Takdir Gintani

Takdir Gintani
Kejutan Lagi


__ADS_3

"Ada apa ini, Argha? Apa yang sebenarnya terjadi? Kapan ayah Wira meninggal? Dan kenapa tidak ada yang memberitahu Papa tentang hal itu?" tanya Tuan Jaya kepada anaknya.


"Argha juga tidak tahu, Pa. Terakhir bertemu, kakek Wira terlihat baik-baik saja," jawab Argha.


"Kamu bertemu dengan ayah? Ta-Tapi, kapan? Di mana?" tanya Tuan Wira lagi.


"Kemarin kakek Wira datang ke kantor Argha, Pa," jawab Argha.


"Terus?" tanya Tuan Jaya semakin penasaran.


"Tidak ada pembicaraan yang penting, Pa. Argha hanya menitipkan surat gugatan cerai untuk Gintani kepada kakek Wira," jawab Argha lagi.


"Apa kamu bilang?! Surat gugatan cerai?" ucap Tuan Jaya terkejut.


"Iya, Pa," jawab Argha.


Plak!


Kali ini Tuan Jaya yang menampar putranya sendiri.


"Pa, kenapa Papa menampar Argha?" tanya Argha begitu terkejut mendapatkan perlakuan kasar ayahnya.


"Kamu memang pantas untuk ditampar Argha! Wajar jika Gintani marah dan menyalahkan kematian ayah padamu. Kamu memang bersalah dalam hal ini. Oke, Papa tidak akan memghalangi niat kamu untuk mengakhiri pernikahan kamu dengan Gintani. Tapi tidak dengan melibatkan orang tua. Harusnya kalian bicara baik-baik dalam mengakhiri hubungan kalian. Kamu ini ... Sudah tua tapi sikapmu masih kekanak-kanakan," gerutu Tuan Jaya dengan kesalnya.


Setelah puas menceramahi anaknya, Tuan Jaya pergi ke kamar untuk menenangkan diri.


Argha duduk di sofa keluarga. Malam ini sudah banyak tamparan yang mendarat di pipinya. Sakit? Tentu saja rasanya sakit sekali. Namun rasa sakit tamparan ini tidak sebanding dengan rasa sakit saat melihat Gintani menandatangani surat cerainya. Mungkin memang Argha menghendaki perpisahan. Namun, entah kenapa hati kecilnya menolak semua ini.


"Aargh!" Argha meremas surat perceraian itu dan melemparkannya ke sembarang arah. Sejurus kemudian, dia berlari menaiki tangga.


"Kak! Kak argha, tunggu!" Ilona berteriak sambil menyusul Argha menaiki tangga.


Namun, Argha tak menggubris panggilan Ilona. Dia terus berlari ke kamarnya. Tiba di kamar, Argha menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas nakas. Dia kemudian mengenakan jaket tebalnya. Beberapa menit kemudian, dia kembali turun dan segera mengeluarkan mobil dari dalam garasi. Argha melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.


"Kak, tunggu!" Ilona terus berteriak, tapi mobil Argha sudah melaju kencang memecah jalanan komplek perumahan elite.


Ilona segera menaiki mobilnya. Dia menginjak pedal gas dan mulai melajukan mobil Lamborghini kesayangannya. Ilona kembali menambah kecepatan mobilnya agar bisa mengimbangi kecepatan mobil yang dilajukan Argha. Namun sayangnya, tidak berhasil. Pada akhirnya, Ilona kehilangan jejak mobil yang dikemudikan Argha.


"Shitt!" Ilona mendengus kesal sambil memukul kemudi.


🍀🍀🍀


"Gin, apa kita mau pulang ke Tasikmalaya malam ini juga?" tanya Jessica.


"Besok siang saja, Mbak. Besok pagi, Gintan mau ziarah dulu ke makam dokter Richard," jawab Gintani.

__ADS_1


Ciiiiiitttttt!


Dugh!


Jessica mendadak menginjak rem mobil hingga dahi Gintani terbentur dashboard.


"Aww," pekik Gintani, reflek dia memegangi keningnya.


"Aduh, maaf Gin, aku nggak sengaja," ucap Jessica, menyesal.


"Iya, nggak pa-pa, Mbak," jawab Gintani mengusap keningnya yang mulai terasa berdenyut.


"Maaf ya, Gin! Sakit ya?" Jessica memeriksa benjolan kecil di kening Gintani. Sejurus kemudian, dia meniupi luka benjol itu.


"Iya, nggak papa. Tapi kenapa Mbak Jessica rem mendadak, sih?" tanya Gintani, heran.


"Astaghfirullah, itu maaf, tadi kamu bilang ziarah ke makam dokter Richard? Memangnya dokter Richard meninggal?" tanya Jessica.


Gintani mengangguk.


"Kapan?" tanya Jessica yang wajahnya mulai memerah karena menahan tangis.


"Sekitar sebulan yang lalu? Mungkin lebih," jawab Gintani.


"Loh, memangnya Mbak Jessica nggak tahu?" tanya Gintani.


Jessica menggelengkan kepalanya. "Tidak ada seorang pun yang memberi tahu aku. Lagi pula, saat itu posisiku sudah berada di Tasikmalaya," jawab jessica.


Ya sudah Mbak, kita ngobrolnya di rumah saja. Ini sudah malam, kita harus istirahat untuk perjalanan kita besok," ucap Gintani.


"I-iya Gin," jawab Jessica.


Jessica kembali melajukan mobilnya. Hari ini mereka memutuskan untuk menginap di rumah Jessica.


Tiba di rumah, Gintani dan Jessica, segera membersihkan dirinya. Lepas itu, mereka kembali berbincang melanjutkan pembicaraan yang tertunda di dalam mobil tadi.


Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa sampai tinggal bersama Umi Kulsum?" tanya Gintani.


"Sebenarnya ... aku putra kandungnya umi kulsum," jawab Jessica.


"Benarkah?" Tanya Gintani, kaget.


Iya, aku anak perselingkuhan ayahku dengan uminKulsum. Orang yang sudah aku anggap sebagai ibu, divonnis mengidap penyakit kista, karena itu tidak memiliki keturunan. Demi seorang anak, ayah tega berselingkuh. Namun saat keluarga umi Kulsum mengetahui pernikahan siri umi, mereka mengusirnya. Merasa tak bisa memenuhi kebutuhanku. Akhirnya umi menyerahkan aku pada ayahku dan istrinya. Istrinya adalah orang yang selama ini mengasuh aku, meminta umi pergi dan tidak pernah menemui aku. Bertahun-tahun berlalu, tidak dipungkiri jika rasa rindu yang menjalar di hati umi semakin menyiksanya. Karena itu, abi Hasan, suaminya umi mengantar umi untuk menemui papa dan mama. Mereka tidak tahu jika papa dan mamaku sudah meninggal. Dan kamu tahu, apa yang lebih mengejutkan aku lagi?" tanya Jessica.


Gintani menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Ternyata Umi Kulsum itu aunty-nya dokter Richard.


Uhuk uhuk...!


Gintani tersedak saat mendengar ucapan Jessica.


"Benarkah?" tanya Gintani


"Iya," jawab Jessica.


"Itu artinya, kalian masih sepupuan?" tanya Gintani.


Jessica mengangguk. "Ya Tuhan, benar-benar sempit dunia ini, Mbak."


"Hmm, kamu benar. Ngomong-ngomong, kenapa dokter Richard bisa meninggal? Apa dia sakit? tanya Jessica.


Gintani menggelengkan kepalanya. "Dia meninggal karena berusaha menyelamatkan Gintan" jawab Gintani dengan nada sendu.


"Maksud kamu?" tanya Jessica, penasaran.


"Sebuah mobil melaju dengan kencangnya ke arah Gintan. Sepertinya, dokter Richard melihat mobil itu hendak menabrak Gintan. Akhirnya dia mendorong tubuh Gintan hingga mobil itu menghantam tubuhnya. Dokter Richard meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit." Gintani menjelaskan kejadian yang menimpa dokter Richard.


"Astaghfirullah hal adzim!" pekik Jessica. "Malang sekali nasib kamu, Rich. Apa itu kecelakaan yang disengaja?" tanya Jessica menyelidik.


"Gintan menduganya seperti itu. Karena pada saat polisi hendak menyelidiki CCTV yang berada di depan rumah sakit, rekaman CCTV itu hilang entah kemana," jawab Gintani.


"Hilang? Bagaimana bisa?" tanya Jessica, terkejut.


"Beberapa oknum polisi gadungan mendatangi pihak rumah sakit dan mengambilnya sebelum pihak kepolisian asli mendatangi rumah sakit tersebut," jawab Gintani.


"Sepertinya si penabrak cukup cerdik, sehingga bisa selangkah lebih maju daripada aparat," ujar Jessica.


"Gintan pikir juga seperti itu. Tapi yang membuat Gintan penasaran, adalah kalimat terakhir kak Richard," ucap Gintani.


"Apa yang dia katakan?" desak Jessica.


"Berhati-hatilah terhadap Ilona, hanya itu yang keluar dari mulut kak Richard sebelum ajal menjemputnya," jawab Gintani.


"Tunggu! Apa kecelakaan ini ada hubungannya dengan Ilona?" tanya Jessica.


Gintani hanya mengedikkan kedua bahunya.


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2