Takdir Gintani

Takdir Gintani
Memulai Permainan


__ADS_3

"Ok...! Let's play the game...!!" teriak Kevin seraya meninjukan tangan kanannya ke udara.


"Tapi ingat..., lo harus mainin semua ini senatural mungkin. Gua nggak mau Argha menaruh curiga," pesan Bram.


"Tenang bro... ! Gua tahu apa yang harus gua lakukan. Gua juga udah gedek tuh sama kelakuan si Argha. Sekali-sekali... emang kudu diberi pelajaran tuh orang!" gerutu Kevin seraya memonyongkan bibir seksoy nya.


Bram tersenyum manis membayangkan apa yang akan terjadi nanti.


Hmm..., sebenarnya... Apa yang mereka rencanakan...? Othor jadi penasaran.


🍀🍀🍀


Menjelang Asar, Gintani tiba di apartemen. Dia segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Fix! Mulai hari ini, Gintani telah resmi pisah ranjang dengan suaminya. Dia juga meminta izin Nadhifa untuk menempati kamar itu.


Setelah selesai dengan ritual mandi dan solat asar, Gintani segera pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Beberapa jam berkutat di dapur, tanpa terasa, hari pun sudah mulai gelap. Gintani melirik jam dinding di ruang keluarga, penunjuk waktu itu berhenti di angka 17.42.


"Sudah hampir maghrib, tapi kenapa mas Argha belum pulang?" gumam Gintani. Sejenak, dia duduk di kursi ruang makan. Memikirkan apa yang akan terjadi pada nasib rumah tangganya ke depan. Bayangan kebahagiaan kakek Wira saat menjadi wali nikahnya, membuat Gintani terpaksa harus menelan pahit pil kenyataan jika dia tidak punya pilihan lain selain bertahan. Biar waktu yang berbicara, batin Gintani.


Kumandang azan magrib dari ponselnya, segera menyadarkan Gintani dari lamunan. Gintani pun pergi ke kamar untuk membersihkan diri.


🍀🍀🍀


Sementara itu, di kantor APA Architecture. Tampak Argha yang baru saja mengerjapkan mata saat dia merasakan ponselnya bergetar. Dia pun merogoh benda pintar itu dari saku jasnya. Sebuah pesan whatsapp masuk dari sang ayah.


Setelah membaca pesan itu, tanpa sengaja Argha melirik waktu di layar ponselnya. Sudah hampir jam 8 malam. Argha bangkit dari ranjangnya, dia kemudian pergi ke kamar mandi yang ada di ruang pribadinya. Setelah itu, dia pun berbenah untuk kembali ke apartemennya.


🍀🍀🍀


Tiba di apartemen, lampu sudah padam. Itu artinya, Gintani telah memasuki alam mimpinya. Sebelum pergi ke kamarnya, Argha menyalakan lampu ruang makan. Perutnya mulai keroncongan karena belum sempat makan malam.


Argha membuka tudung saji. Dia tampak tertegun melihat makanan yang belum tersentuh tangan sama sekali. "Apa gintan belum makan?" gumamnya


Argha pun mengurungkan niatnya. Dia pergi ke kamar untuk membangunkan istrinya. Tiba di kamar, kembali Argha dibuat tertegun dengan keadaan kamarnya. Tak satu pun peralatan make up milik istrinya di atas meja rias itu. Argha mengayunkan langkah, dia membuka lemari pakaian. Tepat sekali! Sesuai dugaannya, tak ada satu pun pakaian Gintani yang tersisa di dalam almari itu.


Argha menghela napasnya sejenak, "Jadi dia tidak main-main dengan ucapannya," gumam Argha.


Tak ingin memikirkan terlalu larut, Argha segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian, dia kembali ke dapur untuk mengisi perutnya yang kembali keroncongan.


.


.


.


Seperti itulah hubungan mereka hingga beberapa hari selanjutnya. Seperti dua orang asing yang tinggal seatap. Tak ada seorang pun yang berniat untuk mencairkan suasana. Argha yang terlalu sombong untuk memulai, dan Gintani yang terlalu lelah untuk berharap. Pada akhirnya, pernikahan mereka pun semakin terasa hambar.


🍀🍀🍀


Hari ini hari Minggu. Gintami mulai disibukkan dengan pekerjaan rumahnya. Sementara sang suami terlihat ongkang-ongkang kaki di ruang keluarga seraya asyik membaca koran pagi.


Teeeettt....


Tiba-tiba bel pintu apartemen berbunyi. Argha melipat korannya, dia segera pergi ke depan untuk membukakan pintu.

__ADS_1


"Pagi bos...!" Sapa Bram begitu Argha membuka pintu apartemen. Tanpa menunggu dipersilakan, Bram dan Kevin masuk ke dalam apartemen Argha.


"Eh curut! Ngapain kalian kemari?" teriak Argha kesal.


"Santuy, Bro! Nggak usah ngegas kek gitu! B aja kali...! Kita ke sini cuma mau nyicipin masakan kakak ipar. Iya kan, Kak?" cerocos Kevin seraya mendekati Gintani yang tengah membereskan meja makannya.


"Aku bantu ya, Kak!" Kevin menawarkan diri untuk membantu Gintani menata meja. Sepertinya, Gintani memang telah selesai memasak.


"Tidak usah, Kak! Kakak duduk saja! Nanti, kalau sudah selesai... Gintan panggil Kakak," tolak halus Gintani.


"Yaaah... kok Kakak sih, panggil Kevin aja. Kamu kan yang jadi kakak iparnya," ucap Kevin seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Huuh... lebay lo Kev...!" sungut Argha kesal. Rasanya Argha ingin segera menjambak rambut si Kevin yang gondrong itu agar tidak mendekati istrinya. Namun rasa gengsi Argha masih terlalu tinggi untuk turun ke bumi.


Gintani hanya tersenyum menanggapi celotehan Kevin.


"Abis dari mana, lo?" tanya Argha kepada asistennya.


"CFD..., biasalah... olahraga tipis-tipis..." Bram menjawab seraya memijat-mijat kedua kakinya silih berganti.


"Tumben nggak ngajak gua...!" ucap Argha.


"Ngapain ngajakin Elo? Lo kan bisa olahraga di rumah bareng kakak ipar..., iya kan, kak?" celetuk Kevin.


Prang...!!


Gintani yang tengah memegang piring, terkejut mendengar ucapan Kevin. Sejurus kemudian, piring itu terlepas dari genggamannya. Gintani segera berjongkok untuk membereskan pecahan belingnya.


"Awww...!" pekik Gintani yang tanpa sengaja menyentuh pecahan piring yang tajam, hingga jari telunjuknya terluka.


Argha yang mendengar pekikan Gintani, segera berlari menghampiri istrinya.


"Ish..., hati-hati dong, Gin!" Ujarnya seraya menarik tangan Gintani.


Mau tidak mau, Gintani pun mengikuti tarikan tangan Argha yang membawanya ke depan wastafel.


Argha segera membuka kran air. Dia mengulurkan tangan istrinya di bawah kucuran air. Setelah cukup bersih, dia segera mengambil tissu di atas meja makan dan mulai membersihkan tangan Gintani dengan sangat hati-hati.


Argha menyuruh Gintani duduk. Sementara itu, dia kembali ke ruang keluarga untuk mencari kotak p3k. Dengan hati-hati, Argha mengobati luka sobek di telunjuk gintani yang menganga cukup besar.


"Ish...! ringis Gintani.


"Perih?" tanya Argha.


Gintani mengangguk.


"Makanya, kalo kerja tuh jangan sambil ngelamun!" lanjut Argha, meniupi tangan istrinya.


"Woooyyy....!! Sadar diri dong...! Jones merana nih, lihat kelakuan lo berdua....! teriak Kevin yang sedang duduk menikmati softdrink-nya di mini bar.


Gintani segera menarik tangannya. "Sebaiknya kita sarapan dulu, makanannya sudah siap," ucapnya seraya kembali berdiri dan membereskan pecahan piring.


Argha segera merapikan kotak obatnya, setelah itu, dia menarik salah satu kursi. "Yuk Bram! Ajak Argha kepada asistennya.

__ADS_1


Bram mengangguk sambil tersenyum tipis melihat kelakuan bosnya.


Singkat waktu, mereka pun akhirnya sarapan bersama. Sesekali, Argha mencuri pandang ke arah istrinya yang anteng sarapan sambil menundukkan kepala. Mungkin dia merasa risih karena harus kembali duduk satu meja bersama Argha. Sedangkan Bram dan Kevin hanya saling pandang melihat tingkah sahabatnya. Bram sangat yakin jika Argha memiliki perasaan untuk Gintani.


Bram mengedipkan sebelah matanya kepada Kevin, sebagai tanda jika permainan harus segera dimulai. Kevin pun mengangguk. Dia melakukan aksinya untuk memulai permainan.


Eh, kakak ipar... ! Alex bilang, Kakak lagi butuh pekerjaan, ya?" tanya Kevin memecah keheningan.


Gintani mendongakkan wajahnya, dia menatap kesal kepada Kevin. Ish, kenapa dia harus membicarakan hal ini di depan mas Argha, gerutu Gintani dalam hati.


"Sebenarnya, aku datang kemari ingin meminta bantuan kakak," lanjut Kevin.


Gintani masih belum bicara. Dia hanya mengernyitkan dahinya sebagai sebuah jawaban atas ucapan Kevin.


"Jadi gini loh, Kak! Aku kan punya chanel yotub. Aku bosan jika konten yang kubuat isinya itu-itu saja. Rata-rata, semuanya bercerita tentang kegiatanku. Aku mau bikin konten yang lain daripada yang lain. Kira-kira... mau nggak, Kakak join sama aku untuk bikin konten religi?" tanya Kevin.


Bukannya menjawab, Gintani semakin mengerutkan keningnya. Sementara, Argha sudah mengepalkan tangan kirinya mendengar semua ucapan sobatnya itu.


"Maksudnya?"


Ah, akhirnya Gintani bertanya juga, batin Bram.


"Maksudku, kita buat konten-konten yang menyelipkan pesan agama kepada penonton. Yaa, kek misalnya tutorial hijab, wisata religi, menceritakan kisah-kisah Nabi atau apa sajalah...."


Gintani diam sejenak. Otaknya masih terlalu lemot untuk mencerna semua omongan Kevin.


"Gimana, Kak! Kita bisa bikin chanel lain kalau Kakak. Yang khusus mengulas tentang agama. Mau kan, Kak?" Kevin memasang wajah meongnya.


"Jujur, kalau untuk tutorial hijab, aku nggak bisa. Untuk wisata religi pun, aku tidak yakin. Aku bukan orang yang tepat untuk pekerjaan seperti itu," jawab Gintani, datar.


"Ayolah Kak..., bantu aku sekaliiii saja...!" rengek Kevin.


"Ish, lo tuh ya...! Kalo bini gua nggak mau, nggak usah maksa!" ujar Argha, merasa menang atas jawaban Gintani.


"Kenapa kita nggak coba bikin shalawat Nabi saja? Kalau bershalawat, Insya Allah aku bisa."


Toeeet.... Gubrag...!!!


Rasanya Argha seperti dibawa terbang ke langit, namun begitu tiba di langit, dia dihempaskan begitu saja.


"Ide yang bagus tuh! Kita mulai nanti siang ya, Kak!"


"Boleh?"


"Nggak! Aku nggak setuju!"


Bersambung.....


Untuk readers kecehkuh....


Mohon maaf, othor amat sangat terlambat up, di karenakan, kemarin tempat kerja othor kedatangan para tamu yang melakukan studi banding, so..., othor diharuskan menemani beliau" itu....


Semoga tidak kecewa dengan sikap othor yang suka seenaknya yaaa....

__ADS_1


Semoga juga, masih suka dan terus mendukung karya recehan othor... 🤗🙏🙏


__ADS_2