Takdir Gintani

Takdir Gintani
Wanita Ular


__ADS_3

Brugh...!


"Aww....!"


Karena berjalan tergesa-gesa, wanita itu pun terjatuh akibat bertabrakan dengan seseorang yang baru saja memasuki pintu ballroom hotel Crown.


"Sorry!"


"Tidak apa-apa!"


"Celine! Celine! Tunggu, nak!" teriak bibi Shella memanggil-manggil nama anaknya.


Celine segera bangun, dan menepuk-nepuk dress-nya yg kotor. Sejurus kemudian, dia kembali mengayunkan kakinya keluar dari pintu ballroom.


"Celine, tunggu mamah!" Kembali bibi shella berteriak.


Tak ingin menjadi pusat perhatian, Celine pun menghentikan langkahnya.


Bibi Shella mengatur napasnya begitu tiba di hadapan anaknya. "Celine, mamah tahu kamu kecewa. Tapi mamah mohon, jangan permalukan papa kamu. Ini kesempatan papah untuk mengenal para relasi bisnis dari tuan Jaya. Siapa tahu, salah satu di antara mereka mau menjadi investor bagi perusahaan papahmu," ucap bibi Shella, mencoba memberi pengertian kepada anaknya.


"Tapi Celine nggak suka, mah! Celine benci lihat senyum bahagia Gintan! Seharusnya, bukan Gintan yang berada di sana, tapi Celine! Kenapa kakek pilih kasih sama Celine? Celine kan cucu kandungnya, tapi kenapa kakek lebih memilih menjodohkan cucu haramnya dari pada cucu kandungnya sendiri?" ujar Celine berapi-api.


Bibi Shella membelai lembut rambut anaknya. "Sabar, sayang! Mamah janji, kamu pasti akan mendapatkan jodoh yang jauh lebih segalanya dari pada apa yang telah didapatkan anak haram itu!" ucap bibi Shella, menenangkan hati anaknya.


"Celine tidak mau! Celine hanya mau laki-laki itu! Pokoknya, apa yang menjadi milik Gintan, harus bisa Celine dapatkan, titik!"


Bibi Shella kembali menghela napasnya. "Baiklah, terserah kamu saja! Nanti kita pikirkan caranya untuk merebut lelaki itu dari Gintani. Sekarang kita masuk lagi, ya!" ajak Bibi Shella seraya menggandeng tangan anaknya, memasuki ballroom hotel.


Seringai licik, terukir di kedua sudut bibir Jessica yang sedari awal menyaksikan perdebatan ibu dan anak itu. Hmm, mangsa yang empuk. Aku bisa memanfaatkan kebencian mereka untuk menghancurkan kamu, Ar. Tunggu saja pembalasanku!


.


.


Sementara itu, suasana pesta semakin malam semakin tampak meriah. Para tamu undangan masih terus berdatangan. Tiba-tiba saja, sang MC meminta pasangan pengantin itu untuk bergabung di atas panggung. Mereka meminta pasangan itu untuk melantunkan lagu romantis.


Gintani tersenyum dan menolak halus permintaan mereka. Lain hal nya dengan Argha, yang dengan sombongnya, melangkah tegap menuju panggung. Argha mengambil mikropon yang diserahkan MC kondang itu. Dia pun mulai menyanyikan sebuah lagu untuk menjawab tantangan sang MC.


Sejenak, Argha terdiam. Membayangkan seorang gadis kecil yang tengah berlarian mengitari pohon Akasia itu. Senyum tipis, terukir di wajahnya. Kerinduan yang membuncah di dadanya, membuat Argha menyanyikan sebuah lagu dengan penuh penghayatan.


Aku merindu, ku yakin kau tau


Tanpa batas waktu, ku terpaku


Aku meminta walau tanpa kata

__ADS_1


Cinta berupaya


Engkau jauh di mata tapi dekat di doa


Aku merindukanmu.....


Gintani hanya menghela napasnya mendengar lirik lagu yang dinyanyikan merdu oleh suaminya. Tidak bisakah kau menghargaiku sedikit saja, mas?


Karena merasa sesak oleh perbuatan suaminya. Gintani turun dari atas pelaminan. Dia melangkahkan kakinya tanpa tahu harus pergi ke mana.


Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Gintani tiba di taman samping. Gintani duduk untuk melepaskan sedikit beban yang sedang menghimpitnya saat ini. Gintani menengadahkan wajahnya, menatap taburan bintang di langit yang memberikan seberkas cahaya di kegelapan malam. "Aku merindukanmu," gumamnya pelan.


"Pengantin kok duduk melamun sendirian, sih!" teguran suara merdu memaksa Gintani untuk membuka matanya.


"Mbak Jessica?"


Gintani terhenyak saat mendapati gadis cantik yang pernah menolongnya dulu. Melihat malaikat penolongnya berdiri di hadapannya, Gintani segera bangkit dan menghambur ke dalam pelukan Jessica. Dia pun mulai menitikkan air matanya karena merasa terharu bisa bertemu lagi dengan sang penolong.


"Ssst, sudahlah! Tak baik seorang pengantin menangis di hari bahagianya," ucap Jessica seraya mengelus punggung Gintani.


Gintani melepaskan pelukannya, "Maaf, Mbak! Aku terlalu senang karena aku bisa bertemu kembali dengan, Mbak. Oh iya, ngomong-ngomong, kenapa Mbak bisa berada di sini? Apa Mbak kerabat dari papah Jaya, atau nyonya Rosma? Atau mungkin, Mbak temannya mas Argha?"


"Ish, pertanyaan mu banyak sekali, Gin! Kita duduk dulu, yuk!" ajak Jessica.


Mereka pun kembali ke kursi dan mendaratkan bokongnya.


Deg... Deg... Deg....


Jantung Gintani berpacu lebih cepat setelah mendengar pengakuan Jessica. Apa dia yang tengah dirindukan suamiku? batinnya.


"Ma... Maaf!" Hanya itu yang mampu terucap dari bibir Gintani yang terasa kelu.


"Tidak perlu meminta maaf, Gin! Hubungan aku dengan Argha telah berakhir beberapa tahun yang lalu. Kau tahu apa yang menjadi penyebab berakhirnya hubungan kami?"


Gintani menggelengkan kepalanya.


"Ha... Ha... Ha...! Mungkin ini terkesan sangat tidak masuk akal, Gin. Tapi jujur, aku lelah dengan semua pengertian yang bisa aku berikan padanya. Pengertian yang sama sekali tidak pernah dihiraukannya."


"Ma... Maksud Mbak?"


Jessica menatap lurus pintu samping ballroom dengan tatapan kosongnya. "Aku lelah harus cemburu dengan seorang gadis dari masa lalu Argha. Gadis yang telah mengikat hatinya. Dua tahun menjalin hubungan dengannya, aku sama sekali tak bisa menyentuh hatinya. Seolah ruang itu telah penuh terisi oleh bayangan gadis itu. Dan aku lelah untuk menggapainya."


Gintani menatap Jessica penuh iba. Lalu, akankah dia mengalami hal yang sama dengan Jessica. Tidak! Aku harus membentengi hatiku agar tidak terjebak dalam cinta yang seharusnya tak pernah kumiliki. Gintani pun mengulurkan tangannya, menyentuh dan mengusap punggung Jessica.


"Ah, maaf Gin! Aku tidak bermaksud merusak momen kebahagiaanmu dengan menceritakan semua kisahku."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Mbak!"


"Tapi Gin, apa kau tahu jika Argha memiliki kisah masa kecil yang tak pernah dilupakannya?" tanya Jessica, menyelidik.


Gintani tersenyum kecut. "Aku tahu, Mbak! Hampir setiap malam dia menggumamkan nama gadis itu," jawab gintani. Matanya kembali menerawang menatap cahaya bintang di langit.


"Maaf! Aku tidak ber_"


"Ngapain kamu di sini?"


Teguran sinis Nadhifa, membuat Jessica seketika menghentikan kalimatnya.


"A.. Aku hanya sedang berbincang dengan temanku."


"Teman? Sejak kapan kamu berteman dengan kakak iparku? Atau, jangan-jangan kamu ingin melakukan hal yang buruk sama kak Gintan, iya kan?" tuduh Nadhifa.


"Fa! Jangan suudzon dulu! Kakak nggak suka!" tegur Gintani. "Mbak, maafkan adikku, ya!" lanjutnya.


"Tidak apa-apa, Gin! Ya sudah, aku pulang dulu ya! Selamat buat pernikahan kalian!" ucap Jessica seraya kembali memeluk Gintani.


"Terima kasih, Mbak!"


Akhirnya Jessica pun berlalu pergi dari hadapan mereka.


"Kakak ngapain sih, harus perhatian sama wanita ular itu? Apa kakak tahu, kalau dia__"


"Mantan pacar kakak kamu?"


Nadhifa terhenyak, "Jadi kakak sudah tahu? Terus, kenapa kakak masih mau berteman dengannya?"


"Fa, dia itu hanya sekedar mantan. Hubungan mereka hadir jauh sebelum kakak mengenal kakakmu. Jadi, tidak ada alasan bagi kakak untuk tidak menerimanya sebagai teman."


"Hhh...," Nadhifa menghela napasnya. "Hati-hati saja kak, dia itu wanita ular!" ucap Nadhifa penuh penekanan. "Ya udah, masuk yuk!" ajak Nadhifa.


"Sebentar lagi ya dek? Kakak masih membutuhkan udara segar. Di dalam terlalu pengap," jawab Gintani, beralasan.


"Ya sudah, aku masuk dulu ya! Tapi jangan lama-lama di luarnya!"


"Iya-iya, masuklah!"


Selepas kepergian Nadhifa, Gintani pun kembali memejamkan matanya.


"Jadi kamu di sini?"


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaaa


__ADS_2