
Dokter Laluna tampak bersedih di depan bingkai foto yang memasang wajah ibundanya. Semenjak kasus malpraktik yang menyebabkan dirinya dikeluarkan dengan tidak hormat dari instansinya, Dokter Laluna pun tidak mampu lagi membiayai pengobatan ibunya. Satu-satunya harapan tinggallah Ilona. Namun, pada kenyataannya, Ilona pun sudah tidak menggubris lagi permintaan Dokter Laluna.
Prang!
Dokter Laluna melempar ponselnya ke arah kaca rias hingga kaca itu pecah.
"Lihat saja Ilona. Aku tidak akan membiarkan kamu bersenang-senang di atas semua kehancuran karierku," gumam Dokter Laluna, geram.
Masih membekas jelas dalam benaknya saat dia mengklarifikasi diagnosis yang salah kepada Ilona.
"Saya mohon maaf Ilona. Ternyata, berkas medis Anda tertukar dengan pasien saya yang lainnya," ucap Dokter Laluna.
"Maksud Dokter?" tanya Ilona mengernyitkan keningnya.
"Maksud saya, Anda sebenarnya tidak menderita penyakit yang berbahaya itu," jawab Dokter Laluna.
"Kanker maksudnya?" Ilona balik bertanya.
"Iya, jadi waktu itu, bagian lab salah memberikan label nama pada berkas Anda dan pasien yang lainnya." Dokter Laluna menjelaskan tertukarnya berkas medis milik Ilona.
"Lalu, rasa sakit saya? Apa sebenarnya yang saya rasakan? Kenapa rasanya begitu sakit sekali?" tanya Ilona.
"Maaf sebelumnya, apa Anda pernah mengalami keguguran?" tanya Dokter Laluna.
Deg!
Jantung Ilona seakan berhenti mendengar pertanyaan Dokter Laluna. Tidak bisa dipungkiri jika dirinya memang pernah melakukan aborsi saat masih tinggal di Amerika.
"I-iya Dok, saya memang pernah kehilangan janin saya," ucap Ilona berbohong.
"Dari hasil USG Anda, terlihat bahwa terdapat kista dengan diameter sebesar 0,5 cm. Saran saya, kista tersebut harus segera diangkat, karena bisa menyebabkan Anda sulit untuk mendapatkan keturunan," ucap Dokter Laluna.
"Saya mengerti. Tapi Dok, bisakah Anda merahasiakan hal ini dari dokter Richard dan calon suami saya?" pinta Ilona.
"Tapi ... itu melanggar kode etik kami sebagai seorang Dokter," jawab Dokter Laluna
"Baiklah Dok, saya akan membayar berapa pun yang Anda minta agar rahasia ini tetap aman. Sepuluh juta, lima puluh juta, seratus juta, dua ratus juta, lima ratus juta?" tawar Ilona.
Siapa yang tidak akan tergiur dengan uang sebanyak itu. Meskipun profesinya sebagai seorang dokter yang memiliki gaji yang lumayan tinggi, tetapi kebutuhan hidup dan beban yang harus dia tanggung membuat iman seorang Dokter Laluna pun goyah. Janda dua orang anak yang tengah merawat ibunya yang lumpuh itu pun pada akhirnya menerima tawaran Ilona.
Dia tetap membiarkan diagnosis palsu dan bahkan membuat rekam medis palsu tentang penyakit tersebut yang sebenarya tidak diderita oleh Ilona. Hingga akhirnya, kelalaian itu merugikan pihak lain.
Sang pemilik diagnosis harus meregang nyawa karena terlambat penanganan. Dan akhirnya, pihak keluarga menuntut Dokter Laluna atas kelalaian itu.
Ya Tuhan ... apa yang telah aku lakukan? Karena tergiur uang, aku menjadi jembatan antara wanita busuk itu dan tuan Argha, batin Dokter Laluna.
Perasaan bersalah karena telah membohongi Argha semakin membuncah tak kala dia mendengar berakhirnya hubungan Argha dengan sang istri. Seandainya dia tidak ikut terlibat dengan kejahatan Ilona, mungkin rumah tangga mereka masih bisa dipertahankan.
Aku harus mengakhiri semua ini, batin Dokter Laluna.
🍀🍀🍀
Tak ingin membuang waktu, Bram segera menyeret Nando supaya ikut ke Jakarta.
"Ini sudah malam, Bram. Besok pagi saja kalian berangkat," saran Jaka.
"Aku harus membawanya sekarang. Kalau tidak segera, mungkin dia akan kembali kabur," jawab Bram.
__ADS_1
"Dia tidak akan kabur Bram, aku jamin itu," lanjut Jaka.
Bram menatap Nando dengan tajam.
"Kakakku tidak akan kabur. Aku akan ikut bersama dia untuk menjadi saksi atas perbuatan Kakakku. Karena aku sendiri yang membantu Kakak membawa kak Gintan ke kamar itu," ucap Sarah.
"Kalian??" teriak Bram.
"Arrghh!!"
Bram menjambak rambutnya sendiri dengan kasar. Dia sudah tidak tahu harus meluapkan kekesalannya dengan cara apa.
🍀🍀🍀
Keesokan harinya.
Acara persiapan akad nikah Ilona dan Argha sudah dipersiapkan sedari subuh. Acara diadakan di ballroom hotel Crown. Pada akhirnya Argha menyerah karena tidak memiliki semangat untuk terlibat langsung dalam pernikahan ini.
Tujuannya menikahi Ilona hanya membuat status resmi di hadapan publik. Bagaimanapun juga, nama mereka telah tercemar atas skandal yang pernah terjadi. Dan itu berpengaruh besar pada prestasi Argha di dunia bisnis.
"Asisten kamu tidak datang, Bro!" tanya Bagas begitu tiba di tempat akad. Ya, Argha sengaja mengundang Bagas untuk menjadi saksi pernikahannya.
"Semalam ponselnya tidak bisa dihubungi. Mungkin karena kendala sinyal juga," jawab argtha.
"Tapi, dia tahu, 'kan, kalau hari ini kamu menikah?" tanya Bagas lagi.
"Dari jauh hari, aku sudah memberi tahunya. Aku yakin dia tidak akan lupa," jawab Argha.
"Ya sudah kalau begitu. Aku ke depan dulu, sebentar lagi acaranya akan segera di mulai."
Argha mengangguk, dia pun membiarkan Bagas menduduki kursi yang sudah disiapkan. Sementara, Argha hanya bisa menatap kosong pada kursi pelaminan yang dihias begitu indahnya.
🍀🍀🍀
Bram melambaikan tangannya untuk menghentikan taksi. Dia pun segera mengajak Sarah dan Nando menaiki taksi tersebut. Dalam perjalanan, Bram mencoba menghubungi Nadhifa, tapi ternyata, sambungan Nadhifa sedang sibuk.
"Ish, sedang berbicara sama siapa dia. Kenapa teleponnya sibuk terus," gerutu Bram.
🍀🍀🍀
Di ballroom hotel, Nadhifa tampak berbincang melaui ponselnya.
"Benar Dad, hari ini kak Argha akan menikah."
"Syukurlah. Terlepas dari semua permasalahan yang ada, Daddy ikut senang akhirnya Argha kembali berumah tangga."
"Tapi Dad ... jujur saja, Fa tidak setuju dengan pernikahan mereka."
"Loh, kenapa?"
"Fa tidak menyukai calon istri kak Argha. Sepertinya, dia bukan orang baik-baik, Dad. Hidupnya penuh misteri."
"Hahaha, kamu bisa saja Fa. Jangan seperti itu, bagaimanapun juga, dia adalah pilihan kakakmu, jadi kamu harus bisa menghormatinya."
"Ya, Daddy benar. Baiklah, akan Fa usahakan untuk menerima pernikahan kak Argha dengan lapang dada."
"Nah, gitu dong ... jadi Daddy nggak akan khawatir lagi memikirkan ketidakakuran kalian. Ayahmu sudah tua, Fa. Rukunlah selalu dengan kakakmu, karena tidak ada hal yang lebih membahagiakan orang tua selain kerukunan yang tercipta di antara putra putrinya."
__ADS_1
"Baiklah Dad, Fa akan ikuti saran Daddy."
"Ya sudah, Daddy tutup dulu telponnya. Sampaikan salam Daddy buat papa dan mama kamu."
"Oke Dad, bye!"
Nadhifa menutup teleponnya, namun pada saat dia hendak memasukkan ponselnya ke dalam tas tangan, benda pipih itu kembali berdering
"Kak Bram?" gumam Nadhifa. "Ya, hallo, Kak!" sapa Nadhifa.
"Kamu di mana?"
"Ballroom hotel Crown."
"Ballroom hotel, ngapain?"
"Astaga, apa Kakak lupa, hari ini ada acara apa?"
"Maksud kamu?"
"Hari ini kak Argha akan menikah. Kakak cepatlah datang, sebentar lagi akad nikahnya akan segera dimulai."
"Tunggu! Hentikan akad itu!"
"Tapi kenapa?"
"Pokoknya, kamu harus bisa menghentikan pernikahan ini. Kalau tidak, kakak kamu akan menyesal seumur hidupnya."
"Tapi Kak, sebentar lagi akadnya akan segera dimulai."
"Dengar Fa, perpisahan kakak kamu dengan Gintani, telah direncanakan oleh Ilona. Jadi, kamu harus segera menghentikan pernikahan ini. Jangan sampai kakak kamu menyesal di kemudian hari."
"Tapi, bagaimana Kak Bram tahu?"
"Cepat hentikan? Setengah jam lagi, Kakak tiba. Ulur waktu agar akad nikahnya tidak dilaksanakan."
Nadhifa tak mengerti, tapi saat dia mendengar MC mengumpulkan para tamu undangan, dia mengerti jika dia harus melakukan sesuatu.
Setelah menutup teleponnya, Nadhifa segera berlari menuju kursi tempat dilaksanakan akad.
"Bagaimana, apa tidak ada yang keberatan dengan pernikahan antara Chantika Ilona Prasetya dan Argha Putra Adisastra?" tanya penghulu yang akan menikahkan mereka.
"Tidak!" jawab serentak para tamu undangan.
"Baiklah. Argha Putra Adisasta, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau kepada Ananda Chantika Ilona Prasetya dengan maskawin emas putih seberat 100gr dan uang tunai sebesar 5 milyar, dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Ilo–"
"Tunggu!"
.
.
.
Plak!
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏