
Keesokan harinya.
Setelah semalam berpamitan kepada ibu kost. Gintani beserta kakek Wira pun memutuskan untuk pergi dari kota ini. Mereka melakukan perjalanan selama kurang lebih 5 jam. Hingga akhirnya, Gintani dan kakek Wira tiba di sebuah perkampungan yang sangat sejuk.
Perkampungan itu bernama kampung Malaganti. Tempatnya berupa dataran tinggi karena terletak di kaki gunung yang bernama gunung Galunggung.
“Waaah, banyak sekali pohon pepayanya kek !” ucap Gintani terkagum-kagum melihat pohon pepaya berjajar rapi di sebuah perkebunan.
“Oh, mungkin sekarang ditanami pohon pepaya sama pengurusnya.” ucap kakek Wira.
“Apa ini yang di maksud sebidang tanah milik kakek itu ?” tanya Gintani penasaran.
Kakek Wira mengangguk. ”Apa Gintan tidak keberatan kita tinggal di sini ?” tanya kakek Wira.
“Tidak, kek ! Gintan malah senang tinggal di sini. Udaranya masih sangat bersih. Sejuk lagi. Kayaknya Gintan bakalan betah tinggal di sini !” ujar Gintani penuh semangat.
“Ah, syukurlah !” jawab kakek Wira.
Tiba-tiba sepasang suami istri datang menghampiri mereka.
“Assalamualaikum, pak !” sapa sang istri.
“Ah, waalaikumsalam. Eh, Susan, Rakib, apa kabar ?” tanya kakek Wira seraya menyalami mereka.
“Alhamdulillah, pak. Kabar kami baik .” jawab sang suami.
“Oh iya, kenalkan ! ini cucuku, namanya Gintani .” ujar kakek Wira.
Gintani tersenyum seraya mengulurkan tangannya.
"Perkenalkan pa, bu ! Nama saya Gintani."
“Ah iya, tidak usah panggil bapak ataupun ibu atuh neng ! panggil saja mamang sama bibik ! Oh iya, nama saya mang Rakib, dan ini istri saya namanya bik Susan.” ujar pria itu.
Kakek Wira hanya tersenyum melihat interaksi mereka.
"Mereka ini orang-orang kepercayaan kakek untuk mengurus tanah ini.” ujar kakek Wira menjelaskan meskipun tanpa diminta.
Gintani tersenyum.
“Hayu atuh ! Silakan masuk !” ujar bik Susan seraya membuka pintu rumah panggung yang ada di depan kebun pepaya.
Kakek Wira mengangguk dan mengikuti langkah kedua orang kepercayaannya untuk memasuki rumah panggung yang tampak rapi terawat itu.
Gintani berdecak kagum saat melihat ke dalam rumah itu. Rumah panggung itu memang tidak sebesar dan semegah rumah pamannya, namun sepertinya rumah panggung itu akan terasa nyaman untuk ditempati.
Rumah itu terdiri dari satu ruang tamu dan 2 kamar tidur. Di belakang ada dapur dan kamar mandi. Tidak ada ruang makan ataupun ruang keluarga. Namun bagi Gintani, rumah itu sangat cukup untuk mereka tinggali. Gintani tidak harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk memmbersihkan rumahitu, meskipun gharus tiap hari.
Gintani dan bik Susan mulai membereskan pakaiannya di kamar Gintani dan kakek Wira. Sedangkan kakek Wira dan mang Rakib pergi ke belakang untuk melihat kebunnya.
__ADS_1
( pict by me...🤭 promo dulu, barangkali ada yang mau ngaliwet dimari, yuk gaiss ditunggu...🤭)
“Sekarang ditanami pepaya, Kib ?” tanya kakek Wira seraya memandangi pohon pepaya yang berjajar rapi.
“Iya, pak ! kebetulan sekarag lagi musim menanam pepaya California. Terlebih lagi permintaan pasar juga cukup tinggi terhadap buah ini. Akhirnya Rakib nyoba untuk menanamnya. Mudah-mudahan hasilnya bagus.” jawab mang Rakib panjang lebar.
Kakek Wira tersenyum. "Tidak masalah Kib. Asal jangan sampai lahan itu kosong. Mubazir kalau tidak ditanami.” jawab kakek Wira seraya menepuk pelan bahu mang Rakib.
“Apa bapak akan tinggal selamanya di sini ?” tanya mang Rakib sangat hati-hati. Takut menyinggung perasaan orang yang sudah banyak berjasa pada dirinya dan keluarganya.
“Kenapa? Apa kamu keberatan ?" tanya tuan Wira.
“Tidak, pak ! Saya justru merasa senang jika bapak tinggal di sini.” jawab mang Rakib kelabakan karena tidak menyangka kalau tuannya akan berkata seperti itu.
“Insyaalloh, kami akan menetap di sini selamanya, Kib.” jawab kakek Wira, mantap.
“Syukurlah, pak ! Rumah ini jadi tidak kosong lagi !” jawab mang Rakib.
Kakek Wira tersenyum seraya menoleh ke arah orang kepercayaannya itu. “Sudah hampir magrib, sebaiknya kita pulang !" ucap kakek Wira.
Kakek Wira dan mang Rakib pun melangkahkan kakinya menuju rumah panggung yang tadi mereka kunjungi.
Menjelang malam. Suasana perkampungan pun sangatlah sepi. Kakek Wira mulai bercerita kepada Gintani tentang sejarah tanah yang dimilikinya saat ini. Menurut kakek Wira, lahan ini merupakan lahan bersejarah. Lahan ini merupakan saksi bisu atas pertempuran yang terjadi antara pasukan milik pemerintah dengan para pemberontak. Meskipun setelah kakek Wira ditugaskan di sini. Pemberontakan itu ternyata hanya isu belaka. Yang ada saat itu adalah upaya sebagian golongan alim ulama yang menghendaki agar syari'at Islam terlaksana penuh kebebasan tanpa adanya penekanan dari pihak pemerintah di wilayah itu. Bahkan kakek Wira pun jadi berteman baik dengan salah satu alim ulama itu. Dan lahan itu pun dibelinya dari warga oleh kakek Wira dan almarhum temannya.
Sekarang, lahan itu telah mutlak menjadi milik kakek Wira. Karena setelah temannya meninggal, kakek Wira membeli lagi sebagian lahannya kepada ahli waris sang teman. Untuk menghormati beliau, kakek Wira berjanji untuk tidak melepaskan lahan ini kepada pihak manapun.
☘️☘️☘️
Jakarta. Sebuah kota metropolitan yang di dalamnya terdapat banyak warna kehidupan bagi penduduknya. Hingar bingar kota metropolitan itu menjadi magnet tersendiri bagi para pendatang. Gedung-gedung pencakar langit berdiri kokoh di kota itu, salah satunya adalah gedung APA Architecture.
Tok…tok…tok…
Seseorang mengetuk pintu ruangan Argha.
“Masuk !” perintah Argha.
Ceklek !
Pintu terbuka, tampak seorang sekretaris tinggi semampai nan sexy tengah memasuki ruangan Argha.
“Permisi tuan ! Di luar ada tuan Alex yang ingin menemui tuan !” ujar sekretaris pemilik wajah opal yang bernama Bella.
Sejenak Argha mengernyitkan dahinya, "Ish, untuk apa Alex menemuiku !" gumam Argha. "Suruh dia masuk !" perintahnya.
Bella kembali keluar untuk menemui Alex. Tak lama kemudian, pria tampan itu pun segera memasuki ruangan sahabatnya.
“Apa kabar Ar ?" tanya Alex berbasa-basi.
“Like you see !” Argha menjawab singkat.
“Hmm, sepertinya kau semakin membaik saja setelah mendapatkan incaranmu !” ujar Alex sinis.
__ADS_1
Deg…!
Argha terkejut mendengar ucapan Alex yang tengah menyindirnya. Apa, semakin baik, kata lo ! Ah, lo nggak tahu aja kalau gue hampir gila karena perasaan bersalah. Seharusnya bukan dia yang memiliki malam pertama gue. tapi Na, cinta mati gue ! Batin Argha merasa gerah dengan ucapan sahabatnya.
Kata hati Argha membuat othor semakin geram. Gila ya gaiss, bisa-bisanya si pria angkuh nan arogan itu ngomongin cinta mati setelah dia merusak kehidupan seorang gadis ! othor pun mendengus kesal 😤✌️
"Apa lo kemari hanya untuk nyindir gue ?” tanya Argha, ketus.
“Ah syukurlah jika lo masih merasa tersindir. Itu artinya, lo masih punya hati, he…he..he..” sindir Alex seraya terkekeh melihat perubahan wajah Argha yang semakin memerah menahan amarah.
"Jika itu tujuan lo, pergilah ! Pekerjaan gue masih sangat banyak. Gue nggak punya waktu untuk meladeni semua omong kosong lo !” bentak Argha yang sudah terpancing emosi.
“Eits, calmdown, bro ! Gue kemari cuma mau ngasih ini ke elo !” jawab santai Alex seraya menyodorkan selembar cek senilai 1 M kepada Argha.
Argha mengernyitkan dahinya saat melihat cek yang terletak di hadapannya.
“Bu…bukankah ini cek pelunasan yang telah ku berikan padamu untuk gadis itu ?” tanya Argha sedikit terkejut.
Alex mengangguk seraya menyesap kopi yang sedari tadi sudah dihidangkan di depannya oleh sang sekretaris.
“Kenapa kau berikan lagi ini padaku ?" tanya Argha, heran.
“Lalu aku harus memberikannya kepada siapa lagi, Ar ?" jawab Alex seraya meletakkan kembali cangkir kopinya ke tempatnya.
“Harusnya lo berikan kepada gadis itu, Al !” jawab Argha.
“Jika aku bisa menemukannya, sudah pasti aku berikan cek itu. Tapi nyatanya, sampai detik ini aku belum bisa menemukannnya. Jangankan raganya, bayangannya pun seolah hilang dari pandanganku.” ujar Alex panjang lebar.
"Apa maksudmu, Al ?" tanya Argha tak mengerti arah pembicaraan sahabatnya itu.
“Dia pergi Ar ! Sejak malam itu dia pergi. Dan sampai detik ini aku tidak berhasil menemukannya." jawab Alex penuh penekanan.
Argha hanya bisa menatap Alex. Dia seakan tak percaya jika gadis itu sanggup melakukan hal itu. Padahal Argha masih menata hati untuk menjatuhkan ego dan harga dirinya jika sampai dia bertemu kembali dengan gadis itu.
☘️☘️☘️
“Nak, apa kamu tidak ingin kuliah lagi ?” tanya kakek Wira saat Gintani tengah asyik menggambar sebuah model baju.
Gintani sangat terkejut mendengar pertanyaan kakek Wira. Sebenarnya Gintani masih menyimpan harapan untuk bisa mengecap bangku kuliah lagi. Tapi menurutnya, bertahan hidup demi diri dan kakeknya, jauh lebih penting daripada urusan pribadinya. Gintani sadar jika saat ini kesehatan kakek Wira jauh lebih penting daripada rasa ingin melanjutkan pendidikannya.
“Tidak apa-apa, kek ! Nanti setelah Gintan punya uang, Gintan pasti bisa kuliah lagi." jawab Gintani seraya tersenyum tulus ke arah kakeknya.
“Jika memang kamu ingin kuliah lagi, kakek bisa menjual setengah lahan ini untuk biaya kuliah kamu, nak." ucap sang kakek seraya mengelus lembut rambut Gintani.
Kembali Gintani mengembangkan senyumnya. "Tidak usah kek, Gintan tidak butuh kuliah. Kuliah itu hanya untuk teori saja. Apa gunanya teori tanpa praktek. Lebih baik Gintan mencari tempat untuk kursus menjahit saja, agar Gintan punya keahlian, kek." jawab Gintani penuh keyakinan.
Kakek Wira tersenyum. "Terserah kamu saja nak !” usapnya lembut di rambut Gintani. "Sudah malam, tidurlah !" perintah kakek Wira lagi.
Gintani tersenyum, dia pun mulai merapikan gambar-gambarnya. Setelah membereskan semuanya, Gintani melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Bersambung....
__ADS_1
Mohon maaf othor slow up..🙏🙏
Semoga masih suka ceritanya. Jangan lupa untuk selalu mendukung karya ini 🙏