pulang.
"Sebentar ya sayang, kita cari dulu Mommy-nya Richard. Setelah itu, kita minta ayah untuk pulang" pinta Nyonya Dewi, sang bunda.
Adi mengangguk.
Nyonya Dewi tersenyum. Dia kemudian menuntun Adi di sebelah kanan dan Richard di sebelah kiri. Tiba-tiba saja, Richard kecil melepaskan diri dari genggaman tangan Nyonya Dewi. Entah apa yang menarik perhatiannya sehingga dia berlari menuju escalator.
"Richard! Jangan, Nak!" teriak Nyonya Dewi seraya berlari mengejar Richard. Sayangnya, heels yang dikenakan nyonya Dewi tersangkut di pembatas tangga escalator, sehingga Nyonya Dewi tersungkur dan jatuh melewati batas escalator.
"Bundaaaa....!!" teriak Argha.
"Bos...! Kenapa?"
Argha mengerjapkan matanya. Napasnya memburu tak beraturan. Detak jantungnya berpacu dengan cepat.
Brakk...!
Pintu terbuka...
"Mas, kamu kenapa?" tanya Gintani.
Gintani tengah berbicang-bincang di ruang keluarga bersama adik iparnya. Tiba-tiba saja dia mendengar teriakan suaminya dari ruang kerja. Gintani dan Nadhifa pun berlari menuju ruang kerja argha.
"Gin...?" panggil Argha lirih. Buliran bening mulai menggenang di kedua sudut matanya. "Peluk aku, Gin!" pinta Argha dengan wajah memelas.
Gintani mendekati suaminya. Dia merangkul kepala Argha dan mendekapnya di dadanya. Tangan kirinya melingkar di tengkuk suaminya, sedangkan tangan kanannya, dengan setia mengusap-usap punggung Argha.
"Tenanglah, Mas! Semuanya akan baik-baik saja!" ucap Gintani menenangkan suaminya, meskipun dia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi pada diri Argha.
Cukup lama Argha menangis dalam diam. Hingga akhirnya dia meminta Gintani untuk membawanya ke kamar.
.
.
.
Selepas solat magrib, Argha tidak ingin beranjak dari tempat tidurnya. Bahkan, untuk makan malam pun, dia lakukan di tempat tidur. Suhu tubuhnya mulai terasa panas.
__ADS_1
"Minum obatnya dulu ya, Mas!"
Argha mengangguk. Dia menerima sebutir obat penurun panas dan menelannya.
"Istirahatlah!" ucap Gintani seraya menyelimuti suaminya.
"Gin...!" Argha memegang tangan Gintani. "Jangan tinggalkan aku!" pintanya, lirih.
Gintani tersenyum. Dia kemudian duduk di samping kepala suaminya. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, Mas," jawab Gintani.
Argha memiringkan tubuhnya, dia menyusupkan kepalanya dan memeluk pinggang Gintani dengan erat.
Gintani masih setia mengusap-usap rambut suaminya. Hingga akhirnya dengkuran halus mulai terdengar. Melihat Argha telah terlelap, Gintani kembali keluar kamar.
"Gimana keadaannya, Kak?" tanya Nadhifa.
"Alhamdulillah, dia sudah tidur," jawab Gintani. "Fa, Bram... emm... apa kalian tidak keberatan kalau aku meminta kalian tidur di sini?" tanya Gintani. "Aku mencemaskan keadaan kakakmu. Aku takut terjadi apa-apa dengannya."
"Iya Kak, Fa nggak keberatan kok! Nanti Fa hubungi papah untuk minta izin," jawab Nadhifa.
"Tapi, kamu jangan bilang kalau mas Argha sakit, ya! Aku nggak mau kalau papah jadi kepikiran," pinta Gintani.
"Iya, kakak tenang saja."
"Ya sudah, Kakak bereskan kamar kamu dulu. Tapi Bram, apa kamu tidak keberatan tidur di kamar kerjanya mas Argha?" tanya Gintani kepada asisten suaminya.
"Iya Nona, tidur di mana saja, bagi saya tidak masalah," jawab Bram.
"Baik, Gin!" jawab Bram.
Gintani tersenyum, dia kemudian beranjak pergi ke kamar yang biasa Nadhifa tempati jika menginap di apartemen kakaknya. Setelah membereskan kamar itu, Gintani mengajak tamunya untuk makan malam. Selepas makan, mereka sempat berbincang. Hingga akhirnya Gintani merasakan pusing di kepalanya, dia pun pamit dan meninggalkan tamunya di ruang keluarga.
"Apa kau sudah mengantuk?" tanya Bram .
"Belum," jawab Nadhifa singkat.
"Bagaimana kalau kita ngobrol di balkon samping, sambil menikmati udara malam!" usul Bram.
"Tapi, udara malam tidak baik untuk kesehatan kita, Kak," jawab Nadhifa.
"Hanya sebentar, Fa!" bujuk Bram.
"Baiklah. Tapi aku mau bikin susu coklat dulu. Apa Kakak mau?" tawar Nadhifa.
"Boleh," jawab Bram.
Mereka pun berjalan beriringan menuju dapur. Nadhifa membuat dua gelas susu coklat. Sedangkan Bram melangkahkan kakinya menuju balkon samping. Tak lama kemudian, Nadhifa datang menghampiri Bram.
__ADS_1
"Ini, Kak!" ujar Nadhifa, menyodorkan segelas susu coklat yang masih mengeluarkan kepulan asap.
Bram menerima gelas itu seraya tersenyum manis. Senyum yang mampu membuat Nadhifa salah tingkah.
"Kita duduk di sana yuk, Fa!" ajak Bram menunjuk kursi ayunan dengan dagunya.
Nadhifa pun mengangguk. Mereka berjalan dan duduk di kursi ayunan tersebut.
Saat sedang berbincang, tiba-tiba mata Bram terkunci pada benda-benda yang berserakan beberapa meter dari hadapan mereka.
"Fa, apa itu?" tanya Bram seraya menunjuk onggokan berwarna hitam.
Nadhifa mengarahkan netranya untuk melihat apa yang ditunjuk Bram. "Sepertinya, itu jas kak Argha yang kemarin dia pakai," jawab Nadhifa. "Ya Tuhan....!" pekik Nadhifa saat tanpa sengaja dia melihat pakaian dalam Gintani terekspos sempurna di samping jas milik kakaknya.
Bram dan Nadhifa saling tatap.
"Hmm... pantas saja mereka bisa sakit bersamaan," gumam Bram yang diiringi tatapan tak mengerti dari Nadhifa.
🍀🍀🍀
Waktu terus berjalan. Malam pun semakin larut. Samar-samar Gintani mendengar seseorang memanggil-manggil nama bunda. Gintani mengerjapkan matanya saat suara itu semakin jelas terdengar.
"Bunda... Bunda... jangan tinggalin Adi...! Bunda... Adi kangen bunda... jangan pergi...!" racau Argha dalam tidurnya.
"Mas....! Mas Argha! Bangun, Mas!"
Gintani menggoyang pelan bahu Argha. Bulir keringat terlihat jelas di pelipis suaminya.
"Bunda... Adi kangen... Bunda jangan pergi!" Kembali Argha mengigau dalam tidurnya.
Gintani meraba kening suaminya. Panas, batinnya. Gintani mengeluarkan thermogun dari dalam laci nakasnya dan mengukur suhu tubuh suaminya. 39,7 ... Ya Tuhan, tinggi sekali.
Gintani segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil air hangat. Setelah itu, dia mengeluarkan sapu tangan handuk dari laci lemari dan mulai mengompres Argha. Dengan telaten Gintani merawat Argha. Membolak-balikkan handuk kecil itu untuk menjaga kelembabannya.
Sesekali, racauan Argha tentang bunda dan Adi masih terdengar jelas di telinga Gintani. "Apa yang sebenarnya menjadi beban kamu, Mas? Siapa bunda dan Adi itu?" gumam Gintani menatap penuh tanya pada wajah suaminya yang tampak pucat.
Gintani menyandarkan tubuhnya pada hardboard ranjang. Netranya tak pernah lepas menatap suaminya. Berkali-kali dia mencelupkan sapu tangan itu ke dalam wadah yang berisi air hangat, lalu menempelkannya di kening Argha.
Gintani memejamkan matanya saat rasa kantuk mulai menyerang. Tak membutuhkan waktu lama, dia pun mulai terbang ke alam mimpinya.
Beberapa jam telah berlalu. Argha membuka mata saat dia merasakan dingin di keningnya. Tangannya menyentuh benda yang tengah menempel di kening itu.
"Hmm... mungkin semalam aku demam," gumamnya seraya menatap Gintani yang tengah tertidur dalam posisi duduk menyandar pada hardboard ranjang.
Argha bangun. Dia kemudian membetulkan posisi tidur Gintani. Argha meraih tubuh yang sudah terlentang itu ke dalam pelukannya. "Terima kasih, Gin! Terima kasih karena sudah menjaga dan merawatku!" gumam Argha seraya menyentuh pipi halus istrinya. Argha mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya. Dia pun kembali memejamkan matanya. Bunda... Adi sudah memilih menantu terhebat untuk bunda....
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya yaaaa
Semoga masih suka cerita recehan ini... 🤭