Takdir Gintani

Takdir Gintani
Keputusan Heru


__ADS_3

Menjelang sore, Heru tiba di rumah. Dia segera menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Pekerjaan hari ini membuat badannya terasa lelah. Terlebih lagi, tenaganya habis terkuras karena memikirkan kejadian semalam bersama Gintani.


Sayup-sayup, Heru mendengar ponselnya yang tersimpan di saku jas, berdering. Dia bangkit dan segera mengambil jas yang tersampir pada pegangan sofa.


"Papa," gumam Heru begitu membaca nama yang tertera pada layar ponselnya. Heru segera menggeser tombol berwarna hijau.


"Assalamu'alaikum, Pa!" sapa Heru pada Satria.


"Wa'alaikumsalam. Bagaimana kabar kamu, Nak?" tanya Satria.


"Alhamdulillah, kabar Heru baik, Pa," jawab Heru.


"Alhamdulillah kalau begitu. Oh iya, Nak. Apa pekan ini kamu bisa pulang ke rumah?" tanya Satria.


Heru mengernyitkan keningnya.


"Gimana, Nak. Kamu bisa, 'kan?" tanya Satria lagi.


"Memangnya ada apa, Pa?" Heru balik bertanya.


"Kamu masih ingat Tania, 'kan? Putrinya pak Darmawan?" tanya Satria.


"Iya, gadis yang mau dijodohkan sama Aldi, 'kan?" tanya Heru kembali.


"Benar," jawab Satria.


"Memangnya dia kenapa, Pa?" tanya Heru.


"Jujur, sebenarnya Papa merasa malu sama om Darmawan karena tidak jadi menjodohkan Aldi dengan putrinya," ucap Satria, lirih.


"Ya, mau gimana lagi, Pa. Aira sudah ketemu, dan enggak mungkin juga kita memaksa Aldi untuk menikahi Tania, sedangkan dia masih cinta sama Aira," jawab Heru.


"Iya, kamu benar Her. Karena itu Papa ingin meminta bantuan kamu," kata Satria.


"Maksud Papa?" tanya Heru heran.


"Untuk tetap menjaga hubungan baik Papa dengan keluarga Darmawan. Bersediakah kamu jika dijodohkan dengan Tania?" tanya Satria. Terdengar dari suaranya jika dia banyak berharap kepada Heru.


Heru cukup terkejut mendengar maksud papanya. Untuk saat ini, dia pun tak bisa memberikan jawaban. Semuanya begitu tiba-tiba.


"Pa, bisakah Papa memberi waktu kepada Heru untuk berpikir?" tanya Heru.


Terdengar helaan napas di ujung telepon. Sebenarnya, Heru sendiri tidak ingin mengecewakan sang ayah. Tapi, jujur saja ... kabar ini datang di waktu yang tidak tepat. Karena itu Heru meminta waktu untuk berpikir.


"Baiklah, Nak. Tapi Papa harap, keputusan kamu tidak akan mengecewakan Papa dan Mamamu," ucap Satria sebelum akhirnya dia menutup teleponnya.

__ADS_1


Setelah itu, sambungan terputus.


Heru kembali merebahkan dirinya di atas ranjang. Kini, kepalanya semakin terasa berat. Masalah dengan Gintani saja belum beres, timbul masalah yang baru, yaitu rencana perjodohan dirinya dengan anak teman sang ayah.


"Aarghh" Heru berteriak seraya mengacak-acak rambutnya.


🍀🍀🍀


Sementara itu, Argha menghubungi Bram dan meminta dia untuk mencarikan seorang pengacara terbaik di kotanya.


"Memangnya ada masalah apa kamu ingin menggunakan jasa pengacara Edwin?" tanya Bram saat dia menyempatkan waktu untuk menemui Argha di rumah neneknya.


"Aku ingin membahas kasus perceraianku dengan Gintani," jawab Argha.


Bram mengernyitkan keningnya. "Jangan yang aneh-aneh, deh, Ar! Apa kamu sudah lupa? Kamu sudah melayangkan gugatan cerai itu padanya. Dan Gintani sendiri sudah menandatangani surat cerai itu. Jadi, ya kalian sudah resmi berpisah," ucap Bram.


"Aku tidak yakin, Bram," jawab Argha


"Tidak yakin bagaimana? Kalian sudah jelas-jelas menandatangani surat cerai itu," ucap Bram.


"Dengar Bram, waktu itu Gintani sedang hamil, dan perceraian tidak bisa dilakukan pada saat istri sedang hamil. Benar, 'kan?" tanya Argha.


"Iya, itu memang benar. Tapi apa kamu lupa, kamu sudah mengembalikan Gintani pada kakeknya. Kamu sudah menjatuhkan talak pada dia. Dan kamu juga sudah tidak menafkahi Gintani secara lahir batin. Bukan hanya selama tiga bulan, tapi bertahun-tahun, dan itu sudah termasuk kamu menjatuhkan talak satu padanya, Ar." Bram berusaha memberikan penjelasan.


Seketika, Argha diam mendengar penjelasan dari Bram. Tapi, entah kenapa, hatinya seolah menolak pernyataan Bram. *Pokoknya, aku harus secepatnya bertemu dengan pengacara Edwi*n, batin Argha.


🍀🍀🍀


"Masuk!" perintah Heru.


Seseorang yang tak lain adalah Alex memasuki ruangan itu.


"Silakan duduk, Lex!" titah Heru.


Alex mendaratkan bokongnya di kursi depan meja kerja Heru. Keningnya sedikit mengernyit saat Heru tanpa sebab memanggilnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Alex.


"Tidak usah terlalu formal, Lex. Aku hanya ingin membicarakan urusan keluarga saja," jawab Heru.


Alex kemudian menyandarkan punggungnya. "Baiklah, apa yang bisa aku bantu?" tanya Alex lagi.


"Aku diminta pulang oleh ayahku," jawab Heru.


Alex tersenyum. Ini bukan kali pertama Heru membicarakan kepulangannya.

__ADS_1


"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Alex.


Heru mengernyitkan keningnya. Dia tidak menyangka jika Alex sama sekali tidak terkejut dengan apa yang dia bicarakan.


"Hanya itu tanggapan kamu?" tanya Heru.


"Lalu aku harus menjawab apa?" Alex malah balik bertanya.


"Apa kamu tidak ingin bertanya kenapa aku pulang?" tanya Heru lagi.


"Apakah itu harus?" Alex kembali bertanya.


Heru pun menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Kali ini aku serius, Lex. Aku akan pulang, dan mungkin untuk selamanya," tekan Heru pada kata-katanya.


Barulah Alex terkejut mendengar pernyataan Heru.


"Selamanya? Maksud kamu selamanya?" tanya Alex heran.


"Aku titipkan perusahaan kepada kamu Lex. Aku harus pulang dan mengurus orang tuaku. Adikku sudah menemukan istrinya kembali. Hanya aku satu-satunya harapan mereka untuk menemani mereka di hari tuanya. Mereka juga akan mengenalkan aku kepada seorang gadis pilihan mereka," jawab Heru.


"Apa itu artinya, kedua orang tuamu menjodohkan kamu?" tanya Alex, menyelidik.


Heru mengangguk.


"Lalu Gintani? Bagaimana dengan Gintani?" tanya Alex lagi.


Heru hanya menengadahkan wajahnya. Dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Satu-satunya yang dia tahu, jika hati Gintani tidak akan mungkin bisa dia gapai. Terlebih lagi sejak kejadian malam itu, hubungan dia dengan Gintani pun semakin kurang baik. Heru merasa jika Gintani selalu saja menghindarinya.


"Aku tidak akan pernah bisa menggapai wanita itu, Lex," jawab Heru.


"Tapi kenapa? Aku lihat, selama ini Putri tampak bahagia dengan kehadiranmu," kata Alex.


Heru hanya tersenyum menanggapi perkataan Alex.


"Sudahlah, sekalian juga aku titip Gintani sama Putri padamu, ya, Lexi. Tolong jaga dia setelah aku pergi dari sini," ucap Heru


"Udah deh, nggak usah ngelantur ngomongnya. Tidak ada yang bisa menjaga mereka sebaik kamu menjaganya, Her," pungkas Alex.


Heru hanya kembali tersenyum. "Aku yakin, kamu bisa menggantikan posisi aku untuk menjaga mereka. Aku percaya sama kamu, Lex," jawab Heru.


Alex diam mendengar ucapan Heru. Dia sendiri bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, dia tidak pernah ingin mengecewakan sahabatnya itu. Tapi di sisi lain, Alex tidak yakin jika dia bisa menjaga Gintani dan anaknya dengan baik. Kondisi Alex sudah tidak sama seperti yang dulu. Tapi Alex akan berusaha untuk menjaga amanah sahabatnya sebaik mungkin.


"Baiklah jika itu keputusan kamu, Her. Aku berjanji, aku akan menjaga mereka sebaik mungkin. Aku juga akan mengurus perusahaan ini. Aku tidak akan pernah mengecewakan kamu," ucap Alex.


"Terima kasih, Lex."

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa, like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2