
Gintani terbangun saat merasakan sesak di dadanya. Matanya melirik lengan kekar sang suami yang masih asyik melingkar di perutnya. Gintani menatap pahatan Illahi yang teramat indah. Senyumnya mengembang melihat gurat kedamaian yang terpancar dari wajah sang suami yang tengah terlelap. Perlahan, Gintani menyentuh lembut wajah suaminya.
"Semoga kamu menjadi wajah yang pertama aku lihat di setiap bangun tidurku," ucap Gintani pelan.
Argha tersenyum, rupanya dia telah bangun saat Gintani menyentuh wajahnya.
Cup...
Tanpa aba-aba, Argha mengecup bibir tipis Gintani. "Morning kiss...!" ucap Argha dengan senyum smirk di bibirnya.
"Ish... Mas!" pekik Gintani, kaget.
Sungguh tuan arrogant yang dulu dikenal Gintani, kini telah berubah menjadi seorang pria yang tak pernah bisa diduga. Tutur kata dan perilakunya selalu berubah seperti apa yang dia inginkan.
"Sudah baikan, Mas?" tanya Gintani seraya meraba kening suaminya.
"Mendingan, Gin!" jawab Argha.
"Ya sudah, Gintan ke kamar mandi dulu ya!"
Gintani beranjak dari tempat tidurnya. Dia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Merasa haus, Argha mengayunkan langkahnya keluar kamar. Dia hendak mengambil air minum di dapur. Saat membuka pintu kamar, pemandangan pertama yang Argha lihat sungguh membuat darahnya mendidih seketika.
"Brammm...!!" teriak Argha menggema di ruangan itu.
Mata Bram seketika terbuka, mendengar gema suara yang menggelegar seperti petir di tengah malam.
"Ish, bos... apaan sih, ganggu orang tidur saja! Hoaaammm...!" gerutu Bram sambil menguap, menggeliatkan badannya.
"Lepasin tangan lo dari Adek gua, brengsek!" Maki Argha masih dengan nada suara tenornya.
"Ups!" Seketika Bram menarik tangannya yang tengah memeluk Nadhifa.
"Eh... Kak Bram sudah bangun?" tanya Nadhifa yang merasa tidurnya terganggu.
"Brengsek lo Bram! Berani-beraninya lo mengambil kesempatan dalam kesempitan!" teriak Argha.
"Ada apa ini?" tanya Gintani yang datang tergopoh-gopoh karena mendengar lengkingan suara sang suami.
"Pria brengsek itu sudah memeluk adikku, Gin!" tunjuk Argha kepada Bram. Argha sudah seperti anak kecil yang tengah mengadu kepada ibunya karena mainannya di rebut anak lain.
"Ya, Tuhan... aku pikir ada masalah besar," ujar Gintani seraya menepuk pelan keningnya.
"Hei, Gin! Laki-laki itu telah memeluk adikku tanpa seizinku. Atau bisa jadi, dia juga memeluk Nadhifa tanpa seizin Nadhifa. Bukankah Nadhifa sedang tidur? Jadi mana dia tahu kalau pria brengsek itu memeluknya," cerocos Argha.
"Mas! Mereka sudah dewasa. Dan aku yakin mereka tidak akan melewati batasannya," ujar Gintani mencoba menenangkan suaminya.
"Eh, Gin! Kenapa kamu malah membela pria itu?" tuding Argha tak terima.
__ADS_1
"Aku tidak membela Bram. Sudahlah, Mas! Ini masih subuh. Jadi jangan bikin keributan!" pinta Gintani.
"Istrimu benar, bos! Ini masih subuh. Sudah bobo lagi sana! Ganggu aja, huh!" gerutu Bram kesal.
"Apa lo bilang? Sudah merasa hebat ya, lo sekarang! Jangan mentang-mentang bini gua belain lo, terus lo bisa seenak jidat ngelawan gua, gitu...!"
"Mas, udah deh... ayo masuk! Kita solat subuh. Dan kamu!" tunjuk Gintani kepada Bram. "Cepet ambil wudhu! Setelah solat, sebaiknya kamu pulang!"
"Kamu ngusir aku, Gin? Kamu nggak kasihan sama aku. Semalam aku dan Nadhifa baru masuk apartemen jam tiga dini hari."
"What! Darimana saja kalian sampai pulang selarut itu, hah?" Emosi argha kembali terpancing mendengar ucapan Bram.
"Dari balkon samping," jawab Bram, santai.
"Ngapain aja kalian di sana, sampai dini hari baru masuk?" tanya Argha penuh selidik. "Jangan-jangan, kalian berbuat sesuatu yang tak senonoh ya?"
"Kakak, tenanglah dulu! Kita ini cuma ngobrol. Nggak usah nuduh macam-macam!" seru Nadhifa, kesal.
"Kok malah belain si Bram sih, Fa?"
"Fa Bukannya membela kak Bram, tapi tuduhan Kakak memang tak beralasan. Kenyataannya, kita memang cuma ngobrol doang. Kakak pikir, kita abis ngapain di sana, hah? Berbuat mesum kek kalian? Huh yang benar saja... nggak ada tempat lain apa buat ML?" jawab Nadhifa panjang lebar.
Nadhifa merasa kesal dengan tuduhan tak beralasan dari sang kakak. Sejurus kemudian, dia pergi ke kamarnya. Sedang Bram pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Tinggal Gintani dan Argha yang saling tatap.
"Jadi, Mas belum membereskan pakaian kita?" tanya Gintani.
Argha menggelengkan kepalanya.
🍀🍀🍀
Kediaman Arman Hadikusumah.
Celine segera berlari keluar dari kamar mandi saat mendengar ponselnya berdering. Sejurus kemudian, dia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja riasnya.
"Mak Lampir...?" gumam Celine saat melihat id name Mak Lampir tertera di layar ponselnya. "Huh, mau ngapain lagi dia telpon gua?" gerutu Celine.
"Ya hallo...!"
"Apa kamu tahu, jika nanti malam akan ada pesta para pengusaha di hotel Crown?"
"Ya, aku tahu? Ayahku juga diundang ke pesta itu."
"Baguslah! Aku rasa inilah saatnya kita menjalankan rencana kita."
"Maksudmu?"
"Buat Argha melihat foto itu."
"Tapi bagaimana caranya? Aku sendiri tidak tahu apa aku bisa masuk atau tidak dalam pesta itu."
__ADS_1
"Ish, pintarlah sedikit! Kamu minta ayahmu untuk membawamu ke pesta itu!"
"Tapi ayahku bi_"
"Dengar, aku tidak mau tahu! Bagaimanapun caranya, buat argha melihat foto itu malam ini. Selanjutnya, biarkan Argha memikirkan jika dirimu adalah cintanya yang telah hilang, kau mengerti!"
Tut... Tut... Tut...
Sambungan telpon terputus. Dengan perasaan dongkol, Celine melempar ponselnya ke atas ranjang.
"Dasar Mak Lampiiiirrrr...!!" teriak Celine, kesal.
🍀🍀🍀
"Gin! Apa kamu sudah siap?" teriak Argha yang sudah merasa kesal menunggu istrinya berdandan.
"Sebentar lagi Mas!" jawab Gintani yang tengah menyematkan jarum pentul di pashmina yang dia kenakan.
"Gin, ini sudah dua puluh menit loh!" Argha kembali berteriak.
"Iya mas! Sabar... baru juga dua puluh menit, belum dua jam, he... he... he... " Gintani menggoda suaminya.
"Ish, Gin... aku tinggal ya! Kamu naik taksi online saja!" Argha balik menggoda Gintani.
"Iya Mas, ini juga sudah selesai, kok! Tunggu, Gintan pakai sandalnya dulu!"
Setelah memakai heels-nya, Gintani berlari keluar kamarnya. Namun karena tergesa-gesa, kakinya malah tersandung karpet.
"Aaawww...!" pekik Gintani.
Brugh...!
Argha segera menangkap tubuh Gintani. Mata Argha tampak tak berkedip saat melihat kecantikan yang terpancar dari raut wajah istrinya. Argha meraih tubuh Gintani tanpa melepaskan pandangannya. Jari telunjuknya mengusap lembut pipi Gintani yang bersemu merah karena mengenakan blush on tipis.
"Gin...!" panggil Argha seraya menatap tajam istrinya.
Melihat tatapan tak bersahabat dari suaminya, Gintani pun mulai merasa ketakutan.
"Ke... kenapa, Mas? A... apa Gintan terlalu lama membuat Mas menunggu?" ujar Gintani terbata-bata.
Argha terus saja mendekati Gintani. Tatapannya semakin tidak bisa ditebak.
"Ma... Mas... ja... jangan seperti ini! Gi... Gintan takut..." ujar Gintani melangkah mundur hingga punggungnya menyentuh dinding ruangan.
Argha tersenyum menyeringai. Wajahnya semakin mendekati wajah Gintani yang telah berubah pucat.
Tak sanggup melawan tatapan suaminya, Gintani pun menutup mata. Dia pasrah jika Argha akan memarahinya. Namun.....
Bersambung...
__ADS_1
Eh, si Argha kira-kira mo ngapain ya...??? Hadeuh....
Jangan lupa like, vote n komennya ya gaesss...