
Beberapa menit yang lalu.
Selesai dengan makan siangnya, Tuan Jaya memasuki ruang kerjanya untuk mengecek beberapa e-mail yang dikirimkan oleh asistennya. Tiba di ruang kerja, Tuan Jaya segera meraih ponselnya untuk menghubungi Jamal. Dia terkejut saat melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari putranya. Karena penasaran, Tuan Jaya pun menelpon balik Argha.
"Ya, Ar! Ada apa kamu telpon Papah? Tadi ponsel Papah ketinggalan, jadinya nggak dengar panggilan dari kamu. Kenapa, Ar? Ada yang bisa Papah bantu?"
"Pah, aku mau ngajak Gintani keluar dari mansion Papah!"
Tuan Jaya terkejut.
"Loh, kenapa Ar? Bukankah ini rumah kamu juga? Papah sangat berharap, kalian bisa tinggal di sini, nak!"
"Argha ngerti, Pah! Tapi tolong pahami dulu situasinya. Argha nggak mungkin membiarkan Gintani tinggal satu atap sama Jessica. Argha yakin kalau Jessica tidak akan pernah bisa keluar begitu saja dari mansion kita selama mamah Rosma mendukungnya. Argha tidak mau melihat Papah dan mamah bertengkar terus. Argha sendiri capek, melihat sikap mamah Rosma. Jadi, lebih baik Argha yang mengalah. Izinkan Argha dan Gintani pindah dari rumah itu, ya Pah?"
"Terus, kamu mau tinggal di mana?"
"Untuk sementara waktu, Argha akan membawa Gintani tinggal di apartemen Argha, Pah!"
"Biar Papah belikan rumah untuk kalian, ya?"
"Jangan, Pah! Mmm ... maksud Argha, kami kan hanya tinggal berdua, jadi apartemen sudah lebih dari cukup untuk kami berteduh. Urusan rumah ... nanti akan Argha pikirkan jika Gintani sudah mengandung cucu Papah."
Mendengar kata cucu, wajah tuan Jaya terlihat sumringah.
"Baiklah, Nak! Lakukan apa pun yang menurut kamu baik."
"Makasih ya, Pah!"
"Sama-sama."
Tuan Jaya menutup telponnya saat pembicaraannya telah berakhir. Setelah itu dia menengadahkan wajahnya seraya memejamkan mata.
Maafkan Ayah, bun! Ayah tidak bisa memenuhi amanah bunda! Ayah terpaksa mengizinkan Argha pindah dari rumah ini untuk menjalani rumah tangganya sendiri. Mungkin untuk sekarang, ini adalah jalan yang terbaik untuk Argha dan istrinya. Tapi Ayah janji, Ayah akan selalu memantau mereka, batin Tuan Jaya.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan di pintu ruang kerjanya, membuat lamunan Tuan Jaya buyar seketika.
"Masuk!" perintahnya.
Klek...
Seorang gadis cantik yang tak lain adalah menantunya, tengah berdiri di ambang pintu.
"Permisi Pah, apa Gintan mengganggu?" tanya Gintani.
"Ah tidak, masuklah, Nak!"
Gintani melangkahkan kakinya menuju meja kerja Tuan Jaya.
"Maaf Pah, Gintan mau minta izin. Barusan mas Argha telpon, katanya dia sudah menyuruh asistennya untuk menjemput Gintan."
'Iya papah sudah tau, Nak! Pergilah! Tapi, tolong bilang sama suamimu. Sekali-kali, jenguklah Papahnya!"
Gintani mengernyitkan dahinya, "Maaf, Pah! Gintan tidak mengerti," jawabnya.
Tuan Jaya beranjak dari kursi kebesarannya. Dia kemudian mendekati Gintani dan merangkulnya.
"Papah titip Argha ya, Nak! Bertahanlah untuk terus berada di sisinya. Tolong ubah Argha menjadi pribadi yang lebih baik lagi, Nak! Papah tahu, semenjak ibunya meninggal, Argha begitu kehilangan kasih sayang seorang perempuan. Karena itu, tolong cintai dia! Ajari dia ketulusan, agar dia memahami, jika dia sangat berarti untuk kita. Papah mohon, Nak!"
__ADS_1
Gintani menggigit bibir bawahnya mendengar semua permintaan ayah mertuanya. Meskipun dia merasa semua itu mustahil, namun dia tidak ingin mengecewakan mertuanya.
"Insya Allah, Pah! Minta do'anya saja untuk kebaikan rumah tangga kami." Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Gintani.
Tak lama kemudian, Mbok Siti datang menemui Tuan Jaya.
"Permisi, Tuan Besar ! Di luar ada Den Bram, asistennya tuan muda. Katanya beliau datang untuk menjemput Nona Muda," ujar Mbok Siti.
"Baiklah, bik! Kami akan segera menemuinya."
"Nggeh, Tuan!"
"Ayo, kita temui Bram!" ajak Tuan Jaya.
"Iya, Pah!"
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di ruang tamu. Tampak Bram sedang berbincang dengan Jessica. Namun dari raut wajahnya, terlihat sekali aura kecewa terpancar di paras gadis berambut pirang itu.
Melihat kedatangan istri dan ayah bosnya, Bram pun segera berdiri seraya mengucapkan salam.
"Apa sudah siap, Nona?" tanya Bram.
"Iya, Pak! Saya siap!" jawab Gintani.
"Jangan panggil Pak, panggil saja saya Bram!" pinta sang asisten.
"Ah, baiklah kalau begitu, B... Bram!"
Setelah berpamitan dengan ayah mertuanya, Gintani pun pergi mengikuti asisten Bram.
Empat puluh lima menit melakukan perjalanan, mereka akhirnya tiba di PUB milik Alex. Gintani mengernyitkan dahinya. Dia merasa heran, kenapa asisten suaminya mengajaknya ke tempat bang Alex. Meskipun ada banyak pertanyaan, namun Gintani enggan untuk mengungkapkannya.
Gintani keluar dari mobil Bram. Setelah itu dia mengikuti Bram memasuki PUB itu. Jantung Gintani berpacu dengan cepat, teringat kembali kenangan yang pernah dia ukir di tempat ini.
Klek....
Bram membuka pintu room 9. Di dalam, tampak tiga orang pria tampan yang sudah tidak asing lagi di mata Gintani.
"Masuklah, Tan!" perintah Alex.
"Eh ... I ... iya, Bang!"
Alek beranjak dari tempat duduknya, dan membiarkan Gintani duduk di samping suaminya.
"Ada apa, Mas memanggil Gintan ke sini?"
"Gin, aku ingin membawamu pergi dari rumah papah," jawab Argha tanpa basa-basi.
"Maksud, Mas?"
"Aku ingin, kita tinggal di apartemenku, kamu mau, kan?"
"Apa ini ada hubungannya dengan mbak Jessica? Mas, aku sudah bilang, aku tidak akan mendengarkan semua perkataan mbak Je__"
"Ini bukan tentang dia, Swety! Ini tentang kita! Aku tahu jika saat ini kita masih belum bisa saling mencintai, tapi aku ingin belajar, Gin! Kita belajar sama-sama untuk bisa saling menerima ikatan ini. Aku mohon!"
Hening....
"Tan!" panggil Alex.
__ADS_1
Gintani menoleh ke arah orang yang sudah dianggapnya kakak. Terlihat jika Alex menganggukkan kepalanya. Gintani pun memahami arti panggilan Alex.
"Baiklah! Kemanapun kamu pergi, aku ikut denganmu, Mas!" jawabnya.
Argha tersenyum, meskipun dalam hati dia merasa kesal. Kenapa hanya dengan satu panggilan dan anggukan saja, Gintani bisa langsung menurut pada Alex. Gumamnya dalam hati.
"Baiklah, kalau begitu, kita pergi sekarang juga!"
ajak Argha seraya meraih tangan Gintani dan menuntunnya untuk pergi dari tempat itu.
"Eh ..., permisi ...!"
Gintani sangat terkejut melihat keangkuhan suaminya yang berlalu begitu saja tanpa mengucapkan salam ataupun permisi kepada teman-temannya. Ya Tuhan..., aku benar-benar menikahi pria yang sangat sombong....
Mereka melewati 30 menit perjalanan tanpa saling mengeluarkan suara. Gintani tampak tercengang melihat gedung pencakar langit tersebut. Setelah memarkirkan kendaraannya di basemen, Argha segera mengajak Gintani menaiki lift. Tiba di lantai 19, Argha memasukkan kode pasword apartemennya.
Klek....
Pintu terbuka.
Gintani tampak takjub melihat penampakan apartemen suaminya yang sangat rapi. Apartemen yang cukup besar untuk mereka tinggali bersama. Nuansa white-grey mendominasi seluruh ruangan di apartemen itu. Tiba-tiba...
Krrukk.... Kruukk....
Terdengar bunyi perut Gintani yang meminta jatah makan siangnya. Wajah Gintani memerah seketika, dia merasa malu dengan bunyi alam yang tak tahu waktu itu.
"Kamu belum makan?" tanya Argha.
Gintani menggelengkan kepalanya.
"Dasar gadis bodoh! Kenapa tadi tidak makan siang dulu di rumah?" gerutu Argha, kesal.
"Bagaimana mungkin aku bisa makan jika suamiku sendiri tidak menyentuh makan siangnya."
"Kau menungguku?"
Dengan malu-malu, Gintani menganggukkan kepalanya. "Aku sengaja menunggumu pulang untuk makan bersama," cicitnya.
Argha segera merangkul Gintani ke dalam pelukannya. Dia merasa bersalah karena dia justru menyantap makan siangnya dengan ketiga sahabatnya tanpa memikirkan keadaan istrinya. Benar-benar suami yang bodoh kamu, Ar! rutuknya dalam hati.
"Duduklah! Akan aku pesankan makanan untukmu!"
"Untukku? Apa Tuan sudah makan?" tanya Gintani.
Tak ingin mengecewakan istrinya, Argha terpaksa berbohong. "Pikiranku sedang kacau, Sweety. Dan jika sudah seperti itu, perutku tidak akan pernah merasa kenyang meski ku jejali berbagai macam makanan. Kecuali...
"Kecuali apa?"
"Kecuali aku memakanmu!" bisik Argha tepat di telinga istrinya.
Blush...!
Seketika, wajah Gintani merona mendengar ucapan mesum suaminya.
"Tu ... Tuan, toiletnya di sebelah mana?"
Bersambung.....
__ADS_1
Morning all...., hujan-hujan gini. Enaknya ngapain yaaa???