
Dua hari telah berlalu, tetapi Gintani tak mampu menghilangkan bayangan-bayangan yang selalu melintas begitu saja dalam benaknya. Bahkan semuanya tergambar semakin nyata. Gintani mulai mengingat sebuah bangunan yang ditempati puluhan anak-anak. Dan entah kenapa dia merasa jika bangunan itu memiliki begitu banyak keterkaitan dengan dirinya. Terlebih lagi setelah dia menemukan surat adopsi seorang anak atas nama Gintania Nur'aini, yang tak lain adalah dirinya sendiri. Gintani semakin yakin jika bangunan yang ada dalam bayangannya ada kaitannya dengan masa lalu dirinya.
Karena sudah tak sanggup membendung rasa penasaran, akhirnya Gintani memutuskan untuk pergi ke alamat yang tertera dalam surat adopsi tersebut. Meskipun ada banyak drama dari Bik Susan yang melarangnya pergi. Namun, dengan segala usaha untuk meyakinkan Bik Sudan, akhirnya Gintani mendapatkan izin untuk pergi dari Bik Susan.
"Apa Neng yakin, Neng akan melakukan semua ini?" tanya Bik Susan dengan raut wajah yang terlihat cemas.
"Iya Bik, Gintan yakin," jawab Gintani.
"Tapi masalahnya ... saat ini Neng sedang mengandung. Apa sebaiknya niat Neng ditunda dulu, setidaknya sampai Neng melahirkan? Bibik takut kandungan neng kenapa-kenapa" lanjut Bik Susan.
"Tidak Bik, Gintan tidak bisa menunggu lagi. Gintan yakin, Gintan akan baik-baik saja. Gintan bisa jaga diri, kok," ucap Gintani, mencoba meyakinkan Bik Susan.
Pada akhirnya, Bik Susan menyerah. Dia tak mampu berbuat apa-apa lagi ketika Gintani sudah memiliki keinginan.
Keesokan harinya.
"Bik, Gintan pergi dulu, ya?" pamit Gintani kepada Bik Susan.
"Apa sebaiknya menunggu si mamang pulang dulu, Neng? Dua hari lagi, si mamang pasti sudah pulang," jawab Bik Susan.
"Nggak usah, Bik. Gintan tidak mau merepotkan siap pun. Lagi pula, entah kenapa hati Gintan mengatakan jika Gintan harus pergi hari ini juga, Bik. Gintan seperti sudah merasa memiliki janji untuk bertemu dengan seseorang," jawab Gintani.
"Siapa Neng?" tanya Bik Susan.
"Entahlah, Gintan sendiri tidak tahu. Mungkin ini hanya sekedar firasat Gintan saja," jawab Gintani.
"Ya sudah, jika memang Neng terus memaksa, Bibik mah paling hanya bisa mendukung dan mendo'akan apa yang terbaik buat Neng," kata Bik Susan.
Gintani mengangguk, "Tolong jangan katakan kepergian Gintani kepada siapa pun, ya Bik?" pinta Gintani.
"Tapi, apa yang harus Bibik jawab jika ada yang bertanya tentang Neng?" tanya Bik Susan lagi.
"Katakan saja Gintan sedang mengunjungi saudara jauh," jawab Gintani.
Meskipun tak mengerti, tapi Bik Susan hanya mengangguk saja mendengar jawaban majikannya.
Setelah berpamitan, Gintani pergi menuju terminal kota Tasikmalaya. Tiba di sana dia menanyakan bis yang menuju Cijantung. Setelah mendapatkan informasi yang akurat, akhirnya Gintani menaiki bis tersebut.
__ADS_1
Perasaan yang kacau menguasai Gintani selama dalam perjalanan menuju panti itu. Rasa penasaran semakin menggebu dalam dadanya. Siapa aku? Dan seperti apa masa laluku? Benarkah aku hanya seorang anak panti? Lalu kenapa kakek membawaku dari panti itu? Lelah berpikir, Gintani mulai tertidur di dalam bis.
🍀🍀🍀
"Permisi!"
Tok-tok-tok!
"Assalamu'alaikum!"
Heru mengetuk pintu ruangan ketua panti.
"Wa'alaikumsalan. Masuk!" Terdengar teriakan seorang perempuan dari dalam ruangan.
Heru membuka pintu ruangan, dia kemudian masuk dan menghampiri wanita paruh baya yang tengah duduk di kursinya.
"Silakan duduk. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya wanita itu.
Heru menarik kursi di depan meja wanita tersebut.
"Perkenalkan Bu, nama saya Khairuman Heru Satria. Saya pemilik pabrik yang tak jauh dari panti ini," ucap Heru.
"Terima kasih, Bu," kata Heru.
"Bagaimana Pak Heru. Apa ada yang bisa saya bantu?" Bu Ningsih mengulang pertanyaannya.
"Begini bu, pabrik kami mengadakan program Jum'at sedekah. Sasarannya kaum dhuafa dan yayasan-yayasan seperti panti asuhan, panti jompo dan rumah singgah. Karena itu, kami berniat untuk memberikan bantuan tersebut kepada panti asuhan yang Anda pimpin. Itu pun jika Anda berkenan untuk menerimanya," kata Heru.
"Alhamdulillah ... tentu saja kami tidak akan menolak pemberian Bapak. Bukankah itu adalah rezeki bagi anak-anak di sini? Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih atas kebaikan Bapak. Semoga Tuhan membalasnya dengan ribuan keberkahan," ucap Bu Ningsih.
"Aamiin. Terima kasih, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu. Insya Allah, besok, saya dan tim akan datang kemari untuk memberikan bantuan tersebut," kata Heru.
"Iya, Pak. Dengan senang hati, kami akan menunggu kedatangan Bapak dan rekan-rekan. Anak-anak pasti akan merasa senang," jawab Bu Ningsih.
Setelah berpamitan, Heru pun kembali ke kantornya.
🍀🍀🍀
__ADS_1
Argha termenung sendiri di balkon apartemennya. Entah kenapa, tiba-tiba saja dirinya sangat merindukan almarhumah sang ibu. Argha meraih ponsel dan mulai menggulirkan foto demi foto yang berhasil dia ambil dari album foto di rumah kakeknya.
Foto-foto pernikahan ibu dan ayahnya, juga foto tentang dirinya sewaktu kecil, semuanya tersimpan rapi dalam galeri ponsel Argha. Hingga di file terakhir, Argha menemukan foto yang sempat dilupakannya.
"Na," gumam Argha. Senyumnya kembali terukir saat Argha melihat senyum anak kecil yang telah memberikan warna pada kisah masa kecilnya.
Drrrttt... Drrrttt...
Ponsel yang dia pegang, bergetar. "Ilona," gumam Argha. Ah, dia pasti menghubungi aku untuk menanyakan hal yang sama, sebaiknya aku reject saja, batin Argha. Sejurus kemudian, Argha me-reject panggilan Ilona dan mematikan ponselnya.
Argha merasa bosan ketika hampir setiap hari Ilona menanyakan kapan dia akan menikahinya? Argha enggan menjawab hal itu. Sebenarnya, bukan tanpa alasan Argha mengulur waktu untuk menikahi Ilona. Selain memang hatinya belum bisa berpaling, dia pun ingat akan janji pertemuannya dengan gadis dari masa lalunya.
Tinggal dua hari lagi, Na. Dua hari yang akan menentukan nasib Kakak ke depannya. Apa kamu tahu Na, Kakak sangat merindukan kamu. Apa kamu juga merindukan Kakak? Sudah hampir 18 tahun kita berpisah, apa kamu masih akan mengenali Kakak, Na? batin Argha sambil memejamkan matanya membayangkan gadis masa kecilnya.
Argha kembali menyalakan ponselnya. Dia menghubungi asistennya.
"Tolong cancel pertemuan besok dengan klien!"
"Tapi kenapa?"
"Besok gue ada urusan."
"Kemana?"
"Kepo banget, lo?"
"Ish, gue harus punya alasan tepat jika klien menanyakan tentang dirimu."
"Bilang saja, aku ada urusan keluarga. Penting!"
"Oke, terserah lo saja!"
"Thanks."
Argha menutup teleponnya. Setelah itu, dia masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap. Kerinduannya kepada kakek, nenek dan almarhumah ibunya sudah tidak bisa dibendung. Lagi pula, lusa merupakan hal penting yang selama ini dia nantikan. Selesai berkemas, Argha mengeluarkan mobilnya dan segera pergi menuju desa kakek dan neneknya.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗