
Seketika tubuh Gintani terasa lemas mendengar ancaman Argha. Lagi, lagi dan lagi, hanya sifat arogan yang bisa Gintani lihat dalam diri laki-laki itu. Menanggapi omongan Argha, hanya akan menguras tenaganya. Gintani pun segera berlari meninggalkan Argha.
"Maafkan aku, Gin. Aku terpaksa bertindak seperti ini. Aku tidak mau kehilangan kalian lagi," ucap Argha setelah Gintani hilang dari pandangannya.
🍀🍀🍀
Setengah jam telah berlalu, tapi Argha tak kunjung juga terlihat batang hidungnya. Akhirnya, Alex memutuskan untuk pulang.
"Maaf, Mbak. Jika Argha datang, tolong sampaikan kami harus pulang karena Putri butuh istirahat," ucap Alex kepada Mega.
"Baiklah, nanti akan saya sampaikan," jawab Mega.
Setelah berpamitan, Alex mengajak Putri pulang. Untungnya, gadis kecil itu sudah terlihat mengantuk, jadi Alex bisa dengan mudah membujuk Putri untuk pulang.
"Papa Argha mana, Om?" tanya Putri yang menyadari jika dirinya harus pulang bersama Alex.
"Papa kamu mungkin sedang ada urusan, Nak," jawab Alex.
"Oh." Hanya itu yang terucap dari bibir mungil Putri.
"Ya sudah, Putri bobo saja. nanti kalau sudah sampai, Om bangunin Putri, ya?" ucap Alex.
Putri mengangguk. Setelah menguap beberapa kali, akhirnya Putri mulai terlelap.
🍀🍀🍀
Gintani segera menghentikan ojek yang sedang melintas. Dia meminta tukang ojek itu untuk mengantarnya pulang. Tiba di rumahnya, Gintani segera membayar ongkos ojek. Setengah berlari, dia menuju rumah. Gintani langsung mengunci dirinya di kamar. Sapaan Mina pun tak dihiraukannya.
Jantung Gintani berdetak tak beraturan. Sepanjang jalan, kalimat Argha yang hendak merebut hak asuh Putri terus terngiang-ngiang di telinganya. Dengan gemetar, tangan Gintani menuangkan air minum ke dalam gelas yang berada di atas nakas.
Pikiran Gintani semakin kacau. Kedatangan Argha saja sudah membuat kepalanya terasa berat, dan sekarang laki-laki itu menginginkan anaknya. Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan? batin Gintani.
Gintani kembali meletakkan gelas itu setelah mereguk habis isinya. Dia kemudian duduk terpaku di tepi ranjang. Bingung harus berbuat apa untuk mempertahankan putrinya. Dan perceraian itu? Apakah benar perceraian antara dirinya dan Argha cacat hukum? pikir Gintani.
Gintani mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Seketika dia berselancar di internet untuk mengetahui status perceraiannya. Tubuh Gintani terasa lemas ketika membaca beberapa artikel tentang hal-hal yang membatalkan status sebuah perceraian. Jadi, apa yang dikatakan mas Argha benar. Ya Tuhan....
__ADS_1
Gintani beringsut, dia menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Matanya terpejam, kepalanya menjadi semakin berat. Kedua telunjuk Gintani memijat pelipisnya yang mulai berdenyut sakit.
Tok-tok-tok!
Seseorang mengetuk pintu rumah Gintani. Mina segera pergi ke depan untuk membukakan pintu.
"Eh, Bapak," ucap Mina saat melihat Alex tengah menggendong Putri yang sedang tertidur.
"Gintan sudah pulang, Min?" tanya Alex.
"Sudah, Pak. Mari, biar Putri saya tidurkan!" ucap Mina seraya hendak mengambil Putri dari gendongan Alex.
"Tidak apa-apa, biar saya saja," jawab Alex, membawa Putri ke kamarnya.
Setelah beberapa menit, Alex kembali menemui Mina di dapur. "Gintan di mana, Min?" tanya Alex.
"Nyonya Gintan ada di kamarnya, Pak," jawab Mina.
Alex melangkahkan kakinya menuju kamar Gintani. Tiba di depan pintu kamar, Alex sedikit mengerutkan keningnya saat mendengar isak tangis seseorang di dalam kamar. Apa sesuatu terjadi pada Gintani? pikir Alex.
Tok-tok-tok!
Tak ada sahutan dari dalam kamar. Alex mulai merasa cemas. Dia kembali mengetuk pintunya.
"Tan, tolong buka pintunya! Jangan bikin Abang khawatir!" teriak Alex.
Beberapa menit kemudian, pintu itu terbuka. Tampak Gintani berdiri di ambang pintu dengan mata yang terlihat sembab.
"Ada apa, Tan? Kenapa menangis?" tanya Alex.
Gintani semakin terisak. Tiba-tiba dia menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Alex.
"Apa salah Gintan, Bang? Kenapa Gintan harus selalu merasakan kepahitan bertubi-tubi? Kenapa Tuhan tidak membiarkan Gintan merasakan kebahagiaan untuk waktu yang lebih lama?" Isak Gintani dalam pelukan Alex.
Alex mengusap punggung Gintani. "Tenangkan dulu pikiranmu, Tan. Setelah itu, ceritakan pada Abang apa yang terjadi," ucap Alex.
__ADS_1
Alex memapah Gintani dan membawanya ke ruang keluarga. "Duduklah!" ujar Alex. "Ceritakan pada Abang, apa yang sebenarnya membuat kamu menangis? Apa Argha mengganggu kamu lagi?"
Gintani mengangguk pelan. Rahang Alex mengeras melihat jawaban Gintani.
"Kali ini, apa yang dia lakukan padamu, Tan?" tanya Alex lagi.
"Dia ... di-dia me-ngancam Gintan, akan merebut hak asuh Putri," jawab Gintani terbata.
Alex mengepalkan jari-jemarinya. Dia tidak habis pikir dengan sikap Argha. Kenapa anak itu selalu saja membuat masalah? gerutu Alex dalam hatinya.
"Memangnya, apa alasan dia memberikan ancaman seperti itu, Tan?" tanya Alex lagi.
"Dia bilang, perceraian kami cacat hukum. Karena itu dia menganggap hubungan kami masih sah secara hukum. Gintan menolak itu, tetapi dia malah mengancam akan mengambil Putri dari Gintan," jawab Gintani menjelaskan duduk persoalannya.
Alex menghela napasnya. Apa yang dikatakan Argha memang ada benarnya. Perceraian mereka memang tidak sah secara hukum.
"Sudahlah, Tan. Jangan menangis lagi. Nanti, biar Abang yang bicara sama Argha." Alex berusaha menenangkan Gintani.
"Tapi, bagaimana jika dia benar-benar serius dengan ancamannya. Apa yang harus Gintan lakukan, Bang? Gintan tidak mau kehilangan Putri. Gintan tidak akan pernah sanggup hidup tanpa Putri. Gintan bisa mati kalau harus hidup terpisah dari Putri." Gintani terlihat putus asa saat membayangkan Putri harus jauh darinya.
"Ssst ... tenanglah, Tan. Abang tidak akan membiarkan itu terjadi. Abang janji, Putri akan tetap bersama kamu selamanya. Sudah, jangan terlalu dipikirkan, nanti kamu bisa sakit. Jika kamu sakit, bagaimana bisa kita melawan Argha untuk mempertahankan Putri," kata Alex kembali menenangkan Gintani.
"Tapi Gintan takut, Bang," ucap Gintani penuh kekhawatiran.
"Jangan takut, Tan. Abang akan selalu bersama kamu. Jika Argha menggunakan jalur hukum untuk merebut hak asuh Putri, maka kita pun akan melawannya melalui jalur hukum pula untuk mempertahankan Putri. Kamu tidak usah khawatir. Dengan semua sikap dan perilaku Argha di masa lalu kepadamu, itu bisa dijadikan senjata untuk melemahkan ancaman dia. Kita harus bersikap tenang dan memiliki pikiran jernih agar bisa melawan Argha," ucap Alex.
Gintani mengangguk. Dia menyeka air mata dan mencoba menghentikan tangisnya. Mendengar ucapan Alex yang menenangkan, kegelisahan di hati Gintani berangsur hilang. Ya, dia harus pandai menguasai emosinya demi Putri. Mungkin saja Argha hanya menggertak Gintani dan hanya ingin membuat hatinya semakin lemah.
Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Bagaimanapun juga, aku harus mempertahankan Putri. Dia anakku, dan tidak ada seorang pun yang bisa mengambil dia dariku. Sampai titik darah penghabisan, aku tidak akan menyerah. Aku akan mempertahankan Putri sampai kapan pun.
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏
.
__ADS_1