Takdir Gintani

Takdir Gintani
Separuh Jiwa


__ADS_3

Sungguh sebuah keputusan yang sangat sulit bagi Heru. Tapi entah kenapa, hatinya begitu berat jika harus kehilangan wanita itu. Akhirnya Heru memilih untuk menyelamatkan sang ibu. Bukan ... bukan berarti dia tidak peduli akan nasib sang anak. Akan tetapi, apa yang harus dia lakukan jika dia memutuskan untuk menyelamatkan sang anak. Mampukah anak itu bertahan tanpa seorang ibu? Dan apa yang harus dia lakukan terhadap anak itu? Tidak mungkin dia mengurus anak seorang diri, dan lebih tidak mungkin lagi jika dia harus menitipkan anak itu ke panti asuhan. Karena itulah Heru memilih untuk menyelamatkan ibunya.


Setelah mengambil keputusan yang cukup sulit. Entah kenapa kedua kaki Heru terasa begitu lemas. Ada perasaan bersalah mengganjal di hatinya. Dia sudah seperti seorang pembunuh saja, yang tega melenyapkan nyawa anak itu sebelum terlahir ke dunia. Air mata pun mulai menggenang di kedua sudut mata Heru.


Dengan langkah gontai, Heru mendekati bangku tunggu dan duduk di sana. Pikirannya benar-benar kosong. Ya Tuhan ... apa yang aku lakukan? Sudah benarkah keputusanku ini? Lalu, bagaimana jika wanita itu menanyakan anaknya? Apa yang harus aku jawab?


Heru terlihat sangat kacau. Dia sudah tidak mampu berpikir jernih. Otaknya buntu untuk menjawab semua pertanyaan yang terus melintas dalam benaknya.


Sementara itu di ruang operasi.


"Bagaimana ini, Dok? Pasien sudah kehilangan banyak darah. Siapa yang akan kita selamatkan terlebih dahulu?" tanya seorang bidan senior yang mendampingi dokter kandungan yang tengah menangani Gintani.


"Suaminya bilang apa, Sus?" Dokter itu malah balik bertanya kepada suster.


"Istrinya, Dok!" jawab perawat itu.


"Baiklah, kita fokus kepada ibunya saja. Namun, sebisa mungkin kita juga harus berusaha untuk menyelamatkan bayinya," perintah sang dokter.


"Tapi harapannya tipis sekali, Dok," sanggah bidan senior.


"Maksimal! Lakukan usaha semaksimal mungkin!" tegas dokter kandungan itu.


Mereka pun kembali sibuk menindaklanjuti persalinan Gintani.


Satu setengah jam berlalu, bayi berjenis kelamin perempuan itu berhasil dikeluarkan. Tak ada tangis dari bayi yang hanya memiliki berat badan 1,7 kg. Ya, usia kandungan Gintani memang baru 7 bulan, karena itu dia melahirkan prematur.


"Bagaimana keadaannya?" tanya dokter kandungan itu kepada bidan senior yang tengah menggendong bayi malang tersebut.


"Detak jantungnya sudah tidak ada, Dok," jawab bidan senior.


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Ya, sudah kamu bawa bayi malang itu keluar. Siapa tahu ayahnya ingin melihat putrinya untuk pertama dan terakhir kali," perintah dokter.


πŸ€πŸ€πŸ€


Di rumah Aki Surya.

__ADS_1


Argha mulai terlelap dalam pangkuan Nin Ifah. Shalawat pengantar tidur yang selalu neneknya lantunkan, membuat hati Argha sedikit merasa tenang. Tanpa sadar dia pun mulai terbuai ke alam mimpinya.


Perlahan Argha membuka matanya yang terasa berat. Saat kesadarannya sempurna, dia melihat seorang gadis kecil berbaju putih sedang berdiri di hadapannya.


"Papa!" Gadis kecil itu memanggilnya.


Argha terpaku. Namun, saat dia mendekatinya, gadis kecil itu mundur beberapa langkah. Sejurus kemudian, dia membalikkan badannya dan berlari menuju sebuah cahaya yang menyilaukan mata Argha.


Argha mengerjap. Dia membuka matanya dan mendapati dirinya masih berada di kamar. Argha mendongak, dia melihat neneknya sedang bersandar pada hardboard ranjang sambil memejamkan mata. Perlahan, Argha pun bangkit. Dia tidak ingin neneknya terbangun karena merasakan pergerakannya.


Argha pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sejenak, dia menatap wajahnya di cermin yang terpasang di balik pintu kamar mandi. Pikirannya kembali berkelana pada mimpi anehnya. Apa maksud semua ini, pikir Argha. Lama berpikir membuat kepalanya terasa sakit. "Mungkin ini pengaruh emosiku saja karena bertemu wanita itu," gumam Argha.


Untuk menghilangkan rasa berat di kepalanya, Argha pun mengguyur bagian tubuhnya itu dengan air dingin pegunungan.


πŸ€πŸ€πŸ€


Di rumah sakit.


Setelah mendapatkan perintah dari dokter, perawat tadi membawa bayi Gintani untuk menemui pria yang mereka anggap sebagai ayah kandungnya.


"Silakan Pak, mungkin Anda ingin melihat putri Anda untuk yang pertama dan terakhir," ucap perawat itu mendekati Heru.


"Maafkan kami, Pak. Sebenernya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, Tuhan berkehendak lain. Sepertinya putri Anda sudah meninggal dalam kandungan. Dia terlahir prematur, Pak," jawab perawat.


"Lalu ibunya?" tanya Heru.


"Alhamdulillah, ibunya selamat. Dokter masih menanganinya di dalam. Beliau kehilangan banyak darah," jawab perawat lagi.


Tubuh Heru semakin lemas mendengar dua kabar buruk itu. Sepertinya, separuh dari jiwanya ikut hilang saat melihat bayi yang membisu dalam pangkuan perawat itu.


Melihat bibir sang bayi membiru, tiba-tiba naluri keayahan Heru muncul. Bayi butuh kehangatan, dan di sini ... AC di ruangan ini menyala, suhunya tidak baik bagi bayi yang terlahir prematur, pikir Heru.


"Di mana ruangan bayi, Sus?" tanya Heru dengan bibir bergetar.


"Anda mau apa?" Perawat itu balik bertanya dengan penuh kebingungan.

__ADS_1


"Tolong katakan di mana ruangan untuk merawat bayi-bayi yang terlahir prematur," ucap Heru mengulang pertanyaannya.


Perawat itu semakin mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Heru.


"Memangnya apa yang akan Anda lakukan dengan ruangan itu?" tanya perawat itu lagi.


"Anak ini butuh kehangatan, Sus. Dia terlahir prematur," jawab Heru.


"Astagfirullahaladzim ... putri Anda sudah meninggal. Tolong bersabarlah, Pak," ucap perawat itu.


"KATAKAN DI MANA RUANGANNYA!"


Perawat itu sangat terkejut mendengar bentakan Heru. Akhirnya dia menunjukkan ruangan steril tempat bayi-bayi di rawat setelah dilahirkan.


Heru segera merebut anak itu dari tangan perawat. Meskipun dia agak canggung menggendongnya, mengingat ini pertama kalinya dia menggendong bayi. Namun, dengan sigap Heru membawa bayi itu ke ruang bayi. Dia tidak menghiraukan panggilan perawat yang melarangnya.


Brak!


Heru membuka pintu ruangan dengan menggunakan kakinya. Semua perawat yang sedang berjaga, begitu terkejut mendengar suara keras dari arah pintu.


"Hei, apa yang Anda la–"


Ucapan perawat itu terhenti saat melihat Heru meletakkan bayi dalam box. Sejurus kemudian dia melihat Heru membuka kemejanya hingga telanjang setengah badan.


Heru mengambil bayi malang itu. Dia kemudian mendekap bayi itu di dadanya. Melindunginya dengan kedua tangannya. Sambil bersenandung Heru terus mendekap erat bayi kecil itu.


Terharu melihat kasih sayang ayah terhadap anaknya. Perawat yang hendak menegur Heru malah menutupi bayi dan tubuh Heru dengan selimut tebal.


Heru menatapnya sebagai ungkapan rasa terima kasih. Sejurus kemudian dia berjalan ke sana kemari. Kedua tangannya masih mendekap erat tubuh mungil sang bayi. Beberapa menit telah berlalu.


Perawat tadi menghampiri Heru. "Sudahlah Pak, usaha Anda hanya akan sia-sia. Putri Anda sudah meninggal," ucap perawat itu sambil mengulurkan tangannya hendak mengambil bayi tersebut.


Heru bergeming. Dia masih berharap akan ada keajaiban yang terjadi pada hari ini. Tiba-tiba, ekspresi wajah Heru berubah.


"Aku merasakannya ... A-aku merasakannya, Sus!"

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa πŸ€—πŸ™


__ADS_2