
Argha keluar dari ruang kerja ayahnya. Wajahnya terlihat lesu. Sepertinya, kali ini ucapan sang ayah tidak main-main. Kesepakatan telah terjadi. Jika dia tidak berhasil membawa istrinya pulang ke rumah sang ayah, maka dia harus rela kehilangan Gintani untuk selamanya.
Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Bagaimanapun caranya, Gintani harus tetap menjadi istriku. Dia milikku! Tidak ada seorang pun yang bisa merebutnya dariku. Terlebih lagi seorang Alex, batin Argha.
Argha memacu kecepatan mobilnya lebih tinggi. Dia memutuskan untuk kembali ke rumah Jessica. Meskipun malam sudah semakin merangkak. Namun itu tidak menyurutkan tekad Argha untuk meyakinkan Gintani akan perasaannya.
Penunjuk waktu sudah berhenti di jam 22.35. Argha tiba di tempat Jessica. Dia melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang. Sayup-sayup terdengar alunan musik dangdut dari arah pos penjaga. Argha melirik, tampak Mang Diman terkantuk-kantuk dengan tangan yang menopang dagunya. Argha kemudian beralih menuju tembok pembatas di belakang pos penjaga.
Hup!
Dengan sekali lompatan, Argha berhasil berada di puncak tembok pembatas. Dia kembali melompat turun dan melangkahkan kakinya menuju halaman samping. Argha melihat sebuah kamar yang masih terlihat terang benderang. Dia meyakini kalau kamar itu adalah kamar yang ditempati Gintani. Argha sangat tahu jika Gintani paling takut akan kegelapan.
Argha menengadahkan wajah saat merasakan tetesan kecil air hujan membasahi rambutnya. Langit tampak semakin gelap dengan gumpalan awan hitam yang menyelimuti. Argha pun mempercepat langkahnya mendekati jendela kamar itu.
Tok! Tok! Tok!
Argha mengetuk pelan kaca jendela, namun tak ada jawaban sama sekali. Berulang kali dia melakukan hal yang sama, hingga akhirnya...
Klek!
Pintu jendela terbuka. Tampak seorang wanita bermata teduh mengedarkan pandangannya mencari sumber bunyi yang sedari tadi mengganggunya.
Gintani cukup terkejut melihat keberadaan Argha yang basah kuyup tengah berdiri di depan jendela kamar yang ditempatinya.
"Mau apa, Mas datang kembali?" tanya Gintani, datar.
"Gin, Mas mohon, beri Mas waktu untuk bisa menjelaskan kejadian kemarin," pinta Argha.
Gintani menghela napasnya sejenak. "Gintan rasa, semuanya sudah cukup jelas. Pergilah!" usir Gintani seraya menutup kembali kaca jendelanya.
"Gin, Mas mohon!" pinta Argha menahan jendela.
"Cukup, Mas! Gintan capek Gintan mau istirahat," ucap Gintani.
"Tapi, Gin! Kita benar-benar harus bicara. Mas nggak mau kesalahpahaman ini terus berlarut-larut."
__ADS_1
"Gintan nggak mau!"
"Ayolah, Gin! Jangan kekanak-kanakan!"
"Kekanak-kanakan, Mas bilang? Kamu itu punya hati nggak, sih, Mas? Kamu yang salah, tapi kenapa kamu seolah ingin menyudutkan aku? Pergilah! Gintan nggak mau lihat Mas lagi!" Gintani menepiskan tangan Argha dari kaca jendela. Sejurus kemudian, dia menutup jendela kamar dengan kasar.
"Gin! Gin! Mas, mohon!"
Tok! Tok! Tok!
Argha berteriak sambil mengetuk kaca jendela, namun Gintani tak menggubrisnya sama sekali.
"Baiklah, Gin... Mas akan tetap nunggu kamu di sini sampai kamu memberikan Mas kesempatan untuk bicara!" teriak Argha lagi.
Gintani diam. Sedikit pun dia tidak ingin menghiraukan ucapan suaminya. Dia mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya menatap nanar pada langit-langit kamar. Dadanya terasa sesak menahan kepedihan yang tak mampu dia keluarkan. Hanya tubuhnya saja yang sedikit berguncang pertanda dia tengah menangis dalam diam.
Hujan terlihat semakin deras. Argha masih tidak mempedulikannya. Dia masih tetap berdiri di depan jendela kamar Gintani. Kedua tangannya dia gunakan untuk memeluk tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan.
Setelah beberapa jam, akhirnya Argha mulai menyerah. Dengan tubuh yang semakin gemetar, dia kembali melompati tembok pembatas. Argha memasuki mobilnya dan menyandarkan punggungnya. Tekadnya sudah bulat. Malam ini dia akan melewatinya di sini, di dalam mobil sembari menunggu hati kekasihnya melunak.
Argha mulai mengeluarkan sebatang rokok dan pemantiknya dari laci dashboard. Dia kemudian menyalakan rokok tersebut. Tubuhnya semakin terasa dingin karena Argha sama sekali tidak berganti pakaian. Sedikit demi sedikit, Argha mulai mengisap rokoknya. Berharap dengan semua ini, pikirannya akan terasa tenang dan tubuhnya akan terasa sedikit menghangat.
"Dok, Nona Ilona kabur!" ujar salah seorang perawat yang bertugas di malam hari.
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya dokter Richard.
"Ta-tadi saya memeriksa pasien di ruang Kencana. Saya titipkan Nona Ilona kepada rekan saya. Tapi begitu saya cek ke kamarnya untuk memberikan obat, kamarnya sudah kosong, dok."
"Bagaimana dengan hasil USG-nya, apa sudah keluar?"
"Belum, dok. Pihak laboratorium bilang, hasil USG mungkin akan keluar esok hari. Sekitar pukul 09.00."
"Ya sudah, tolong kamu cek CCTV rumah sakit. Lihat jam berapa Ilona pergi meninggalkan kamarnya!"
"Baik, dok! Kalau begitu, saya tutup teleponnya. Selamat malam!"
__ADS_1
"Ya, malam!"
Richard menutup ponsel, dan meletakannya di atas meja.
"Ada apa Rich?" tanya Tuan Hanzel yang sedang duduk menonton televisi.
"Salah satu pasien Richard ada yang kabur, Dad."
"Ish, kenapa nekat sekali?"
"Entahlah, Dad? Tapi Richard akui, dia memang gadis yang cukup nekat untuk mencapai semua keinginannya."
"Hmm, sepertinya, dia bukan hanya pasienmu saja, Rich. Apa dia seorang gadis yang sangat spesial untukmu?"
"Hahaha,... Ayolah, Dad? Aku sama sekali tidak tertarik padanya," dengus Richard, kesal. Dia segera menyambar kunci mobilnya yang berada di meja telepon.
"Mau kemana?" tanya Tuan Hanzel, yang merasa heran dengan kelakuan putra semata wayangnya.
"Rich mau cari dia, Dad!"
"Hmm, katanya nggak tertarik, tapi dicari juga," cibir Tuan Hanzel kepada putranya.
"Up to you!" teriak Richard, kesal.
Richard mengeluarkan mobil sportnya. Setelah memanaskan mesin mobil sebentar, dia kemudian melajukannya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Tujuan utama Richard adalah mengunjungi apartemen Ilona. Richard berharap, dia akan menemukan Ilona di sana. Apa yang dia khawatirkan bukan karena kaburnya Ilona dari rumah sakit. Tapi karena Richard tak akan mampu mengawasi pergerakan Ilona, jika gadis itu berada jauh darinya. Ilona orang yang sangat nekat. Dia sanggup melakukan apa pun untuk mencapai keinginannya.
Sementara itu, beberapa kilometer dari rumah sakit Harapan, tampak seorang gadis berjalan terseok-seok. Rasa nyeri yang menyerang perut bawahnya, membuat dia terpaksa berjalan dengan sedikit membungkukkan badan. Wajahnya terlihat pucat dengan bibir yang sedikit membiru. Namun kondisi yang memprihatinkan itu tak menyurutkan langkahnya untuk semakin menjauhi tempat yang akan menjadi penjara baginya.
Tiba di halte bus kedua, Ilona segera mendaratkan bokongnya di kursi tunggu. Sejenak dia mulai mengatur napasnya. Lima belas menit kemudian, sebuah bus berhenti di depannya. Dengan langkah gontai, Ilona menaiki bus tersebut. Tekadnya sudah bulat, dia akan menemui sahabatnya. Menurut Ilona, hanya sahabatnya itulah yang bisa membantu menyembunyikan keberadaan Ilona untuk sementara waktu.
Aku harus bersembunyi dari pengawasan Richard. Aku yakin, jika aku terus berada di sini, dia pasti akan menggagalkan semua rencanaku. Tak ada jalan lain, aku harus menghilang sejenak sambil memikirkan cara untuk membuat Kak Argha kembali padaku.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaaa...
Mohon maaf atas keterlambatannya... 🙏🙏